728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
Pengairan dan Pemberantasan Hama Penyakit Pada Budidaya Padi SRI
Pengairan

Telah dijelaskan pada posting sebelumnya (lihat Prinsip Budidaya Padi SRI), bahwa pemberian air pada sistem budidaya padi SRI dilakukan secara internitten atau terputus-putus. Pada saat tanam, kondisi tanah adalah macak-macak (5 mm). Kemudian tinggi air ditambah sampai 2 cm atau maksimal. Setelah itu, pintu inlet ditutup dan lahan dibiarkan mengering. Setelah kondisi tanah mulai retak,
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Pengairan dan Pemberantasan Hama Penyakit Pada Budidaya Padi SRI - 9756people
Info Petani -
Pemupukan dan Penyiangan Budidaya Padi SRI (ilustrasi)
Pemupukan.

Pada prinsipnya, pemupukan yang dianjurkan adalah yang sesuai dengan anjuran dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan setempat. Hal ini karena anjuran tersebut merupakan hasil analisis kebutuhan setempat, oleh karenanya merupakan takaran yang paling sesuai untuk daerah setempat. Sangat dianjurkan pemupukan dilakukan dalam 3 tahap sesuai umur dan pertumbuhan padi. Dapat pula menggunakan
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Pemupukan dan Penyiangan Budidaya Padi SRI (ilustrasi) - 9756people
Info Petani -
KTNA Kirim Surat Ke Presiden Untuk Status Penyuluh Kontrak

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional Ir. Winarno Tohir mengungkapkan sebagai bentuk dukungan KTNA terhadap THL-TBPP, KTNA akan membuat surat yang akan menyuarakan pemikiran THL-TBPP kepada Presiden. “Kita menyuarakan aspirasi petani THL-TBPP ini agar didengar oleh pihak legislatif dan eksekutif ”, tutur Winarno.

Sedangkan para Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) menginginkan kepastian status kerja setelah masa kontrak kerja mereka habis.

Hal tersebut disampaikan oleh Dedy Alfian, Ketua Forum Komunikasi Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (FK THL-TBPP) Nasional, saat ditemui di acara dialog antara KTNA dengan THL-TBPP di aula Yampi, Jakarta. “Kami mengharapkan adanya solusi dari pemerintah agar keberadaan dan status THL-TBPP ini dapat diberlangsungkan secara berkelanjutan dan definitif”, ujar Dedy.

Selain itu para THL-TBPP juga mengharapkan agar pemerintah lebih serius membahas kepastian status THL-TBPP ini dengan memberikan perlakuan khusus terhadap permasalahan THL-TBPP ini.
(Source: sinartani.com)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: KTNA Kirim Surat Ke Presiden Untuk Status Penyuluh Kontrak - 9756people
Info Petani -
Pengolahan Tanah dan Penanaman Padi SRI (ilustrasi)
Pengolahan Tanah

Seperti pada budidaya padi konvensional, pengolahan tanah pada Budidaya Padi SRI dilakukan sesuai petunjuk penuluh lapangan, dengan menggunakan cangkul, kerbau atau traktor. Kedalaman olah tanah yang paling dianjurkan adalah 25 sampai 30 cm. Setalah dibajak, dilakukan penggaruan untuk melumatkan agregat tanah sehingga melumpur. Saat penggaruan ini merupakan saat yang baik untuk
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Pengolahan Tanah dan Penanaman Padi SRI (ilustrasi) - 9756people
Info Petani -
Persiapan Bibit Padi SRI (Ilustrasi)
Langkah-langkah persiapan benih padi dengan menggunakan metoda SRI (System of Rice Intensification) :
Buat larutan air garam dalam ember untuk perendaman benih padi
Gunakan telur itik sebagai indikator konsentrasi larutan garam ; apabila telur itik mengapung dalam larutan tersebut, maka konsentrasi garam telah dianggap cukup / sesuai.
Benih dimasukkan ke dalam larutan garam tersebut (kebutuhan
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Persiapan Bibit Padi SRI (Ilustrasi) - 9756people
Info Petani -
Perjuangan THL TBPP
Kepada yg terhormat
THL-TBPP Se-Indonesia
di tempat

Puji syukur kehadirat Sang Maha Kuasa atas limpahan karunia yang di berikan untuk kita semua. Terima kasih kepada semua THL-TBPP se-Indonesia dan yang mendukung perjuangan kita selama ini atas doa dan dukungannya perjuangan ini selalu mendapat tempat dan tetap semangat.
Alhamdulillah perjuangan yang berliku-liku selama ini yang kita upayakan pada akhirnya mulai membuahkan hasil dimana klausul THL-TBPP di akomodir dalam Penyelesaian Tenaga Honorer di Panitia Kerja (Panja) gabungan Komisi II, VIII dan khususnya pada komisi X DPR-RI yang khusus untuk menangani penyelesaian Tenaga Pendidik dan Penyuluh Pertanian. Berbagai upaya yang sudah FK THL-TBPP Nasional bersama FK THL-TBPP Provinsi se-Indonesia lakukan ada kemajuan dari tidak ada menjadi ada dalam Panja, dari ranking prioritas mulai semakin naik yang sebelumnya THL-TBPP akan diselesaikan dengan memperhitungkan analisa kebutuhan instansi (Matrik Data hasil rapat Panja 4 Februari 2010). Selanjutnya hasil perkembangan sementara (Kamis, 11 Februari 2010) di Panja Komisi X DPR-RI, penyelesaian untuk THL-TBPP ditest sesama tenaga honorer dengan Peraturan Pemerintah (PP) baru. Insya Allah masih ada peluang untuk mengusahakannya lagi karena proses di Panja masih berlanjut sampai akhir bulan ini, untuk itu kami tetap berharap kepada semua THL-TBPP tetap dalam kerangka mendukung dan mendoakan. Semoga dengan adanya peluang dan kesempatan ini yang sedang kita ikhtiarkan slalu diberikan kemudahan. Kami di FK THL-TBPP Nasional bersama FK THL-TBPP Provinsi se-Indonesia akan terus mengawal dan berupaya. Insya Allah semoga menjadi lebih baik lagi.

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Perjuangan THL TBPP - 9756people
Info Petani -
VISI MISI DIREKTORAT TANAMAN PANGAN
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan /   Diretorate General of Food Crops
Direktur Jenderal : Ir. Sutarto Alimoeso, MM


Visi : Peduli terhadap kesejahteraan masyarakat melalui penyelenggaraan birokrasi yang bersih dan amanah dalam pembangunan tanaman pangan yang berkelanjutan.



Misi :

    * mewujudkan birokrasi tanaman pangan yang profesional dan berintegritas;
    * mendorong peningkatan produktivitas dan produksi tanaman pangan;
    * mendorong berkembangnya diversifikasi produksi tanaman pangan yang berdaya saing dan berkelanjutan;
    * memperjuangkan kepentingan petani dan masyarakat pertanian;
    * mendorong peran serta instansi dan stakeholder terkait pembangunan tanaman pangan.


Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian R.I No 299/Kpts/OT.140/2001/7/25 Juli 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pertanian.  Tugas pokok Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang tanaman pangan.

Dalam pelaksanaan tugas pokok tersebut Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyelenggarakan fungsi :

    * Penyiapan perumusan kebijakan di bidang sarana produksi, perbenihan, budidaya,dan perlindungan tanaman;
    * Pelaksanaan kebijakan di bidang sarana produksi, perbenihan, budidaya, dan perlindungan tanaman;
    * Penyusunan Standar, norma, pedoman, kriteria dan prosedur di bidang sarana produksi, perbenihan, budidaya, dan perlindungan tanaman;
    * Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang sarana produksi, perbenihan, budidaya, dan perlindungan tanaman pangan;
    * Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal.

Unit Kerja Pusat :

    * Sekretariat;
    * Direktorat Sarana Produksi;
    * Direktorat Perbenihan;
    * Direktorat Budidaya Seralia;
    * Direktorat Budidaya Kacang-kacangan dan Umbi-umbian;
    * Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan.

Alamat :

Jl. AUP Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Telepon : 021-7805269,7816519,7806819

Fax : 021-7827145,7806309
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: VISI MISI DIREKTORAT TANAMAN PANGAN - 9756people
Info Petani -
KENALKAH ???
Kenalkah anda dengan pejabat-pejabat di deptan? Berikut ini adalah daftar nama-nama pejabat yang ada di Deptan. Suatu kebanggaan bagi mereka yang mengabdi pada petani Indonesia. Sebagai kehormatan dari petani tangguh untuk memperkenalkan beliau-beliau kepada anda-anda para petani Indonesia. Dipundak merekalah nasib pertanian Indonesia insyaAllah..
Kenalkah hey... para petani??
Kenalkah...


Dr. Ir. Zaenal Bachruddin, M.Sc

Direktur Jenderal

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-7816183

Fax : 021-7816184

Ext. 5201, 5204



Email      : Kenalkah





Ir. Banun Harpini, MSc

Sekretaris Direktorat Jenderal

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-7816185

Fax : 021-7816185

Ext. 5237, 5235



Email      :  banun@deptan.go.id 





Ir. Ananto Kusuma Seta, M.Sc, Ph.D

Kepala Bagian Perencanaan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-78837929

Fax : 021-78837929

Ext. 5234, 5232



Email      :  ananto@deptan.go.id

                 akseta@yahoo.com





Dr. Prayudi Syamsuri, SP, M.Si

Kasubbag. Anggaran

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-78837929

Fax : 021-78837929

Ext. 5234, 5232



Email      : Kenalkah





Ir. Andi Arnida Massusungan, M.Sc

Kasubbag. Kerjasama

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-78837929

Fax : 021-78837929

Ext. 5234, 5232



Email      :  unan@deptan.go.id





Ir. Basuki Dwi Pramono, M.Sc

Kasubbag. Program

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-78837929

Fax : 021-78837929

Ext. 5234, 5232



Email      :  basuki.d@deptan.go.id





Drs. Suprihartono

Kepala Bagian Umum

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-7816186

Fax : 021-7816186

Ext. 5217



Email      :  suprihartono@deptan.go.id





Dra. Dwi Heriati

Kasubbag. Kepegawaian

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-7816186

Fax : 021-7816186

Ext. 5221



Email      : Kenalkah





Asri Wasponingsih, SH, ME

Kasubbag. Hukum & Humas

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-7816186

Fax : 021-7816186

Ext. 5221



Email      : Kenalkah





Harjono SH

Kasubbag. TU & Rumah Tangga

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-7816186

Fax : 021-7816186

Ext. 5221



Email      : Kenalkah





Ir. Gunawan Wibisono, M.Si

Kepala Bagian Keuangan dan Perlengkapan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-7816186

Fax : 021-7816186

Ext. 5216



Email      : Kenalkah

 



Drs. Wiyono

Kasubbag. Perbendaharaan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-7816186

Fax : 021-7816186

Ext. 5216



Email         :Kenalkah





Dra. Rini Suminar

Kasubbag. Akuntansi & Verivikasi

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-7816186

Fax : 021-7816186

Ext. 5216



Email         : Kenalkah





Drs. Sudarwanto, MM

Kasubbag. Perlengkapan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-7816186

Fax : 021-7816186

Ext. 5216



Email         :  sudarwanto@deptan.go.id 





Ir. Nazaruddin, MM

Kepala Bagian Evaluasi & Pelaporan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-78837929

Fax : 021-78837929

Ext. 5238



Email         :  nazar@deptan.go.id





Achmad Wiro’i, S.Kom

Kasubbag. Data & Informasi

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-78837929

Fax : 021-78837929

Ext. 5238



Email         :  roy@deptan.go.id





Nur Asti Sumanti, S.Pi

Kasubbag. Evaluasi

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-78837929

Fax : 021-78837929

Ext. 5238

Email         : Kenalkah





Ir. Maria Nunik Sumartini

Kasubbag. Pelaporan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-78837929

Fax : 021-78837929

Ext. 5238

Email         :  maria@deptan.go.id





Dr. Ir. Gardjita Budi, M.Agr. ST

Direktur Pasar Domestik

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone : 021-7815880

Fax :  021-7815880

Ext. 5313



Email         : Kenalkah





Ir. Mahpudin, MM

KasubDit Pemantauan dan Pengawasan Pasar

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone  : 021-78842571

Fax : 021-78842571

Ext. 5303



Email         :Kenalkah





Rini Indrayani, SP

Kasie Tanaman Pangan dan Hortikultura

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone  : 021-78842571

Fax : 021-78842571

Ext. 5303



Email         :  indrayani@deptan.go.id







Tardi Toyib, SP, MM

Kasie Perkebunan dan Peternakan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone  : 021-78842571

Fax : 021-78842571

Ext. 5303



Email         : Kenalkah





Ir. Wenny Astuti, MM

KasubDit Analisis dan Informasi Pasar

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone  : 021-78842007

Fax :  021-78842007

Ext. 5301



Email         : Kenalkah





Ir. Mochammad Amir

Kasie Tanaman Pangan dan Hortikultura

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone  : 021-78842007

Fax :  021-78842007

Ext. 5301



Email         :  amir@deptan.go.id





Ofi Nidausoleha, SP, M.Si

Kasi. Bun & Nak

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 2, Jakarta 12550

Phone  : 021-78842007

Fax :  021-78842007

Ext. 5301



Email         : Kenalkah

 



Ir. Maruli Indra, MSc

KasubDit Promosi dan Pengembangan Pasar

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 1, Jakarta 12550

Phone  : 021-7815880

Fax :  021-7815880

Ext. 5316



Email         :  maruli@deptan.go.id





Ir. Sitti Aminah, MM

Kasie Tanaman Pangan dan Hortikultura

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 1, Jakarta 12550

Phone  : 021-7815880

Fax :  021-7815880

Ext. 5316



Email         :  aminah@deptan.go.id





Ir. Jogarini Pramati, MSc

Kasi. Bun & Nak

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 1, Jakarta 12550

Phone  : 021-7815880

Fax :  021-7815880

Ext. 5316



Email         :  yogarini@deptan.go.id

 



Ir. Octa Muchtar, MA.Econ

KasubDit Kerjasama Pemasaran Domestik

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 1, Jakarta 12550

Phone  : 021-7815880

Fax :  021-7815881

Ext. 5307



Email         :  econ@deptan.go.id

  



Ir. Yuliastuti Purwaningsih

Kasie Tanaman Pangan dan Hortikultura

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 1, Jakarta 12550

Phone  : 021-7815880

Fax :  021-7815881

Ext. 5307



Email         : Kenalkah





Ir. Dwina Sudjayanti, MSi

Kasie Perkebunan dan Peternakan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 1, Jakarta 12550

Phone  : 021-7815880

Fax :  021-7815881

Ext. 5307



Email            :Kenalkah





Ir. RN. Nurnadiah, MM

KasubDit Sarana dan Kelembagaan Pasar

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 1, Jakarta 12550

Phone  : 021-7815880

Fax :  021-7815880

Ext. 5306



Email         :  nurnadiah@deptan.go.id

 



Ir. Novi Suryani

Kasie Tanaman Pangan dan Hortikultura

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 1, Jakarta 12550

Phone  : 021-7815880

Fax :  021-7815880

Ext. 5306



Email         : Kenalkah





Ir. Sadaruddin

Kasie Perkebunan dan Peternakan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 1, Jakarta 12550

Phone  : 021-7815880

Fax :  021-7815880

Ext. 5306



Email         :  sadar@deptan.go.id





Andi Muhammad Idil Fitri, SE, MM

Kasubbag Tata Usaha

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 1, Jakarta 12550

Phone  : 021-7815880

Fax :  021-7815880

Ext. 5306



Email         : Kenalkah





Ir. Chairul Rachman, MM

Direktur Pengolahan Hasil Pertanian

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 7828575

Fax : 021- 78842572

Ext. 5340, 5339



Email         : Kenalkah



 

Ir. Susanto, MM

KasubDit Pengolahan Lingkungan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 78842572

Fax : 021- 78842572

Ext. 5334

Email         : Kenalkah





Dede Sulaiman, ST, M.Si

Kasie Tanaman Pangan dan Hortikultura

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 78842572

Fax : 021- 78842572

Ext. 5334



Email         : Kenalkah





Ir. Woro Palupi

Kasie Perkebunan dan Peternakan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 78842572

Fax : 021- 78842572

Ext. 5334



Email         : Kenalkah




Ir. Andrizal, MM

KasubDit Pengolahan Hasil Tanaman Pangan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 78842572

Fax : 021- 78842572

Ext. 5344



Email      :  adrizal@deptan.go.id





Ir. RR. Retno Pujiastuti

Kasie Teknologi

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 78842572

Fax : 021- 78842572

Ext. 5344



Email      : Kenalkah



Ir. Budi Lestari

Kasie Sarana

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 78842572

Fax : 021- 78842572

Ext. 5344



Email      :   Kenalkah





Ir. Jamil Musanif

Kasub Dit Pengolahan Hasil Hortikultura

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 78842572

Fax : 021- 78842572

Ext. 5342



Email      : Kenalkah





Ir. Rosita Anggraini MM

Kasie Teknologi

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 78842572

Fax : 021- 78842572

Ext. 5342

Email      :  rosita@deptan.go.id





Ir. Alfiansyah

Kasie Sarana

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 78842572

Fax : 021- 78842572

Ext. 5342



Email      : Kenalkah





Ir. Akhmad Suhardiyanto, MSc

KasubDit KasubDit Pengolahan Hasil Perkebunan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 78842572

Fax : 021- 78842572

Ext. 5336



Email      :Kenalkah





Ir. Lucyanti

Kasie Teknologi

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 78842572

Fax : 021- 78842572

Ext. 5336



Email      : Kenalkah





Ir. Suharto

Kasie Sarana

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 78842572

Fax : 021- 78842572

Ext. 5336



Email      : Kenalkah





Ir. Agus Amran, SU

KasubDit KasubDit Pengolahan Hasil Peternakan

Jl. Harsono RM No. 3 - Gd D lt 3, Jakarta 12550

Phone  : 021- 78842572
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: KENALKAH ??? - 9756people
Info Petani -
PENDAFTARAN PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN
Pendaftaran-Departemen Pertanian mengeluarkan kebijakan untuk mendaftarkan pangan segar yang beredar di Indonesia. Hal ini untuk menjamin keamanan, mutu serta meningkatkan daya saing pangan segar asal tumbuhan yang beredar.  Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 51/Permentan /OT.140/10/2008 tertanggal 21 Oktober 2008 tentang Syarat Dan Tatacara Pendaftaran Pangan Segar Asal Tumbuhan. Peraturan Menteri Pertanian ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan. pendaftaran

Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diperdagangkan dituntut pertanggungjawabannya menyelenggarakan sistem jaminan mutu sesuai dengan jenis pangan yang diproduksi. Pendaftaran pangan segar asal tumbuhan ditujukan utamanya pada produk berikut : beras tampa klaim; biji-bijian; sayuran segar/beku; buah-buahan segar dan kentang segar/beku.
Permohonan Pendafataran ditujukan kepada Otoritas Kompeten Keamanan Pangan (OKKP). OKKP direncanakan ada di setiap propinsi. Apabila OKKP belum terbentuk maka pendaftaran dapat ditujukan kepada OKKP Pusat di Direktorat Mutu dan Standardisasi Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian.

Pendaftaran-Alamat OKKP .
Pusat /Direktorat Mutu dan Standardisasi Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Departemen Pertanian
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan-Jakarta Selatan 12550
Gedung D Lantai 3
PO Box 83/12001/Kbypm
Telpon : 0062-021-7815881,78842568
Fax : 0062-021-7811468

Pendaftaran-Sedangkan untuk pendaftaran produk masukan dari luar negeri dapat ditujukan kepada Kepala Pusat Perizinan dan investasi Depatemen Pertanian.
Alamat Pusat Perizinan dan Investasi
Jl. Harsono RM No.3 , Ragunan Jakarta Selatan
Gedung Arsip - Telp. 021 7815380-84
Faks. 021 78839619

Persyaratan Pendaftaran:
•Pendaftaran- Mengisi Form yang disediakan (Contoh Formulir pendaftaran dapat di copy terlampir).
• Pendaftaran-Melampirkan persyaratan administrasi :
o Copy Kartu Penduduk (perorangan)
o Akte Pendirian dan Perubahannya (Badan Usaha/Badan Hukum)
o Copy NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
o Surat Keterangan Domisili
o Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)

Pendaftaran-Alamat OKKP yang ada di setiap propinsi sebagai berikut :
No Propinsi Instansi Yang ditunjuk Acuan
1 2 3 4
1 Pendaftaran-NAD BKPD Provinsi NAD
Jl. T. Nyak Arif No. 24
Pendaftaran-Banda Aceh
SK Gub No 521/371/2005 Tgl 31 Des 2005

2 Pendaftaran-Sumatera Utara
**)
Pendaftaran-BKPD Provinsi Sumatera
Utara
Jln Jenderal Besar Dr Abd
Haris Nasution No 24 telp
(061)7865366
SK Gub No 521.23/3260/K/200 4 Tgl 24 Des 2004

3 Sumatera Barat BKPD Propinsi Sumatera
Barat Jl. Raden Saleh Tlp.
(0751) 7051526/54505/08126714
221 No.4 Padang SK Gub No 520- 239-2006 Tgl 4 Oktober 2006

4 Pendaftaran-Riau BKPD Provinsi Riau Jl.
Kuantan Raya No 27 Tlp. (0761) 20820 Pekanbaru SK Gub. Kpts.108/II/ 2009 Tgl 23 Feb 2009

5 Pendaftaran-Kep. Riau BKPD Provinsi Kepri*) draf SK Gub sedang
dipersiapkan

6 Pendaftaran-Jambi BKPD Propinsi Jambi Jl. Samarinda Kotabaru Jambi Tlp. (0741) 42470,42795/085266255859 SK Gub No117/Kep.Gub/BKPKP Tahun 2009 Tgl 17 Maret 2009

7 Pendaftaran-Sumatera Selatan BKPD Provinsi Sumatera Selatan
Jln Kol H Berlian KM 6 No 82 Telp (0711) 4104488SK Gub No 71Tahun 2008 tgl 21November 2008

8 Pendaftaran-Bengkulu Dinas Pertanian Prov.Bengkulu*)
Jln Padang Harapan. Bengkulu Telp.(0736)21017 draf SK Gub sedang dipersiapkan

9 Pendaftaran-Lampung BKPD Provinsi Lampung
Jln Drs Warsito No 78 telp. (0721) 482023 Bandar lampung
SK. Gubernur No. G/253/II.05/HK/20 08 Tgl 5 Mei 2008

10 Banten BKPD Provinsi Banten*)
Jln Jenderal Sudirman
Ruko Glodok F.1-5 Kota
Serang Baru-Serang-
Banten
draf SK Gub sedang
dipersiapkan
11 DKI Jakarta**) Dinas Pertanian Provinsi
DKI Jakarta*)
Perda Nomor 8
Tahun 2004
12 Jawa Barat Dinas Pertanian Tanaman
Pangan Propinsi Jawa
Barat*) Jln Suropati
No 71 Bandung.Telp (022)
2503884
Draft SK Gubernur
sedang disiapkan
13 Jawa Tengah***) BKPD Provinsi Jawa
Tengah
Jln Gatot Subroto,
Tarubudaya Ungaran
Semarang Telp. (024)
6921159
Pergub. No. 20
Tahun 2009 tgl 10
Maret 2009
14 DIY*****) Dinas Pertanian Tanaman
Pangan Provinsi
Yogyakarta
Jln Sagan III No 4
Yogyakarta
SK Gub No
300/0022/2005 Tgl
5 Januari 2005
15 Jawa Timur****) Dinas Pertanian Tanaman
Pangan Provinsi Surabaya
Jln Jend. A Yani No 152
Wonocolo Surabaya
SK Gub No
520/8135.1/021/20
04 Tgl 14 Oktober
2004
16 Bali Dinas Pertanian Tanaman
Pangan Provinsi Bali
Jln WR Supratman No 71
Denpasar telp. (0361)
228617
SK Gub No 265/01-
C/HK/2004 Tgl 22
Juni 2004
17 NTB BKP Provinsi NTB
Jln Majapahit No 29
Mataram NTB telp (0370)
636005
SK Gub No 301
Tahun 2004 Tgl 24
Oktober 2005
18 NTT BBKP Provinsi NTT Jl. Polisi
Militer -Kupang
SK Gub No
139/Kep/HK/2005
Tgl 16 Juli 2005
19 Kalimantan
Tengah
Dinas Pertanian dan
Peternakan OKKPD
Provinsi Kalimantan
Tengah
Jln Willem AS No 5
Palangkaraya Telp.(0536)
3227855
SK Gub No 405 Thn
2004 Tgl 8 Nov
2004
20 Kalimantan Timur Dinas pertanian Tanaman
Pangan Provinsi
Kalimantan Timur
Jln. Basuki Rahmat No 6
Samarinda Telp.
(0541)732079
SK Gubernur No.
521.3/K .378/2008
21 Kalimantan
Selatan***)
Dinas Pertanian Jl.
Panglima No. 5 Tlp. (0511)
4772057 Fax. (0511)
4772473 Banjarbaru
SK Gubernur No.
188.44/
0436/KUM/2008
22 Kalimantan Barat Dinas Pertanian Provinsi
Unit Ketahanan Pangan
SK Gub No. 930
tahun 2007
23 Sulawesi
Selatan****)
BKP Provinsi Sulawesi
selatan
Jln Dr Sam Ratulangi No
47 Makassar
SK Gub.
2693/VII/TH. 2008
24 Sulawesi Barat Dinas Pertanian dan
Peternakan Provinsi
Sulawesi Barat*)
Jln Jenderal Sudirman No
34 Mamuju telp.(0426)
22420
SK Gub. 380 tahun
2008 ditetapkan
tanggal 15
September 2008
25 Sulawesi Dinas Pertanian Provinsi SK Gubernur 360
Keterangan:
*) SK Gubernur disiapkan oleh intansi tersebut
**) Sudah siap menerapkan sistem mutu
***) Sudah diverifikasI (sertifikat verifikasi dalam proses)
****) Sudah diverifikasi
*****) Sudah diverifikasi dan operasional
.
Apabila diperlukan pengujian laboratorium terhadap produk yang
didaftarkan, berikut dibawah daftar laboratorium yang telah
diakreditasi :
Tenggara Sulawesi Tenggara
Jl. Balai Kota No. 6
Kendari Tlp. (0401)
326639
tahun 2007
26 Sulawesi Tengah BKP Provinsi Sulawesi
Tengah
SK Gub No
521/291/BKP.G.ST/
2008 Tgl 6 Agustus
2008
27 Sulawesi Utara Dinas Pertanian dan
Peternakan Kompl
Pertanian Kalasey Kotak
Pos 11558 Manado
SK. Gub. No.
268/TH. 2007
28 Maluku Utara OKKPD Provinsi Maluku
Utara*)
Jln KOA Falang Raha Kel
Kalumata Kota Ternate
Selatan.Hp.08124470060
draf SK Gub sedang
dipersiapkan
29 Gorontalo Dinas pertanian dan
Ketahanan Pangan*).
Jl. Andalas Komp. UPP IIIIKIP
Gorontalo
draf SK Gub sedang
dipersiapkan
30 Papua Dinas Pertanian Provinsi
Papua
Jln Raya Kota Raja
Jayapura
SK Kepala BBKP No
10/B.3/SK/12/2004
Tgl 22 Des 2005
31 Maluku Dinas Pertanian*) Jl. WR.
Supratman Tanah Tinggi
draf SK Gub sedang
dipersiapkan
32 Papua Barat Dinas Pertanian*) Jl.
Sausesa No. 40 Manokwari
draf SK Gub sedang
dipersiapkan
33 Bangka-Belitung Badan Ketahanan Pangan
Kep. Bangka Belitung*)
Komp. Perkantoran dan
Pemukiman Terpadu
Pemprov. Kepulauan Babel
Jl. Pulau Pongok Kel. Air
Itam Pangkal Pinang Telp.
(0717) 4255039
Surat penunjukan
Gub. No.
521/287/DPPP/200
8
34 Kab. Buol Prov.
Sulawesi Tengah
Kantor. Ketahanan dan
Penyuluhan Pertanian
Kelautan*)
SK Bupati No.
521/4191/KKP-PPK
tgl 10 Agustus
2005
DAFTAR LABORATORIUM UJI YANG TERAKREDITASI
No Nama laboratorium uji Alamat
1. Laboratorium Penguji Mutu Gula dan Bahan
Pembantu, Pusat Penelitian Perkebunan Gula
Indonesia
Jl. Pahlawan No. 25 Pasuruan 67126
Telepon : 0343 421086 / 0343 421086
2. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)
Sulsel-Maros
Lab. Penguji mutu
Jl. DR. Ratulangi Maros Sulawesi Selatan
3. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)
Medan
Jl. Jend. Besar Abd Haris Nasution No. 1 B
Medan
4. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
(BPTP)Jawa Timur
Jl. Raya Karang Ploso KM. 4 PO. BOX 188
Malang 65101
5. Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Hasil
Pertanian dan Hasil Hutan Dinas Pertanian
dan kehutanan DKI
Jl. Raya Jambore No. 1 Cibubur Jakarta
Timur
6. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia Jl. Pahlawan 25 Pasuruan 67126 Jawa
Timur
7. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat-
Obatan (BALITRO) Bogor
Jl. Tentara Pelajar No. 3 Bogor 16111
8. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi
Pertanian .Serpong
Situgadung Legok Tromol Pos 2 Serpong
15310 Tangerang-Jawa Barat
9. Balai Penelitian Sayuran (BALITSA), Lembang Jl. Tangkuban Perahu No. 517 Lembang
Bandung
10. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan
Sumberdaya Genetik Pertanian
Jl. Tentara Pelajar No. 3 A Bogor
11. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah
dan Agroklimat Bogor
Jl. Ir. H. Juanda 98 Bogor 16123
12. Balai Penelitian Padi (BALITPA), Sukamandi Jl. Raya 9 Sukamandi Subang 41256
13. Balai Penelitian Teknologi Karet (BPTK),
Bogor
Jln. Salak No. 1 Bogor 16151 Bogor
14.
Balai Besar Perbenihan dan Proteksi
Tanaman Perkebunan Sumut
• Laboratorium Pengujian Mutu Benih
Perkebunan
• Laboratorium analisa pestisida
Jl. Asrama No. 124 Sei Sikambing Medan
Telp. (061) 8466771
15. Balai Pengawasan dan Pengujian Mutu Benih
Perkebunan (BP2MB) Surabaya
Jl. Pondok Maritim No. 5 Balasklumprik
Wiyung Surabaya
16. Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian Jl. Pemuda No. 64 Rawamangun
17. Sucofindo Laboratorium Cibitung Jl. Arteri Tol Cibitung Bekasi 17520
Telepon : 021 88321176 / 021 88321176
18. Balai Pengujian Mutu Barang Ekspor dan
Impor
Jl. Raya Bogor Km 26, Ciracas Jakarta
13740
Telepon : 021 8710321-23 / 021 8710321-
23
Formulir Pendaftaran sebagai berikut :
FORMULIR-1
Nomor File :
FORMULIR PENDAFTARAN
STATUS PENDAFTARAN STATUS PRODUK
BARU
ULANG BARU LAMA
1 Nama Dagang
2 Nama Jenis
3 Jenis Kemasan dan Netto
4 Nama Pabrik/Perusahaan
Alamat Pabrik/Perusahaan
Nomor Telepon
5 Nama Pabrik Pengemas Kembali
Alamat Pabrik Pengemas Kembali
Nomor Telepon
Nama Pabrik Asal
Alamat Pabrik Asal
6 Nama Perusahaan Pemberi Lisensi
Alamat Perusahaan Pemberi Lisensi
Nomor Telepon
Nama Perusahaan Pemegang Lisensi
Alamat Perusahaan Pemegang Lisensi
7 Nama Pabrik
Alamat Pabrik
Nama Importir
Alamat Importir
Nomor Telepon
8 Orang yang dapat dihubungi
Nama
Nomor Telepon
........, .....20.
Penanggung Jawab
Cap Perusahaan dan Ttd
............
(Nama Lengkap)
Nomor Persetujuan Pendaftaran
.............
Keterangan:
FORMULIR-1 (LANJUTAN)
STATUS No JENIS LAMPIRAN
ADA TIDAK
KETERANGAN
1 Komposisi
2 Mutu Bahan
3 Wadah dan tutup serta cara
pembersihan kemasan
4 Cara produksi, Arti kode produksi dan
informasi masa kadaluarsa
5 Hasil pengujian produk akhir
6 Sertifikat sistem jaminan mutu (ISO
9001:2000/HACCP/GAP/GHP/GMP)
7 Label asli (berwarna)
8 Produk dalam negeri
8.1. Ijin Industri (Deperindag, Dinas)
atau BKPM /BKPMD
8.2. Sertifikat Merek Dagang (Dep
Kehakiman & HAM)
8.3. Sertifikat SNI (untuk produk
Wajib SNI)
8.4. Untuk pabrik pengemas kembali
dilengkapi surat keterangan dari
pabrik asal
8.5. Untuk produk lisensi (dan
sejenisnya) dilengkapi surat
keterangan dari pabrik pemberi
lisensi
9 Produk impor
8.1. Surat Penunjukan
8.2.Sertifikat Kesehatan atau Sertifikat
Bebas Jual
10 Data pendukung lain
Formulir untuk penilaian sebagai berikut :
Penilaian khusus untuk pendaftaran produk segar (Form 5)
Isilah dengan benar formulir dibawah ini, dengan memberi tanda
silang (√) pada jawaban yang sesuai atau lampirkan sertifikat Good
Agriculture Practices/GAP (Prima 1/Prima 2/Prima 3)
No Parameter Penilaian Ada/ya Tidak Keterangan
1. Lokasi Lahan Usaha
a. Usaha budidaya dilakukan pada lahan
terbuka dengan kemiringan kurang dari
30%
b. Lahan bebas dari pencemaran limbah
beracun
c. Tindakan konservasi lahan
2. Persiapan Lahan dan Media Tanam
a. Persiapan lahan/media tanam
3. Mutu Benih
a. Benih yang digunakan jelas asal usulnya
b. Benih yang digunakan memiliki vigor dan
daya kecambah yang baik, tidak
membawa dan atau menularkan OPT di
lokasi usaha produksi
4. Penanaman dan Pemeliharaan
a. Prosedur Operasional Standar untuk
panduan budidaya
5. Pemupukan
a. Penentuan jenis, dosis, dan waktu
pemupukan
b. Tidak menggunakan limbah manusia
untuk memupuk tumbuhan
c. Pengolahan kotoran dan urine binatang
sebelum digunakan dalam pemupukan
d. Pupuk disimpan di tempat yang aman,
kering dan terlindung serta terpisah
dengan hasil tumbuhan
e. Pupuk disimpan di tempat yang aman,
kering dan terlindung serta terpisah
dengan pestisida dan benih
6. Perlindungan Tumbuhan
a. Pengendalian OPT dilakukan sesuai
sistem Pengendalian Hama Terpadu
(HPT)
7. Pestisida
a. Pestisida yang digunakan terdaftar/
mendapat izin resmi dari pemerintah
b. Penggunaan pestisida sesuai instruksi
label
c. Pengetahuan mengenai penggunaan
pestisida
No Parameter Penilaian Ada/ya Tidak Keterangan
d. Pestisida disimpan di tempat yang aman,
kering dan terlindung serta terpisah dari
hasil tumbuhan
e. Pestisida disimpan di tempat yang aman,
kering dan terlindung serta terpisah
dengan pupuk dan benih
f. Pestisida disimpan dengan kemasan
aslinya
g. Pestisida di tempat penyimpanan
terinventarisir dengan baik
h. Pembuangan sisa pestisida dan cara
pembuangannya tercatat dengan baik
i. Pembuangan pestisida kadaluarsa sesuai
pedoman yang ada
j. Bekas kemasan pestisida tidak
digunakan kembali dan dibuang ke
tempat yang aman dan tidak mencemari
lingkungan
8. Panen
a. Pemanenan dilakukan sesuai umur
panen
b. Pemanenan dilakukan dengan cara
panen yang tidak menurunkan mutu hasil
9. Pasca Panen
a. Tempat khusus untuk pengumpulan hasil
panen yang terlindung dari sinar matahari
langsung
b. Tempat khusus untuk penanganan pasca
panen yang bersih dan terlindung dari
sinar matahari langsung
c. Pekerja yang melakukan kegiatan pasca
panen memenuhi standar
kesehatan/kebersihan
d. Mencuci tangan sebelum dan setelah
bekerja
e. Mencuci tangan setelah menggunakan
toilet
f. Kegiatan pasca panen dilakukan oleh
pekerja yang terlatih dan terampil
g. Air untuk proses pencucian sesuai baku
mutu air bersih
h. Proses sortasi produk/hasil panen
i. Proses pengkelasan/grading sesuai
standar yang berlaku
j. Kemasan yang digunakan dapat
melindungi produk mulai dari
penyimpanan sampai pendistribusian
k. Penggunaan label pada kemasan
No Parameter Penilaian Ada/ya Tidak Keterangan
l. Penggunaan bahan kimia untuk
penanganan pasca panen tercatat
m. Penerangan cukup
n. Ventilasi cukup
10. Penanganan Limbah dan Sampah
a. Sarana pengolahan limbah padat
b. Sarana pengolahan limbah cair
c. Sarana pengolahan limbah gas
d. Tempat sampah tertutup
11. Kesehatan, Keamanan dan
Kesejahteraan Pekerja
a. Pekerja yang melakukan pekerjaan
produksi dan penanganan hasil dalam
kondisi sehat dan tidak mengidap
penyakit menular
b. Fasilitas bagi karyawan yang sakit
c. Sarana PPPK
d. Sarana toilet
Penilaian khusus untuk pendaftaran produk olahan primer (Form
5.2)
Isilah dengan benar formulir dibawah ini, dengan memberi tanda
silang (√) pada jawaban yang sesuai atau lampirkan sertifikat Good
Manufacturing Practices/GMP
No Parameter Penilaian Ada/ya Tidak Keterangan
1. Sanitasi Lingkungan Umum Pabrik
a. Tempat sampah tertutup
b. Pembuangan limbah padat
c. Pembuangan limbah cair
d. Pembuangan limbah gas
e. Sarana pengolahan terawat baik
f. Toilet karyawan
g. Ruang khusus karyawan (penyimpanan
barang, pakaian, dll)
h. Tempat pemeliharaan hewan, dan lainnya
i. Saluran pembuangan air
j. Pencegahan binatang (serangga, pengerat)
2. Kondisi Umum Sarana Pengolahan
a. Kondisi keseluruhan bangunan baik
b. Bangunan dirancang tidak dimasuki binatang
pengerat, serangga dan hama lainnya
c. Bangunan cukup luas untuk melakukan
kegiatan pengolahan
d. Bangunan dirawat dengan baik
e. Penerangan cukup
f. Ventilasi cukup
3. Sanitasi Ruang Pengolahan
a. Langit-langit
b. Dinding
c. Lantai
d. Kotak PPPK
e. Sarana pengolahan limbah padat
f. Sarana pengolahan limbah cair
g. Sarana pengolahan limbah gas
h. Tempat sampah tertutup
i. Sarana pencucian
j. Sarana toilet
k. Penerangan cukup
l. Ventilasi cukup
4. Sanitasi Alat Pengolahan
a. Kondisi alat pengolahan berjalan baik
b. Kegiatan pembersihan cukup
c. Alat pengolahan mudah dibersihkan
5. Higiene Karyawan
a. Latihan karyawan tentang higiene dan
sanitasi
b. Pakaian seragam karyawan
No Parameter Penilaian Ada/ya Tidak Keterangan
c. Menggunakan tutup kepala
d. Menggunakan perhiasan pada saat bekerja
e. Menggunakan masker
f. Menggunakan sarung tangan
g. Mencuci tangan sebelum dan setelah
bekerja
h. Mencuci tangan setelah menggunakan toilet
i. Fasilitas bagi karyawan yang sakit
6. Pencegahan Kontaminasi Silang (Lampirkan
denah pabrik)
a. Ruang bahan baku, pengolahan, bahan jadi
terpisah
b. Bahan baku, bahan tambahan pangan,
bahan penolong dan bahan kemasan
terpisah
c. Bahan kimia non pangan terpisah
d. Bahan baku, kemasan, bahan tambahan
pangan, bahan penolong dan produk jadi
disimpan secara teratur dan dikeluarkan
secara teratur (First in first out)
7. Pengadaan Air
a. Sumber air
8. Tindakan Pengawasan Mutu
a. Bahan mentah ditangani secara hati-hati
sehingga terhindar dari kontaminasi
b. Ada upaya khusus penanganan bahan
tambahan pangan
c. Dilakukan pemeriksaan terhadap bahan
tambahan pangan
d. Dilakukan tindakan pengawasan selama
proses pengolahan
e. Telah dilaksanakan HACCP (Hazard
Analysis and Critical Control Point)/ISO
9001-2000
Penilaian khusus untuk pendaftaran produk pangan asal pemasukan
(Form 5.3)
Isilah dengan benar formulir dibawah ini, dengan memberi tanda silang (√)
pada jawaban yang sesuai atau lampirkan sertifikat sistem jaminan mutu dari
lembaga sertifikasi yang terakreditasi
No Parameter Penilaian Ada/ya Tidak Keterang
-an
1. LOKASI GUDANG
a. Lokasi bebas dari pencemaran
2. BANGUNAN GUDANG
a. Luas bangunan sesuai kapasitas
produksi,mudah dibersihkan, lingkungan
bebas dari debu
b. Tata Ruang terpisah antara ruang pokok dan
pelengkap
c. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan
d. Dinding bersih dan terpelihara
e. Atap dan langit-langit tahan lama, tidak bocor
dan bersih
f. Pintu mudah dibersihkan dan berfungsi
dengan baik
g. Jendela mudah dibersihkan dan berfungsi
dengan baik
h. Penerangan cukup
i. Ventilasi / sirkulasi udara cukup baik
3. FASILITASI SANITASI GUDANG
a. Fasilitasi air, sarana pembuangan sampah
dan toilet mencukupi dan memenuhi
persyaratan
b. Adanya sarana cuci tangan yang memadai
4. ALAT PENGEMASAN
a. Alat pengemasan mencukupi sesuai dengan
tujuan penggunaan, dan mudah dibersihkan
5. BAHAN KEMASAN
a. Bahan kemasan sesuai dengan persyaratan
yang diizinkan
6. TAHAP PROSES
a. Adanya tahapan proses yang ditetapkan
b. Adanya kontrol pelaksanaan tahapan proses
7. PENGEMASAN DAN PELABELAN
a. Proses pengemasan sesuai dengan tahap
yang ditentukan
b. Kemasan mampu melindungi dan
mempertahankan mutu isinya terhadap
pengaruh luar.
c. Kemasan tidak mempengaruhi mutu isi
d. Dibuat dari bahan yang tidak mengganggu
kesehatan
No Parameter Penilaian Ada/ya Tidak Keterang
-an
e. Sebelum digunakan wadah dibersihkan dan
dilakukan tindak sanitasi
f. Kemasan steril bagi jenis produk yang akan
digunakan.
g. Kemasan besar menggunakan label
h. Label tidak mudah lepas atau rusak
i. Label terlihat jelas dan mudah dibaca serta
menginformasikan identitas produk secara
lengkap
j. Dalam hal pengemasan ulang, identitas
produk asli tetap dipertahankan
8. PRODUK AKHIR
a. Produk akhir ditemukan merugikan dan
membahayakan kesehatan
b. Produk akhir sebelum dipasarkan dilakukan
pemeriksaan organoleptik
9 PENYIMPANAN
a. Sistem penyimpanan menggunakan sistem
FIFO (first In First Out)
b. Teknis penyimpanan diatur agar tidak
menimbulkan kerusakan
10. PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT
a. Adanya prosedur untuk pengendalian
penyakit yang disebabkan oleh jamur,
bakteri, serangga dan penyimpangan
fisiologis.
b. Adanya pemeriksaan secara berkala dan
pencatatan
11. TENAGA KERJA
a. Adanya pengawasan kesehatan pekerja
b. Penggunaan pakaian kerja dan atau
pelindung diri
c. Adanya prosedur sanitasi bagi pekerja
12. PENGANGKUTAN DAN DISTRIBUSI
a. Sarana angkutan yang digunakan bersih dan
mudah dibersihkan
b. Sarana angkutan aman pada waktu
pengangkutan
c. Sarana angkutan yang tidak berpendingin
mempunyai ventilasi yang cukup
d. Produk diletakkan secara beraturan dan
tidak melebihi kapasitas angkutan
e. Adanya pencatatan pendistribusian
13. PENGAWASAN DAN PEMBINAAN
a. Adanya pengawasan berkala
b. Tersedianya complaint form
c. Adanya penanganan complaint form
d. Adanya pelatihan peningkatan kemampuan
pekerja
Pendaftaran
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: PENDAFTARAN PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN - 9756people
Info Petani -
KAMI BANGGA KEPADA ANDA, PARA PENDEKAR THL-TBPP
Bulan-bulan ini, Januari dan Pebruari 2010, para Tenaga Harian Lepas – Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) tetap sibuk dengan tugas-tugas rutin melakukan pendampingan pada Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) binaannya. Lho, bukankah kontrak kerja mereka hanya sampai akhir Nopember 2009 dan akan diperbaharui dengan kontrak kerja baru per 1 Maret hingga 31 Desember 2010? Sebagian dari teman-teman ini, seperti di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur mendapatkan honor dari Pemda untuk “bulan-bulan non kontrak Pusat yaitu Januari dan Desember 2009”. Tetapi tidak semua Pemerintah Kabupaten/Kota memberi perlakuan demikian, dus tidak semua teman-teman THL-TBPP se-Indonesia mendapatkan honor dari Pemda masing-masing pada “bulan-bulan non kontrak Pusat”. Teman-teman ini berpandangan, bulan-bulan Desember, Januari dan Pebruari adalah bulan-bulan sibuk petani menghadapi musim tanam padi. Mereka rupanya tidak tega meninggalkan petani di saat-saat paling membutuhkan pendampingan. Demikian juga pada bulan Desember 2009, Januari dan Pebruari 2010. Meski bulan-bulan ini bukan bulan kontrak Pusat, teman-teman THL-TBPP tetap setia dengan tugas “ekstra” mendampingi petani, tanpa terlalu memikirkan apakah nanti akan mendapatkan honor dari Pemda seperti tahun lalu atau tidak.
      Dalam minggu-minggu ini, sebagian dari mereka dalam kapasitas sebagai utusan dari berbagai daerah dan tergabung dalam Forum Komunikasi (FK) THL-TBPP Nasional berangkat ke Jakarta untuk sebuah kepentingan besar. Kita sebut kepentingan besar, karena tujuannya melampaui kepentingannya sendiri. Mungkin sudah berminggu-minggu teman-teman kita ini di sana. Mereka sekelompok THL-TBPP, yang tidak berhitung hanya untuk kepentingan diri sendiri. Mereka melakukan lobi-lobi kepada para wakil rakyat dan para pejabat pusat terkait. Ini semua butuh biaya operasional, paling tidak untuk makan, transportasi dan penginapan. Mereka ke Jakarta pada bulan-bulan non kontrak alias saat-saat tidak mendapat honor. Sungguh mereka adalah pendekar-pendekar gigih, yang berjuang demi visi jauh ke depan.
      Apa tujuan besar itu? Apa yang diinginkan sekelompok THL-TBPP ini? Mereka ke Jakarta membawa misi THL-TBPP se-Indonesia, yaitu berjuang demi terbitnya Peraturan Pemerintah yang mengakomodir para THL-TBPP untuk diangkat secara khusus menjadi PNS. Jika dilihat secara sepintas ini seperti kepentingan para THL-TBPP sendiri. Memang ya, tapi dalam pengertian agar para petugas ini lebih optimal lagi dalam menyalurkan pengabdiannya dengan status yang jelas (PNS). Lebih jauh lagi, perjuangan teman-teman ini sebenarnya adalah bentuk pengawalan yang konkret atas tekad Pemerintah sendiri di awal periode 2004-2009 yang akan mengkondisikan komposisi 1 penyuluh : 1 desa dan 1 desa : 1 penyuluh. Ini adalah bentuk kesadaran yang tinggi bahwa eksistensi penyuluh pertanian dan segala kiprahnya merupakan salah satu pilar kesuksesan pembangunan pertanian Indonesia.
      Ya, kita menyadari betul bahwa bobot dan urgensi sektor pertanian, sekurang-kurangnya setara dengan pendidikan dan kesehatan, dalam konteks kepentingan nasional. Jangan bicara pendidikan dan kesehatan jika perut lapar. Begitulah kira-kira sederhananya. Karena itu sudah sepatutnya jika kita terus mendorong agar penetapan skala prioritas pembangunan pertanian setara dengan kedua bidang yang disebut terakhir. Apalagi beban sektor pertanian ke depan akan semakin berat. Nah, apa yang sedang teman-teman kita perjuangkan saat ini adalah dalam kerangka pembangunan pertanian sebagaimana telah dirancang oleh Pemerintah sendiri, yakni agar revitalisasi penyuluh pertanian dapat terwujud dan seiring sejalan dengan 6 (enam) gema revitalisasi pertanian yang lain. (Sebagai catatan, Kementerian Pertanian RI mencanangkan program 7 (tujuh) gema revitalisasi).
      Ada berita lain yang cukup menggembirakan dan menambah semangat kita untuk terus berjuang. Pada saat peresmian secara simbolis 354 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Desa Kalianyar, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon Sabtu, 6 Pebruari 2010 Menteri Pertanian Suswono menyatakan pemerintah berencana mengangkat petugas THL-TBPP menjadi PNS. Kita patut berprasangka baik pada kehendak mulia ini dan berharap agar pernyataan Bapak Menteri di atas bukan sekedar pernyataan yang menghibur. Kita wajib mengawal rencana tersebut secara sistematis dan terkoordinasi dengan baik, agar secepatnya keluar kebijakan konkret dalam bentuk peraturan resmi yang mengatur proses peralihan status THL-TBPP menjadi PNS. 
      Karena itu, kepada teman-teman THL-TBPP se-Indonesia, marilah kita berikan dukungan penuh kepada Pendekar-Pendekar kita ini agar mereka terus berjuang hingga tujuan tercapai. Sekali lagi, HINGGA TUJUAN TERCAPAI! Mari kita yakinkan diri kita semua bahwa perjuangan ini berada pada jalur yang benar, yakni demi eksistensi dan kebangkitan dunia pertanian Indonesia. Manakala kita tidak dapat bergabung dengan teman-teman yang gigih dan kita banggakan bersama di Senayan Jakarta, marilah kita sungguh –sungguh menggalang do’a, do’a bersama yang terbit dari setiap hati THL-TBPP yang penuh harap, dengan jiwa yang khusyuk agar perjuangan teman-teman ini membawa hasil gemilang. MAJU TERUS THL-TBPP! 
(kontributor :Ir. Nur Samsu, THL-TBPP 2008 BPP Paiton – Kabupaten Probolinggo untuk http://thl-tbpp.blogspot.com/)

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: KAMI BANGGA KEPADA ANDA, PARA PENDEKAR THL-TBPP - 9756people
Info Petani -
MASYARAKAT PELAYANAN PENDIDIKAN
Keberhasilan proyek pembangunan yang berorientasi pada masyarakat, dikenal sangat tergantung pada perhatian yang diberikan pada faktor manusia. Apabila hanya digunakan pendekatan teknis belaka dengan asimisi pemenuhan kebutuhan masyarakat secara otomatis, maka hal ini tidak akan membawa hasil. Sangat disayangkan bahwa pada banyak tahap perencanaan pembangunan tidak menanyakan pertanyaan-pertanyaan pokok tentang kebutuhan masyarakat akan pelayanan. Ini membuktikan bahwa pendekatan lama secara vertikal (top down) belum berubah menjadi bottom up yang efektif (Rukmana, 1993).

Dengan adanya reformasi disegala bidang termasuk pendidikan tentu saja akan diikuti dengan perubahan dalam sistem pertanggungjawaban dalam pelaksanaan kebijakan dan program pendidikan. Kesadaran anggota masyarakat terhadap pelaksanaan kebijakan dan program publik pada umumnya akan semakin meningkat. Keadaan ini akan terjadi pada sektor pendidikan. Orang tua dan anggota masyarakat akan menjadi stake holder yang semakin aktif dalam memantau pelaksanaan kebijakan dan program pendidikan (Indryanto, 1998).

Implikasinya, public accountability dan efficacy menjadi ukuran keberhasilan pelaksanaan kebijakan dan program pendidikan. Manakala anggota masyarakat dan orang tua menjadi stake holder yang aktif terhadap kebijakan dan program pendidikan. maka mereka juga menuntut bahwa kebijakan dan program pendidikan juga mencerminkan kepentingan mereka. Permasalahan yang dikemukakan tidak hanya pada kebijakan dan program apa yang akan dilaksanakan, tetapi mengapa kebijakan program pendidikan itu yang dilaksanakan. Anggota masyarakat dan orang tua melalui kelompok kepentingannya akan secara lebih langsung terlibat dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan dan program pendidikan. Melalui proses ini mekanisme public accountability akan berlangsung.

Sayangnya yang terjadi selama ini peran serta masyarakat khususnya orang tua dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya lebih banyak bersifat dukungan dana, bukan proses pendidikan (Pengambilan keputusan, monitoring, pengawasan dan akuntabilitas). Dengan demikian, sekolah tidak mempunyai beban untuk mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan pendidikan kepada orang tua sebagai pihak yang berkepentingan dengan pendidikan (Anonymous, 2000).

Untuk mengkaji dan mengevaluasi tercapainya tujuan perencanaan adalah dengan penelitian. Salah satu penelitian yang berguna dalam mengevaluasi sasaran dan tujuan suatu program, terutama yang berorientasi kepada masyarakat adalah Penelitian Survai. Dari penelitian ini dapat diketahui sejauh mana tujuan yang digariskan pada awal program tercapai (Mantra, 1998).
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: MASYARAKAT PELAYANAN PENDIDIKAN - 9756people
Info Petani -
TRANSPORTASI
    Transportasi-Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia yang diperkirakan pada tahun 2035 akan bertambah menjadi dua kali lipat dari jumlah saat ini atau menjadi 400 juta jiwa, telah memunculkan kerisauan akan terjadinya keadaan “rawan pangan” di masa yang akan datang. Selain itu, dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat terjadi pula peningkatan konsumsi perkapita untuk berbagai jenis pangan, akibatnya dalam waktu 35 tahun yang akan datang Indonesia membutuhkan tambahan ketersediaan pangan yang lebih dari 2 kali lipat jumlah kebutuhan saat ini (Siswono Yudohusodo, 2002).Transportasi

    Transportasi-Lemahnya dukungan makro ekonomi terhadap pengembangan produk pertanian dapat menjadi hambatan dalam pengembangan kawasan agropolitan. Perlu adanya perlindungan yang serius terhadap kegiatan pertanian melalui stabilisasi harga produk pertanian pada level yang wajar. Lemahnya dukungan kebijakan fiskal dan moneter seperti bebas masuknya produk pertanian impor dengan harga murah dan mahalnya suku bunga kredit pertanian merupakan faktor-faktor yang dapat menghambat pengembangan perdesaan. Pada akhirnya, kondisi ini menjadi disinsentif terhadap usaha pertanian.
    Transportasi-Pada tingkat mikro, masih rendahnya produktifitas dan pemasaran, pertanian, kelembagaan yang tidak kondusif, dan lingkungan permukiman yang masih rendah merupakan permasalahan-permasalahan yang seringkali menjadi hambatan dalam pengembangan perdesaan.
    Transportasi-Kondisi budaya petani lokal yang cenderung subsisten perlu mendapatkan perhatian yang serius apabila ingin merubah budaya tersebut menjadi budaya agribisnis. Tanpa adanya peningkatan pemahaman dan kemampuan petani, akan sulit meningkatkan produktifitas pertanian untuk mendukung pengembangan agroindustri.    

Transportasi-Penelitian Sunardi (1999) di Kabupaten Magelang membuktikan bahwa faktor aksesibilitas merupakan faktor potensi wilayah yang mempunyai hubungan paling erat dengan ketersediaan fasilitas pelayanan dibandingkan dengan faktor potensi wilayah yang lain. Faktor aksesibilitas ditentukan dengan membandingkan luas wilayah dengan panjang jalan. Dengan kata lain bahwa semakin padat jalur-jalur transportasi maka kemungkinan semakin besar tersedianya suatu fasilitas pelayanan.

Transportasi-Terdapat dua teori utama yang secara khusus menerangkan peranan jalur transponasi dalam pengembangan wilayah perkotaan (Sabari, 1994). Teori tersebut adalah Teori Poros oleh Babcock dan Teori Sewa-Nilai Lahan dari Haig. Teori Poros memandang peran jalur transportasi dalam perspektif ekologis, keberadaan poros transportasi akan mengembangkan pertumbuhan daerah perkotaan karena sepanjang jalur ini berasosiasi dengan mobilitas tinggi sehingga berimplikasi pada perkembangan zone-zone yang ada disepanjang poros transportasi lebih besar dari zone-zone yang lain. Haig memandang dari perspektif ekonomi, sewa dan nilai lahan sepanjang jalur transportasi yang memiliki sewa dan nilai lahan tinggi sebagai fungsi aksesibilitas akan tumbuh terutama karena investasi di sektor-sektor non agraris.

Transportasi-Jalur-jalur transportasi dan utililas kota merupakan pembentuk pola penggunaan lahan di kota. Sejak awal pertumbuhan komunitas, berbagai kegiatan usaha memilih lokasi di sepanjang jalur-jalur lalu lintas primer dan tempat-tempat yang merupakan konsentrasi para pelanggan potensial (Branch, 1995). Sehingga kota-kota yang dilalui jalur transportasi padat aktifitas ekonomi akan cenderung lebih berkembang dan mampu melayani daerah belakangnya.

Transportasi-Pada semua kota, terdapat hubungan yang erat antara struktur jaringan transportasi, bentuk fisik kota, dan pola keruangan aktifitas kekotaan. Saat proses pembangunan kota berlangsung, perubahan sistem transportasi perkotaan akan mempengaruhi unsur-unsur fungsional pada fisik kekotaan dan mengarahkan pola pertumbuhan kota (Herbert, 1982).Transportasi
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: TRANSPORTASI - 9756people
Info Petani -
GEOGRAFI
Geografi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan kasual gejala-gejala muka bumi dan peristiwa yang terjadi di permukaaan bumi baik fisik maupun yang menyangkut mahluk hidup beserta permaslahannya melalui pendekatan keruangan, ekologi dan kompleks wilayah untuk kepentingan program, proses dan keberhasilan pembangunan ( Bintarto, 1983 ) Geografi

    Pembangunan keruangan biasanya dicirikan dengan adanya pengorganisasian tata ruang (spatial organization) dari kegiatan-kegiatan ekonomi dan sosial yang membawa tekanan-tekanan tak terelakkan terhadap kebijaksanaan regional tergantung dari tingkatan atau tahapan pembangunan dan pengorganisasian tata ruang yang bersangkutan. Pentingnya kebijaksanaan regional dan jenis-jenis permasalahan yang harus dihadapi akan berubah-ubah ( Fisher, 1975 ).  Pemanfaatan ruang dalam suatu wilayah sebagai tempat kegiatan diperlukan adanya penataan ruang agar dicapai penyebaran yang efisisen.
Banyak penelitian menyimpulkan bahwa kemampuan memenuhi peningkatan permintaan pelayanan di kota sekunder negara dunia ketiga sangatlah rendah selama dua dekade belakangan. Penelitian Osborn di bebcrapa kota menengah di Indonesia membuktikan bahwa pelayanan infrastruktur dan kebutuhan dasar seperti sekolah, rumah sakit, air bersih, drainase, dan bangunan fisik sangatlah kurang (Osbom dalam Rondinelli, 1983). Sisi lain diungkapkan oleh Conyers (1982) yang menyatakan bahwa fasilitas pelayanan sosial pendidikan dan kesehatan di negara dunia keliga menyerap lebih banyak sumber dana dan tenaga kerja dibandingkan jenis pelayanan sosial lainnya.

Geografi-Bidang pendidikan dan kesehatan di Indonesia merupakan salah satu prioritas utama dalam kebijakan pembangunan, dimana investasi di bidang ini tersebar luas di bawah kendali pemerintah pusat. Meskipun secara kualitas dalam bidang kesehatan kurang mendapat perhatian, akibatnya kota-kota besar mendapatkan pelayanan kesehatan yang jauh lebih baik dibanding kota-kota kecil. Hal ini dapat terlihat dari variasi jumlah dan jenis dokter spesialis yang tersedia (Atmodirono, 1974).

Kekurangan fasilitas pelayanan pendidikan telah mendorong pemerintah untuk segera melakukan pembangunan fasilitas secara cepat. Presiden Republik Indonesia secara khusus di tahun 70-an mengeluarkan instruksi (yang kemudian dikenal dengan inpres) untuk menyediakan bangunan Sekolah Dasar setiap tahunnya dengan dana berasal dari penjualan ekspor minyak bumi. Hingga tahun 1978 telah dibangun 24.065 Sekolah Dasar Inpres dengan total proporsi 30% dari keselumhan Sekolah dasar di negeri ini. Tahun 1979-1980 saja telah dibangun 10.000 Sekolah Dasar baru, 15.000 kelas baru, dan perbaikan 15.000 bangunan Sekolah Dasar lainnya. Untuk tingkat menengah, pembangunan dikonsentrasikan pada pengembangan laboratorium sains dimana selama tahun 1974-1975 telah berdiri 1000 laboratorium baru bagi tingkat SLTP dan 200 lainnya untuk tingkat SLTA (Postlethwaite, 1980).

Hal yang terjadi kemudian adalah sistem sentralistik dalam pengelolaan dan alokasi program pendidikan terjadi bukan hanya dalam hal pengadaan sarana dan prasarana, tapi ke semua aspek program, sehingga telah membentuk sikap tertentu kepada pengelola pendidikan baik di pusat maupun di daerah. Salah satu sikap yang selama ini terbentuk adalah adanya ketergantungan pengelola pendidikan baik di daerah dan sekolah kepada pemerintah pusat dalam hal orientasi program pendidikan dan penyediaan dana pendidikan (Indryamo, 1998).Geografi
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: GEOGRAFI - 9756people
Info Petani -
PENDIDIKAN DAN FASILITASNYA
Pendidikan adalah salah satu aset bangsa. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan adalah keberhasilan negara dalam mengangkat derajat dan martabat bangsa, bangsa yang tertinggal dan terbelakang dalam pendidikannya maka akan menjadi bangsa yang terbelakang dan tertinggal juga dalam percaturan dunia. Kemajuan pendidikan di suatu Negara berkaitan erat dengan keberadaan fasilitas pendidikan karena fasilitas pendidikan memiliki dua peran penting dalam suatu wilayah. Pertama, menentukan kualitas sumberdaya manusia dan yang kedua menjadi penentu bagi perkembangan suatu wilayah. Sebagai penentu kualitas sumberdaya manusia, fasilitas pelayanan pendidikan dianggap sebagai basic need sehingga sistemnya barus menjangkau seluruh masyarakat. Sebagai penentu perkembangan wilayah fasilitas ini menjadi komponen utama dalam penentuan hiraki pusat pelayanan dan pertumbuhan suatu wilayah. pendidikan

Penyediaan fasilitas pelayanan pendidikan secara efektif dan efisien penting dalam pengembangan wilayah, keberadaan sarana dan prasarana pelayanan dapat menjadi pemacu sekaligus penghambat perkembangan suatu wilayah. Oleh karenanya jika suatu kota, terutama kota kecil dan menengah, ingin memantapkan perannya sebagai penyangga pusat pertumbuhan maka keberadaan fasilitas pelayanan yang ada perlu mendapat perhatian 1ebih dan dikaji agar dapat diketahui efektivitas dan efisiensi pelayanan yang dapat diberikan.
Bencana alam gempa bumi tektonik yang memporak-porandakan Yogyakarta dan Jawa Tengah telah meninggalkan akibat dan dampak yang sangat luar biasa dalam dunia pendidikan. Berbagai macam sarana dan prasarana serta infra struktur pendidikan hancur dan luluh lantak digoncang oleh kekuatan gempa 5,9 SR. Kabupaten Bantul sebagai wilayah yang mengalami dampak gempa paling parah. Salah satu kerusakan yang paling parah adalah kerusakan fasilitas pendidikan dimana terdapat lebih dari 500 gedung sekolah dasar yang rusak dengan kategori hancur dan rusak berat. Bahkan data laporan awal tim gabungan Bapenas dan Pemda DIY menyebutkan lebih dari 900 gedung sekolah (90%) di Bantul mengalami kerusakan dan kehancuran. Pada sektor pendidikan, kerugian diperkirakan mencapai Rp 1,3 triliun untuk bangunan dan Rp 58,8 miliar untuk peralatan pendidikan. Di Jogja, sekitar 2.155 fasilitas pendidikan, dari gedung hingga peralatan KBM mengalami kerusakan dan hancur sehingga tidak dapat dipergunakan lagi. Hal yang memperparah kerusakan fisik fasilitas pendidikan adalah hampir seluruh bangunan Sekolah Dasar di pedesaan dibangun pada sekitar tahun 1970-an dengan dana INPRES. Maka dari itu, mutu dan kelayakan bangunan tidak memenuhi standar untuk penyelenggaraan proses KBM lagi.
Kabupaten Bantul mengalami kerusakan baik itu hancur, rusak berat, maupun rusak ringan. Beberapa Kecamatan yang mengalami kerusakan sekolah terparah adalah Kecamatan Piyungan, Pleret, Jetis, Imogiri, dan Pundong.. Salah satu alasan parahnya kerusakan fisik yang terjadi di kecamatan-kecamatan ini karena sebagian dari daerah-daerah ini berada pada jalur patahan gempa.
Setelah lebih dari setahun gempa berlalu perlu dilakukan tindakan cepat guna menghindari kerugian yang lebih besar seperti terhambatnya proses pendidikan secara umum di Kabupaten Bantul. Observasi di lapangan mengindikasikan bahwa sejumlah sekolah, meskipun tampak aman, telah mengalami kerusakan parah yang tidak terlihat yang dapat berbahaya bagi anak-anak sekolah. Karena banyaknya gedung sekolah yang berumur lebih dari 35 tahun dan tidak lagi memenuhi standar keamanan terhadap gempa bumi, rekonstruksi menyeluruh harus diprioritaskan di atas perbaikan dan rehabilitasi. Namun juga perlu diperhatikan bahwa proses rekonstruksi tersebut harus memungkinkan semua siswa mendapatkan akses pendidikan dan fasilitas sekolah secara adil dan merata. pendidikan
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: PENDIDIKAN DAN FASILITASNYA - 9756people
Info Petani -
Prinsip Budidaya Padi SRI

Seperti pada postingan terdahulu, SRI atau System of Rice Intensification tertumpu pada 4 hal pokok yaitu :
Menanam bibit muda (5 – 15 hari setelah semai)
Menanam 1 bibit pertitik tanam
Mengatur jarak tanam lebih lebar (30 x 30 cm sampai 50 x 50 cm ; di Indonesia, jarak tanam ideal untuk SRI adalah 35 x 35 cm atau 35 x 35 cm)
Manajemen pengairan yang super hemat dengan cara intermitten (terputus
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Prinsip Budidaya Padi SRI - 9756people
Info Petani -
Pertanian Membantu Menahan Pemanasan Global
dari : European Parliement

Pertanian dapat membantu untuk memperlambat perubahan iklim, tetapi harus siap untuk beradaptasi dengan dampak pemanasan global, kata Komite Pertanian Parlemen Eropa dan ilmuwan di sebuah sidang terbuka pada hari Rabu (20/01/2010).
"Pertanian dapat memberikan solusi untuk masa depan", mengingat adanya hubungan langsung dengan bumi dan makhluk hidup, demikian laporan
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Pertanian Membantu Menahan Pemanasan Global - 9756people
Info Petani -
Korupsi Penghalang Utama Pembangunan Pertanian di Indonesia
Seperti umumnya proses pembangunan di Indonesia, keterlambatan pembangunan pertanian di Indonesia tidak terlepas dari korupsi. Korupsi yang terjadi banyak sekali ragamnya dan terjadi merata disetiap sektor dan level jabatan. Sebagai contoh kecil saja, di level penyuluh, sudah bukan rahasia lagi cukup banyak penyuluh yang secara nakal membuat program demplot fiktif dengan bermodalkan papan
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Korupsi Penghalang Utama Pembangunan Pertanian di Indonesia - 9756people
Info Petani -
Call Center Database THL TBPP
Tim Tabulasi Data THL TBPP di Jakarta terus melakukan tabulasi database yang telah dikirimkan oleh kawan-kawan FK THL Kabupaten se-Indonesia. Mengingat PENTINGnya database THL TBPP ini maka pastikan database yang kawan-kawan kirimkan telah sampai ke meja Tim Tabulasi, Silakan hubungi Call center Database THL TBPP di:
  • 081 281 030 849
 THL TBPP, Bisa !!!
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Call Center Database THL TBPP - 9756people
Info Petani -
AKASIA
Akasia-Dari  hasil listing Sensus Pertanian 2003 menunjukkan bahwa di Indonesia tercatat sekitar  1,2 juta rumah tangga yang mengusai tanaman akasia dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 32,02 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 27,24 pohon. Dari total sebanyak 32,02 juta pohon akasia , sekitar 12,06 juta pohon atau 37,69 persen diantaranya adalah merupakan tanaman akasia yang siap tebang.Akasia

      Akasia-Apabila diamati lebih lanjut, ternyata tanaman akasia lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 22,61 juta pohon  atau sekitar 70,62 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 9,41 juta pohon (29,38 %)  berada di luar Jawa. Tanaman akasia di Jawa terkonsentrasi di empat propinsi berturut-turut adalah di  Jawa Timur (21,59 %), Jawa Tengah (19,69 %), Jawa Barat (13,86 %) dan D.I Yogyakarta (12,21 %), sementara di Luar Jawa di Sumatera Selatan (7,20 %) dan Lampung (5,04 %).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang menguasai tanaman akasia di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 75,85 persen  dari total Indonesia,  tetapi rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga di Jawa hanya sekitar 25,36 pohon lebih rendah  dibanding dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Luar Jawa yang mencapai 33,14 pohon.  Demikian juga dengan kondisi tanaman, di Jawa persentase tanaman akasia yang siap tebang terhadap total jumlah pohon seluruhnya hanya 34,19 persen sedangkan di Luar Jawa persentasenya mencapai 46,12 persen.

      Akasia-Rumah tangga  pertanian tanaman akasia di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 234,93 ribu dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 18,07 juta. Dari 234,93 ribu rumah tangga pertanian akasia, sekitar 83,40 persen (195,94 ribu) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 38,99 ribu di Luar Jawa.  Populasi pohon yang diusahakan mencapai 18,07 juta, sekitar 46,98 persen atau 8,49 juta pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.  Di Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 13,71 juta dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 5,56 juta pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 4,36 juta  dimana sekitar 2,93 juta pohon tanaman yang siap tebang.Akasia
http://petanitangguh.blogspot.com/2010/02/akasia.html
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: AKASIA - 9756people
Info Petani -
SUNGKAI
Sungkai-Pada tahun 2003, dari  hasil listing Sensus Pertanian 2003 menunjukkan bahwa di Indonesia tercatat hanya sekitar  22,32 ribu rumah tangga yang mengusai tanaman sungkai dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 1,01 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 45,29 pohon. Dari total sebanyak 1,01 juta pohon sungkai, sebagian besar adalah tanaman yang berumur muda, hanya sekitar 381,28 ribu pohon atau 37,72 persen  saja yang merupakan tanaman siap tebang.Sungkai

      Sungkai-Apabila diamati lebih lanjut, seperti halnya tanaman cendana dan rotan, tanaman sungkai lebih banyak di tanam di Luar Jawa yaitu mencapai 902,22 ribu pohon  atau sekitar 89,26 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 108,55 ribu pohon (10,74%)  di tanam di Jawa. Tanaman sungkai di Indonesia  terkonsentrasi di lima propinsi di luar Jawa, berturut-turut adalah di  Kalimantan Tengah (21,06 %), Kalimantan Selatan (17,86 %), Kalimantan Timur (12,34 %), Sumatera Selatan (10,82%) dan Sulawesi Selatan (8,78 %). Disamping persentase jumlah rumah tangga yang menguasai tanaman sungkai di Luar Jawa jauh lebih besar dibanding di Jawa yaitu  mencapai 76,0 persen  dari total rumah tangga Indonesia juga memiliki rata-rata penguasaan tanaman  per rumah tangga yang lebih besar yaitu sekitar 53,19 pohon  dibanding dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Jawa yang hanya sekitar 20,26 pohon.  Kondisi tanaman sungkai di Luar Jawa umumnya merupakan tanaman yang masih berumur muda, tercatat hanya sekitar 35,27 persen dari total jumlah pohon 902,22 ribu yang merupakan tanaman siap tebang, sementara di Jawa tanaman yang siap tebang mencapai 58,12  persen dari total jumlah pohon sebanyak 108,55 pohon .

      Sungkai-Rumah tangga  pertanian tanaman sungkai di Indonesia pada tahun 2003 tercatat hanya sekitar 11,42 ribu dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 583,40 ribu . Dari 11,42 ribu rumah tangga pertanian sungkai, sekitar 71,09 persen (8,12 ribu) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 3,30 ribu di Jawa.  Kondisi tanaman sungkai yang diusahakan oleh rumah tangga sekitar 59,34 persen dari populasi  pohon sebanyak 583,40 ribu merupakan tanaman yang siap tebang.  Di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 491,84 ribu dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 285,91 ribu pohon, sementara di Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 91,56 ribu   dimana sekitar 60,25 ribu pohon adalah tanaman yang siap tebang.Sungkai 
http://petanitangguh.blogspot.com/2010/02/sungkai.html
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: SUNGKAI - 9756people
Info Petani -
SONOKELING
      Sonokeling-Dari  hasil listing Sensus Pertanian 2003 menunjukkan, bahwa di Indonesia tercatat hanya sekitar  204,62 ribu rumah tangga yang mengusai tanaman sonokeling dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 2,35 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 11,50 pohon. Dari total sebanyak 2,35 juta  pohon sonokeling, hanya sekitar 742,64 ribu  pohon atau 31,56 persen saja yang merupakan tanaman siap tebang.Sonokeling

     Sonokeling- Seperti halnya tanaman akasia, bambu, jati, mahoni, pinus dan sengon, tanaman sonokeling juga  lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 2,0  juta pohon  atau sekitar 85,36 persen  dari total populasi pohon di Indonesia, sebagian kecil saja yaitu sekitar 344,48 ribu pohon (14,64%)  di tanam di luar Jawa. Tanaman sonokeling di Indonesia  terkonsentrasi di tiga propinsi di Jawa, tiga propinsi potensi tersebut berturut-turut adalah Jawa Tengah (34,30 %), D.I Yogyakarta (29,04 %) dan  Jawa Timur (15,86 %) . Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang mengusai tanaman sonokeling di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 90,28 persen  dari total Indonesia, tetapi rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga di Jawa hanya sekitar 10,87 pohon lebih rendah  dibanding dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Luar Jawa yang mencapai 17,31 pohon.  Kondisi tanaman sonokeling di Jawa umumnya masih berumur muda, hanya sekitar 30,10 persen saja yang merupakan tanaman yang siap tebang dari total 2,0 juta pohon yang dikuasai. Tidak jauh berbeda dengan kondisi tanaman sonokeling di Luar Jawa, tanaman yang siap tebang hanya sekitar 40,09 persen dari total 344,48 ribu pohon yang diusahakan.

      Sonokeling-Rumah tangga  pertanian tanaman sonokeling di Indonesia pada tahun 2003, tercatat hanya sekitar 90,17 ribu rumah tangga dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 1,47 juta. Dari 90,17 ribu rumah tangga pertanian sonokeling, sebagian besar diantaranya yaitu sekitar 91,23 persen (82,26 ribu) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 7,91 ribu di Luar Jawa. Dari populasi pohon yang diusahakan sebanyak 1,47 juta, sekitar 40,91 persen atau 602,86 ribu pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 1,28 juta dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 484,44 ribu pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 191,59 ribu  dimana sekitar 118,43 ribu pohon adalah tanaman yang siap tebang.Sonokeling
http://petanitangguh.blogspot.com/2010/02/sonokeling-dari-hasil-listing-sensus.html
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: SONOKELING - 9756people
Info Petani -
SENGON
Sengon-Dari  hasil listing Sensus Pertanian 2003, menunjukkan bahwa di Indonesia tercatat sekitar  2,32 juta rumah tangga yang mengusai tanaman sengon dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 59,83 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 25,84 pohon. Dari total sebanyak 59,83 juta pohon sengon , sekitar 24,61 juta pohon atau 41,14 persen diantaranya adalah merupakan tanaman sengon yang siap tebang. Hal ini memberikan indikasi bahwa tanaman sengon di Indonesia sebagian besar masih berumur muda.Sengon


     Sengon- Seperti halnya tanaman akasia, bambu, jati, mahoni dan pinus, tanaman sengon juga lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 50,08 juta pohon  atau sekitar 83,69 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 9,76 juta pohon (16,31 %)  berada di luar Jawa. Tanaman sengon di Jawa terkonsentrasi di tiga propinsi berturut-turut adalah di  Jawa Tengah (34,84 %), Jawa Barat (30,62 %) dan Jawa Timur (10,88 %), sementara di Luar Jawa terdapat di dua propinsi yang cukup banyak yaitu di Lampung ( 3,86%) dan Kalimantan Timur(2,20 %).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang mengusai tanaman sengon di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 85,63 persen  dari total Indonesia, tetapi rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga di Jawa hanya sekitar 25,25 pohon lebih rendah  dibanding dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Luar Jawa yang mencapai 29,33 pohon.  Demikian juga dengan kondisi tanaman, di Jawa persentase tanaman sengon yang siap tebang terhadap total jumlah pohon seluruhnya hanya 39,10 persen sedangkan di Luar Jawa persentasenya mencapai 51,58 persen.

     Sengon- Rumah tangga  pertanian tanaman sengon (rumah tangga usaha BMU) di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 406,48 ribu dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 34,18 juta. Dari 406,48 ribu rumah tangga pertanian sengon, sebagian besar yaitu sekitar 87,44 persen (355,42 ribu) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 51,05 ribu di Luar Jawa.  Dari populasi pohon sengon  yang diusahakan sebanyak 34,18 juta, sekitar 53,34 persen atau 18,23 juta pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 28,70 juta dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 14,21 juta pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 5,48 juta  dimana sekitar 4,03 juta pohon adalah tanaman yang siap tebang.Sengon
http://petanitangguh.blogspot.com/2010/02/sengon.html
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: SENGON - 9756people
Info Petani -
ROTAN
Rotan-Tanaman rotandi Indonesia pada tahun 2003 di Indonesia tercatat sekitar  47,23 ribu rumah tangga yang mengusai tanaman rotan dengan populasi tanaman yang dikuasai mencapai 17,78 juta rumpun atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 376,56 rumpun. Dari populasi tanaman rotan sebanyak 17,78 juta rumpun , sebagian besar yaitu sekitar 14,48 juta rumpun atau 81,41 persen diantaranya adalah merupakan tanaman rotan yang siap tebang .  Rotan

        Rotan-Apabila diamati lebih lanjut, seperti halnya tanaman cendana, ternyata tanaman rotan juga  lebih banyak di tanam di Luar Jawa yaitu mencapai 17,76  juta rumpun  atau sekitar 99,88 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya yang hanya sekitar 21,38 ribu rumpun (0,12 %)  di tanam di Jawa. Tanaman rotan di Indonesia terkonsentrasi di tiga propinsi di wilayah Kalimantan, dari urutan terbesar berturut-turut adalah di  Kalimantan Tengah (75,45 %), Kalimantan timur (13,69 %)  dan Kalimantan Selatan (7,46 %).  Disamping persentase  rumah tangga yang menguasai tanaman rotan di Luar Jawa jauh lebih besar dibanding di Jawa yaitu  mencapai 99,88 persen  dari total Indonesia, juga memilki rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga yang jauh lebih tinggi yaitu  sekitar 377,22 rumpun dibandingkan dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Jawa yang hanya sekitar 152,72 rumpun. Kondisi tanaman rotan di Luar Jawa, sebagian besar adalah tanaman yang sudah siap tebang persentasenya mencapai 81,42 persen, sedangkan di Jawa persentase tanaman yang siap tebang sekitar 73,71 persen.

  Rotan-Rumah tangga  pertanian tanaman rotan di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 41,56 ribu dengan populasi tanaman yang diusahakan sebanyak 17,19 juta. Dari 41,56 ribu rumah tangga pertanian rotan, sebagian besar yaitu sekitar 99,88 persen atau  (41,53 ribu) rumah tangga berdomisili di  Luar Jawa dan sebagian kecil saja yaitu sekitar 23 rumah tangga di Jawa.  Dari populasi tanaman yang diusahakan rumah tangga sebanyak 17,19 juta rumpun, sebagian besar (83,86 %) atau 14,41 juta rumpun diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di  luar Jawa populasi tanaman yang diusahakan mencapai 17,17 juta rumpun dan sebagian besar (83,87 %) merupakan tanaman yang siap tebang, sedangkan di Jawa hanya sekitar  20,97 ribu rumpun, dengan  kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 15,59 ribu rumpun.  Rotan
http://petanitangguh.blogspot.com/2010/02/rotan.html
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: ROTAN - 9756people
Info Petani -
PINUS
     Pinus- Pada tahun 2003, di Indonesia tercatat sekitar 156,0 ribu rumah tangga yang menguasai tanaman pinus dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 5,82 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 37,33 pohon. Dari total sebanyak 5,82 juta pohon pinus , sekitar 2,72 juta pohon atau 46,63 persen diantaranya adalah merupakan tanaman pinus  yang siap tebang.pinus

      Pinus-Seperti halnya tanaman akasia, bambu, jati dan mahoni,  tanaman pinus juga  lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 3,52 juta pohon  atau sekitar 60,46 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 2,30 juta pohon (39,54 %)  berada di luar Jawa. Tanaman pinus  di Jawa terkonsentrasi di tiga  propinsi berturut-turut adalah di  Jawa Timur (21,05 %), Jawa Tengah (19,53 %) dan Jawa Barat (18,63 %), sementara di Luar Jawa terbanyak di dua propinsi yaitu di Sumatera Utara (20,07 %) dan Sulawesi Selatan (16,92%).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang menguasai tanaman pinus di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 71,44 persen  dari total Indonesia, tetapi rata-rata penguasaan tanaman  per rumah tangga di Jawa hanya sekitar 31,59 pohon lebih rendah  dibanding dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Luar Jawa yang mencapai 51,69 pohon.  Demikian juga dengan kondisi tanaman, di Jawa persentase tanaman pinus yang siap tebang terhadap total jumlah pohon seluruhnya hanya 38,90 persen sedangkan di Luar Jawa persentasenya mencapai 58,44 persen.

      Pinus-Rumah tangga  pertanian tanaman pinus di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 59,33 ribu dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 3,94 juta. Dari 59,33 ribu rumah tangga pertanian pinus, sekitar 66,32 persen ( 39,35 ribu) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 19,98 ribu di Luar Jawa.  Dari populasi pohon yang diusahakan sebesar 3,94 juta, sekitar 58,77 persen atau 2,31 juta pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 2,08 juta dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 1,15 juta pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 1,86 juta  dimana sekitar 1,16  juta pohon adalah tanaman yang siap tebang.Pinus
http://petanitangguh.blogspot.com/
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: PINUS - 9756people
Info Petani -
MAHONI
Mahoni-Pada tahun 2003, tercatat sebanyak 2,31 juta rumah tangga yang mengusai tanaman mahoni dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 45,26 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 19,59 pohon. Dari populasi pohon mahoni di Indonesia sebanyak 45,26 juta, hanya sekitar 9,49  juta pohon atau 20,98 persen saja yang merupakan tanaman mahoni yang siap tebang . Hal ini memberikan gambaran bahwa tanaman mahoni yang dikuasai oleh rumah tangga sebagian besar masih berumur muda.Mahoni

Mahoni-Apabila diamati lebih lanjut, seperti halnya tanaman akasia, bambu dan jati, ternyata tanaman mahoni juga lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 39,99  juta pohon  atau sekitar 88,36 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 5,27 juta pohon (11,64 %)  berada di luar Jawa. Tanaman mahoni di Indonesia terkonsentrasi di tiga propinsi, berturut-turut adalah di  Jawa Tengah (39,04 %), Jawa Barat (27,56 %) dan Jawa Timur (11,63 %).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang mengusai tanaman mahoni di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 88,02 persen  dari total Indonesia, tetapi rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga di kedua wilayah tersebut relatif sama, yaitu masing-masing sebesar  19,67 pohon (di Jawa) dan 19,04 pohon (di Luar Jawa). Demikian juga dengan kondisi tanaman, baik  di Jawa maupun di luar Jawa persentase tanaman mahoni yang siap tebang terhadap total jumlah pohon seluruhnya relatif sama, masing-masing sekitar 20,81 % (di Jawa) dan 22,28 % (di Luar Jawa) (Lihat Tabel 5. Lampiran).

Mahoni-Rumah tangga  pertanian tanaman mahoni  di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 990,71 ribu dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 26,21 juta. Dari 990,71 ribu rumah tangga pertanian mahoni, sebagian besar yaitu 892,64 ribu rumah tangga (90,10 %) diantaranya berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 98,07 ribu di Luar Jawa.  Populasi pohon yang diusahakan mencapai 26,21 juta, sekitar 32,08 persen atau 8,41  juta pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 24,00 juta dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 7,38 juta pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 2,21 juta  dimana sekitar 1,03 juta pohon diantaranya adalah  tanaman yang siap tebang.Mahoni
http://petanitangguh.blogspot.com/
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: MAHONI - 9756people
Info Petani -
KAYU JATI
Kayu jati-Dari  hasil listing Sensus Pertanian 2003 menunjukkan bahwa di Indonesia tercatat sekitar  3,05 juta rumah tangga yang mengusai tanaman jati dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 79,71 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 26,12 pohon. Dari total sebanyak 79,71 juta pohon jati di Indonesia, sekitar 18,45 juta pohon atau 23,14 persen diantaranya adalah merupakan tanaman jati yang siap tebang . Hal ini memberikan indikasi bahwa sebagian besar tanaman jati yang dikuasai oleh rumah tangga masih berumur muda / baru tanam.Kayu jati


      Kayu jati-Seperti halnya tanaman akasia dan bambu, tanaman jati juga  lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 50,12 juta pohon  atau sekitar 62,88 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 29,59 juta pohon (37,12 %)  berada di luar Jawa. Tanaman jati di Jawa terkonsentrasi di tiga propinsi berturut-turut adalah di  Jawa Tengah (26,47 %), Jawa Timur (21,28%) dan D.I Yogyakarta (8,89 %), sementara tanaman jati terbesar di Luar Jawa di Sulawesi Selatan (4,46 %).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang mengusai tanaman jati di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 76,68 persen  dari total Indonesia, tetapi rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga di Jawa hanya sekitar 21,42 pohon lebih rendah  dibanding dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Luar Jawa yang mencapai 41,59 pohon.  Demikian juga dengan kondisi tanaman, di Jawa persentase tanaman jati yang siap tebang terhadap total jumlah pohon seluruhnya hanya 22,96 persen sedangkan di Luar Jawa persentasenya mencapai 23,45 persen.

      Kayu jati-Rumah tangga pertanian tanaman jati di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 1,70 juta dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 46,96 juta. Dari 1,70 juta rumah tangga pertanian jati, sebagian besar yaitu sekitar 78,92 persen (1,34 juta) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 358,54 ribu di Luar Jawa.  Populasi pohon yang diusahakan mencapai 46.96 juta, sekitar 36,07 persen atau 16,94 juta pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 32,67 juta dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 10,44 juta pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 14,28 juta  dimana sekitar 6,50 juta pohon diantaranya adalah tanaman yang siap tebang.Kayu jati
http://petanitangguh.blogspot.com/
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: KAYU JATI - 9756people
Info Petani -
CENDANA
Cendana-Tanaman cendana pada tahun 2003 di Indonesia tercatat hanya sekitar 7,34 ribu rumah tangga  yang mengusai tanaman cendana  dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 66,33 ribu pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 9,04 pohon. Dari populasi pohon cendana  sebanyak 66,33 ribu  pohon , sekitar 20 ribu pohon atau 30,79 persen diantaranya adalah merupakan tanaman cendana yang siap tebang.cendana

     Cendana- Berbeda dengan tanaman akasia dan bambu, ternyata tanaman cendana di Indonesia sebagian besar di tanam di Luar Jawa yaitu mencapai 57,95 ribu pohon  atau sekitar 87,36% dari total populasi pohon yang ada, sedangkan sisanya sekitar 8,38 ribu pohon (12,64 %)   di tanam di Jawa. Tanaman cendana di Indonesia terbanyak ditanam di propinsi Nusa Tenggara Timur yaitu mencapai 42,62 ribu pohon (64,25 %), kemudian di urutan selanjutnya berturut-turut adalah Sulawesi Selatan 9,03 ribu pohon (13,62 %) dan Jawa Tengah 4,44 ribu pohon (6,70 %).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang mengusai tanaman Cendana  di Luar Jawa jauh lebih besar dibanding di Jawa yaitu  mencapai 89,73 persen  dari total Indonesia, tetapi rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga baik di Luar jawa maupun di Jawa tidak memiliki perbedaan yang berarti yaitu masing-masing 11 pohon (Jawa) dan 9 pohon (Luar Jawa).  Sedangkan untuk kondisi tanaman, di Luar Jawa persentase tanaman cendana yang siap tebang terhadap total jumlah pohon seluruhnya mencapai 31,15 persen lebih tinggi disbanding dengan di Jawa persentasenya hanya sekitar 28,32.

    Cendana-  Rumah tangga  pertanian tanaman cendana  di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 2,82 ribu dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 31,19 ribu. Dari  2,82 ribu rumah tangga yang mengusakan tanaman cendana, sebagian besar  (91,39 %) berasal dari Luar Jawa,sedangkan sisanya sekitar 243 rumah tangga  ada di Jawa.  Populasi pohon yang diusahakan mencapai 31,19 ribu, sekitar 55,38 persen atau 17,27 ribu pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 4,92 ribu, dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 1,97 ribu pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 26,27 ribu  dimana sekitar 15,30 ribu pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.Cendana
http://petanitangguh.blogspot.com/
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: CENDANA - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit