728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
Tampilkan postingan dengan label Artikel THL TBPP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel THL TBPP. Tampilkan semua postingan
Prospek Ubijalar Sebagai Pangan Olahan Non Beras
Komoditas ubijalar (Ipomoea batatas (L.) Lamb.) sebagai bahan pangan sumber karbohidrat, disamping itu mengandung vitamin A, C dan mineral. Selain sebagai bahan pangan pokok dapat juga diolah menjadi bahan pangan olahan seperti selai, saos, juice dan bahan baku industri. Ubijalar yang daging umbinya berwarna ungu, banyak mengandung anthocyanin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, karena berfungsi mencegah penyakit kanker. Ubijalar yang daging umbinya berwarna kuning, banyak mengandung vitamin A; sedangkan beberapa varietas ubijalar mengandung vitamin A yang sebanding dengan wortel.

Ubijalar bisa ditanam baik pada lahan sawah maupun lahan tegalan. Pada umumnya didaerah pedesaan mempunyai produktifitas sekitar 10 ton per hektar. Sedangkan dengan teknik budidaya yang tepat beberapa ubijalar dapat menghasilkan lebih dari 30 ton umbi basah per hektar.Varietas unggul ubijalar selain produktifitasnya tinggi, juga mempunyai sifat agak tahan terhadap hama boleng Cylas formicarius dan penyakit kudis Sphaceloma batatas. Pada umumnya di dataran rendah, ubijalar dipanen pada umur 3,5 sampai dengan 5 bulan. Sedangkan di dataran tinggi ubijalar dipanen pada umur 5 sampai dengan 8 bulan.

Sari adalah varietas unggul ubijalar berumur genjah dan tahan kudis. Sedangkan varietas Boko sesuai untuk dikonsumsi dalam bentuk ubijalar rebus atau goreng karena rasanya yang enak dan manis. Varietas seperti Sukuh, Jago dan Kidal mempunyai kandungan bahan kering dan pati yang tinggi, sangat cocok untuk dibuat sebagai pati dan tepung. Teknik membuat tepung dengan cara mencuci umbi, mengupas, mengiris, menjemur dan menghancurkan (menepungkan) selanjutnya diayak.

Pengolahan ubijalar menjadi setengah jadi, seperti granula atau tepung ubijalar, dapat memperpanjang masa simpan dan meningkatkan nilai tambah. Granula ubi jalar dibuat dari ubijalar kubus yang dikeringkan. Granula mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan ubijalar segar pada waktu diolah menjadi sawut atau nasi .

Dalam pembuatan selai, bahan dari ubijalar dapat mensubstitusi nanas sampai 50 persen, sedang untuk pembuatan saus dapat digunakan sampai 100 persen. Untuk membuat selai dan saus tidak menyaratkan ukuran umbi, sehingga dapat menggunakan umbi-umbi dengan kualitas yang agak rendah dengan yang berukuran kecil-kecil. Pati dan tepung ubijalar dapat digunakan untuk membuat aneka jenis kue, mie, hingga es krim. Dalam pembuatan cookies, spikuk, onbeytkuk dengan komposisi hampir sampai 100 persen. Sedangkan tepung ubijalar dalam pembuatan roti tawar dapat mensubstitusi terigu sebesar 15 persen dan pembuatan mie dapat mensubstitusi terigu sebesar 20 persen. (source:neocassava.blogspot.com)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Prospek Ubijalar Sebagai Pangan Olahan Non Beras - 9756people
Info Petani -
TIWUL, ENAK DAN BERGIZI
Tiwul, masih ingatkah dengan nama makanan yang satu ini? atau ada yang belum pernah melihat atau merasakannya? makanan khas Indonesia yang telah terlupakan oleh serbuan hotdog, burger, pizza maupun makanan luar negeri lainnya.
Tiwul, sering diasumsikan dengan makanan kampung, ndeso gak ningrat dan makanan rakyat susah. Tiwul adalah hasil olahan dari tepung ubi kayu melalui proses tradisional, yaitu tepung ditambahkan air hingga basah dan dibentuk butiran-butiran yang seragam dengan ukuran sebesar biji kacang hijau dan dikukus selama 20-30 menit. Tiwul atau nasi tiwul dapat dikonsumsi langsung sebagai pangan pokok seperti nasi beras padi atau dicampur dengan parutan kelapa sebagai kudapan. Selain itu, tiwul dapat pula dikeringkan menjadi tiwul instan tradisional yang tahan disimpan lebih dari satu tahun.
Berbicara tentang Tiwul instan, di Wonosari sudah ada pabrik Tiwul instan...nama perusahaannya PT Sinar Sukses Sentosa (SSS) yang merupakan anak perusahaan PT Indofood Sukses Makmur, sebuah perusahaan nasional yang terkenal dengan produksi mi instan.
Makanan yang dipandang sebelah mata ini ternyata memiliki nilai nutrisi yang bisa dijadikan sumber kalori alternatif utama.Keunggulan berdasarkan aspek nutrisi dibandingkan dengan padi adalah lemak, kalsium, zat besi, vitamin A dan C. Bila tepung ubi kayu dicampur dengan 18 persen tepung kedelai, tepung komposit tersebut menjadi bahan pangan pokok yang bergizi tinggi dan lebih lengkap dibandingkan dengan padi. Dengan demikian, diversifikasi dengan memanfaatkan tepung komposit tersebut berpeluang mengurangi jumlah penderita anemia, kekurangan zat besi, protein, dan vitamin, baik A maupun C. Nah masih ada gak yang mencibir sinis saat mendengar nama makanan ini disebutkan?

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: TIWUL, ENAK DAN BERGIZI - 9756people
Info Petani -
Mendongkrak Pemanfaatan Sumber Pangan dengan Sentuhan Teknologi
Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah dalam keragaman dan jumlahnya, namun sudahkah kekayaan alam itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Ubi kayu, sagu, ubi jalar, sukun, dan puluhan ubi lainnya berpotensi menjadi sumber bahan baku tepung untuk industri berbasis pertanian. Sudah saatnya produk negeri sendiri mendapat peran yang selayaknya.
Singkong atau ubi kayu adalah anugerah bagi tanah Nusantara. Melalui batangnya yang ditancapkan ke dalam tanah dapat dihasilkan umbi sebagai sumber pangan. Namun mengapa timbul kesan kasihan, nelangsa, dan kekurangan pangan jika ada warga negeri ini yang mengonsumsi ubi kayu?. Pandangan bahwa ubi kayu identik dengan kemelaratan perlu diluruskan.Ubi kayu memang lebih murah dari beras, dan memilih ubi kayu sebagai sumber karbohidrat menggantikan beras merupakan keputusan yang bijak. Ubi kayu sewajarnya dikembalikan menjadi bagian dari pangan pokok. Dalam pemenuhan pangan, ubi kayu semestinya sederajad dengan beras sebagai sumber karbohidrat. Tabir yang menutupi keunggulan ubi kayu harus dikuak, sehingga ubi kayu mendapat tempat yang layak dan menjadi bagian dari makanan melalui transformasi menjadi sajian yang modern.

Ubi kayu sangat mudah tumbuh, namun saat ini produktivitasnya belum maksimal. Salah satu penyebabnya adalah petani belum banyak memberi pupuk organik dan anorganik pada tanamannya. Di Lampung sebagai penghasil ubi kayu terbesar, kesenjangan produktivitas masih jauh. Produktivitas di tingkat petani berkisar 11-17 t/ha dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, sementara di tingkat penelitian dapat mencapai 50-60 t/ha dengan memberikan pupuk kandang dan pupuk anorganik serta sistem tanam double row. Oleh karena itu perlu upaya keras untuk mendongkrak produktivitas ubi kayu, paling tidak menembus angka 35 t/ha.
Dilihat dari pemanfaatannya dalam skala besar, ubi kayu umumnya diolah menjadi tapioka dan gaplek. Rendemen yang diperoleh adalah 20-30% tapioka dan onggok sekitar 10%. Mutu tapioca sangat beragam, terutama derajad putih dan kebersihannya. Mutu gaplek juga sangat bervariasi karena penanganan yang kurang baik, bahkan tingkat kerusakan cukup tinggi.
Produk lain dari ubi kayu dalam skala kecil adalah pangan tradisional seperti tiwul dan gatot. Di beberapa daerah produk ini sudah dibuat instan atas binaan industri pangan dan peran pemerintah. Namun produk pangan tradisional ini masih kurang populer karena masalah selera dan penyajiannya kurang praktis. Bentuk olahan lainnya adalah krupuk dan berbagai camilan.
Dengan segala keterbatasan yang ada, sering kali petani ubi kayu hanya berperan sebagai produsen bahan baku yang tidak memiliki akses dalam menentukan harga produk segar, ditambah kondisi terdesak atas kebutuhan uang tunai. Untuk mengatasi masalah harga, ubi kayu dapat diolah menjadi produk olahan sederhana seperti chips, sawut kering atau tepung kasava. Pengolahan dapat dilakukan oleh petani atau kelompok tani sehingga dapat meningkatkan nilai tambah. Pengolahan ubi kayu menjadi tepung kasava relatif mudah dan dapat ditangani oleh kelompok tani. Rendemen yang diperoleh berkisar 27-30%.
Tepung kasava cocok untuk substitusi terigu pada berbagai produk pangan. Ketiadaan gluten pada tepung kasava perlu dilihat sebagai keunggulan sehingga secara kesehatan dapat digunakan untuk diet bagi penderita autis. Kemampuan substitusi tepung kasava pada mi dan kue kering/biskuit mencapai 50%, pada roti 25%, dan pada produk cake dapat mengganti 100%
terigu. Peluang yang sangat besar dalam pengurangan impor gandum ini perlu didukung berbagai pihak.

Peluang lain yang cukup prospektif adalah mengolah kasava menjadi gula cair. Teknologi pengolahan gula cair skala pedesaan yang dapat dioperasikan oleh kelompok tani telah tersedia. Bahan baku gula cair tidak harus berupa tepung kasava atau tapioka kering, tetapi dapat langsung dari pati basah. Gula cair yang dihasilkan melalui proses enzimatis berupa glukosa. Bioreaktor sederhana skala 100 liter mampu mengkonversi 40 kg pati basah (kadar air 40%) menjadi 21-25 kg gula cair dalam 3 hari proses. Semakin besar kapasitas peralatan, semakin ekonomis biaya produksinya.
Sumber bahan baku tepung lainnya adalah sagu. Banyak orang mengenal pati sagu sebagai campuran dalam pembuatan kue kering dan lempeng sagu. Di Jawa Barat terdapat mi gleser yang 100% terbuat dari sagu. Dengan sedikit perbaikan pada proses pengolahannya, mi gleser telah berevolusi menjadi "mi metro" atau mi sagu yang lebih higienis, aman, dan mutu lebih baik.
Nama mi metro berasal dari Metroxilon sp. nama latin tanaman sagu.
Teknologi pembuatan mi sagu cukup sederhana meskipun berbeda dengan mi terigu, dan dapat dilaksanakan oleh kelompok tani. Sosialisasi mi sagu di daerah sentra sagu di Kabupaten Luwu Utara (Sulawesi Selatan) menunjukkan 72,5% anak SD dapat menerimanya, meskipun sebelumnya tidak mengenal mi sagu. Teknik pembuatan mi sagu dan alat pencetaknya sebagai contoh telah dicoba dan diadopsi di wilayah tersebut. Tampaknya mi sagu cocok disosialisasikan ke daerah sentra sagu lain sebagai variasi pangan dari sagu.
Secara kesehatan mengonsumsi mi sagu mendapat manfaat dari resistant starch (RS) atau pati tak tercerna. Pati ini tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim pencernaan dalam usus manusia sehingga memiliki peran penting dalam diet. RS mampu mengikat asam empedu, meningkatkan volume feses dan mempersingkat waktu transit. RS juga mempunyai efek prebiotik.
Kandungan RS dalam mi sagu berkisar 45 mg/g, atau 4-5 kali lebih besar daripada RS mi instan asal terigu. Endang Yuli Purwani, peneliti yang menangani sagu menyatakan bahwa efek prebiotik dari RS pada orang dewasa diperoleh pada tingkat konsumsi RS 15 g tiap 3 hari. Jumlah tersebut cukup untuk menstabilkan populasi bakteri nonpatogen dalam usus.
Sumber pangan lain seperti sukun, labu kuning, ubi jalar, dan umbi lainnya (garut, ganyong, gembili) juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan setempat. Teknologi pengolahan untuk menghasilkan tepung dan pemanfaatannya, baik untuk substitusi terigu maupun produk lainnya sudah tersedia di Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian. (source: neocassava.blogspot.com)

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Mendongkrak Pemanfaatan Sumber Pangan dengan Sentuhan Teknologi - 9756people
Info Petani -
Restore Ecology to Prevent Rice Pest Outbreaks in Thailand
Bangkok, Thailand – Devastating outbreaks of brown planthoppers (BPH) in Thailand’s rice crop can be prevented if an eco-friendly approach to pest management is adopted, according to the International Rice Research Institute (IRRI). The brown planthopper (BPH) is one of the most destructive pests of rice and, this season, they are in plague proportions in Thailand – the world’s biggest exporter of rice.
Khun Manit Luecha, director of Chainat Rice Seed Center, says, “This is the worst outbreak of BPH I have seen in my career since 1977. Most of the paddy fields – probably more than 1 million hectares – will suffer rice yield losses of more than 30%.” Damage has spread from the north, especially in Khampaeng Phet and Phichit, to Suphan Buri, Chainat and Ang Thong in the Central Plains – the rice bowl of Thailand. Damages are serious already and new outbreaks are being reported every day. BPH also transmits two viral diseases that can severely stunt and discolor the plant and prevent grain formation. “BPH becomes a pest when natural control mechanisms fail,” says Dr. K.L. Heong, an insect ecologist at IRRI.
“To prevent outbreaks we must restore the natural environment and biodiversity to keep BPH numbers below economically damaging levels," he added. "To achieve this, farmers will have to use pesticides more strategically and adopt ecological engineering principles."
To manage BPH, IRRI recommends that farmers:
  • Adopt integrated pest management (IPM) practices.
  • Grow beneficial plants in the “bunds” between rice paddies to attract BPH predators such as spiders, crickets, and parasitoids.
  • Synchronize rice plantings so that there are times when no rice is growing to prevent immigrant BPH from establishing new populations.
  • Plant a BPH-resistant rice variety, such as RD29, RD31, RD41, Pisanulok2, Supanburi2, Supanburi3, and Supanburi90.
  • Do not apply fertilizer in excess as overfertilized crops tend to promote BPH growth.
  • Limit pesticide use to control leaf-eating insects as these products kill the BPH’s natural predators as well.
  • If a pesticide must be used to control BPH, use BPH-specific chemicals, such as buprofezin, as it has fewer effects on BPH’s natural enemies.
IRRI has been monitoring the BPH and virus situation across Asia with increasing concern over the past several years. “Last year, high rice prices motivated Thai farmers to grow rice continuously, fertilize their rice more in an effort to boost yields, and attempt to protect their investment by spraying more pesticides to keep leaf-eating insects at bay,” said Dr. Heong. “This combination of practices helped cause the current BPH outbreak in Thailand."  Dr. Heong coordinates the Rice Planthopper Project, a collaborative research network with national scientists in Asia co-funded by IRRI and the Asian Development Bank that aims to share knowledge and develop sustainable ways to manage BPH problems.
If farmers or their advisors want to find ways to manage existing BPH problems and to prevent future outbreaks they can go to the Ricehoppers Blog.
IRRI helps farmers manage pests in a sustainable way by developing pest-resistant rice varieties, IPM strategies, and ecological engineering approaches.beta.irri.org
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Restore Ecology to Prevent Rice Pest Outbreaks in Thailand - 9756people
Info Petani -
Health Benefits of Rice
Health benefits of rice include providing fast and instant energy, good bowel movement, stabilizing blood sugar levels and providing essential source of vitamin B1 to human body. Other benefits include skin care, resistance to high blood pressure, dysentery and heart diseases. Rice is the staple food in most of the countries and it is an important cereal crop that feeds more than half of the world’s population.
Health benefits of rice can be found in more than forty thousand varieties of this cereal available in the world. The two main categories include whole grain rice and white rice. Whole grain rice is not processed much, therefore it is high in nutritional value, whereas white rice is processed so that the bran or outer covering is removed and it has less nutritional value. Rice can also be defined by the length of each grain. Indian or Chinese cuisines specialize in long grained rice, whereas western countries prefer short or medium sized grains. According to Rice-Trade, rice is extremely nutritious. Some of the health benefits specified by them are as follows:
  • Great Energy Source: As rice is rich in carbohydrates, it acts as fuel for the body and aids in normal functioning of the brain.
  • Cholesterol Free: Eating rice is extremely beneficial for health, just for the fact that it does not contain harmful fats, cholesterol or sodium. It forms an integral part of balanced diet.
  • Rich in Vitamins: Rice is an excellent source of vitamins and minerals like niacin, vitamin D, calcium, fibre, iron, thiamine and riboflavin.
  • Resistant Starch: Rice abounds in resistant starch, which reaches the bowel in undigested form. It aids the growth of useful bacteria for normal bowel movements.
  • High Blood Pressure: As rice is low in sodium, it is considered best food for those suffering from high blood pressure and hypertension.
  • Cancer Prevention: Whole grain rice like brown rice is rich in insoluble fibre that can possibly protect against many types of cancers. Many scientists believe that such insoluble fibres are vital for protecting the body against cancerous cells.
  • Skin Care: Medical experts say that powdered rice can be applied to cure some forms of skin ailments. In Indian subcontinent, rice water is duly prescribed by ayurvedic practitioners as an effective ointment to cool off inflamed skin surfaces.
  • Dysentery: The husk part of rice is considered as an effective medicine to treat dysentery. A three month old rice plant’s husks is said to contain diuretic properties. Chinese people believe that rice considerably increases appetite, cures stomach ailments and indigestion problems.
  • Alzheimer’s Disease: Brown rice is said to contain high levels of neurotransmitter nutrients that can prevent Alzheimer’s disease to a considerable extent.
  • Heart Disease: Rice bran oil is said to have antioxidant properties that promotes cardiovascular strength by reducing cholesterol levels in the body.
  • According to International Rice Research Institute in Philippines, the nutritional value of rice needs to be improved more so that it benefits mankind.  Rice, being the most dominant cereal crop in most of the countries can improve the health condition of millions of people who consume it. Efforts are made to increase the micronutrient value of rice by mixing traditional methods of growing crops and modern bio-technology. The institute further states that development of rice with high iron and zinc compounds could be possible through bio-fortification. That can also induce high quality yields, which could be eagerly accepted by farmers as well as rice consumers.
More on Rice:
Rice can also prevent chronic constipation. The insoluble fibre from rice acts like a soft sponge that may be pushed through intestinal tract quickly and easily. Brown rice and whole grains are said to be rich in insoluble fibre. But, it is advisable to drink lots of water for relieving constipated state along with fibrous foods. Diabetic patients are recommended to include brown rice rather than white rice that contains low levels of glycemic index. Just a cupful of brown rice on daily basis provides you with almost 100% manganese value, which aids in producing energy from carbohydrates and protein. Brown rice is extremely beneficial for normal functioning of nervous system and production of sex hormones.organicfacts.net

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Health Benefits of Rice - 9756people
Info Petani -
Soft Rice : Beginning of Tests
The CRRI obtained Aghonibora from the Titabar Regional Research Station in Assam and experiments at the institute in Orissa began in 2008. The results were encouraging. Aghonibora, had an extremely low amylose (a starch that gives rice its hardness) content. That makes the grains so very soft and gives it the amazing quality of being ready-to-eat simply after soaking in water for 45 minutes at room temperature. When the water is lukewarm it takes 15 minutes. Adhya said that normal rice has 20 to 25 per cent amylose while that in soft rice is 4.5 per cent. Experiments in Cuttack showed that Aghonibora is also a variety that does not crave for extra expenditure or special treatment. It takes about 145 days to mature whereas normal rice varieties make their farmers wait three to six months. Aghonibora yields 4.5 tonnes per hectare (ha), much higher than the average 2.2 tonnes per ha for the country and 1.7 tonnes per ha for Orissa.
While a journal is yet to publish these finds, T Ahmad, the chief scientist at the Regional Agricultural Research Station (rars), Titabar, was surprised to hear about the finds. He said that Aghonibora developed by his institute was not soft and could not be eaten without cooking. He said that the scientists at CRRI must have resorted to some biochemical changes to make the rice soft after parboiling. Adhya, however, was firm in stating that no biochemistry had been resorted to. The variety obtained from Assam was simply purified and then grown in CRRI. Besides, Sharma also explained that rice varieties that have an amylose content of five to eight per cent are called soft. Hence Aghonibora with its 4.5 per cent is a borderline case.
Keeping the statements of both scientists in view, it might be that a difference in the environmental conditions due to a shift from Assam to Orissa brought about the change in the qualities of the rice.
CRRI will begin its field trials next year. The institute that has so far tested the crop only in the kharif season, will do so in the rabi season this year for the first time. “We are also trying to reduce the duration of growth from 145 to 120 days,” said the scientist.
This economical and environment-friendly soft rice is expected to be a hit in Orissa where eating soaked rice, locally known as pakhal, is a tradition. Pakhal is soaked after being cooked whereas soft rice does away with the whole idea of cooking, thus not only saving fuel but also the physical labour involved. It promises to keep the environment pollution-free.
“We do not have specific energy audit for calculating how much energy will be saved. But considering an average of 10-15 minutes required for cooking a meal of rice, the energy usage can be worked out,” said Adhya. He has distributed the seeds to farmers in Cuttack and Jagatsinghpur district of Orissa.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Soft Rice : Beginning of Tests - 9756people
Info Petani -
Soft Rice From India
soaked in water, the parboiled rice grains expanded, softened and were ready to eat, surprisingly. Sharma had heard about rice that can be eaten without cooking but for the first time he saw it happen in front of his eyes.

There is not much that differentiates an Aghonibora soft rice grain from other rice varieties that grow in India. With a similar grain length and breadth of 5.85 and 2.12 mm, the plant grows 90 cm tall. The parboiled Aghonibora rice grains are yellowish in colour, too. Each grain is 7.65 per cent protein-rich, just like other rice varieties. But the similarity ends here. It makes for a dish of rice that need not be cooked.

Srigopal Sharma, chief scientist at the Central Rice Research Institute (crri) in Cuttack, makes a living by peering at the rice specimens lying in his office which also serves as his laboratory.

Some days he takes a walk in the sprawling rice fields of the experimental plots in the institute. These days he spends his entire time working with Aghonibora, the variety named after aghoni— the months of November, December when it is harvested .

Aghonibora has been grown in Assam for quite some time. During a trip to Arunachal Pradesh in 2007, Sharma made a stopover in a village in the Shonitpur district of Assam. Aghonibora is used as a breakfast cereal there. In fact, a farmer offered him some but its quality was not so good. However, seeing that it did not require any cooking got Sharma thinking about its prospects in Orissa.

“We decided to test the feasibility of growing rice in the hot and humid climate of Orissa, “ said CRRI’s director T K Adhya. The temperature during the grain filling period varies between 16 and 18°C in Assam whereas in Orissa it is between 25 to 28°C. The humidity in Orissa is high—around 70 to 75 per cent. So the real challenge was to see whether it could be grown in these conditions.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Soft Rice From India - 9756people
Info Petani -
KTNA Kirim Surat Ke Presiden Untuk Status Penyuluh Kontrak

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional Ir. Winarno Tohir mengungkapkan sebagai bentuk dukungan KTNA terhadap THL-TBPP, KTNA akan membuat surat yang akan menyuarakan pemikiran THL-TBPP kepada Presiden. “Kita menyuarakan aspirasi petani THL-TBPP ini agar didengar oleh pihak legislatif dan eksekutif ”, tutur Winarno.

Sedangkan para Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) menginginkan kepastian status kerja setelah masa kontrak kerja mereka habis.

Hal tersebut disampaikan oleh Dedy Alfian, Ketua Forum Komunikasi Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (FK THL-TBPP) Nasional, saat ditemui di acara dialog antara KTNA dengan THL-TBPP di aula Yampi, Jakarta. “Kami mengharapkan adanya solusi dari pemerintah agar keberadaan dan status THL-TBPP ini dapat diberlangsungkan secara berkelanjutan dan definitif”, ujar Dedy.

Selain itu para THL-TBPP juga mengharapkan agar pemerintah lebih serius membahas kepastian status THL-TBPP ini dengan memberikan perlakuan khusus terhadap permasalahan THL-TBPP ini.
(Source: sinartani.com)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: KTNA Kirim Surat Ke Presiden Untuk Status Penyuluh Kontrak - 9756people
Info Petani -
Taman Organik dan Kios Organik Mandiri
THL TBPP, BISA!! Sebuah ide kreatif dan bermanfaat tercurah dari kawan-kawan THL TBPP kabupaten Tulungagung dalam Taman Organik dan Kios Organik Mandiri. Pendirian Taman Organik bersama dengan pembukaan KIOS ORGANIK MANDIRI bertujuan antara lain: 
  • Memperkenalkan Taman Organik sebagai lahan percontohan pertanian ramah lingkungan kepada masyarakat Tulungagung pada khususnya dan praktisi pertanian pada umumnya. 
  • Memperkenalkan Kios Organik ”MANDIRI”sebagai tempat pemasaran produk-produk organik kepada masyarakat Tulungagung pada umumnya dan produsen serta konsumen produk organik khususnya. 
  • Wahana transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian organik. Wahana karya wisata dan rekreasi/outbond pertanian organik bagi anak usia sekolah maupun masyarakat umum yang ingin menambah pengetahuan tentang pertanian organik.  
Hal lain adalah kita ingin mewujudkan Program Go Organik 2010 yang dicanangkan oleh Departemen Pertanian RI. Kenyataan  di lapang menunjukkan bahwa pertanian non organik/konvensional pada prakteknya berlebih didalam menggunakan pestisida dan pupuk kimia yang pada akhirnya meninggalkan residu kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Akibat lain adalah degradasi lahan/penurunan kualitas lahan yang semakin hari semakin mengkuatirkan.  
Yang sangat membanggakan bagi THL TBPP adalah 
  1) Taman Organik dan Kios Organik Mandiri bisa terwujud atas swadaya murni dari Forum Komunikasi Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (FK- TBPP) Kabupaten Tulungagung, yang beranggotakan 100 personel. Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (TBPP) direkrut oleh Departemen Pertanian dan diperbantukan di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia sejak tahun 2007. Hasil dan efek positif dari rekruitmen ini adalah berhasilnya swasembada beras yang sempat terhenti sejak tahun 1984. Hal lain adalah sebagian besar TBPP di seluruh wilayah Indonesia di dalam melakukan pendampingan dan penyuluhan bagi rumah tangga petani mampu memunculkan ide – ide kreatif. Untuk FK – TBPP kabupaten Tulungagung salah satu ide kreatif yang digagas adalah berdirinya Taman Organik dan Kios Organik Mandiri yang beralamat di Jalan Srabah 01/05 Desa Karanganom, Kec. Kauman, Kabupaten Tulungagung. Ide ini digagas sebagai upaya serius membantu petani di kabupaten Tulungagung di dalam memulai kegiatan pertanian organik di tahun 2010 dengan menyelaraskan program Departemen Pertanian  ”GO ORGANIK 2010”
2)      Lahan yang dikelola oleh Taman Organik seluas 11 hektar yang terdiri dari :
-          7 hektar tanaman padi
-          3 hektar untuk tanaman sayur
-          1 hektar untuk kolam ikan
Lahan ini digunakan sebagai lahan percontohan dengan dilengkapi fasilitas Saung/Gazebo untuk pertemuan, Rumah Kompos untuk kegiatan produksi pupuk organik dan area Taman Sayur yang ditata apik.  
Sebagai tahap awal varietas padi yang di budidayakan adalah Ciherang, mengingat varietas ini mudah di dalam perawatan, tidak rentan terhadap hama dan penyakit
Tanaman sayur yang dibudidayakan terdiri dari sayur dataran rendah, seperti kacang panjang, lombok,tomat,bayam, sawi dan sayuran dataran tinggi seperti bawang prei, brokoli, selada dan lain-lain.
Untuk kolam ikan masih difokuskan pada budi daya ikan gurami  dan lele untuk kebutuhan konsumsi.
3)      Berkaitan dengan perawatan kita melibatkan petani sebagai mitra kita. Lahan yang kita kelola dari awal menggunakan sistem kemitraan dan model pendampingan lapang oleh seluruh personel TBPP Tulungagung.  Berkaitan dengan pemupukan, Taman Organik kita lengkapi dengan rumah kompas. Rumah kompas inilah yang mensupply kebutuhan pupuk organik di lahan petani mitra.
Sebagai kegiatan panen perdana cukup menampakkan hasil yang memuaskan, produktivitas padi mencapai 8 ton/hektar. Walaupun pada dasarnya kegiatan pertanian organik pada awalnya memang belum dapat memaksimalkan produktivitas, walaupun pada akhirnya dalam jangka panjang produktivitas panen akan meningkat dan kualitas lahan menjadi baik.   
4)      Tanggapan warga sekitar (Ds. Karanganom, Kec. Kauman) sangat mendukung. Bahkan dari hamparan persawahan yang luas totalnya mencapai 20 hektar di sekitar Taman Organik, ingin bergabung dalam kemitraan.
Mengingat sumber daya modal yang terbatas kita belum bisa memenuhi keinginan warga tani tersebut, kedepan kita berharap dapat mengelola total hamparan di sekitar area Taman Organik dengan kecukupan sumber daya yang kita persiapkan.
5)      Sambutan dari pejabat terkait adalah harapan supaya manajemen Taman Organik dengan Kios Organik Mandiri dapat mengembangkan kegiatannya secara lebih luas di wilayah Tulungagung. Kepala Dinas Pertanian menyatakan siap meng-alokasikan bantuan berupa sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan pertanian organik, berupa mesin pengolah pupuk organik. Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung, melalui komisi yang membidangi siap menganggarkan alokasi dana APBD untuk kegiatan pertanian organik.
6)      Penghargaan kepada Bupati Tulungagung berkaitan dengan Ketahanan Pangan dan Peng-anekaragaman Pangan, yang diberikan oleh Presiden RI bulan Desember tahun lalu.
Penghargaan tersebut tidak lepas dari partisipasi kelompok tani dan aparat pertanian, termasuk Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian. Bahkan teman-teman di TBPP ikut serta di dalam penataan kegiatan di bidang Ketahan Pangan, seperti menyiapkan dan menata Gerai Ketahanan Pangan dan mendokumentasi atau menginventarisir kegiatan-kegiatan yang menunjang ketahanan pangan dan peng-aneka ragaman pangan.
7)      Kita berharap Taman Organik dan Kios Organik Mandiri kedepannya dapat menjadi Pusat Pelatihan Pertanian Organik, yang membantu dan mendampingi petani dalam kegiatan pertanian organik secara gratis serta wahana pelatihan  pemuda untuk lebih mencintai dunia pertanian dengan berbagai jenis usahanya
Sehubungan dengan Kios Organik Mandiri supaya dapat menjadi terminal produk pertanian organik yang menampung dan memasarkan hasil panen petani organik dan menjadi sarana  pembelajaran petani terhadap  manajemen agrobisnis. (Timour/Ket. FK Tulungagung)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Taman Organik dan Kios Organik Mandiri - 9756people
Info Petani -
"KITA" DAN KEKUATANNYA
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2001) yang menyatakan bahwa “kita” dipergunakan untuk menyatakan bahwa pembicara mengajak lawan bicaranya secara bersama-sama, yang diistilahkan sebagai personal pertamajamak. Lebih lanjut diuraikan bahwa “kita” adalah kata sifat yang berarti mementingkan kebersamaan dalam menanggung suka-duka ( saling membantu, saling menolong, sepenanggungan, senasib dsb). Dalam obrolan sehari-hari kata “kita” tak jarang mengalami kekeliruan dalam penggunaannya; misalnya keliru dengan kata “kami”.
Berdasarkan pengamatan empiris dan dalam prakteknya kekuatan kebersamaan atau “kita” khususnya dalam pelaksanaan tugas-tugas kedinasan sehari-hari, terletak pada beberapa hal sebagai berikut :

1. Memperkuat komitmen
Mengapa begitu ? Pada dasarnya setiap orang mempunyai komitmen terhadap sesuatu yang dihadapinya; begitu ia yakin dan merasakan sebagai bagian dari sesuatu (karya atau sesuatu yang akan dikerjakan bersama) maka ia merasa lebih mantap dan mengikuti ajakan komunikator untuk berbuat sesuatu.

2. Meningkatkan rasa percaya diri
Komunikan akan meningkat rasa percaya dirinya karena ia merasa diakui kemampuannya (pengetahuan, keterampilan, sikap) dan ia merupakan bagian dari kegiatan yang akan dikerjakannya itu.

3. Memberikan penghargaan
Komunikan merasa dihargai sehingga dengan senang hati akan berbuat sesuatu secara sungguh-sungguh dan maksimal, sebagaimana yang disampaikan oleh komunikator.

4. Menumbuhkan rasa tanggung jawab
Komunikan memiliki rasa tanggung jawab dalam menyelesaikan pesan/ajakan atau tugas yang disampaikan oleh komunikator.

5. Menumbuhkan rasa memiliki
Rasa memiliki akan tumbuh pada komunikan, terhadap karya bersama yang telah dihasilkan karena ia /mereka mereasa diakui sebagai bagian dari keberhasilan karya tersebut. Komunikan akan turut menjaga dan menjamin kegberhasilannya.

6. Meningkatkan partisipasi
Hal ini dikarenakan komunikan merasakan kegunaan dirinya dan merasakan adanya manfaat dari keberadaannya. Selain daripada itu komunikan juga merasa diakui dan diperlukan. Dengan begitu ia akan turut serta secara lebih aktif lagi.


7. Meningkatkan “feed back”
Dengan adanya masukkan pemikiran dari komunikan maka alternative pemecahan permasalahan akan bertambah sehingga memudahkan dalam memilih solusi dan mengambil tindakan yang lebih tepat

8. Meningkatkan ketelitian
Dengan keikutsertaan komunikan dalam melaksanakan ajakan/tugas komunikator, tingkat ketelitian akan meningkat, mengingat komunikan juga memiliki berbagai pengalaman. Dengan begitu maka akan timbul pengayaan terhadap apa yang sudah disampaikan komunikator, baik itu berupa rencana atau ajakan; dan hal demikian itu mengartikan bahwa kualitas pekerjaan dimungkinkan meningkat sebagai akibat dari pengamatan yang meningkat.

9. Meminimalisasi sifat negatif
Peluang munculnya sifat-sifat jelek dari komunikan dapat dikatakan tidak ada akibat tidak munculnya prasangka dari kedua belah pihak

10. Meningkatkan peran jender
Semua yang terlibat, baik laki-laki maupun perempuan akan memaksimalkan pemberdayaan kegunaan fungsi SDM

11. Menghemat waktu
Hal ini terjadi karena pekerjaan dilakukan secara bersama sampai tuntas. Pekerjaan lebih cepat selesai, dan tugas/pekerjaan berikutnya dapat segera dilaksanakan sehingga target cepat terpenuhi bahkan merangsang untuk menyelesaikan/mencari/menciptakan pekerjaan lainnya.

12. Lebih bersifat ekonomis
“Kita” akan berperan maksimal dalam memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada (sumber daya manusia, waktu, keahlian, ketelitian dsb).

13. Menjamin tingkat keberlanjutan (sustainability)
Kelangsungan hidup organisasi meningkat sejalan dengan tingkat kepuasan baik yang dirasakan oleh komunikator maupun, secara fisik dan emosional.

Demikian beberapa kekuatan dan nilai philosophis dari penerapan roh “kita” dalam kehidupan sehari-hari khususnya di dalam keorganisasian. Tetapi meski begitu tentu ada persyaratan spesifik yang harus dipenihi agar kekuatan “kita” dapat dikeluarkan dan dimanfaatkan serta menjadi kenyataan dalam penyelesaian pelaksanaan tugas sehari-hari.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: "KITA" DAN KEKUATANNYA - 9756people
Info Petani -
Selamat Tahun Baru 2010, Gapai Mimpi Kita!

Selamat tahun baru 2010 bagi kawan-kawan semua, semoga ditahun ini mimpi-mimpi kita akan segera terwujud. Sesuai Pengumuman dari blog thl-tbpp.blogspot mengenai Kalender THL TBPP 2010, Bagi kawan-kawan yang sudah mengirimkan ide kreatifnya Kalender THL TBPP 2010 dalam format PDF dan MS. EXCEL sudah kami kirimkan ke e-mail Anda.
Bagi kawan-kawan yang tidak sempat mengirimkan ide kreatifnya dan bagi yang berminat dengan kalender THL TBPP, dapat mendownloadnya DISINI

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Selamat Tahun Baru 2010, Gapai Mimpi Kita! - 9756people
Info Petani -
Teh Alami dari Kaki Gunung Slamet
Secangkir teh di pagi hari mungkin menjadi kebiasaan kita sebelum berangkat aktivitas. Umumnya teh yang kita minum baik itu dalam bentuk teh celup atau teh tubruk hasil produksi pabrik teh yang ada. Dengan rasa umum kebanyak teh dipasar.
Belum lama ini ketika saya berkunjung seorang sahabat di daerah kaki gunung Slamet, Baturaden-Banyumas. Saya berkesempatan menikmati aroma dan rasa yang unik berbeda dari aroma dan rasa teh pada umumnya. Campuran dari sepet dan sedikit aroma seperti kopi tercampur di teh ini menghasilkan rasa nikmat yang menyegarkan otak kita. Rasa ingin tahu saya pun muncul, menurut kawan saya ini Teh tersebut biasa dinamakan dengan nama "Teh Jawa".
Teh Jawa, teh tradisional dengan full penangannya secara manual tanpa sedikitpun bantuan alat mesin pabrik umumnya pabrik teh. Jika pada pabrik-pabrik teh, setiap daun teh yang dipanen dari kebun akan melewati Proses Pelayuan, Proses Pendinginan dan Proses Penggulungan daun (untuk Teh Hijau), Proses pengeringan dan sortasi. Pada "teh Jawa" ini, petani umumnya memetik daun teh dari kebun teh mereka sendiri kemudian melalui proses pelayuan setelah itu langsung di "Sangan"(sangrai-red). Setelah dingin langsung di pasarkan di pasar-pasar tradisional tanpa kemasan khusus, Jika musim kemarau per kilogramnya bisa mencapai Rp. 20.000,- namun jika musim hujan seperti saat ini harganya dibawah Rp 20.000,-
Sebuah khasanah kuliner Asli Indonesia dengan nilai-nilai tradisional yang masih tinggi, Jika kita kelola dengan baik tentunya akan lestari dan menambah nilai tambah bagi peningkatan kesejahteraan para petani.


Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Teh Alami dari Kaki Gunung Slamet - 9756people
Info Petani -
Kalender THL TBPP 2010

Menyambut tahun baru 2010, blog thl-tbpp.blogspot.com akan membagi Kalender 2010 bagi kawan-kawan semua. Syaratnya mudah, kawan-kawan cukup menuliskan ide-ide kreatif bagaimana memaksimalkan masa jeda kontrak bagi THL TBPP untuk kegiatan yang produktif.
Ide-ide kreatif kawan-kawan dapat dikirimkan melalui email ke: admin.thl4all@gmail.com dengan Subject/ Judul E-mail: "Kalender THL TBPP" ditunggu sampai  31 Desember 2009. Setiap email yang masuk akan mendapatkan Kalender 2010 Gratis dari kami.


Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Kalender THL TBPP 2010 - 9756people
Info Petani -
Trust, Important Factor in Leading
The first thing to do to be elected is how to have goals and objectives that we offer can be accepted by the people in the organization. This acceptance will be easy to obtain if they trust us. So the trust factor becomes a very critical factor.
In exercising its function as an agricultural extension agent (PPL), tips on what to do to succeed in such a work plan, introduced by the authorities farmer groups; provide motivation, such as giving praise when successful and encouraging if still not successful. Other tips, that is for members who can not verbally express the problem is done by writing each problem and do practice or work directly with communities as a form of responsibility in performing their tasks.
Other tips, freedom responsible for the opinions expressed. Create an environment where people feel safe to express his opinion, the cons though. And this is not limited to words. Prove the behavior that we are giving rewards to those who do not agree and on those who innovate. All of these affect the emergence of an atmosphere of mutual trust. Trust arises not because of tips and specific techniques, but emerged from a deeper base, namely the leader's personal character.
There are four elements in the personal character that will engender trust from others. First, competence. Subordinates must have confidence that the leadership has the ability to perform duties and responsibilities. Second, the integrity of leaders. The only word to deed is the main criterion. Third, in any condition to take sides on the leader who led them. Subordinates must be to feel that the leader will provide support and advocacy for them. Fourth, regardless of the lives of people who work. Empathize with them. Give a big concern over the implications of our actions and decisions of their lives.
Being a leader is not easy. However, everyone basically has the capacity to lead. Whatever his leadership experience is a good start. The process of becoming a leader is not really different from the process of becoming a whole person.


Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Trust, Important Factor in Leading - 9756people
Info Petani -
THE IMPORTANCE OF COMMUNICATION WITH EMPLOYEES
To facilitate the operations of an organization, communication with employees is very important. Here are 6 (six) of alternative approaches:

1. Orientation of human values.
Managers must be more responsive to human values. Communication must answer the needs of employees. The workers wanted to understand what was happening around them. Also want to be respected as individuals, and want to have a sense of purpose, understanding the future of their own work and overall future of the organization.

2. Planning.
Like other corporate functions, communication with employees should be planned. Communication must work for 365 days to achieve continuity and credibility. Do not let the employees feel that their leaders tried to connect only if they feel that the employee misunderstood
their position, or if they want to "sell" their ideas.

3. Effective complaints procedure.
Problems that office should be discussed with the employee according to the procedure. Comments about the employee should be obtained from the first hand.

4. Active listener.
Although the complex organizational structure, managers should not forget the people. Must develop the skills of "active listener".

5. Management involvement.
Managers should be enough to consider the direction, quality and content of all communications with employees. Employee involvement has always been key to the success of communication programs, and communication with employees is as important as any other communication made.


Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: THE IMPORTANCE OF COMMUNICATION WITH EMPLOYEES - 9756people
Info Petani -
THL-Angkatan 2007: Prestasi Berbuah Berkah
Atas dukungan Komisi IV DPR-RI selama tiga tahun anggaran 2007, 2008 dan 2009 maka Departemen Pertanian dapat melakukan kontrak dengan Tenaga Harian Lepas (THL). Diantaranya THL Tenaga Bantu Penyuluhan Pertanian, THL Perkebunan, THL Hewan dan Paramedis, THL Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Tetapi pada Raker Menteri Pertanian dengan Komisi IV DPR-RI tanggal 28 September 2009 yang lalu, disepakati untuk tidak memperpanjang kontrak THL Angkatan 2007. Anggaran THL Angkatan 2007 ini direalokasikan untuk kegiatan Penggerak Membangun Desa (PMD).

Ada ”blessing in disques” atau ”hikmah terselubung”. Secara alami terjadi pergantian Menteri Pertanian dan anggota DPR RI. Maka Menteri Pertanian 2009-2014 ini membentuk Tim penanganan THL Deptan. Hasil kajiannya adalah THL sangat efektif dan bermanfaat dalam melaksanakan penyuluhan pertanian. Karena salah satu target Menteri Pertanian 2009-2014 adalah swasembada berkelanjutan dan peningkatan produksi maka disimpulkan peran dari THL angkatan 2007 masih diperlukan di lapangan untuk menjaga momentum swasembada padi dan jagung serta untuk meningkatkan produksi komoditas utama lainnya. Katakanlah ”Prestasi berbuah berkah”.

Melihat manfaat ini maka Menteri Pertanian memohon persetujuan Komisi IV DPR RI kiranya dapat memperpanjang THL angkatan 2007. Ternyata Komisi IV menyetujui kebijakan program perpanjangan tenaga harian lepas Angkatan 2007, sambil memberi kesempatan kepada Departemen Pertanian RI untuk menetapkan kebijakan tentang THL di masa datang.

Kabar gembira untuk THL tetapi melekat dengan kabar gembira ini tampil pula tantangan. Diantaranya :

Pertama, bahwa perpanjangan ini berdasarkan pertimbangan untuk menjaga momentum swasembada padi dan jagung, tetapi juga untuk komoditi lainnya, kedelai, gula dan daging. Menteri Pertanian telah menetapkan sasaran produksi padi nasional tahun 2014 sebesar 75,7 juta ton, produksi jagung sebesar 29,0 juta ton, produksi kedelai sebesar 2,7 juta ton, produksi gula sebesar 3,6 juta ton, daging sapi sebesar 546 ribu ton dan produksi susu segar sebesar 1, 3 juta ton.

Ingat, target target ini harus dicapai karena pemerintah sudah mencanangkan bahwa padi dan jagung harus swasembada berkelanjutan, kedelai swasembada tahun 2014, gula swasembada 2014 dan daging sapi berkecukupan tahun 2014.

Sementara tantangannya tidak main-main. Meningkatnya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global, ketersediaan infrastruktur, sarana, prasarana, lahan dan air masih terbatas, status dan luas kepemilikan lahan untuk 9,55 juta KK < 0,5 Ha, lemahnya sistem perbenihan dan perbibitan nasional, keterbatasan akses petani terhadap permodalan dan masih tingginya suku bunga usahatani, lemahnya kapasitas dan kelembagaan petani dan penyuluh, rendahnya nilai tukar petani. Tetapi ”the show must go on” Swasembada harus tercapai. Kedua, terminologi yang digunakan adalah perpanjangan THL Angkatan 2007. Artinya bukan pengangkatan. Tetapi Komisi IV masih menambahkan ”sambil memberi kesempatan kepada Departemen Pertanian RI untuk menetapkan kebijakan tentang THL”.(sinartanionline)



Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: THL-Angkatan 2007: Prestasi Berbuah Berkah - 9756people
Info Petani -
MASA KONTRAK THL ANGKATAN 2007 DIPERPANJANG
Komisi IV DPR RI menyetujui kebijakan program perpanjangan Tenaga Harian Lepas (THL) Angkatan 2007 setelah mendengarkan usul dan penjelasan Menteri Pertanian dalam Raker antara Menteri Pertanian dengan Komisi IV DPR-RI tanggal 16 Nopember 2009. Perpanjangan kontrak dilakukan kepada 6.976 orang Tenaga Harian Lepas yang terdiri dari 5.606 orang THL-TBPP, 88 orang THL Perkebunan, 33 orang THL Hewan dan Paramedis dan 1.249 orang THL Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT).

Walaupun sebenarnya pada Raker antara Menteri Pertanian dengan Komisi IV DPR-RI tanggal 28 September 2009, telah disepakati untuk tidak memperpanjang kontrak THL Angkatan 2007 dan anggaran untuk THL angkatan 2007 direalokasikan untuk kegiatan Penggerak Membangun Desa (PMD). Namun, sesuai kajian dari Tim Penanganan THL Deptan, peran dari THL angkatan 2007 masih diperlukan di lapangan untuk menjaga momentum swasembada padi dan jagung serta untuk meningkatkan produksi komoditas utama lainnya.

”Berdasarkan evaluasi itu, THL sangat efektif dan bermanfaat dalam melaksanakan penyuluhan pertanian”, kata Mentan. Berdasar penjelasan itu Komisi IV DPR menyetujui perpanjangan THL Angkatan 2007 dengan kebutuhan anggaran lebih kurang sebesar Rp 104,1 miliar dengan merevisi anggaran PMD yang ada di BPSDMP, Ditjen Peternakan dan Ditjen Tanaman Pangan, sambil memberi kesempatan kepada Departemen Pertanian RI untuk menetapkan kebijakan tentang THL di masa datang.(sinartanionline)


Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: MASA KONTRAK THL ANGKATAN 2007 DIPERPANJANG - 9756people
Info Petani -
BEAUTIFUL AND INTELLIGENT
Sleep is not only good for the health of the body, but also benefit the beauty and improve memory. Make sure you've fallen asleep before midnight, because at 2 AM to 4 AM is the most important time for the skin to rejuvenate itself and energized.
Meanwhile, the brain will be able to absorb and store new information better, if you complete the routine and not until late at night when go to bed. So, sleep tight at least 7 hours a day let your brain smarter and more attractive appearance so that the farmers become more spirit than listening to your agricultural extension

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: BEAUTIFUL AND INTELLIGENT - 9756people
Info Petani -
Cara Mudah Sembuhkan Penyakit Pada Kambing
Kambing, siapa sih yang belum pernah mendengar atau melihat kambing? Kambing memiliki pesona tersendiri bagi masyarakat kita, baunya yang khas membuat sebagian orang enggan mendekatinya namun dibalik itu semua hewan yang satu ini memiliki kandungan protein yang bergizi tinggi. Sebagian besar orang suka makan daging kambing dalam bentuk sate.
Begitu populernya jenis hewan ini sehingga hampir disetiap pelosok desa banyak petani yang beternak kambing dengan harapan dapat meraup untung darinya. Namun beternak Kambing tidak semulus apa yang mungkin kita bayangkan. Berbagai permasalahan sering mengganggu kesehatan ternak kambing, baik itu serangan penyakit, gangguan pertumbuhan dan reproduksi hingga kematian kambing.


Selain keterbatasan pengetahuan tentang kesehatan ternak, peternak juga enggan mengobati ternaknya dengan alasan biaya pengobatannya relatif mahal, obatnya hanya ada di kota, jarangnya praktisi dokter hewan di desa dan berbagai alasan klasik lainnya. Untuk mengatasi permasalahan ini menuntut praktisi dokter hewan dan peternak sendiri lebih sedikit kreatif dalam mencari alternatif lain yakni menggunakan obat-obat tradisional yang terhampar luas di Indonesia ini.
Beberapa penyakit yang sering menyerang ternak kambing dan dapat diobati secara tradisional diantaranya adalah sebagai berikut :
1. SCABIES (KUDIS)
Penyebab :
Parasit yang terdapat pada kotoran yang terjadi karena kandang kotor dan ternak tidak pernah dimandikan.
Tanda- tanda :
- Kerak - kerak pada permukaan kulit
- Ternak selalu menggesekan bagian kulit yang terserang kudis
- Kerontokan bulu, kulit menjadi tebal dan kaku
Pengobatan :
Cukur bulu sekitar daerah terserang, mandikan ternak dengan sabun sampai
bersih, kemudian jemur sampai kering. Setelah kering dapat diobati dengan
menggunakan:
1. Belerang dihaluskan, dicampur kunyit dan minyak kelapa, kemudian
dipanaskan dan digosokkan pada kulit yang sakit.
2. Belerang dihaluskan dan dicampur dengan oli bekas dan digosok pada
bagian kulit yang sakit.
3. Kamper / kapur barus digerus, dicampur minyak kelapa dan dioleskan
pada bagian kulit yang sakit.
Pencegahan :
- Ternak yang berpenyakit kudis tidak boleh bercampur dengan ternak yang
sehat.
- Ternak yang baru dibeli harus bebas dari penyakit kudis
- Mandikan ternak dua minggu sekali.
- Bersihkan kandang seminggu sekali.

2. BELATUNGAN ( MYASIS )
Penyebab :
Luka daerah yang berdarah diinfeksi oleh lalat sehingga lalat berkembang
biak (bertelur) dan menghasilkan larva belatung.
Tanda-tanda :
- Adanya belatung yang bergerak-gerak pada bagian yang luka
- Bila belatungan pada kaki/teracak maka ternak terlihat pincang.
Pengobatan :
- Bersihkan luka dari belatung, kemudian obati dengan gerusan
kamper/kapur barus atau tembakau.
- Luka dibungkus dengan kain/perban untuk melindungi dari terjadinya luka
baru atau kotoran.
- Pada hari berikutnya luka dibersihkan, pengobatan diulang dan dibungkus
kembali. Biasanya dua atau tiga kali pengobatan sudah sembuh.
- Bila belatung sudah terbasmi, pemberian yodium tinctur dapat dipakai
untuk mempercepat pertumbuhan.

3. CACINGAN
Penyebab :
Bermacam-macam cacing terjadi karena kandang yang kotor atau padang
pengembalaan yang kotor.
Tanda-tanda :
- Kurus, bulu agak berdiri dan tidak mengkilap
- Sembelit atau mencret
- Lesu dan pucat
- Daerah rahang terlihat membengkak
- Mati mendadak
Pengobatan :
1. Tepung buah pinang dicampur dengan nasi hangat dikepal-kepal
kemudian dipaksakan untuk dimakan ternak. Ternak dianjurkan untuk
dipuasakan terlebih dahulu.
2. Daun kelor yang tua dibakar, kemudian debunya dicampur air dan
diminumkan. Pengobatan diulangi satu minggu kemudian.
Pencegahan :
- Kandang dibuat panggung dan bersih
- Pengaritan rumput setelah panas yaitu pada jam 12.00-15.00 atau
pengembalaan ternak pada siang hari jam 10.00-15.00.
- Jangan menggembalakan ternak pada daerah rawa, sungai dan sawah.

4. KERACUNAN TANAMAN
Penyebab :
- Ternak memakan rumput-rumputan atau daun-daunan yang mengandung
zat racun.
Tanda-tanda :
- Mati mendadak, mulut berbusa, kebiruan pada selaput lendir,
pengelupasan kulit/eksim atau terjadi pendarahan.
Pengobatan :
- Cekoklah ternak dengan air kelapa muda.
Pencegahan :
- Tidak memberikan tanaman beracun atau menggembalakan ternak di
daerah yang banyak tumbuh tanaman yang mengandung racun. (Diolah dari berbagai sumber)

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Cara Mudah Sembuhkan Penyakit Pada Kambing - 9756people
Info Petani -
HOW TO CORRECT PERFORMANCE
In improving the performance, management and staff must have a unity of understanding and generosity to correct each other, although this is not easy. Once in line, then the repair u'r work would go smoothly.
Steps to be taken:
• Recognizing the symptoms, which then observed and analyzed. If you want to be treated, the leadership must understand the dynamics of first symptoms. Leaders must have a big heart to accept the possibility that it was he who caused the bad performance of subordinates.

• Need to operate an honest conversation unhealthy relationship between the leadership and staff, as well as between the staff themselves.

In the meeting, when leaders rigid and inflexible in leading discussions (dialogue), then the leadership will not be able to control this meeting well. To be able to control this meeting very well there are 5 components to look for:
a. Readiness Leader.
Leaders must explain that the meeting was held to discuss the organization's performance, the role of staff, leadership roles and relations both.
b. Approval of the problems faced.
Agreement on the troubled areas of performance should be achieved first before starting to improve organizational performance.
c. A common understanding of the causes of poor performance.
After digging the cause, leaders must be open to influence behavior.
d. Approval of the performance objective to further improve relations.
Once the root cause is known, made an agreement to improve the skills, knowledge and experience.
e. Agreement to communicate more openly.
Open communication here that is open to receive suggestions leaders from subordinates.



Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: HOW TO CORRECT PERFORMANCE - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit