728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
Tampilkan postingan dengan label Artikel THL TBPP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel THL TBPP. Tampilkan semua postingan
Prospek Ubijalar Sebagai Pangan Olahan Non Beras
Komoditas ubijalar (Ipomoea batatas (L.) Lamb.) sebagai bahan pangan sumber karbohidrat, disamping itu mengandung vitamin A, C dan mineral. Selain sebagai bahan pangan pokok dapat juga diolah menjadi bahan pangan olahan seperti selai, saos, juice dan bahan baku industri. Ubijalar yang daging umbinya berwarna ungu, banyak mengandung anthocyanin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, karena berfungsi mencegah penyakit kanker. Ubijalar yang daging umbinya berwarna kuning, banyak mengandung vitamin A; sedangkan beberapa varietas ubijalar mengandung vitamin A yang sebanding dengan wortel.

Ubijalar bisa ditanam baik pada lahan sawah maupun lahan tegalan. Pada umumnya didaerah pedesaan mempunyai produktifitas sekitar 10 ton per hektar. Sedangkan dengan teknik budidaya yang tepat beberapa ubijalar dapat menghasilkan lebih dari 30 ton umbi basah per hektar.Varietas unggul ubijalar selain produktifitasnya tinggi, juga mempunyai sifat agak tahan terhadap hama boleng Cylas formicarius dan penyakit kudis Sphaceloma batatas. Pada umumnya di dataran rendah, ubijalar dipanen pada umur 3,5 sampai dengan 5 bulan. Sedangkan di dataran tinggi ubijalar dipanen pada umur 5 sampai dengan 8 bulan.

Sari adalah varietas unggul ubijalar berumur genjah dan tahan kudis. Sedangkan varietas Boko sesuai untuk dikonsumsi dalam bentuk ubijalar rebus atau goreng karena rasanya yang enak dan manis. Varietas seperti Sukuh, Jago dan Kidal mempunyai kandungan bahan kering dan pati yang tinggi, sangat cocok untuk dibuat sebagai pati dan tepung. Teknik membuat tepung dengan cara mencuci umbi, mengupas, mengiris, menjemur dan menghancurkan (menepungkan) selanjutnya diayak.

Pengolahan ubijalar menjadi setengah jadi, seperti granula atau tepung ubijalar, dapat memperpanjang masa simpan dan meningkatkan nilai tambah. Granula ubi jalar dibuat dari ubijalar kubus yang dikeringkan. Granula mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan ubijalar segar pada waktu diolah menjadi sawut atau nasi .

Dalam pembuatan selai, bahan dari ubijalar dapat mensubstitusi nanas sampai 50 persen, sedang untuk pembuatan saus dapat digunakan sampai 100 persen. Untuk membuat selai dan saus tidak menyaratkan ukuran umbi, sehingga dapat menggunakan umbi-umbi dengan kualitas yang agak rendah dengan yang berukuran kecil-kecil. Pati dan tepung ubijalar dapat digunakan untuk membuat aneka jenis kue, mie, hingga es krim. Dalam pembuatan cookies, spikuk, onbeytkuk dengan komposisi hampir sampai 100 persen. Sedangkan tepung ubijalar dalam pembuatan roti tawar dapat mensubstitusi terigu sebesar 15 persen dan pembuatan mie dapat mensubstitusi terigu sebesar 20 persen. (source:neocassava.blogspot.com)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Prospek Ubijalar Sebagai Pangan Olahan Non Beras - 9756people
Info Petani -
TIWUL, ENAK DAN BERGIZI
Tiwul, masih ingatkah dengan nama makanan yang satu ini? atau ada yang belum pernah melihat atau merasakannya? makanan khas Indonesia yang telah terlupakan oleh serbuan hotdog, burger, pizza maupun makanan luar negeri lainnya.
Tiwul, sering diasumsikan dengan makanan kampung, ndeso gak ningrat dan makanan rakyat susah. Tiwul adalah hasil olahan dari tepung ubi kayu melalui proses tradisional, yaitu tepung ditambahkan air hingga basah dan dibentuk butiran-butiran yang seragam dengan ukuran sebesar biji kacang hijau dan dikukus selama 20-30 menit. Tiwul atau nasi tiwul dapat dikonsumsi langsung sebagai pangan pokok seperti nasi beras padi atau dicampur dengan parutan kelapa sebagai kudapan. Selain itu, tiwul dapat pula dikeringkan menjadi tiwul instan tradisional yang tahan disimpan lebih dari satu tahun.
Berbicara tentang Tiwul instan, di Wonosari sudah ada pabrik Tiwul instan...nama perusahaannya PT Sinar Sukses Sentosa (SSS) yang merupakan anak perusahaan PT Indofood Sukses Makmur, sebuah perusahaan nasional yang terkenal dengan produksi mi instan.
Makanan yang dipandang sebelah mata ini ternyata memiliki nilai nutrisi yang bisa dijadikan sumber kalori alternatif utama.Keunggulan berdasarkan aspek nutrisi dibandingkan dengan padi adalah lemak, kalsium, zat besi, vitamin A dan C. Bila tepung ubi kayu dicampur dengan 18 persen tepung kedelai, tepung komposit tersebut menjadi bahan pangan pokok yang bergizi tinggi dan lebih lengkap dibandingkan dengan padi. Dengan demikian, diversifikasi dengan memanfaatkan tepung komposit tersebut berpeluang mengurangi jumlah penderita anemia, kekurangan zat besi, protein, dan vitamin, baik A maupun C. Nah masih ada gak yang mencibir sinis saat mendengar nama makanan ini disebutkan?

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: TIWUL, ENAK DAN BERGIZI - 9756people
Info Petani -
Mendongkrak Pemanfaatan Sumber Pangan dengan Sentuhan Teknologi
Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah dalam keragaman dan jumlahnya, namun sudahkah kekayaan alam itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Ubi kayu, sagu, ubi jalar, sukun, dan puluhan ubi lainnya berpotensi menjadi sumber bahan baku tepung untuk industri berbasis pertanian. Sudah saatnya produk negeri sendiri mendapat peran yang selayaknya.
Singkong atau ubi kayu adalah anugerah bagi tanah Nusantara. Melalui batangnya yang ditancapkan ke dalam tanah dapat dihasilkan umbi sebagai sumber pangan. Namun mengapa timbul kesan kasihan, nelangsa, dan kekurangan pangan jika ada warga negeri ini yang mengonsumsi ubi kayu?. Pandangan bahwa ubi kayu identik dengan kemelaratan perlu diluruskan.Ubi kayu memang lebih murah dari beras, dan memilih ubi kayu sebagai sumber karbohidrat menggantikan beras merupakan keputusan yang bijak. Ubi kayu sewajarnya dikembalikan menjadi bagian dari pangan pokok. Dalam pemenuhan pangan, ubi kayu semestinya sederajad dengan beras sebagai sumber karbohidrat. Tabir yang menutupi keunggulan ubi kayu harus dikuak, sehingga ubi kayu mendapat tempat yang layak dan menjadi bagian dari makanan melalui transformasi menjadi sajian yang modern.

Ubi kayu sangat mudah tumbuh, namun saat ini produktivitasnya belum maksimal. Salah satu penyebabnya adalah petani belum banyak memberi pupuk organik dan anorganik pada tanamannya. Di Lampung sebagai penghasil ubi kayu terbesar, kesenjangan produktivitas masih jauh. Produktivitas di tingkat petani berkisar 11-17 t/ha dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, sementara di tingkat penelitian dapat mencapai 50-60 t/ha dengan memberikan pupuk kandang dan pupuk anorganik serta sistem tanam double row. Oleh karena itu perlu upaya keras untuk mendongkrak produktivitas ubi kayu, paling tidak menembus angka 35 t/ha.
Dilihat dari pemanfaatannya dalam skala besar, ubi kayu umumnya diolah menjadi tapioka dan gaplek. Rendemen yang diperoleh adalah 20-30% tapioka dan onggok sekitar 10%. Mutu tapioca sangat beragam, terutama derajad putih dan kebersihannya. Mutu gaplek juga sangat bervariasi karena penanganan yang kurang baik, bahkan tingkat kerusakan cukup tinggi.
Produk lain dari ubi kayu dalam skala kecil adalah pangan tradisional seperti tiwul dan gatot. Di beberapa daerah produk ini sudah dibuat instan atas binaan industri pangan dan peran pemerintah. Namun produk pangan tradisional ini masih kurang populer karena masalah selera dan penyajiannya kurang praktis. Bentuk olahan lainnya adalah krupuk dan berbagai camilan.
Dengan segala keterbatasan yang ada, sering kali petani ubi kayu hanya berperan sebagai produsen bahan baku yang tidak memiliki akses dalam menentukan harga produk segar, ditambah kondisi terdesak atas kebutuhan uang tunai. Untuk mengatasi masalah harga, ubi kayu dapat diolah menjadi produk olahan sederhana seperti chips, sawut kering atau tepung kasava. Pengolahan dapat dilakukan oleh petani atau kelompok tani sehingga dapat meningkatkan nilai tambah. Pengolahan ubi kayu menjadi tepung kasava relatif mudah dan dapat ditangani oleh kelompok tani. Rendemen yang diperoleh berkisar 27-30%.
Tepung kasava cocok untuk substitusi terigu pada berbagai produk pangan. Ketiadaan gluten pada tepung kasava perlu dilihat sebagai keunggulan sehingga secara kesehatan dapat digunakan untuk diet bagi penderita autis. Kemampuan substitusi tepung kasava pada mi dan kue kering/biskuit mencapai 50%, pada roti 25%, dan pada produk cake dapat mengganti 100%
terigu. Peluang yang sangat besar dalam pengurangan impor gandum ini perlu didukung berbagai pihak.

Peluang lain yang cukup prospektif adalah mengolah kasava menjadi gula cair. Teknologi pengolahan gula cair skala pedesaan yang dapat dioperasikan oleh kelompok tani telah tersedia. Bahan baku gula cair tidak harus berupa tepung kasava atau tapioka kering, tetapi dapat langsung dari pati basah. Gula cair yang dihasilkan melalui proses enzimatis berupa glukosa. Bioreaktor sederhana skala 100 liter mampu mengkonversi 40 kg pati basah (kadar air 40%) menjadi 21-25 kg gula cair dalam 3 hari proses. Semakin besar kapasitas peralatan, semakin ekonomis biaya produksinya.
Sumber bahan baku tepung lainnya adalah sagu. Banyak orang mengenal pati sagu sebagai campuran dalam pembuatan kue kering dan lempeng sagu. Di Jawa Barat terdapat mi gleser yang 100% terbuat dari sagu. Dengan sedikit perbaikan pada proses pengolahannya, mi gleser telah berevolusi menjadi "mi metro" atau mi sagu yang lebih higienis, aman, dan mutu lebih baik.
Nama mi metro berasal dari Metroxilon sp. nama latin tanaman sagu.
Teknologi pembuatan mi sagu cukup sederhana meskipun berbeda dengan mi terigu, dan dapat dilaksanakan oleh kelompok tani. Sosialisasi mi sagu di daerah sentra sagu di Kabupaten Luwu Utara (Sulawesi Selatan) menunjukkan 72,5% anak SD dapat menerimanya, meskipun sebelumnya tidak mengenal mi sagu. Teknik pembuatan mi sagu dan alat pencetaknya sebagai contoh telah dicoba dan diadopsi di wilayah tersebut. Tampaknya mi sagu cocok disosialisasikan ke daerah sentra sagu lain sebagai variasi pangan dari sagu.
Secara kesehatan mengonsumsi mi sagu mendapat manfaat dari resistant starch (RS) atau pati tak tercerna. Pati ini tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim pencernaan dalam usus manusia sehingga memiliki peran penting dalam diet. RS mampu mengikat asam empedu, meningkatkan volume feses dan mempersingkat waktu transit. RS juga mempunyai efek prebiotik.
Kandungan RS dalam mi sagu berkisar 45 mg/g, atau 4-5 kali lebih besar daripada RS mi instan asal terigu. Endang Yuli Purwani, peneliti yang menangani sagu menyatakan bahwa efek prebiotik dari RS pada orang dewasa diperoleh pada tingkat konsumsi RS 15 g tiap 3 hari. Jumlah tersebut cukup untuk menstabilkan populasi bakteri nonpatogen dalam usus.
Sumber pangan lain seperti sukun, labu kuning, ubi jalar, dan umbi lainnya (garut, ganyong, gembili) juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan setempat. Teknologi pengolahan untuk menghasilkan tepung dan pemanfaatannya, baik untuk substitusi terigu maupun produk lainnya sudah tersedia di Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian. (source: neocassava.blogspot.com)

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Mendongkrak Pemanfaatan Sumber Pangan dengan Sentuhan Teknologi - 9756people
Info Petani -
Restore Ecology to Prevent Rice Pest Outbreaks in Thailand
Bangkok, Thailand – Devastating outbreaks of brown planthoppers (BPH) in Thailand’s rice crop can be prevented if an eco-friendly approach to pest management is adopted, according to the International Rice Research Institute (IRRI). The brown planthopper (BPH) is one of the most destructive pests of rice and, this season, they are in plague proportions in Thailand – the world’s biggest exporter of rice.
Khun Manit Luecha, director of Chainat Rice Seed Center, says, “This is the worst outbreak of BPH I have seen in my career since 1977. Most of the paddy fields – probably more than 1 million hectares – will suffer rice yield losses of more than 30%.” Damage has spread from the north, especially in Khampaeng Phet and Phichit, to Suphan Buri, Chainat and Ang Thong in the Central Plains – the rice bowl of Thailand. Damages are serious already and new outbreaks are being reported every day. BPH also transmits two viral diseases that can severely stunt and discolor the plant and prevent grain formation. “BPH becomes a pest when natural control mechanisms fail,” says Dr. K.L. Heong, an insect ecologist at IRRI.
“To prevent outbreaks we must restore the natural environment and biodiversity to keep BPH numbers below economically damaging levels," he added. "To achieve this, farmers will have to use pesticides more strategically and adopt ecological engineering principles."
To manage BPH, IRRI recommends that farmers:
  • Adopt integrated pest management (IPM) practices.
  • Grow beneficial plants in the “bunds” between rice paddies to attract BPH predators such as spiders, crickets, and parasitoids.
  • Synchronize rice plantings so that there are times when no rice is growing to prevent immigrant BPH from establishing new populations.
  • Plant a BPH-resistant rice variety, such as RD29, RD31, RD41, Pisanulok2, Supanburi2, Supanburi3, and Supanburi90.
  • Do not apply fertilizer in excess as overfertilized crops tend to promote BPH growth.
  • Limit pesticide use to control leaf-eating insects as these products kill the BPH’s natural predators as well.
  • If a pesticide must be used to control BPH, use BPH-specific chemicals, such as buprofezin, as it has fewer effects on BPH’s natural enemies.
IRRI has been monitoring the BPH and virus situation across Asia with increasing concern over the past several years. “Last year, high rice prices motivated Thai farmers to grow rice continuously, fertilize their rice more in an effort to boost yields, and attempt to protect their investment by spraying more pesticides to keep leaf-eating insects at bay,” said Dr. Heong. “This combination of practices helped cause the current BPH outbreak in Thailand."  Dr. Heong coordinates the Rice Planthopper Project, a collaborative research network with national scientists in Asia co-funded by IRRI and the Asian Development Bank that aims to share knowledge and develop sustainable ways to manage BPH problems.
If farmers or their advisors want to find ways to manage existing BPH problems and to prevent future outbreaks they can go to the Ricehoppers Blog.
IRRI helps farmers manage pests in a sustainable way by developing pest-resistant rice varieties, IPM strategies, and ecological engineering approaches.beta.irri.org
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Restore Ecology to Prevent Rice Pest Outbreaks in Thailand - 9756people
Info Petani -
Health Benefits of Rice
Health benefits of rice include providing fast and instant energy, good bowel movement, stabilizing blood sugar levels and providing essential source of vitamin B1 to human body. Other benefits include skin care, resistance to high blood pressure, dysentery and heart diseases. Rice is the staple food in most of the countries and it is an important cereal crop that feeds more than half of the world’s population.
Health benefits of rice can be found in more than forty thousand varieties of this cereal available in the world. The two main categories include whole grain rice and white rice. Whole grain rice is not processed much, therefore it is high in nutritional value, whereas white rice is processed so that the bran or outer covering is removed and it has less nutritional value. Rice can also be defined by the length of each grain. Indian or Chinese cuisines specialize in long grained rice, whereas western countries prefer short or medium sized grains. According to Rice-Trade, rice is extremely nutritious. Some of the health benefits specified by them are as follows:
  • Great Energy Source: As rice is rich in carbohydrates, it acts as fuel for the body and aids in normal functioning of the brain.
  • Cholesterol Free: Eating rice is extremely beneficial for health, just for the fact that it does not contain harmful fats, cholesterol or sodium. It forms an integral part of balanced diet.
  • Rich in Vitamins: Rice is an excellent source of vitamins and minerals like niacin, vitamin D, calcium, fibre, iron, thiamine and riboflavin.
  • Resistant Starch: Rice abounds in resistant starch, which reaches the bowel in undigested form. It aids the growth of useful bacteria for normal bowel movements.
  • High Blood Pressure: As rice is low in sodium, it is considered best food for those suffering from high blood pressure and hypertension.
  • Cancer Prevention: Whole grain rice like brown rice is rich in insoluble fibre that can possibly protect against many types of cancers. Many scientists believe that such insoluble fibres are vital for protecting the body against cancerous cells.
  • Skin Care: Medical experts say that powdered rice can be applied to cure some forms of skin ailments. In Indian subcontinent, rice water is duly prescribed by ayurvedic practitioners as an effective ointment to cool off inflamed skin surfaces.
  • Dysentery: The husk part of rice is considered as an effective medicine to treat dysentery. A three month old rice plant’s husks is said to contain diuretic properties. Chinese people believe that rice considerably increases appetite, cures stomach ailments and indigestion problems.
  • Alzheimer’s Disease: Brown rice is said to contain high levels of neurotransmitter nutrients that can prevent Alzheimer’s disease to a considerable extent.
  • Heart Disease: Rice bran oil is said to have antioxidant properties that promotes cardiovascular strength by reducing cholesterol levels in the body.
  • According to International Rice Research Institute in Philippines, the nutritional value of rice needs to be improved more so that it benefits mankind.  Rice, being the most dominant cereal crop in most of the countries can improve the health condition of millions of people who consume it. Efforts are made to increase the micronutrient value of rice by mixing traditional methods of growing crops and modern bio-technology. The institute further states that development of rice with high iron and zinc compounds could be possible through bio-fortification. That can also induce high quality yields, which could be eagerly accepted by farmers as well as rice consumers.
More on Rice:
Rice can also prevent chronic constipation. The insoluble fibre from rice acts like a soft sponge that may be pushed through intestinal tract quickly and easily. Brown rice and whole grains are said to be rich in insoluble fibre. But, it is advisable to drink lots of water for relieving constipated state along with fibrous foods. Diabetic patients are recommended to include brown rice rather than white rice that contains low levels of glycemic index. Just a cupful of brown rice on daily basis provides you with almost 100% manganese value, which aids in producing energy from carbohydrates and protein. Brown rice is extremely beneficial for normal functioning of nervous system and production of sex hormones.organicfacts.net

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Health Benefits of Rice - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit