728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
Jepang larang penangkapan tuna bluefin
Agensi Perikanan Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) Jepang mengajukan rencana pelarangan penangkapan ikan bluefin pada akhir tahun ini guna melindungi stok ikan tersebut di laut bebas. Hal tersebut telah dikaji pada 26 Mei 2007.

Tindakan yang mungkin dapat dilakukan yaitu melarang penangkapan ikan tuna blufin muda yang belum mencapai ukuran tertentu.

Sementara itu Agensi Perikanan MAFF memperkirakan tidak akan mempengaruhi pembatasan jumlah tangkapan, karena dengan menurunkan jumlah tangkapan yang hanya dilakukan oleh Jepang tidak akan efektif apabila kapal asing tetap meneruskan penangkapan seperti sebelumnya.

Ikan Tuna Bluefin yang ditangkap diperairan dekat dengan perairan wilayah Jepang kadang-kadang mendapat harga mencapai beberapa puluhan ribu yen per kilogram. Ikan-ikan ini biasa digunakan untuk bahan sushi atau sashimi.

Menyangkut masalah pertumbuhan mengenai sumber ikan tuna di seluruh dunia, sebagian disebabkan oleh penangkapan ikan tuna yang masih muda. Permintaan ikan tuna juga meningkat baik di Jepang maupun seluruh dunia karena banyak orang di Eropa dan Amerika Serikat melakukan diet yang lebih sehat menggunakan menu dengan bahan ikan.

Dalam pada itu industri perikanan ikan tuna berkembang pesat, hal ini mencerminkan popularitas ikan sebagai bahan makan yang diperlukan masyarakat luas.

Pada musim semi tahun ini Agensi Perikanan MAFF akan menetapkan sebuah komisi masalah stok ikan tuna Bluefin. Mereka akan mendiskusikan cara khusus untuk melindungi sumber ikan tuna ini.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Jepang larang penangkapan tuna bluefin - 9756people
Info Petani -
Seminar bahan bakar Ethanol
Pada tanggal 15 Mei 2007 telah dilakukan seminar tentang Plant and Agricultural Biotechnology yang deiselenggarakan oleh United Nation University Yokohama. Pembicara tunggal adalah Professor Albert Sasson mantan Deputy Director-General of UNESCO, yang sedang menjadi Senior visiting Professor di United Nation University Yokohama.

Professor Albert Sasson menjelaskan tentang kebutuhan manusia akan bahan bakar yang berasal dari produk pertanian. Beliau mengatakan bahwa kebutuhan bahan bakar dunia semakin meningkat sementara cadangan bahan bakar bensin sudah mulai menipis. Untuk itu diperlukan mencari jalan keluar sebagai bahan bakar pengganti, atau paling tidak dapat mengurangi penggunaan bahan bakar bensin yang makin lama semakin menipis tersebut.

Pada saat ini harga bensin tidak menentu dan sering terdapat kecenderungan harganya makin lama makin meningkat. Karena kebutuhan bahan bakar tidak terelakkan lagi maka dilakukan pencarian bahan bakar lain yaitu ethanol maupun biodisel. Dewasa ini banyak orang berbicara tentang bahan bakar ethanol sehinga telah merangsang tercipta beberapa tipe kendaraan menggunakan bahan bakar dengan kandungan ethanol.

Ethanol diproduksi dari bahan produk pertanian yang kebanyakan bersaing dengan kebutuhan pangan manusia yaitu gula.

Salah satu negara penghasil ethanol terbesar di dunia adalah Brazil. Brazil juga merupakan negara penghasil gula terbesar didunia. Brazil mempunyai lahan 18 juta ha yang dapat dipergunakan menanam tebu. Brazil berani mendorong penggunaan bahan bakar ethanol karena Brazil mempunyai lahan yang luas dimana iklim dan tanahnya cocok untuk bercocok tanam tebu. Tetapi beliau mengingatkan agar hutan Amazon tetap dipertahankan sebagai penjaga kelesatarian lingkungan hidup di bumi ini.

Brazil sedang mengembangkan pembuatan mesin kendaraan yang dapat tidak hanya berbahan bakar bensin, tapi juga untuk campuran bensin dan ethanol maupun ethanol dengan konsentrasi tinggi.

Selain itu untuk biodisel telah dikembangkan dibeberapa negara. Beliau menyayangkan negara asia tenggara telah merencanakan proyek besar dengan cara menebang hutan untuk ditanami pohon kelapa sawit yang dapat dijadikan bahan baku bahan bakar biodisel. Sangat disayangkan kalau hutan tropis yang kita lindungi tersebut fungsi menajdi berkurang dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Pada saat ini kebutuhan bakar asal produk pertanian yang semakin meningkat tersebut akan mempengaruhi kebutuhan manusia terhadap bahan makanan pokok. Sehingga dikhawatirkan persaingan ini akan mempengaruhi kesejahteraan umat manusia, karena banyak sebagian besar penduduk didunia ini masih kekurangan bahan makanan. Maka dari itu beliau menekankan agar bahan bakar yang berasal dari produk pertanian berasal bukan dari bahan baku makanan pokok manusia, seperti biji jarak, limbah kayu, maupun tanaman rumput-rumputan.

Selain itu perlu dilakukan penggunaan teknologi tinggi dalam rangka peningkatan kwalitas maupun kuantitas produk pertanian. Untuk keperluan itu ditingkatkan penggunaan teknologi transgenic untuk memperoleh produksi tinggi maupun terkandung zat utama tinggi, seperti amylopectine. Untuk mendukung kebutuhan manusia semakin meningkat Nanotechnologi dan Biotechnology perlu digabungkan untuk dimanfaatkan dalam pencapaian kemakmuran manusia.

Terakhir yang sangat menarik untuk kita cermati adalah agar kita menghitung berapa besar energi masukan yang kita pergunakan untuk menanam tebu, memanen, mengangkut, mengolah menjadi ethanol dan sampai tersedianya bahan bakar. Jangan sampai energi yang dipergunakan untuk pembuatan bakar tersebut menjadi tidak jauh berbeda dengan energi bahan bakar yang dihasilkan.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Seminar bahan bakar Ethanol - 9756people
Info Petani -
UN US Red Cross to Restore Fishering in Tsunami-Hit Areas
New York - The United Nations Food and Agriculture Organization (FAO) announced recently that it has partnered with the American Red Cross to help fishing communities in Indonesia’s Aceh Province that were heavily impacted by the 2004 tsunami.
The three-year project will assist in promoting the responsible and sustainable management of fisheries and aquaculture that coastal communities rely on for food and employment. Enhanced supervision of these sectors is crucial to prevent overfishing and prevent any further damage to ecosystems still recovering from the tsunami, FAO said as quoted by UN News Center.
Aceh Province’s western coastal area and Nias Island, North Sumatra, were devastated by an 8.9-magnitude earthquake and gigantic tsunami on December 26, 2004, which destroyed most of infrastructures, including harbors and fish markets, in the areas. (Source: Antara130507)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: UN US Red Cross to Restore Fishering in Tsunami-Hit Areas - 9756people
Info Petani -
RI, Brunei Strengthen Cooperation in Fishery Sector
Denpasar - The Indonesian delegation to an international fisheries conference here held a meeting with its counterpart from Brunei Darussalam on Friday to strengthen the two countries'' cooperation in the field.
The meeting was held on the sidelines of the "Regional Ministerial Meeting on Promoting Responsible Fishing Practices in the Region," attended by representatives from 12 countries, namely Australia, Malaysia, Vietnam, Cambodia, the Philippines, Timor Leste, Singapore, Thailand, China, Brunei Darussalam, Japan and Indonesia, Sau P Hutagalung, chief information officer of the fisheries and marine resources ministry, said.
The Indonesian delegation was led by Fisheries and Marine Resources Minster Freddy Numberi while the delegation from Brunei was led by Industry and Primary Resources Minister Dr Haji Ahmad.
On the occasion, Freddy Numberi emphasized the importance of the implementation of "the Bali Plan of Action" agreed upon in Bali in 2005 at the "APEC Ocean Related Ministerial Meeting."
He also emphasized the importance of expanding the two countries'' cooperation by involving the private sectors from both countries to invest in fish catching, processing and marketing.
Numbery also said investment opportunities were wide open in the facility- and industry-related fishery development.
Dr Jahi Ahmad on the occasion appreciated the initiative Indonesia had taken with Australian support to organize the meeting to promote fishery resources especially in areas that border with other countries.
Hutagalung said during the two countries'' meeting the two ministers exchanged information about their fishery policies especially in sea fishing and fishery development.
The two ministers also agreed to increase cooperation in the field of fishery and to provide an umbrella for international cooperation in the sector. (Source: Antara060507)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: RI, Brunei Strengthen Cooperation in Fishery Sector - 9756people
Info Petani -
RI to Increase Cotton Production to 70,000 Tons in 2010
Jakarta - Indonesia plans to increase its cotton production to 70,000 tons in 2010 to reduce its dependencw on imports, Director General of Plantations Achmad Manggabarani said here on Monday.
He said domestic need for cotton at present reached 550,000 tons a year but only 5,000 tons of it could be met by domestic production and the rest had to be met with imports.
"To meet the production target we plan to open 50,000 hectares of cotton plantations until 2010 and raise productivity to 1.4 tons per hectare," he said.
He said at present productivity of cotton plantations in Indonesia reachied only 0.6 tons per hectare because the seeds the farmers used were of low quality.
The cotton plantation development program would be implemented in 55 districts in seven provinces, namely Central Java, East Java, Yogyakarta, Bali, East Nusa Tenggara and South Sulawesi.
At a production rate of 70,000 tons a year, national cotton plantations'' contribution to the domestic textile industry and textile production would reach 4.7 percent or up 0.5 percent from the present level.
In 2006, cotton plantation development reached 8,980 hectares producing 4,191 tons of raw cotton equivalent to 1,397 tons of processed cotton to contribute 0.3 percent to the textile industry and textile production.
Manggabarani said three companies would be involved in the development of cotton, namely PT Nusa Farm in West Nusa Tenggara, PT Sukun in East Java, Central Java, Yogyakarta and Bali and PT Sebo Fajar in South Sulawesi.
The president director of PT Ade Agroindustry, Ii'' Tjahyadi, said the textile industry needed a large quantity of long-fiber cotton. "The seeds are mostly imported and the result are good," he said.
He said the country actually had large potentials for cotton plantation development but it still had yet to overcome irrigation problems because the plantations were located on marginal land.
Commenting on the irrigation problem, director of water management of the directorate of water and land management of the ministry of agriculture, Gator Irianto, said his office would strive to exploit water sources from shallow and surface water supply for cotton plantations.
"We will use local equipment for easy operation by local farmers," he said. (Source: Antara15/05/07)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: RI to Increase Cotton Production to 70,000 Tons in 2010 - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit