728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
Jepang impor telur asin
Jepang telah mengimpor telur asin. Berat telur asin per butir rata-rata 70 gram. Setiap butirnya dikemas dalam plastik tanpa udara. Kemasan tersebut dikumpulkan menjadi satu kemasan plastik yang berisi 6 butir. Satu kemasan terakhir tersebut dijual dengan harga 500 yen di pasar Okachimasi, Tokyo.

Berat telur seragam, rasa asin sedang, warna kulit telur lebih pucat dari pada telur asin Brebes. Warna kuning telur terlihat kuning cerah menunjukan masih segar. Dengan memenuhi persyaratan kwalitas dan Kwantitas yang diminta Jepang diharapkan telur asin Brebes yang warna kulitnya lebih hijau dan tebal dapat bersaing dengan telur tersebut.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Jepang impor telur asin - 9756people
Info Petani -
Penyalahgunaan mikroorganisme dalam kesejahteraan manusia
Oleh
Edwi Mahajoeno
Pendahuluan
Tahun-tahun terakhir abad 20 dan awal abad baru, abad 21, beberapa negara di planetini mendapat berbagai ancaman terorisme. Terorisme yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat/ orang yang ingin melaksanakan kehendak dengan berbagai bentuk ancaman baik fisik, mental, maupun tindakan kekerasan berupa perusakan, perbuatan kriminal (aksi peledakan bom), penyebaran penyakit bahkan pembunuhan. Tindakan semacam ini dapat dilakukan dengan mengatasnamakan kepentingan tertentu baik politik, ekonomi atau kepentingan kekuasaan lainnya untuk mendapatkan tanggapan yang diinginkan. Tidak jarang mereka melakukan tindakan teror dengan menggunakan berbagai alat atau senjata yang dapat mengakibatkan kerugian, cidera atau kerusakan dalam jumlah banyak, baik terhadap segala bentuk fasilitas kegiatan masyarakat umum dan penyakit pada hewan serta pertanian maupun kematian manusia. Ancaman terorisme yang marak dalam dekade terakhir ini seringkali dikaitkan dengan penggunaan agen hayati (mikroorganisme) sebagai sumber/penyebab penyakit yang mematikan, yang sering dikenal dengan bioterorisme.

Pada dekade yang sama Indonesia menghadapi persoalan teror, kerusuhan dan tindakan anarkhis marak di mana-mana, terjadi penculikan, pemboman dan pembunuhan, bahkan sampai kini belum diketahui dimana dan apa alasan yang benar terjadinya kasus kasus itu. Aksi teror baik yang berakibat kerusakan bangunan fisik maupun benda lainnya dan kematian manusia di seluruh pelosok nusantara, oleh provokator kerusuhan maupun pelaku utamanya. Tidak luput dari gerakan teror di dalam negeri, di berbagai manca negara seperti Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara Eropah lainnya telah banyak didengar berita mengenai terorisme. Tambahan, terkait dengan aksi terorisme internasional, ketika Menara Kembar World Trade Center di NewYork dan Gedung Markas Besar Pertahanan USA Pentagon pada tanggal 11 September 2001 pagi waktu setempat dengan selang beberapa menit ditabrak oleh tiga pesawat komersial yang berakibat kerugian fisik material sangat besar dan jatuhnya moral/martabat negara adidaya yang tak dapat dinilai.

Sesungguhnya terorisme dengan menggunakan senjata gas, racun hasil metabolit mikroorganisme atau tumbuhan dan bahan kimia lainnya telah lama dilarang dalam peperangan, misalnya pada zaman Yunani atau Romawi kuno dan bangsa India sekitar 500 SM. Peperangan nutfah (germ) bukanlah ancaman baru dan akan menggantikan perang nuklir (konvensional), tetapi dengan perkembangan ilmu pengetahuan mikrobiologi khususnya persenjataan nutfah makin mendapat perhatian besar yang lebih canggih dan menakutkan. Hal ini karena kemampuan membunuhnya lebih efektif daripada bentuk persenjataan api atau nuklir, juga tanpa adanya kemungkinan pengelolaan dan profilaksis lanjut. Meskipun demikian pelarangan menggunakan persenjataan kimiawi dan hayati itu telah disepakati dalam perjanjian internasional yang pertama dalam Protokol Jenewa, 1925, dan kedua pada Konvensi Persenjataan Biologi 1972 yang melarang tidak hanya penggunaan tetapi pengembangan, produksi, dan penimbunan/persediaannya.

Pada kesepakatan internasional ketiga, Konvensi Persenjataan Kimiawi, 1993, mempertegas negara-negara mana yang menuruti perjanjian persenjataan itu dan memberi sanksi bagi yang melanggar. Dalam kaitan ini, tujuan penulisan kaji-pustaka ini akan menguraikan tentang beberapa bentuk penyalahgunaan peran mikroorganisme di dalam lingkungan, kesehatan dan dalam memenuhi kebutuhan manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidup dengan lebih menekankan pada penyalahgunaan fungsi mikroorganisme yang tidak sepatutnya, bioterorisme.

Peran Mikroorganisme dalam Lingkungan - Kesehatan
Peran penting mikrobiologi pertama kali diperkenalkan dalam karya karya Louis Pasteur, Robert Koch, Winogradsky dan lainnya yang menjadi terkenal dengan “Era Emas Mikrobiologi”, (1870-1910). Selama era ini tidak hanya sebagian besar bakteri agen-penyebab penyakit pada manusia telah diidentifikasi, tetapi juga peran mikroorganisme sebagai pendaur-ulang sebagian besar unsur- hara penting kehidupan organisme di bumi telah diketahui. Pertengahan pertama abad 20 para ahli (mikrobiologiwan) banyak mengkonsentrasikan pada identifikasi bakteri (mikroba) dan upaya-upaya perawatan penyakit yang kemungkinan disebabkan oleh jasad renik. Teknik kultur murni (monokultur) mikroba telah dikembangkan oleh Robert Koch, yang bermanfaat untuk mempelajari sifat patogen dan mengkaji interaksinya dalam lingkungan alami yang heterogen. Perkembangan bioteknologi selama paruh akhir abad 20, kemudian dipacu ledakan perkembangan biologi molekuler, memberikan kontribusi keberhasilan perkembangan DNA rekombinan, yang mempunyai banyak peran dalam penggunaannya di lingkungan.

Peran mikrobiologi lain yang menarik bagi manusia diantaranya fungsi dalam ekosistem alami sangat berdayaguna memberi kontribusi dalam perombakan dan perbaikan senyawa-senyawa kimiawi pencemar , kontaminan bahkan senyawa xenobiotik yang sangat sulit dirombak dan persisten (recalcitrant). Kemampuan ini secara alami sangat lambat dalam jangka waktu lama, makin kompleks senyawa kimiawi sintetik dan berbeda jauh dengan struktur senyawa kimia alam, makin kompleks makin sulit dan diperlukan waktu lama bagi mikroba untuk menyesuaikan pertumbuhannya dengan habitat barunya. Usaha-usaha pengembangan fungsi mikroba untuk meningkatkan daya perombakan dan perbaikan bahan-bahan kimia pencemar sering dikenal dengan bioremediasi. Berbalikan dengan kepentingan Bioterorisme, keduanya sama-sama memanfaatkan kemampuan metabolisme mikroba di alam dengan berbagai perlakuan uji-coba berulang dan teknologi yang canggih didukung perkembangan bioteknologi genetika dan biomolekuler dalam laboratorium, Bioremediasi sekarang mendapat perhatian yang makin besar dari para mikrobiologiwan untuk meningkatkan kesejahteran alam hidup manusia. Perkembangan teknologi untuk memanfaatkan peran mikroorganisme maksimum di alam makin bertambah dan makin membuka wacana baru dalam pengelolaan perannya guna mendukung dan meningkatkan dayadukung lingkungan planet ini untuk tetap lestari dan berkelanjutan.
Di pihak lain perkembangan pengetahuan mengenai genetika mikroorganisme ini lebih berkembang akan tetapi masih sedikit diketahui mengenai ekologi mikroba yang berkaitan dengan kelangsungan hidup, kompetisi, pertumbuhan, fungsi dan keamanannya di lingkungan alami.

Berkaitan dengan aspek kesehatan beberapa faktor yang bertanggungjawab terhadap timbulnya patogen baru adalah:
1)perpindahan populasi penduduk (demografi/urbanisasi) dan perilaku
2)teknologi dan industri
3)perkembangan ekonomi dan tataguna lahan
4)perjalanan dan perdagangan internasional
5)adaptasi dan perubahan mikroba
6)penurunan kualitas kesehatan masyarakat
7)kejadian alam yang abnormal yang menaikkan keseimbangan patogen-inang biasa dan akhirnya
8)situasi lain yang mengancam pemaparan jumlah banyak penyakit mapan maupun baru yang mungkin terjadi dalam peperangan hayati.

Beberapa contoh hanya mewakili sedikit cara-cara mikroorganisme dan virus yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, meski pada masa lalu mikroorganisme hanya dianggap sebagai organisme berbahaya karena dapat menimbulkan penyakit.

Penyakit virus smallpox (cacar) telah diketahui merupakan salah satu pembunuh terbesar dunia. Lebih kurang 4000 tahun lampau diperkirakan 10 juta orang mati karena penyakit ini. Beberapa tahun terakhir ini tidak lahi ditemukan kasus penyakit ini setelah program faksinasi di seluruh dunia telah berhasil dilakukan sejak 1977.

Penyakit yang menjadi pembunuh besar lainnya adalah wabah pes (bubonic plague). Hampir sepertiga seluruh populasi daratan Eropa, kurang lebih 25 juta orang antara tahun 1346 dan 1350 mati karena penyakit yang disebabkan oleh bakteri, tetai kini rata- rata kuran dari 100 orang per tahun di seluruh dunia yang meninggal akibat wabah ini.

Setidaknya ada 500.000 spesies mikroba di alam, dan mungkin lebih banyak lagi tetapi hanya beberapa ratus spesies saja yang berpotensi sebagai patogen pada manusia. Banyak mikroorganisme melakukan aktivitasnya secara bebas yang esensial mendukung kehidupan, dan banyak lain yang erat berhubungan dengan tumbuhan dan hewan yang stabil dan hubungan bermanfaat. Akan tetapi pada spesies yang patogen mempunyai efek sangat negatif terhadap organissme inangnya dan akibatnya seringkali banyak menjadi obyek kajian para pemegang kekuasaan kejahatan.

Beberapa dekade waktu pada abad pertengahan wabah penyakit telah menyerang populasi bangsa Eropah. Wabah epidemi kuno datang berasal dari adanya pergantian populasi tikus dalam tengah kota dan dipengaruhi misalnya oleh variabel-variabel seperti cuaca dan hasil panenan. Kini kita mempunyai pusat wabah baru yang dapat menyerang kota-kota . Akan tetapi wabah baru itu tidak dipengaruhi oleh gejala alam, tetapi agaknya wabah ini dipengaruhi oleh variabel-variabel modern seperti: keinginan politik, ekonomik dan militer. Wabah baru ini merupakan perang biologi yakni penggunaan organisme hayati agen-agen melukai atau membunuh tentara atau populasi penduduk dalam suatu tindakan perang atau terorisme.

Propagasi massa hayati dan Bioterorisme

Pada masa yang bersamaan pengembangan keamanan mikroba di lingkungan menjadi bagian besar perhatian untuk maksud-maksud perdamaian dan pertahanan keamanan suatu negara, sebaliknya erat berkaitan dengan kemampuan mikroba sebagai sarana persenjataan perang, yang dikenal dengan senjata biologi (hayati), atau sering dikonotasikan dengan senjata pembunuh massa.

Persenjataan biologi mendapat perhatian sejumlah kalangan pada akhir-akhir ini karena berkaitan dengan kemudahan pembuatan dan propagasi massa hayati (mikroba) tidak saja oleh ahli biologi/mikrobiologiwan semata tetapi juga mereka yang berpengalaman dalam kerja laboratorium propagasi sel (kultur jaringan). Keahlian demikian diketahui atau dicurigai mendapat pasokan dana atau menjadi alat kekuasaan beberapa pejabat atau rejim pemerintahan dan kelompok radikal/ekstrimis untuk mendukung misi atau untuk penggunaan terorisme. Walaupun kenyataan bahwa senjata biologi sangat bermanfaat dalam penanganan kekuatan militer biasa, kemungkinan terbesar penggunaan senjata biologi boleh jadi oleh kelompok terorist ini merupakan bagian dari para mikrobiologiwan yang terlatih dengan ketrampilan laboratorik tinggi.

Ada organisasi bahkan negara sedang berkembang yang sangat miskin atau kelompok politik yang sangat ekstrim dapat membutuhkan keuangan sangat besar menguasai keahlian teknis untuk memeperoleh dan menggunakan senjata biologik. Jadi agen-agen ini berpotensi merusak massa yang terselubung yang ekivalen dengan bom atom oleh orang-orang di negara maju.

Adanya bakteri patogen dan atau virus yang sangat bermanfaat untuk “perang hayati” dan banyak anggotanya sangat mudah untuk memperolehnya, mengembangbiakannya dan menyebarluaskannya.

Mikroorganisme yang sangat umum menjadi agen-agen tersebut dapat disebutkan sebagaiu berikut:
1) Bacillus anthraxis agen penyebab anthrax. Oleh karena B. anthraxis menghasilkan endospora yang bila disemprotkan akan dapat menyebar luas sangat efektif Bakteri patogen melalui inhalasi berupa bentuk spora atau bakteri hidup dan menyebabkan infeksi paru-paru dengan laju mortalitas hampir 100 persen. Pencegahan terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan vaksinasi, namun jarang tersedia vaksin, meskipun tidak terjadi penjalaran melalui persentuhan. Endospora Baccillus ini telah lama digunakana untuk “senjata hayati”, karena mudah diperoleh, yang bersifat endemik pada ternak dan hampir di seluruh dunia. Mudah memproduksi spora dalam jumlah besar dan bertahan lama kemampuan hasil daya-toksisnya. Seringkali bioterorisme dikaitkan dengan spora Bacillus anthraxis , dan Paul Keim, 2001, ahli dalam identifikasi strain anthrax, telah menyimpan koleksi strain sebanyak 1300 dari seluruh dunia.

Dengan teknik identifikasi yang memfokuskan pada sejumlah variasi ulangan tandem dan spot pada genom mikroba ini. Spora ini telah digunakan semenjak Perang Dunia I dan selama “ perang dingin” Ameriak Serikat dan Uni Soviet masih melanjutkan pengembangan program persenjataan hayati ini secara- besar-besaran yang melibatkan ribuan orang, teknik yang lebih canggih dan penyempurnaan daam penyediaan secara cepat maupun penyampaian kepada sasaran yang dikenai.

Spesies lain yang menghasilkan bentuk endospora dan sangat resisten adalah 2) Clostridium botullinum. Calon yang lebih eksoktik adalah agen yang berupa racun botulinum yang dihasilkan bakteri ini. Racun yang bersifar aerosol meskipun membran mukus dapat menyerap racun ini, tapi dapat digunakan sebagai “senjata hayati”. Botulisme ini dapat dicegah dengan vaksinasi, tapi seringkali tidak tersedia, tetapi antitoksin banyak tersedia dan tidak bersiat menular

3) Virus Smallpox juga menjadi calon untuk “persenjataan hayati”, walaupun vaksin smallpox (cacar) yang sangat efektif, belum digunakan secara teratur selama lebih dari 20 tahun karena smallpox telah diberantas di seluruh dunia pada 1980. Akibatnya lebih dari 90% populasi penduduk dunia kini kurang mendapat vaksin yang memadai dan mudah terjangkit penyakit ini.. Virus ini sejak diketahui tok sisitasnya dijadualkan untuk dirusak pada 1999 dan dapat diperkirakan bahwa agen ini secara tetap berpotensi.menjadi daftar calon “senjata hayati”. Penyakit variola ini telah diketahui merupakan salah satu pembunuh terbesar dunia. Lebih kurang 4000 tahun lampau diperkirakan 10 juta orang mati karena penyakit ini.

Penyakit yang menjadi pembunuh besar lainnya adalah wabah pes (bubonic plague),.4) Yersinia pestis; mikroorganisme yang bertanggungjawab selama wabah pandemik abad pertengahan, itu Hampir sepertiga seluruh populasi daratan Eropah, kurang lebih 25 juta orang antara tahun 1346 dan 1350 mati karena penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini. Pentingnya cara penjalaran penyakit ini oleh kutu yang hidup pada hewan mengerat yang menggigit seseorang dan kemudian terinfeksi Yersinia pestis, karenanya penyakit wabah pes ini masih berpotensi disalahgunakan sebagai calon “senjata hayati”. Bakteri membelah berlipatganda dengan cepat dalam nodus limfa, tetapi tidak menular dan memiliki laju mortalitas 50 – 75%.

Beberapa calon mikroorganisme yang dapat digunakan sebagai “senjata hayati” lainnya misalnya:
5) Salmonella typhi (penyakit-penyakit melalui makanan atau media air) dan tergantung dari jumlah minimum tertentu patogen dalam tubuh untuk menyebabkan gejala sakit. Salmonellosis yang disebabkan oleh bakteri jenis ini, rata-rata 47.500 kasus per tahun dijumpai di Amerika Serikat. Gejala penyakit ini umumnya dikenal dengan demam tiphus, yaitu diarhae, mual-mual, muntah dan demam tergantung dari virulensi strain Salmonella..
6) Francisella tularensis (demam kelinci) penyebab tularemia, dan 7) Brucella abortus (demam dan bacterimia), keduanya mampu menyebabkan infeksi fatal.
8) Virus Rabies dan 9) virus Ebola. Banyak diantara agen-agen yang menyebabkan penyakit selama beberapa hari atau minggu pemaparan dengan laju kematian yang tinggi.

Suatu sifat umum agen pembawa penyakit yang dapat disebarluaskan adalah dalam bentuk aerosol yang mudah menyebar luas serta menginfeksi secara sederhana dan cepat, Pada 1962., terjadi satu ledakan smallpox (cacar) lalu di negara-negara maju terjadi di Jerman.. Penyakit ini menginfeksi para pekerja Jerman sepulang dari Pakistan, terkena wabah cacar yang segera berkembang dan dirawat serta dikarantinakan.. Oleh karena batuk pasien tersebut, berakibat menginfeksi 19 orang menjadi tervaksinasi, setidaknya satu orang meninggal dunia,. Pada kassus lain di Sverdlovs Rusia, sekurangnya satu gram spora telah menyebar ke atmosfer dari fasilitas persenjataan, dan setiap orang disekitar area itu terimunisasi dan diberikan terapi antibiotik profilaksis segera setelah kasus anthrax pertama kali diketahui.

Sekitar 77 orang di luar fasilitas itu terjangkit anthrax sedang 66 individu lainnya mati. Pada tahun 1984 ekstrimis keagamaan di USA menginokulasi Salmonella dalam salad di 10 kedai makanan, yang telah menyebabkan 751 kasus salmonellosis makanan terjadi di daerah yang biasanya hanya 10 %.
Kabar terakhir Lembaga Genetika di Tashkent, Uzbekistan 1996 telah mengungkapkan hasil penelitiannya mengenai jenis jamur (fungi) yang menyerang sistem perakaran tanaman pertanian sebangsa opium poppies. Lembaga yang didukung oleh Dinas Militer Uni soviet ini pada masa itu ditugaskan sebagai pusat pengkajian peran mikroorganisme perusak tanaman pertanian. Pertanian opium merupakan tanaman penghasil bahan narkotika yang cukup tinggi nilai ekonominya, oleh karenanya seorang ahli penyakit tanaman berkevbangsaan Inggris Paul Rogers menyatakan adanya bukti baru penggunaan “senjata hayati” terhadap tanaman pertanian.

Dampak penyalahgunaan peran mikroorganisme
Penyalahgunaan peran mikroorganisme untuk kegiatan yang merugikan seperti halnya bioterorisme ini berdampak sangat luas. Pengawasan dan kewaspadaan terhadap bahaya bioterorisme yang harus selalu ditingkatkan dengan berbagai upaya pengembangan sidik-cepat dan upaya penanggulangannya merupakan kajian yang memerlukan biaya operasi cukup besar. Negara adidaya Amerika Serikat misalnya dalam tahun anggaran belanja 2002 harus menjatahkan dana sebesar lebih kurang 1.500. juta dolar. Dampak penyalahgunaan peran ini sangat meluas baik dari segi politik maupun ekonomi, keamanan, kesehatan dan bahkan peradaban suatu bangsa. Pemberlakuan hukum dalam rangka antisipasi keamanan warganegara dan atau undang-undang perdagangan dalam negeri negara adikuasa itu pun terhadap bahaya bioterorisme secara langsung ataupun tidak langsung sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara pengekspor komoditas ke negara maju. Rentetan administrasi dan registrasi yang harus memenuhi baku prasyarat keamanan bahaya bioterorisme itu berakibat penambahan prosedur dan beban ekonomi yang tidak saja makin berbelit dan biaya tinggi juga waktu dan tahap penyesuaian yang berlarut. Ironinya banyak dugaan dan ataupun isu yang berkembang asal muasal bioterorisme tidak lepas dari kondisi sosekpolkam negara berkembang dan kekhawatiran negara maju yang berlebihan..
Di lain pihak akhir-akhir ini digalakkan lagi pembuatan vaksinasi besar-besaran guna mengantisipasi aksi ini. engan pemberian vaksinasi dimungkinkan seseorang mengalami kekebalan permanen terhadap penyakit yang ditimbulkan spesies yang sama, meski sampai saat ini lebih kurang seperempat abad lalu penyakit ini dinyatakan telah musnah, misalnya penyakit cacar (variola).

Kesimpulan
Mikroorgansime sebagai bagian struktur biotik dalam ekosistem maupun biosfer memiliki peran besar dalam kehidupan umat manusia di planet bumi ini, yang berfungsi unik, sebagai pengurai atau dekomposer dalam tingkatan trofik ekosistem yang seringkali sangat bermanfaat bagi keberlanjutan kehidupan dan kesejahteraan umat manusia. Namun di pihak lain mikroorganisme dapat berakibat merusak dan kehancuran sendi-sendi kehidupan umat manusia itu sendiri bilamana manusia tidak dapat mengendalikannya ataupun diri manusia itu sendiri.
Bentuk penyalahgunaan peran mikroorganisme yang tidak sepatutnya seperti bioterorisme, dan sebaliknya yang seharusnya untuk kemaslahatan umat manusia, dapat berdampak sangat luas memasuki sendi-sendi kehidupan manusia











Daftar Pustaka

Atlas, RM and R. Bartha. 1999. Microbial Ecology : Fundamentals and Applications. Benjamin Cummings Publisher, USA.
Bioterorisme : URL http://www.ncid.htm 23 Mei 2003
Bioterrorism: URL: http://www.Cdc.gov/ncidod/EID/vol3no2/kaufman.htm 30 Maret 2003 ;
Enserink M and E. Marshall, 2002. News of the Week: Biodefense,Eternal-Universe Idea Comes Full Circle, Science, Vol 296 – 26 April 2002
Enserink M, 2002, News of the Week: Biological and Chemical Warfare, Science, Vol 298 – 18 October 2002
Jenifer Couzin, 2002. Focus: Bioterrorism, A Call for restraint on Biological data. Science, Vol. 297 - 2 August 2002
Kaiser, J, 2002. News of the Week: 2003 Budget, Bioterrorism Drives Record NIH Request. Science, Vol 295 – 1 February 2002
Madigan, MT, JM Martinko and J. Parker. 2000. Brock Biology of Microorganisms. Prentice. Hall Publishers USA.
Michell, R. 1992. Environmental Microbiology. John Wiley and Sons Inc Publisher NY.
Nester, E.W. and CN Sawyer, 2003. Microbiology: A Human Perspective. Mc GrawHill Inc. Publisher NewYork
Ollsnes S and Wesche, 2001. Science’s Compass: Perspectives Microbiology, Fighting Anthrax with a Mutant Toxin. Science, Vol 292 – 27 April 2001
Stone, R, 2000, News of the Week: BioterrorismExperts Call Fungus Threat Poppycock, Science, Vol 290 – 13 October 2000
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Penyalahgunaan mikroorganisme dalam kesejahteraan manusia - 9756people
Info Petani -
Penandatangan Perpanjangan Kontrak THL TBPP
Selamat untuk kita semua atas telah ditandatanganinya perpanjangan kontrak kerja kita pada 16 Januari dan 20 Januari 2008 masa kontrak per 1 Pebruari 2008-Nopember 2008 semoga langkah kita dalam memajukan PERTANIAN INDONESIA mendapat dukungan dari semua pihak dan mendapat ridlo-Nya.
Selamat juga untuk rekan-rekan THL TBPP 10000 yang baru, selamat bergabung bersama keluarga besar THL TBPP
Blog ini diciptakan sebagai salah satu cara untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama THL TBPP se-Indonesia dan juga sebagai sarana tukar pikiran dalam rangka mengemban tugas kita sebagai THL TBPP. Oleh karena itu mari bersama-sama membangun PERTANIAN INDONESIA, salurkan ide-ide kreatif rekan-rekan untuk kesejahteraan dan kemakmuran PETANI kita . Segala ide maupun yang lain dapat rekan-rekan kirim DISINI
Blog ini adalah unofficial blog dari THL TBPP
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Penandatangan Perpanjangan Kontrak THL TBPP - 9756people
Info Petani -
Japan Rice Trade


A. IDENTIFICATION

1. The Issue

This case involves the United States who demanded that Japan
replace all of its import bans and quotas on rice with tariffs, a
policy known as ratification, through the GATT Uruguay Round of
multilateral negotiations. On September 30,1993, the Japanese
government decided to go into the international rice market on a
major scale of the first time in three decades. Because of a cool,
wet summer growing season and an outbreak of blight, Japan faced
its worst rice harvest in the post war period --only 74% of the
amount of the previous period's harvest-- and was forced to
purchase, on an emergency basis, foreign rice in the coming 12
months --two metric ton, to one fifth of yearly consumption-- to
bridge this supply shortfall.

Consequently, Japan became the
largest rice importer in the world. On December 14, 1993 the
Japanese government accepted a limited opening of the rice market
under the GATT plan. Currently, 1994's bumper rice crop has
resulted in much of imported rice piling up, unused at warehouses
throughout the nation [Cordy, Jennifer."Growing Japanese Rice Glut
is Causing a Sticky Situation for Foreign Growers", Asian Wall
Street Journal Weekly (September 5,1994.): A4.] In 1994, Japan
harvested 11.98 million tons of rice in 1994, compared with 7.83
million tons last year.] (This is similar to Japan Apple Imports
case, see APPLE case).

2. Description

This case was actually involved in the bilateral trade negotiations
of the United States and Japan. The logic of US's demand for the
Japanese opening of the rice market was theoretically derived from
US's US$50 billion trade deficits with Japan [Smith, Charles.
"Staple of Dispute: Tokyo Hints at Concessions on Rice Trade," Far
Eastern Economic Review (vol.155. no.40, October 28, 1993.): 33.]
Therefore, this GATT proposal was seen as the one part that forms
a linkage of the US-Japan trade dispute. It was a symbolic issue,
representing "Japan's sagging, heavily regulated" market, along
with sectors such as medical equipment, telecommunications, and
insurance auto parts.[Sapsford, Jathon and Williams, Michael, "Panel
Proposes Basic Shift in Japan Economic Policy," Asian Wall Street
Journal Weekly (December 20,1993.): A7. ] Rice has encouraged the
world to blame Japanese protectionism for the country's vast trade
surplus.["The Voice of Rice: Korean for Protection," The Economist.
(vol.7841, no.329. December 11, 1993.):34.] Accordingly
manufactures have been major beneficiaries of the multilateral
trade regime and will not view a Japanese-instigated collapse of
the Uruguay Round with equanimity ["Away from the Brink: Japan on
Defensive as GATT Talks Look to Restart" Far Eastern Economic
Review. (December 23, 1992.): 53. For another example, Shinroku
Morohashi, chairman of Mitsubishi Corp., expressed his satisfaction
with the rice liberalization, saying "Hosokawa (prime minister) has
shown international common sense." ].On the other hand, Japan
argues that foreign rice must be barred to ensure self-sufficiency
in the country's food staple. From the international trade
perspective, only 3 to 4% of the world rice production --roughly
14metric tons-- goes for export. The US's share of world
production is 2%. [The Economist. "Starters-and-Stripes Sushi: Rice
Production," (November 27, 1993.):30.]

As the background of this dispute, the United States Rice Millers
Association (RMA) asked for a quota of up to 2.5% of the Japanese
market. Although the US Trade Representative (USTR) turned down this
request in October 1986, it agreed to put it on the agenda for the
Uruguay round of multilateral trade negotiations in 1987. Onward,
the US demanded the Japanese open the rice market via the 108
nation GATT. In 1993, the Clinton administration trade policymakers
indicated that the White House would act on petition under Sanction
301 if Japan decided to maintain its ban on rice. The Japanese
counterpart, the powerful Central Union of Agricultural
Cooperatives opposed strongly. Furthermore, opposition against
lifting the import ban came not only from farmers but also from
consumers. In the late 1993, Japanese were boiled over this
historical rice dispute.

For the Japanese, this case was focused from its self-sufficiency
point of view, as well as from the cultural implications of rice.
In 1989, Japan was the world's largest net agricultural products
importer and its self-sufficiency ratio has been slumped to 46% in
1991 (in comparison to France 143%, US 113%, W Germany 94%). The
Japanese consume 26% of the total calories from rice, the largest
source of caloric intake. However, it has dramatically decreased by
half, from that of in 1960 (50%). [Soda, Osamu. Fact about Japan:
Japanese Agriculture, (International Society for Educational
Information. Tokyo, 1993.):6.] Calorie self-sufficiency has
constantly declined after the World War II: in 1965, 73%, in 1985,
52%, and in 1991, 46%. Among the major products, such as wheat
(12%), soybean (4%), beef (52%), sugar (36%), only rice is the
self-sufficient (100%) product.[Soda, Osamu. Fact about Japan:
Japanese Agriculture, (International Society for Educational
Information. Tokyo, 1993.):4.] As of 1990, total Japanese
agricultural production had a value of 11.42 trillion yen broken
down as follows: rice 28%, livestock 27%, vegetables 23%, fruit 9%,
and others 13%[Soda, Osamu. Fact about Japan: Japanese Agriculture,
(International Society for Educational Information. Tokyo,
1993.):5. ].

Since the Japanese domestic rice price is as seven times as high as
the international rice price, ratification of rice might force the
Japanese to go out of farming. Accordingly the Japanese might not
achieve rice self-sufficiency in the 21st century. This raise
questions on the Japanese national security. Rice is also the
center of Japanese traditional village-based culture; for example,
in Japanese the word rice (gohan) means meal. For instance, in
Japanese "did you eat a meal?" is literally, "did you eat rice?"
Currently, the Japanese government predicts nation will not begin
substantial rice imports until late 1995, because there are ample
leftover supplies from the bumper 1994 domestic crop.["Japanese Say
Substantial Imports of Rice Unlikely Until Late 1995," Journal of
Commerce. (April 11 1995.):A5.]

3. Related Cases

Korean Case Korea also negotiated with GATT multilateral trade
negotiation for its opening of rice market. Korea accepted the same
agreement as Japan accepted, with 10 years moratorium period. Prime
Minister Kim Young Sam apologized to farmers for ending government
protection of the market and eliminating subsidies.[Shanda Islam.
"A Deal, of Sorts: GATT Comes up with an 11th-Hour Global Trade
Accord." Far Eastern Economic Review. (vol.156. no.50. December
23, 1993.):54.] However this decision impact on Korea much worse
than on Japan. In Korea the portion of rice producer to the total
GNP is 3.1%, whereas Japanese counterpart is only 0.6% in
1991[Hasegawa, Hiroshi. "Read the Six Years; After the Opening Rice
Market (Kome Koaiho Rokunengo O Yomu)." in Asahi Shinbun Weekly
AREA ( December 20, 1993. Tokyo.):16-17]. Korean farmers' one forth
of income is derived from rice; on the contrary in Japan, it
consist of only one eighth of income. According to an estimate of
Korean Foreign Economic Institute, as a result of this concession,
Korea could correct its trade surplus to US by 1400 million dollar
a year. On the other hand, Korean farmers would lose 50 million
dollar a year[Ibid. p.16.].

(1) Keyword Clusters
(1): Trade Product = Rice
(2): Bio-geography = Temp
(3): Environmental Problem = Habitat Loss

4. Draft Author: Junko Saito

B. LEGAL Clusters

5. Discourse and Status: Agreement and Complete

Agreement was reached on December 15,1993. According to the
agreement, ratification of rice imports will come into effect after
a six-year period during which a fixed, but limited quantity of
rice (between 4%, 4m ton to 8%, 8m ton of total consumption [Smith,
Charles. "Rice Resolve: Tokyo Makes Last-Minute Concession on
Imports," Far Eastern Economic Review (vol.156. no.50, December
23, 1993.): 14. ]) will be imported. This implementation might
affect on the Food Control Law, which provides the government with
strong power over the rice market and allows it to restrict
imports. It was originally legislated during the World War II, to
centralized the authority of providing food on the government. The
law either might have to be revised or given a new interpretation
to allow market forces to operate.

6. Forum and Scope: Japan and Multilateral

7. Decision Breadth: MULTI (USA, Thailand, Myanmar, etc.)
Japanese participation in the world rice trade has significant
effects on world rice trade. Iwakura [The director general for
agricultural policy at the Liberal Democratic Party in Japan]
argues that the world market can not accommodate another major
importer. "If Japan were buy 1 million tones of rice in the next 12
months that would be certain to push prices sharply."[ ]Actually
international prices have been rising almost daily since it became
apparent that Japan would be a major player in the thin world
market for rice.[Smith, Charles. "Steamed Up : Japan's Rice-Import
Ban Stays, Despite Shortfall", Far Eastern Economic Review,
(vol.156. no.41, October 14, 1993.):73.]

On the other hand, suddenly the export of rice polishing equipment
is growing. Asian countries have begun to improve the quality of
their rice, in preparation for the expansion of the global rice
trade predicted in the wake of the Uruguay Round Agricultural
Agreement. Since Japanese equipment is said to be the best in the
world, in 1995 manufactures of rice polishing equipment expect an
increase of 30% of to 50% in the value of exports over 1994.[Japan
Agrinfo Newsletter, (vol.12, no.6, International Agricultural
Council, Tokyo, February 1995): 5]

8. Legal Standing: TREATY
The GATT provision was invoked in this case. The Japanese
government shifted a ban on rice import in December 1993.

C. GEOGRAPHIC Clusters

9. Geographic Locations
a. Geographic Domain : ASIA
b. Geographic Site : EAST ASIA
c. Geographic Impact : JAPAN

10. Sub-National Factors: NO

11. Type of Habitat: Temperate [TEMP]

D. TRADE Clusters

12. Type of Measure: QUOTA [QUOTA] Japan will import 4 % (4 metric
ton) to 8% (8 metric ton) of rice from 1994 to 2000. This quota is
called as "minimum access clause" and this is the previous
moratorium stage toward tariffication.

13. Direct vs. Indirect Impacts: Indirect

14. Relation of Measure to Environmental Impact
a. Directly Related : YES
b. Indirectly Related : No
c. Not Related : No
d. Process Related : YES (Rice Paddy Loss)

15. Trade Product Identification: Agricultural Production, Rice

16. Economic Data
Total farmers/Total Japanese population : 10.9% (1991)
Number of farming house holds: 3.8 million 3.1% (1991)
Agricultural products/total GNP: 2.4% (1991)
Rice production/total GNP: 0.6% (1991)
Rice income/total agricultural income per house hold: 4.0% (1991)
Full time farmer/ Part time farmer : 12.1% (1991)
Rice paddy/ Japanese total land: 13.7% (1992)

17. Impact of Measure on Trade Competitiveness: BAN

18. Industry Sector: FOOD

19. Exporter and Importer US and Japan

The agricultural Ministry planed to import 200.000 metric tons of
foreign rice by the end of 1993, mainly from Thailand. Japan
imported 500.000 to 600.000 metric tons of rice from Thailand in
1994. The rest purchased from the US and China.[Owens, Cynthia.
"Thai Could Get Gob Boost if Japan Opens Rice Market." Asian Wall
Street Journal Weekly. (December 13, 1993.): A20.] Only 3-4% of
world rice production -roughly 14m tones- goes for export.
American's share of export world production is barely 2%, yet, it
ships out about 18% of all the rice in international trade, a
proportion second only to Thailand's.[The Economist. "Starters-and
-Stripes Sushi: Rice Production," (November 27, 1993.):30 ] The
international rice market itself is thin, no homogeneous, and
highly influenced by trade restrictions. The "thin market" problem
of rice trade is compounded by the fact that many consumers prefer
specific types and qualities of rice.[Gail L. Cramer, Eric J.
Waules, and Shangna Shui. "Impact of Liberalizing Trade in the
World Rice Market." American Journal of Agricultural Economy.(
vol.75. Feburuay,1993):219 ]

E. ENVIRONMENT Clusters

20. Environmental Problem Type: Source Problem [DEFOR] (potential
rice paddy loss)

Rice paddies contributes to maintain Japanese environmental
condition through the securing of greenbelt zones and the water
purification and groundwater enrichment.

21. Name, Type, and Diversity of Species

Name: Rice
Type: Japonica rice
Diversity: NA

Two major rice types are indica and japonica. Strong consumer
preferences for particular rice types are based primarily on
cooking and taste characteristics. Japonica rice is relatively
sticky when it cooked and has shorter, thicker grain. It also
called "short rice."

22. Impact and Effect: LOW and Scale
23. Urgency and Lifetime: MEDIUM / several years
24. Substitutes: CONSV

VI. OTHER Factors

25. Culture: Yes

For the Japanese the symbolic importance of rice is deeply rooted
in the Japanese cosmology: rice as soul, rice as pure money, and
ultimately, rice as self. During Edo era (1603-1867), rice was
circulated as intermediate, money. Sushi is one of the
traditional cooking methods. Originally, it was one way to
preserve fish, putting rice and fish alternately in a wooden pail,
for fermenting. Nowadays this kind of sushi is called
"oshi-shushi."

Even though the Japanese had the custom of eating rice since
ancient times, only after the nineteenth century, did rice became
the national food staple. Therefore rice has been valued as a
special food, associated with rituals. Rice harvest rituals, both
among the folk and at the imperial court, have been a major
cultural institution.

The Japanese emperor originally was the
shaman who celebrated rice harvest in ancient times. Harvest ritual
celebrate cosmic rejuvenation through an exchange of their souls,
that is, selves, as objectified in rice. People believed that rice
had mysterious super-natural power. One example can be seen in an
ancient custom; people shook rice in bamboo and let the dying
person hears the sound at his deathbed. On mountainsides, people
called rice "the Buddhist saint (Bosastu)." The word "offering (to
the God)," osonae, itself used to refer to the rice cake prepared
for ritual services. It means that the rice had been used as main
servings for the formal rituals to God.

Rice is not a mere grain,
rather a personified thing that has soul. People perceived rice
cropping to be closely connected to the super-natural, religious
behavior, rather than an economic activity.

Rice farmers had a
notion of "ina-dama," the soul of rice, and personified a rice.
Therefore even today, people believe that the soul of rice, which
is called the God of rice paddy, dwell in the last rice stubble.
The person who reaped the last rice would bring it back home and
hold service. This custom is still practiced at the rice harvest
rituals.

Rice paddies have been a common theme portrayed in woodblocks
prints, printings, and contemporary posters in travel agents'
offices to attract urbanites to "the countryside." They have been
intimately portrayed in the representation of agriculture, the
countryside, the seasons, and the past. As a metaphor for self,
rice paddies are our ancestral land, our village, our region, and
ultimately, our land, Japan. Therefore, the Japanese has strong
cultural attachments to rice.
26. Trans-Border: No
27. Rights: NO
28. Relevant Literature

Ohunuki-Tierey, Emiko. Rice as Self. (Princeton University Press.
1993.)

Avery, P. William. World Agriculture and the GATT. (Lynne Reinner
Publishers. 1993.)

Inoue, Hisashi. Inoue Hisashi no Kome Koza[Mr. Inoue's Lecture on
Rice.] (Tokyo, Iwanami Shoten. 1989.)

-------------- Zoku-Inoue Hisashi no Kome Koza [Mr. Inoue's Lecture
on Rice: Part II.] (Tokyo, Iwanami Shoten. 1991.)


References

Asahi Nenkan 1994 [Asahi Yearbook 1994] (Asahi Shinbun sha, 1993,
Tokyo.):164-167.

The Economist. "Starters-and -stripes Sushi: Rice Production,"
(November 27, 1993.):30.

---------------. "The Voice of Rice: Korean for Protection,"
(vol.7841, no.329. December 11,1993.): 33-34.

---------------. "Ricable: World Trade," (vol.7831. no.329. October
2, 1993): 75-76.

Freidland, Jonathan and Smith, Charls. "Staple of Dispute: Tokyo
Hits at Concessions on Rice Trade," Far Eastern Economic Review.
(vol. 156. no.43, October 28, 1993.): 22.

Gail L. Cramer, Eric J. Waules, and Shangna Shui. "Impact of
Liberalizing Trade in the World Rice Market." American Journal of
Agricultural Economy. (vol.75. February, 1993): 219-226.

Fukui, Yuki. "Japan agriculture on the Rips," Tokyo Business Today.
(vol.62, no.12. December
1994):28-29.

Hasegawa, Hiroshi. "Read the Six Years; After the Opening Rice
Market (Kome Koaiho
Rokunengo O Yomu)." in Asahi Shinbun Weekly AREA ( December 20,
1993. Tokyo.):16-17.

-------------------. "Jiristu seyo Kome Noumin[Rice Farmers, Be
Independent]," in Asahi Shinbun
Weekly AERA, (November 22, 1993. Tokyo.):26-28.

Machight, Susan. "Short Rice Crop Process Challenges, Opportunities
for Tokyo," Japan
Economic Institute Report.(no. 37b, October 8,1993.):8-10.

MacKnight, Sesame. "Short Rice Crop Posed Challenges, Opportunities
for Tokyo" Japan
Economic Institute, (no.37b. October 8,1993): 8-10

------------------. Japan Agrinfo Newsletter, (vol.11, no.12,
International Agricultural Council,
Tokyo, August 1994): 5-6.

Islam, Shanda. "A Deal, of Sorts: Gatt Comes up with an 11th-Hour
Global Trade Accord. "Far
Eastern Economic Review. (vol.156. no.50. December 23, 1993.):54.

Japan Agrinfo Newsletter, (vol.12, no.6, International Agricultural
Council, Tokyo,
February1995): 5.

Smith, Charles. "Rice Resolve: Tokyo Makes Last-Minute Concession
on Imports," Far Eastern
Economic Review ( vol.156. no.50, December 23, 1993.): 14.

-------------. "Steamed Up : Japan's Rice-Import Ban Stays, Despite
Shortfall", Far Eastern
Economic Review, (vol.156. no.41, October 14, 1993.):73.

-------------. "Staple of Dispute: Tokyo Hints at Concessions on
Rice Trade," Far Eastern
Economic Review ( vol.155. no.40, October 28, 1993.): 33.

Soda, Osamu. Fact about Japan: Japanese Agriculture, (International
Society for educational
Information. Tokyo, 1993.):1-8.

Yamagata, Yuichiro. "Probing the Impact of the Uruguay Round" Tokyo
Business Today.
(April 1993.):34-36.

Wander, Berber. "Rice Decision Strains Coalition Unity, Jeopardized
Political reform" Japan
Economic Institute Report.(no. 46b, December 17, 1993.):5-7.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Japan Rice Trade - 9756people
Info Petani -
Regulasi impor rempah-rempah di Jepang
1. Tinjauan Pasar Jepang

Orang Jepang banyak menggunakan rempah-rempah (HS.090..) Karena dianggap selain untuk menambah cita rasa makanan juga untuk melancarkan pencernaan. Sehingga Jepang mengimpor rempah-rempah dalam jumlah cukup signifikan. Bentuk rempah-rempah yang biasa digunakan rumah tangga di Jepang adalah dalam bentuk powder (bubuk) dan pasta yang dikemas dalam tube dan dalam kemasan lainnya.

Rempah-rempah yang paling banyak digunakan orang Jepang adalah olahan wasabi (green horseradish), mustard, lada hitam, lada putih, cabe bubuk, bumbu kari. Sedangkan rempah-rempah lainnya yang juga biasa diimpor adalah: cardamom (kapulaga), cinnamon (kayu manis), cloves (cengkeh), coriander (ketumbar), nutmeg (pala), turmeric (kunyit) dan biji vanilla.

Produksi dari rempah-rempah yang dapat diimpor dikategorikan dalam 2 kategori yaitu produk yang sudah diolah (processed) dan semi olahan (semi-processed). Produk yang sudah diolah (final) adalah produk yang sudah dimasukkan kedalam kemasan dan siap untuk dipasarkan sedangkan pada produk semi olahan, rempah-rempah mentah (belum diolah) yang dicampur dengan rempah-rempah lainnya untuk diolah kembali oleh industri makanan. Informasi dari the Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) permintaan akan rempah-rempah semi olahan peningkatannya cukup proposional.
Jepang mengimpor rempah dari beberapa negara, yang terbanyak dari Malaysia sedangkan Indonesia berada pada urutan ke 4 setelah China dan India. Jenis komoditi rempah-rempah yang mempunyai nilai dan volume terbesar adalah lada dan cabe bubuk. Impor dari Indonesia yang paling banyak adalah pala, lada dan kunyit.

2. Peraturan Impor

Peraturan dan prosedur impor rempah-rempah untuk makanan mengacu pada the Plant Protection Law and the Food Sanitation Law.

a. Plant Protection Law

Bertujuan untuk mengimpor dan mengekspor tumbuh-tumbuhan, seperti pada tanaman domestic diawasi dari penggunaan pestisida yang membahayakan, dan menjaga dari penyebaran penyakit tanaman. Sedangkan rempah-rempah yang diimpor dari luar negeri diwajibkan untuk menjalani pengawasan impor (karantina tanaman) sebagaimana ditentukan dalam peraturan ini.

Saat pengimporan, aplikasi Pengawasan Karantina Impor berikut sertifikat pengawasan yang dikeluarkan oleh pemerintah di Negara pengekspor harus diserahkan pada pos karantina tanaman saat kedatangan. Jika dalam pengawasan ditemukan serangga yang berbahaya, barang yang dipesan akan dikapalkan kembali ke Negara pengekspor. Namun, kunyit dan biji lada yang dikeringkan dibebaskan dari the Plant Protection Law, sama seperti rempah-rempah yang dikeringkan dan sudah dikemas untuk eceran.

b. Food Sanitation Law

Bertujuan untuk mencegah dari kondisi yang tidak sehat dan membahayakan yang mungkin timbul dari makanan dan minuman dan untuk meningkatkan dan mempromosikan sanitasi
kepada masyarakat.

Saat pengimporan, rempah-rempah diajukan ke pos karantina di pelabuhan pada saat melalui bea dan cukai berikut lampiran formulir Pemberitahuan Importasi Makanan.
Jika pengawasan kesehatan dianggap perlu sebagai hasil pengujian pada pemberitahuan dari importasi makanan, rempah-rempah akan diperiksa di bonded area dan importasi rempah-rempah diijinkan hanya apabila telah lolos uji. Pengawasan sanitari mungkin akan dibebaskan jika rempah-rempah sudah diawasi secara sukarela oleh organisasi pengawas domestik yang ditunjuk dan organisasi pengawas umum di negara pengekspor.

3. Prosedur dan Peraturan Penjualan

Pada saat spices dikemas dalam kemasan untuk eceran di Jepang, berikut adalah informasi yang diperlukan pada pelabelan untuk semua produk sesuai dengan Food Sanitary Law the Measurement Law and the Law Concerning Standarization and Forestry Products :

a. Nama produk
b. Bahan baku (Jika hanya satu bahan yang digunakan, dapat diabaikan)
c. Berat bersih
d. Tanggal kadaluarsa
e. Bahan tambahan (jika ada)
f. Metode penyimpanan
g. Nama dan alamat importer atau distributor
h. Negara asal (Jika spices langsung diimpor) Label harus dicantumkan pada kemasan dan dapat terlihat tanpa harus membuka kemasan atau pembungkus.

4. Rekomendasi

Saat eksportir mempertimbangkan untuk memperkenalkan produknya ke Jepang, sangat perlu untuk membentuk sistim kerjasama dengan importer Jepang atau pabrik/industri rempah-rempah yang mengerti secara baik pasar rempah-rempah Jepang, konsumen yang membutuhkan, system distribusi, dan peraturan yang berlaku. Melalui komunikasi yang terbuka dengan importer domestik dan industri rempah-rempah, eksportir akan mengetahui dan memahami kebutuhan konsumen Jepang dan memperoleh petunjuk dan cara yang lebih efektif untuk memperkenalkan produknya.

Pada saat merencanakan untuk menjual rempah-rempah dan hanya sedikit mengetahui pasar Jepang, dimana di negara tersebut rempah-rempah digunakan dalam jumlah besar dan harus melayani begitu banyak referensi.

Jika alasan-alasan mengapa spices diterima dan dapat dipakai di Jepang, pengenalan pasar sangat bermanfaat untuk studi lebih lanjut. Jika spices digunakan untuk memelihara kesehatan dimana pasar, eksportir membangun sebuah kesempatan untuk memperkenalkan rempah-rempah kepada pasar Jepang, dimana para konsumen akan berorientasi pada peningkatan kesehatan.

5. Organisasi Terkait

Instansi pemerintah terkait :

a. Food Industry Promotion Division General Food Policy Bureau Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries 1-2-1 Kasumigaseki, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0013, Phone : +81-03-3502-8111

b. Plant Protection Division Agricultural Production Bureau Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries 1-2-1 Kasumigaseki, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0013, Phone : +81-03-3502-8111

c. Plicy Planning Division, Departement of Food Sanitation Ministry of Health, Labor and Welfare 1-2-2 Kasumigaseki, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0013, Phone : +81-03-5253-1111
d. Weight and Measures Administration Council Industrial Science and Technology Policy and Environtment Bureau Ministry of Economy, Trade and Industry 1-1 Kasumigaseki, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0013, Phone : +81-03-3501-8111

Organisasi perdagangan terkait:

a. Japan Flavor & Fragrance Manufactures’ Association (JFFMA)
Ninjin Bldg, 6F, 4-7-1 Nihonbashihon-cho, Chou-ku Tokyo 103-0023, Phone +81-03-3663-2471

b. Ali Nippon Spice Association (ANSA)
c/o Tokyo Sales Office,K, Kobayashi & Co, Ltd. 2-13-1 Nishigahara, Kita-ku, Tokyo 114-0024, Phone : +81- 03-3940-2791

c. Japan Mustard Co-operative
c/o Nihon Shokuryo Shinbun Co, Ltd. 1-9-9 Yaesu, Chou-ku, Tokyo 103-0028, Phone : +81-03-3271- 4815

d. Japan Dried Vegetables Association (JDVA)
M-1 Bldg, 3F,3-4-1 Nihonbashi Kayaba-cho, Chuo-ku, Tokyo 103-0025, Phone : +81-03-3669-0286

Industri rempah-rempah dan Importir:

a. House Food Industrial Co, Ltd
6-3 Kioi-cho, Chiyoda-ku, Tokyo 102-8560, Phone : +81-03-3668-0551

b. S&B Food Inc
18-6 Nihonbashi Kabuto-cho, Chuo-ku, Tokyo 103-0026, Phone : +81-03-3668- 0551

c. Yasuma Co, Ltd.
5-23-2 Nishi-Gotanda, Shinagawa-ku, Tokyo 141-0031, Phone : +81-03-3490-5211

d. Gaban Spice Co, Ltd
Tsukiji Shimizu Bldg, 3F, 3-7-10 Tsukiji, Chou-ku, Tokyo 104-0045, Phone : +81-03-3345-6741

e. Kaneka Sun Spice Co, Ltd.
1-10-19 Juso-Higashi, Yodogawa-ku, Osaka-shi, Osaka 532-0023, Phone : +81-06-6306-0311

f. Amari Koshin Shokuhin Co, Ltd.
13-295 Shin-machi, Fushimi-ku, Kyoto-shi, Kyoto Pref, 612-8081, Phone : +81-075-621-2447

Sumber Referensi : Japan External Trade Organization (JETRO)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Regulasi impor rempah-rempah di Jepang - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit