728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
METODE PENELITIAN index kompetisi tajuk jati
Analisis kuantitatif kompetisi telah banyak dilakukan (Aspinall dan Milthhrope, 1959; de Wit,1960; Aspinall,1960; Milthrope,1961; Donald,1963). Tetapi kuantifikasi gaya kompetisi yang dilancarkan oleh suatu tanaman untuk mendapatkan faktor pertumbuhan yang dibutuhkan belum banyak mendapat perhatian. Individu tanaman yang mempunyai gaya kompetisi yang lebih besar akan memperoleh kuantitas pertumbuhan yang lebih besar. Gaya tersebut dipertimbangkan proporsional dengan ukuran tanaman, karena kemampuan tanaman mendapatkan faktor lingkungan, yang kebanyakan dievaluasi dari hasil akhirnya, ditentukan oleh ukuran organ-organ tanaman yang berfungsi untuk itu, disamping ditentukan kebutuhan tanaman. Pemilihan lokasi sampel didasarkan pada tujuan penelitian yaitu mencari faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan. Pertumbuhan tanaman yang sangat pesat terjadi di awal-awal masa hidupnya. Oleh sebab itu, maka pencarian informasi awal yaitu pada tanaman yang masih muda. Untuk penyederhanaan penelitian ini hanya menitikberatkan pada pengukuran obyek pohon di dalam plot ukur. Pencarian data sekunder dari pihak-pihak yang terkait hanya untuk melengkapi data primer.

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Bahan utama dalam penelitian ini adalah tegakan Jati KU I dalam Petak Ukur di petak 49a. RPH Sidowayah, BKPH Kedunggalar, KPH Ngawi yang mulai diukur pada tanggal 7 Desember 2004 yang dipilih berdasarkan masih sempurnanya tegakan seumur dan sejenis serta kondisi tegakan relatif stabil dengan menegasikan faktor lain. Obyek yang akan diambil adalah gambaran kuantitatif tentang tinggi pohon, diameter setinggi dada, diameter tajuk maksimal, koordinat pohon.
Pengumpulan data dimulai dengan pembuatan plot. Plot yang dibutuhkan sebanyak 2 (dua) buah. Desain plot adalah plot majemuk konsentris yang terdiri dari 3 (tiga) buah bujur sangkar dengan ukuran yang berbeda. Bujur sangkar terluar dengan ukuran 100x100 m (luas 1 ha) digunakan untuk mendapatkan data peninggi. Bujur sangkar yang tengah berukuran 40x40 m merupakan unit penelitian/pengukuran Fungsi dari plot ukur adalah sebagai buffer atau bagian penyangga dari plot hitung apabila pohon terluar dari plot hitung membutuhkan data dari pohon tetangganya yang berada di luar plot hitung, sehingga data pohon dalam plot hitung dapat digunakan dengan sempurna. Bujursangkar terdalam merupakan unit pengukuran berukuran 20x20 m (lihat Lampiran 1).
Metode inventore dalam penelitian ini mengadobsi metode inventore yang dipakai untuk survei potensi permudaan hutan alam tropika basah yang akan ditebang, yaitu dibuat pada setiap jarak 100 meter pada jalur coba untuk mengetahui volume tegakan dengan bentuk petak ukur bujur sangkar (Simon, Hasanu. 1996). Tetapi, dalam penelitian ini dilakukan inventore dengan metode yang disesuaikan dengan kondisi lapangan.

3.2. Pengumpulan Data dan Sumber Data
Data yang diambil untuk bahan analisis terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang dikumpulkan secara langsung dari lapangan. Pengumpulan data primer ini dilakukan dengan melihat gambaran secara lengkap tentang tegakan dalam satuan pengelolaan kawasan hutan. Parameter yang diukur yaitu tentang tinggi pohon, diameter setinggi dada, diameter tajuk maksimal, dan koordinat pohon.
3.2.1. Pengukuran Tinggi Pohon
Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan hagameter yang menggunakan prinsip trigonometri. Pengukuran dimulai dari pangkal pohon yang berbatasan langsung dengan tanah sampai pada tajuk paling tinggi.

Gambar 3.1. Sketsa Cara Pengukuran Dengan Hagameter


Pengukuran tinggi pohon dengan hagameter dihitung dengan rumus:



Keterangan:
tinggi pohon diukur mulai dari tinggi mata pengamat
tinggi total pohon mulai pangkal sampai pucuk pohon
sudut yang tertera pada hagameter
jarak antara pohon dengan pengamat
Alasan pemilihan alat ini adalah keakuratannya tinggi dan pengukuran jarak horizontal dari pohon ke tempat pengukuran tidak mengalami kesulitan yang berarti pada hutan tanaman Jati.

3.2.2. Pengukuran Diameter Batang Pohon
Pita ukur merupakan alat yang paling sederhana dan pertama kali dipakai untuk mengukur diameter pohon. Alasan penggunaan pita ukur ini karena murah dan mudah dibawa. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat atau memilih pita ukur sebagai alat pengukur diameter adalah : elastis tetapi tidak mudah terpuntir atau tertekuk, tidak berubah dimensi memanjangnya (tidak molor), tanda dan angka-angka yang tertulis padanya tidak mudah hilang. Kesalahan pengukuran diameter pohon dengan pita ukur yang sering terjadi adalah :
1. Posisi pita ukur bergelombang ke atas dan ke bawah, tidak terletak pada satu bidang dasar horizontal
2. Pita ukur dalam posisi terpuntir
3. Pita ukur tidak merapat melingkar mengikuti permukaan batang (terpatah-patah) karena terbuat dari bahan yang kurang elastis
4. Bentuk batang tidak silindris sehingga bentuk penampang lintang pohon merupakan elips, bukan lingkaran
Pengukuran diawali dengan mengukur keliling batang setinggi dada (1,3 m), dilanjutkan dengan menghitung diameter batang pohon dengan menggunakan rumus :

Dimana:
diameter pohon (m)
3.14


3.2.3. Pengukuran Diameter Tajuk
Pengukuran diameter tajuk ini akan mengalami kesulitan kalau kita mengukurnya secara langsung. Cara yang paling mudah dengan mengukur bayangannya di atas tanah dengan meteran. Kelemahannya ketika suaca mendung, bayangan itu tidak akan nampak. Kita juga dapat mengukurnya dengan menjulurkan galah pada tajuk terluar dan mengukur jaraknya dari pohon.
3.3. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan setelah semua data yang dikumpulkan baik data sekunder maupun data primer terkumpul. Pengolahan data meliputi pengelompokan data menurut klasifikasi dan kebutuhannya, kompilasi data dan tabulasi data. Pengolahan data ini mempunyai tujuan untuk mempermudah dalam kegiatan analisis data.
Tujuan dari hasil penelitian ini adalah menentukan indeks kompetisi tajuk pohon pada hutan tanaman monokultur sama umur. Study kasus ini dapat digunakan untuk mencari metode penentuan indeks kompetisi ruang tumbuh tiap individu pohon yang dapat dipakai untuk menerangkan pertumbuhannya. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu beberapa langkah analisis yang ditempuh, antara lain sebagai berikut:
1. Perhitungan Proyeksi Luas Tajuk Aktual
2. Perhitungan Proyeksi Irisan Tajuk
3. Perhitungan Proyeksi Luas Tajuk Referensi Sudut Buka

3.3.1. Perhitungan Proyeksi Luas Tajuk Aktual
Dalam penelitian ini luas tajuk aktual diperoleh dari proyeksi lebar maksimal tajuk hasil pengukuran di lapangan yang dirumuskan dengan :
Luas tajuk
dimana :
= 3,14
d = diameter maksimal tajuk = lebar maksimal tajuk
dari rumus di atas dapat digunakan sebagai dasar untuk perhitungan irisan tajuk pohon.

3.3.2. Perhitungan Proyeksi Irisan Tajuk
Ruang tumbuh tiap pohon dapat dihitung dengan akurat apabila koordinat tiap pohon diketahui. Dari koordinat tersebut akan dihasilkan jarak antar pohon (C). Daerah overlap yang merupakan irisan dari dua atau lebih tajuk pohon, dalam hal ini diidentikkan berbentuk lingkaran dengan koordinat letak pohon sebagai titik pusatnya. Apabila jumlah jari-jari dua batang pohon (R + r) tersebut lebih besar dari jarak antar pohonnya maka dua pohon tersebut saling berkompetisi.

Gambar 3.2. Sketsa Dua Tajuk Yang Saling Beririsan


Pada kenyataannya di lapangan, daerah irisan ini hampir sebagian besar beririsan lebih dari dua lingkaran, sehingga menyulitkan dalam perhitungan secara matematis. Maka digunakanlah program soft ware ArcView 3.3 untuk menghitung luas irisan lingkaran yang merupakan daerah overlap dari proyeksi tajuk teoritis dengan proyeksi tajuk aktual. Pengukuran luas irisan ini dilakukan dengan terlebih dahulu membuat gambar proyeksi tajuk dengan menggunakan soft ware CorelDraw 11.

3.3.3. Perhitungan Proyeksi Luas Tajuk Teoritis
Perhitungan indeks kompetisi tajuk dalam penelitian ini menggunakan 4 referensi bukaan tajuk sebagai luas teoritis bagi tiap individu pohon. Perhitungan luas tajuk dapat dilakukan melalui 4 cara, antara lain:

a. Luas Tajuk Berdasarkan Referensi Tabel W.v.W.
Kompetisi ruang tumbuh secara sederhana dapat dinyatakan dalam jarak rata-rata mutual antar pohon (Sm) dan dinyatakan secara relatif dalam persen (%) terhadap peninggi. Dimana jarak rata-rata mutual antar pohon teoritis dapat dicari dengan bantuan tabel W.v.W yang parameter pembukanya berupa umur dan peninggi. Perhitungan jarak rata-rata mutual antar pohon teoritis dirumuskan:
Sm = (S% X Oh) : 100

Selanjutnya ruang tumbuh yang optimal untuk individu pohon selanjutnya dapat digambarkan dalam bentuk lingkaran dengan pusatnya pohon tersebut dan diameter sebesar Sm. Ruang tumbuh teoritis ini selanjutnya akan dipakai untuk menghitung indeks kompetisi tiap pohon.

b. Perhitungan Luas Tajuk Berdasarkan Referensi Sudut Buka 5,625o, 7,5o dan 11,25o
Kompetisi pohon dapat juga diturunkan dalam sudut buka tajuk dalam menangkap sinar matahari. Sementara besarnya sudut buka teoritis sangat tergantung dari umur dan kelas tapak. Dalam penelitian ini digunakan 3 alternatif sudut buka, yaitu 5,625o, 7,5o dan 11,25o. Pemilihan ketiga sudut buka ini dengan mempertimbangkan posisi koordinat pohon, lebar tajuk maksimalnya dan sudut buka dari referensi tabel W.v.W. Dari sudut buka yang ditentukan tersebut dapat diproyeksikan menjadi ruang tumbuh teoritis. Untuk mengetahui luas ruang tumbuh teoritis tersebut perlu diketahui koordinat pohon dan tinggi masing-masing pohon. Adapun tinggi masing-masing pohon ini bisa berupa tinggi total masing-masing pohon inti atau peninggi. Dengan demikian masing-masing pohon pada unit pengukuran dapat dihitung nilai indeks kompetisi ruang tumbuhnya.
(1). Perhitungan Luas Tajuk Berdasarkan Referensi Sudut Buka (5,625o, 7,5o dan 11,25o) dan Referensi Tinggi Tiap-Tiap Pohon Inti
Menurut perhitungan teoritisnya, luas tajuk pohon dapat dirumuskan sebagai berikut: Luas tajuk
dimana jari-jari (r) tajuk pohon dapat diketahui berdasarkan rumus sebagai berikut: , sehingga:
keterangan: sudut buka (5,625o, 7,5o dan 11,25o)
= jari-jari tajuk
tinggi pohon
Gambar 3.3. Sketsa Pohon Menggunakan Tinggi Masing-Masing Pohon


(2). Perhitungan Luas Tajuk Berdasarkan Referensi Sudut Buka (5,625o, 7,5o dan 11,25o) dan Referensi Peninggi Pohon
Menurut perhitungan teoritisnya, luas tajuk pohon dapat dirumuskan sebagai berikut: Luas tajuk
dimana jari-jari (r) tajuk pohon dapat diketahui berdasarkan rumus sebagai berikut: ,sehingga:

keterangan:
sudut buka (5,625o, 7,5o dan 11,25o)
= jari-jari tajuk
peninggi
Gambar 3.4. Sketsa Pohon Menggunakan Peninggi Pohon


3.4. Analisis Data
Analisis kuantitatif pertumbuhan adalah gambaran pertumbuhan tanaman secara kuantitatif dan peristiwa-peristiwa yang mendukung proses pertumbuhan tersebut dan dapat diketahui lebih jelas. Pemahaman akan pertumbuhan tanaman yang lebih baik akan menjadi modal penting dalam upaya penanganan tanaman dan lingkungannya untuk mendapatkan suatu hasil yang lebih tinggi.
Data peninggi (Oh) dan umur dipakai untuk mendapatkan nilai indeks kualitas tapak atau bonita menurut tabel W.V.W. Selanjutnya data peninggi dan S% digunakan sebagai referensi untuk mendapatkan jarak mutual antar pohon (Sm) dengan persamaan:
Sm = (S% x Oh):100
Dimana: Sm : Jarak antar pohon berdasarkan referensi Tabel W.v.W.
S% : Jarak ruangan relatif, yaitu jarak rata-rata antara pohon-pohon, dinyatakan dalam % an dari peninggi/Opperhoogte
Oh = Opperhoogte = peninggi : yaitu rata-rata aritmetik dari tinggi 100 pohon tertinggi per Ha, yang harus tersebar rata pada luas yang bersangkutan
Sm adalah jarak antar pohon teoritis atau ruang tumbuh teoritis yang dibutuhkan sebatang pohon untuk tumbuh dan berkembang secara optimal menurut kaidah yang dipergunakan pada Tabel W.v.W. Nilai Sm selanjutnya dipakai untuk menilai jarak relatif antar pohon observasi yang diperoleh dengan memanfaatkan data letak pohon.
Data letak pohon dan tinggi pohon juga dapat dipergunakan untuk menghitung sudut buka pohon di dalam menangkap sinar matahari. Besarnya sudut buka teoritis sangat tergantung dari umur dan kualitas tapak. Untuk daerah tertentu sudut buka telah ditentukan sebesar 30o. Dalam penelitian ini akan dicoba digunakan tiga alternatif sudut buka, yaitu 5,625o, 7,5o dan 11,25o. Dari sudut buka yang ditentukan tersebut dapat diproyeksikan menjadi ruang tumbuh teoritis. Dengan demikian masing-masing pohon pada unit pengukuran akan dapat dihitung nilai indeks kompetisi ruang tumbuhnya. Nilai indeks ini diperoleh dari luas area overlap dibagi dengan luas area ruang tumbuh teoritis.
Dirumuskan:
Nilai indeks = luas area overlap : luas area ruang tumbuh teoritis
Kemudian nilai indeks kompetisi tajuk yang dihasilkan, secara sederhana dapat dikelompokkan dalam 3 kelas, yaitu: kelas ringan, kelas sedang, dan kelas berat. Nilai indeks kompetisi tajuk 0 – 0,33 termasuk kelas ringan, nilai indeks kompetisi tajuk 0,34 – 0,67 termasuk kelas sedang, dan nilai indeks kompetisi tajuk 0,68 – 1 termasuk kelas berat.



Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: METODE PENELITIAN index kompetisi tajuk jati - 9756people
Info Petani -
PETANI LADA (Piper nigrum L.)
Tanaman lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu komoditas tanaman rempah yang hanya dapat tumbuh di daerah tropis. Tercatat Indonesia merupakan salah satu negara penghasil lada terbesar selain Brazil, Vietnam, Srilanka, China dan Malaysia. lada merupakan komoditas penghasil devisa no-6 setelah karet, sawit, kopi, teh, dan coklat. kebutuhan dunia terhadap lada terus meningkat. Indonesia tanaman lada penting artinya bagi petani pekebun terutama di daerah sentra lada yang saat ini adalah di Bangka Belitung untuk lada

putih, di lampung untuk lada hitam, dimana kedua daerah ini merupakan pusat pertanaman lada di be;ia disamping itu terdapat juga di berbagai daerah lain yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah. Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan lainnya.
Tanaman lada dapat tumbuh di daerah tropis yang beriklim panas dan lembab. Suhu minimal
20 derajat Celsius dan kelembaban antara 50-100%. mm yang sesuai di Indonesia adalah pulau Suma dengan
curah hujan yang dikehendaki tanaman rata-rata 2.300 mm/tahun. Tanaman lada dapat tumbuh dengan baik dengan penyinaran sinar matahari tidak lebih 10 jam per hari.
Di pasar dunia komoditas lada sebagian besar diperdagangkan dalam bentuk lada putih dan lada hitam butiran dan jumlah kecil dalam bentuk
lada bubuk, lada hijau serta minyak lada Ekspor lada dari Indonesia baru memanfaatkan pasar lada putih, lada hitam dan lada bubuk. Komoditas lada merupakan salah satu komoditas yang memiliki nilai strategis, karena hampir seluruh pengusahaannya dilakukan dalam bentuk perkebunan rakyat.
Negara utama tujuan ekspor produk lada Indonesia adalah Singapura, USA, Jerman, Netherland, Perancis, dsb. Untuk dapat tetap bersaing
dengan negara-negara penghasil lada lainnya maka perlu sekali diperhatikan masalah mutu
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: PETANI LADA (Piper nigrum L.) - 9756people
Info Petani -
TERIMA KASIH UNTUK SELURUH THL TBPP SE-INDONESIA
Forum Silaturahmi Nasional (FSN) THL TBPP telah selesai dilaksanakan dengan sukses. Kesuksesan acara FSN THL TBPP tidak lepas dari peran serta teman-teman THL TBPP diseluruh penjuru Nusantara. Oleh karena itu seluruh Panitia FSN THL TBPP mengucapkan Terima Kasih atas dukungan dan partisipasi teman-teman THL TBPP. Mari bersama menuju THL TBPP yang LEBIH BAIK. @PANITIA FSN THL TBPP
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: TERIMA KASIH UNTUK SELURUH THL TBPP SE-INDONESIA - 9756people
Info Petani -
DEBT TO NATURE SWAPS SEBUAH SOLUSI BAGI INDONESIA
Menyadari sifat terpadu dan saling terkait yang melekat pada bumi diperlukan langkah-langkah untuk menyelamatkan lingkungan bumi bersama-sama. Pertemuan Rio de Janeiro (Konperensi Tingkat Tinggi Bumi) menetapkan serangkaian asas sebagai pedoman
pembangunan di masa mendatang. Asas-asas ini menetapkan hak-hak manusia atas pembangunan, dan tanggung jawab manusia terhadap pelestarian linglqngan bersama- fuas-asas ini berlandaslcan gagasan dari Deklarasi Stockholm saat berlangsungnya Konperensi Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Lingkungan Hidup Manusia tahun 1972. Deklarasi Rio menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk mencapai kemajuan ekonomi jangka panjang ialah dengan mengkaitkannya dengan perlindungan lingkungan. Hal ini hanya dapat terjadi bila bangsa-bangsa menjalin kemitraan global yang baru dan adil yang melibatkan pemerintah, rakyat dan sektor-sektor kunci dalam masyarakat. Dari sini kemudian berkembanglah pemikiran tent ang debt to nature swaps atau
yang disingkat dengin program DNS. Pertama kali muncul ketika terjadi kriisis di Amerika Latin, kemudian negosiasi pertama kali terjadi antara pemerintah Amerika Serikat dengan pemerintah Bolivia pada tahun 1987, dan telah berkembang dengan menghasilkan dana
sebesar 2 miliar dolar AS untuk kegiatan konsenrasi dan pembangunan pada 30 negara di dunia. Sekarang ini sudah banyak negara yang
melakukan hal yang sama misalnya Perancis, Kanada, Jepang, Belgia, dan lain-lain.
Mekenisme yang berupa dedt for nature swaps merupakan mekanisme pendanaan konservasi dengan mengalihkan kewajibanpembayaran utang yang dimiliki suatu negara menjadi dana untuk pengdolaan konservasi di negara yang bersangkutan Pada dasarnya debt-for-nature swaps adalah pembatalan utang luar negeri dimana negara debitur memberikan komitmen untuk memobilisasi sumber karangan domestik untuk kegiatan konservasi yang berfungsi sebagai sarana pendanaan bagi perlindungan alam. Program ini merupakan salah satu instrumen
pendanaan konservasi dengan jalan menghapuskan utang yang dimiliki suatu negara dan mengubahnya menjadi dana domestik untuk konsmnsi atau urtukpengelolaan pembangunan dan konservasi terpadu.
Dalam beberapa kasus yang melalui pertukaran melalui mekanisme debt-for-nature swaps, bank-bank kreditur akan menjual utang-utang tersebut ke pasar utang sekunder internasional. Penjualan ini diikuti dengan potongan yang tinggi karena, kecilnya kemungkinau pembayaran dapat dilakukan secara penuh. Suatu organisasi konservasi akan membeli utang suatu negara yang telah diberikan potongan dari suatu bank. Utang tersebut pada akhirnya akan dihapus bila negara yangbersangkutan bersedia memberikan bayaran secara tahunan, dengan mata uang setempat, bagi kegiatan kon-servasi. Dalam kasus lain, negara-negara kreditur yang memiliki piutang langsung terhadaP negara berkembang dapat menghilangkan sebagian prosentase utang bila negara debitur bersedia menyumbang ke dana NEF atau kegiatan-kegiatan-konservasi.
Mekanisme DNS Debt-for-nature swaps merupakan mekanisme pendanaan yang potensial untuk penanganan masalah konservasi, hal
ini disebabkan mekanisme ini dapat mengurangi utang suatu negara dan berperan memperkuat ekonomi dengan mengurangi kemungkinan adanya eksploitasi yang berlebihan terhadap sumberdaya alam. Beban utang yang besar akan menyebabkan eksploitasi sumberdaya
alam 1lang berlebihan tanpa mengindahkan aspekkelestarian. Pengurangan beban utang
akan men-gurangi tekanan tersebut.
Mekanisme ini akan mengubah kewajiban
utang luar negeri menjadi sumbangan
domestik untuk konservasi, dan menjamin
kebutuhan pendanaan untuk aktifitas
pengelolaan kawasan lindung. Kelebihan
lain dari mekanisme ini adalah bahwa uang
yang berupa mata uang asing (hard currency)
dikonversi ke dalam mata uang lokal (local(currency) sehingga dapat menghemat devisa,
serta mendorong prioritas investasi.
Dalam DNS sendiri ada mekanisme
yang dapat dilakukan yaitu mekanisme
triparty (tiga pihak) terhadap utang
pemerintah, mekanisme triparty terhadap
utang sektor swasta, dan mekanisme bilateral
antar dua negara. Tetapi pada dasarnla
keseluruhan mekanisme tersebut
merupakan solusi yang ideal, karena
memberikan kepada tiga pihakpng terlibat,
posisi sama-sama menang (win-win solutions).
Kebanyakan DNS yang dilakukan oleh
organisasi-organisasi konserr"asi adalah DNS
secara triparti yang melibatkan utang luar
negeri komersial yang dimiliki oleh
pemerintah. Tahap pertama dalam DNS
triparti adalah investor konseryasi membeli
utang luar negeri pada harga diskon dari
nilai utang orisinil dengan pendanaan fang
diperoleh dari donor, baik dari pemerintah maupun dari sektor swasta,
atau mengupayakan bantuan
dari kreditur. Investor
konservasi kemudian
bernegosiasi secara terpisah
dengan pemerintah debitur
untuk'pembatalan' utang
dan menggatrtikannya
dengan sebuah komitmen
untuk mendanai proyek
konservasi, atau memberi
perlindungan yang tinggi terhadap
sebuah areal dengan
nilai keanekaragrman hayati
yang tinggi. Tahap
selanjutnya, investor
konservasi melaksanakan
proyek dengan
menggunakan dana mata
uang lokal yang telah
dialokasikan dari hasil
transaksi DNS. Biasanya,
pemerintah debitur memantau pengeluaran
yang berhubungan dengan konversi utang
tadi untuk meyakinkan bahwa kesepakatan
konservasi utang yang telah disetujui benar-benar dilaksanakan.
Mekanisme di atas juga sama untuk
kasus DNS triparty yang melibatkan utang
sektor swasta. Hanya saja sektor swasta
membayar kepada investor konservasi baik
secara tunai maupun dalam bentuk aset.
Dalam skema DNS antar sektor swasta,
pemerintah tidak memainkan peranan
kunci, kecuali jika dibutuhkan kejelasan
tentang aset yang akan ditransfer untuk
transaksi DNS ini , misalnya tanah.
Dalam skema DNS bilateral,
pemerintah kreditur membatalkan utang
negara debitur. Sebagai gantinya,
pemerintah debitur menyisihkan dana
untukuntuk tujuan-tujuan yang telah ditentukan bersama. Jumlah uang dalam mata uang
lokal yang dihasilkan dari DNS
ini merefleksikan diskon dari
nilai utang orisinil dari debitor. Tingkat
diskon ini teqgannmgnde hasil ne-gosiasi
antara dua negara Dahmbeberapa kasus,
pembayaran kembdi dch negara debitur
tanpa mendapatkan 100 persen
pembayaran kembeli dalam mata uang
lolol
Harus bunr-buru tita catat bahwa
PeneraPtrn DNS hin8E kini tidak dapat
dilakukan dalam nhme miliaran dolar.
Namun, sodildt pun penghapusan
utang rang d4d rfihhrkan melalui DNS,
tetap akan mengurangi tolume utan 8. Iadi,
jangan timbul an88zlnn $61ala DNS akan
menjadi senjata yang ampuh untuk
menyelesaikan sebagian besar dari pinjaman
kita dari luar negeri.
Sebagai gambaran tentang hutang luar
negeri Indonesia adalatr Utangluar negeri
swasta posisi pada 30 Juni 1998 berjumlah
$ 7 6.a69 juta dolar AS yang mehPuti utang
perusahaan $ 63.209 juta dolar AS, utang
bank $ 7.655juta dolar AS dan sekuritas
(non-residen) $ 5.605 juta dolar AS. Dari
jumlah $ 76.469 juta dolar AS tersebut
sekitar 17,5 o/o merupakan utang ia"gka
pendek, selebihnya berjangka menengah
dan panjang. Adapun sebagai pembading
seluruh utang luar negeri Indonesia pada
posisi waktu yang sama adalah $140.610
juta dolarAS. Kemudian dariformat DNS
sejak program ini dinegosiasikan pertama
sekali di Bolivia pada tahun 1987, Pro$am
ini telah menghasilkan dana sebesar 2 miliar
dolar AS untuk kegiatan konservasi dan
pembangunan pada 30 negara di dunia.
Sehingga sangatlah kecil jika anda
bandingkan dengan kemungkinan
kontribusi dalam pembayaran hutang luar
negeri indonesia.
Walaupun begitu banyak keuntungan
yang dapat diperoleh. Pihak penerima
pinjaman (debitor) utangnya dihapuskan,
pihak pemberi pinjaman (kreditor)
memperoleh kembali sebagian dari
piutangnya dan pihak ketiga (lembaga
konservasi, investor,misalrya, WWF Indonesia)
yang menjembatani keduanya
memperoleh dana untuk meneruskan
kegiatan pelestarian dan konservasi
alamnya.
Khususnya bagi Pihak debitor,
penghapusan uteng akan mendukung
kegiatan konservasi dan
pembangunan, yang pada
gilirannya akan memberi
sumbangan terhadap pemulihan
ekonomi. Di samping terbuka
kesempatan melakukan
pembapran kenrbali utang dalam
mata uang lokal, yang berarti
menghemat devisa yang akan
meningkatkan investasi di bidang
konsenasi dan panbangunan serta
mendorong pelaksanaan yang
desentralistis terhadap proyekproyek
konservasi dan
pembangunan
Dampaknya buat Indonesia
IGisis ekonomi saat ini juga
telah mengakibatkan terjadinya
penurunan terhadap anggaran
pengdolaan kawasan konserrasi di
Indonesia. Selama j""glo waktu
19931 1994 sampai 1997 I 1998,
Pemerintah Indonesia telah
mengalokasikan sumber daya
keuangan untuk kegiatan
pengelolaan 36 taman nasional
sebesar Rp 95,5 miliar. Sebanyak
Rp 13,8 miliar di antaraqra diterima dalam
bentuk bantuan telnis dan keuangan dari
sumber bantuan luar negeri. Untuk
anggaran 199811999 telah terjadi
penurunan anggaran hingga 30 persen.
Bayangkan jika dari program DNS tersebut
hanya mampu memberikan alokasi dana
sebesar 2 juta US dollar saja (kurang lebih
eebesar 20 mitfar rupiah), akan sangat berarti
bagi program konserrasi di Indonesia.
Dari seg dukungan kegiatan konservasi,
DNS akan sangat positif diterapkan di
Indonesia karena secara signifikan ia akan
membantu mobilisasi sumber daya
keuangan domestik dalam mendukung
kegiatan pelestarian alam. Krisis ekonomi
saat ini jugatelah memunculkan tekanantekanan
baru terhadap taman nasional yang
memperhebat ancaman dan gangguan
keutuhan dan fungpinya. Diperlukan sumber
dap keuangan untukmengurangi kegiaan
kontra produktif ini, jelas akan makin
meningkat. Dan keperluan ini tentu sulit
diimbangi oleh pemerintah, mengingat
banyaknya keperluan dana untuk
menyediakan subsidi bagi masyarakat,
tenrtama melalui program jaring Pengaman
sosial (social safety net).
Dengan demikian, walaupun Peran
DNS tidak terlalu signifikan terhadap
pengurangan utang luar negeri In-

Dengan DNS, Indonesia
tak perlu repot-repot
melunasi utangnya tapi
cukup mengalitrkan
kewajiban pembayaran
utang yang dimilikinya
menjadi dana untuk
pengelolaan konservasi
donesia, tetap peranannya dalam
menggalang pendanaan bagi kegiatan
konservasi sangat signifikan. Sebutlah,
jumlah 5 juta dolar AS saja sudah culup
signifikan dalam mendukung kegiatan
konsenrasi apalagi jika jumlahnya miliaran
dolar
Mungkin alasan di atas )tang
menyebabkan tarik ulur tentang DNS sulit
dipecatrkan. Tetapi masih ada beberapa problem yang menjadi ganjalan. Masalah yang
dihadapi dalam deb for swaps adalah
mekanisme ini cukup rumit Pelaksanaannya
dan masih sulit di negosiasikan
karena mekanisme yang baru, sementara
kebanyakan negara yang memiliki utang
memiliki kemampuan finansial yang lemah
dan kondisi politik yang belum stabrl. Debt
atau utang mekanisme
penghapusannya dan jvga
alam (nature) yang dimaksud
dalam.anekanisme ini belum jelas
fenis utang apakah seluruh
utang baik utang swasta maupun
pemerintah ataukah hanya salah
satunya; sifrt pinjamannya apakah
pinjaman lunak atauloh pinjaman
kmsit serta apakah hanya utang
yang digunakan untuk kegiatan
yag tedoit denngan pemanfaatan
sumber&ya dam. Mekanisme
penghapusan atau pengalihan
utary iuga pedu dijabarkan lebih
detail, apakah perlu dibentuk
lembaga tersendiri untuk
mengelola mekanisme ini, berapa prosentase
besarnya utang dan sebagainya.
Selanjutnya dalam hal
pemanfiatannya, untuk kegiatan
apa saja dan tersebut, apakah
hanya untuk lagiatan re-habilitasi
lingkungan, pengendalian
kerusakan ataukah seluruh
kegietan konservasi png lokasinya
di dard, di hut mrupun di udara.
Selain itu bentuk mekanisme ini
t€rganftng dari kescpakatan antara pihak
kreditur dan debitur. Bila pihak kreditur
tidak bersedia memberikan potongan
besarnya uang maka besarnya utang yang
diang-gungpihak dSitur sehnarnya sama
saja, hanya jenis mata uangl'a sajaberupa
mata uang lokal setringga tidakbapengaruh
gejolakkurs di pasar uang.
Urgensi menghapus utang untuk
mdesarikan sumber daya alam tergantung
kepada keinginan pihak-pihak yang terkait
dalam transalsi DNS. Dan DNS sendiri
btrkanlah solusi untuk menangulangi lqisis
ekonomi Indonesia dewasa ini, dan juga
btrkan perdagangan utang untuk
kedaulatan atas pengelolaan
alam. Tetapi sebuah dternatif pemecahan
rnasalah.
Disinilah kemudian kita harus mulai
berpikir, seperti sebuah ungkapan yang
berbunyi " ketika sebuah masalatr bukan lagi
hitam dan putih, maka kearifrn png harus
berbicara". Dan sekali lagi mungkin masih
lama kita akan melihat huan-hutan kita
kembali hijau.
Singgih
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: DEBT TO NATURE SWAPS SEBUAH SOLUSI BAGI INDONESIA - 9756people
Info Petani -
BAGAIMANA MENGAKTUALISASIKAN POTENSI DIRI SEBAGAI THL-TBPP?
Sejak tahun 2007 hingga tahun 2009 ini Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian (Deptan) RI, telah merekrut Tenaga Harian Lepas - Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) sebanyak 3 gelombang perekrutan. THL-TBPP 2007 (Angkatan I) telah direkrut sebanyak sekitar 6000 orang, disusul THL-TBPP 2008 (Angkatan II) sebanyak 10.000 orang, dan terakhir THL-TBPP 2009 (Angkatan III) sebanyak 10.000 orang. Proyek besar ini adalah sebagian implementasi dari Revitalisasi Pertanian dan Undang-undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (UUSP3K). Evaluasi terakhir dari Badan Pengembangan SDM Pertanian Deptan cukup memberi kabar gembira bagi kita para THL-TBPP, bahwa sekitar 88% THL-TBPP Angkatan I dan II telah menunjukkan kinerja yang baik. Realitas ini semoga mampu memberi efek umpan balik (motivasi) yang sangat baik bagi kita, namun sebaiknya kita jangan cepat berpuas diri sehingga membuat kita terbuai dan lalai.

Sebagai ujung tombak pembangunan pertanian, tugas dan tanggung jawab THL-TBPP yang merupakan bagian dari jajaran penyuluh pertanian sungguh berat. Di beberapa daerah, seperti di Kabupaten Probolinggo - Jawa Timur, Pemerintah Daerah - dalam hal ini Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluihan Pertanian (BKP-PPP) - telah memberikan perlakuan yang sama antara Penyuluh Pertanian PNS dan THL-TBPP dalam hal tanggung jawab pelaksanaan tugas. Sebagaimana Penyuluh Pertanian PNS, THL-TBPP menerima Surat Perintah (SP) untuk melaksanakan tugas dengan wilayah desa binaan yang telah ditentukan dengan tanggung jawab penuh dan dimulai sejak tahun pertama bertugas. Hal ini merupakan penghargaan yang patut kita syukuri, sekaligus merupakan tantangan yang harus kita jawab. Pertanyaannya adalah mampukah kita sebagai THL-TBPP (terutama THL-TBPP 2009) mengemban amanat SP itu? Jawabannya sudah tentu: Harus mampu (baca : Harus bisa)!

Bagaimana Memulai Tugas?

Sebagai THL-TBPP kita telah melewati tahapan rekrutmen yang cukup ketat dan menyisihkan begitu banyak pesaing, yaitu peserta THL-TBPP yang lain. Hal ini berarti seorang THL-TBPP layak dianggap telah memiliki standar minimal kemampuan atau kompetensi sebagai seorang penyuluh pertanian. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa para THL-TBPP berangkat dari pengalaman yang beragam sebelum menjadi THL-TBPP. Sebagian dari kita mungkin banyak yang sudah terbiasa berbicara di depan forum pertemuan, karena sebelumnya telah memiliki pengalaman dalam organisasi, menjadi guru, bekerja sebagai formulator pestisida atau berbagai bentuk pekerjaan pendampingan lainnya. Bagi THL-TBPP yang termasuk dalam kelompok ini relatif tidak sulit untuk menyesuaikan diri ketika menghadapi tugas-tugas penyuluhan dalam pertemuan-pertemuan kelompok tani. Tapi tidak sedikit pula THL-TBPP yang pekerjaan sebelumnya tidak terkait dengan pendampingan masyarakat atau bahkan belum memiliki pengalaman pekerjaan/berorganisasi sama sekali. Bagi THL-TBPP yang tergolong dalam kelompok ini, menghadapi forum petani boleh jadi merupakan beban tersendiri. Sebagai bentuk empati, tulisan ini lebih ditujukan kepada THL-TBPP kelompok kedua di atas.

Segala Sesuatu Terjadi Melalui Proses

Ketika menyadari bahwa menghadapi forum petani masih merupakan beban, patutkah kita berkecil hati? Lalu apa yang harus kita lakukan? Pertama, tentu kita harus memotivasi diri kuat-kuat bahwa segala sesuatu itu berproses alias tidak terjadi secara instan. Seperti tanaman yang sedang tumbuh dan berkembang. Seperti bayi yang merangkak, belajar berdiri, belajar berjalan, dan selanjutnya berlari. Seperti kita semua, ketika belajar bersepeda pancal dulu. Ada proses jatuh bangun dan itu lumrah.
Salah satu tupoksi penyuluh pertanian (termasuk THL-TBPP) adalah menyampaikan informasi yang terkait dengan teknologi pertanian dan pemasaran serta memberi motivasi kepada petani dalam menjalankan usaha taninya. Posisi dan fungsi penyuluh pertanian dalam hal ini adalah sebagai jembatan informasi antara peneliti (para ahli) dan praktisi (para petani). Dengan demikian salah satu tugas penting seorang penyuluh pertanian adalah mengkomunikasikan informasi yang diperoleh atau dimilikinya kepada petani dalam bahasa dan gaya penyajian yang mudah dicerna oleh mereka. Dalam konteks ini slogan 'diam itu emas' bukanlah ungkapan seorang petugas lapangan. Seorang penyuluh pertanian dituntut untuk cakap, lugas dan cermat dalam berbicara di depan forum serta piawai dan sistematis dalam membuat tulisan (menyusun materi penyuluhan). Inilah target utama yang harus kita capai secepatnya di masa-masa awal bertugas. Bagaimana cara menuju ke sana?

Gunakan Setiap Sarana dan Peluang Yang Memungkinkan Untuk Berlatih

Menjadi penyuluh pertanian yang ideal tentu bukan pekerjaan yang mudah. Menjadi pembicara atau penulis yang handal dan menarik tidaklah muncul secara tiba-tiba. Tetapi dengan kemauan, tekad dan kesungguhan dalam berlatih, semua itu akan dapat kita capai. Kita perlu menganggap tahun pertama bertugas menjadi THL-TBPP sebagai tahun "pelatihan", tetapi dengan semangat berlatih yang sungguh-sungguh, tertata dan sistematis sehingga tidak sampai merugikan petani sebagai mitra kita. Harus ada tahapan target pribadi dalam hal mengasah kemampuan dan keterampilan. Berikut ini beberapa tip yang bisa digunakan untuk meng-up grade kemampuan kita :

1. Kita perlu menemukan sosok penyuluh pertanian senior (PNS) sebagai panutan atau rujukan selama kita "memproses diri". Amati dan cermati gaya dan langgam berbicaranya ketika sedang memberikan penyuluhan di depan forum petani. Tetapi ingat, kita hanya merujuk, bukan untuk meniru total gaya senior itu. Target pertama yang harus kita capai adalah memiliki gaya dan langgam berbicara yang khas dan menarik. Ini potensi yang unik. Kita harus mengenali diri sendiri, menemukan potensi diri dan selanjutnya menjadi diri sendiri, termasuk dalam hal gaya berbicara.

2. Biasakan menulis atau menyiapkan materi yang akan disajikan berikut ringkasannya. Pentingnya tulisan adalah sebagai panduan agar pembicaraan kita terarah dan runtut. Selain itu, kebiasaan menulis materi akan memberi keuntungan pada saat kita mengumpulkan angka kredit. (Semoga akan tiba saatnya di mana kita semua, para THL-TBPP mendapatkan kesempatan untuk menjadi PNS. Amin). Bobot angka kredit untuk item tulisan materi cukup tinggi.

3. Manfaatkan sarana kegiatan Pelatihan Petugas (LAKU) di BPP masing-masing sebagai sarana berlatih secara maksimal. Kegiatan LAKU yang diselenggarakan 2 minggu sekali pada setiap hari Kamis merupakan media berlatih yang efektif. Karena itu jangan takut dan ragu dalam berlatih. Lebih baik kita ditertawakan teman kerja (kantor) daripada ditertawakan petani.

4. Perkaya perbendaharaan pengetahuan kita dengan sebanyak-banyaknya mengakses informasi-informasi terbaru yang terkait profesi, baik lewat media cetak maupun elektronik.

Sebagaimana pepatah mengatakan tak ada gading yang tak retak, begitu pula kiranya dengan kita. Tak ada petugas lapangan (penyuluh pertanian) yang sempurna. Masing-masing kita lahir dengan potensi atau bakat yang khas. Tugas kita hanyalah terus berlatih untuk mengaktualisasikan potensi itu secara maksimal. Sekali lagi, jangan pernah surut langkah dan berkecil hati. Kita adalah orang-orang yang terpilih untuk mengemban tugas menjadi THL-TBPP. Selamat bekerja, selamat berlatih. Semoga sukses selalu menyertai dan masa depan yang baik akan menyambut kita, Saudara-saudaraku, THL-TBPP se-Indonesia.

Harapan Pada Pemerintah

Paparan tulisan singkat ini setidaknya memberikan gambaran kepada kita semua bahwa tidak mudah dan butuh proses cukup panjang untuk mencetak seorang penyuluh pertanian yang handal. Dengan asumsi seorang penyuluh pertanian baru (dalam hal ini THL-TBPP) memanfaatkan tahun pertamanya bertugas untuk melatih diri, maka baru pada tahun kedua atau ketiga penyuluh pertanian tadi akan memiliki performa yang selayaknya. Maka dapat kita simpulkan bahwa rata-rata penyuluh pertanian atau petugas lapangan baru akan "jadi" dalam rentang waktu 2 atau 3 tahun.
Terkait dengan kebijakan Pemerintah, dalam hal ini Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Men PAN) tentang periode maksimal masa kontrak yang hanya 3 kali masa kontrak, maka sungguh ironis ketika seorang THL-TBPP yang sudah "jadi" pada tahun ke-tiga itu justru kontraknya diputus. Akal sehat tentu lebih menyetujui jika THL-TBPP tadi lebih patut ditingkatkan statusnya atau sekurang-kurangnya kontraknya diperpanjang. Menjelang akhir dasawarsa ini, si saat dunia ditimpa krisis pangan, Pemerintah Indonesia justru mendapatkan apresiasi khusus dalam forum FAO di bidang ketahanan pangan. Ini prestasi pemerintah, prestasi Deptan, dan tentunya prestasi jajaran penyuluh pertanian secara nasional. Kita telah mencapai swa sembada beras dan jagung. Kita akan menyongsong swa sembada kedelai dan daging. Tantangan ke depan semakin berat dan kita semua tentu sepakat bahwa tugas-tugas pendampingan petani di masa depan belumlah usai. Apakah dalam situasi yang semakin penuh tantangan itu kita akan membiarkan petani untuk selalu didampingi oleh petugas-petugas baru hasil rekrutmen baru, atau bahkan mengendorkan intensitas pendampingan, sementara petugas-petugas lama (THL-TBPP pasca tahun ke-tiga masa kontrak) yang sudah memiliki chemistry yang baik dengan petani justru terpinggirkan. Mari kita semua, para pihak terkait, untuk berpikir dan bertindak (mengambil keputusan) dari sudut pandang ini. Mari kita tetap berpegang pada komitmen untuk mewujudkan SATU DESA, SATU PENYULUH dan SATU PENYULUH, SATU DESA. Janganlah semangat Revitalisasi Pertanian hanya gegap gempita di awal, sayup-sayup di pertengahan, kemudian nyaris tak terdengar dan akhirnya tak terdengar sama sekali. Naudzubilalhi min dzallik.
(@ Ir. Nur Samsu THL-TBPP 2008 BPP Paiton, Kabupaten Probolinggo - Jawa Timur)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: BAGAIMANA MENGAKTUALISASIKAN POTENSI DIRI SEBAGAI THL-TBPP? - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit