728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
cara bikin pestisida organik dari urien sapi
pest nabati Salam pertanian! Petani selama ini tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Saya yakin banyak petani yang enggan menggunakan pestisida organik. Selain tidak praktis tapi juga daya kerjanya yang sangat lamban jika dibanding dengan pestisida kimia. Tapi kenapa para pakar pertanian termasuk pemerintah selalu menganjurkan petani agar menggunakan pestisida organik. Dianjurkannya menggunakan pestisida organik tersebut dikarenakan beberapa kelemahan-kelemahan yang ada pada pestisida kimia. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain:
  1. Hama menjadi kebal (resisten)
  2. Peledakan hama sekunder (resurjensi)
  3. Timbulnya hama baru
  4. Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen
  5. Terbunuhnya musuh alami
  6. Pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia
  7. Kecelakaan bagi pengguna
  8. Timbulnya gangguan kesehatan bagi manusia
Kira-kira sudah berapa lama petani menggunakan pestisida kimia ini? Jadi bisa dibayangkan sendiri akibatnya bagi tanah pertanian di Indonesia. Pestisida Organik memiliki beberapa fungsi, antara lain:
  1. Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat
  2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.
  3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
  4. Menghambat reproduksi serangga betina
  5. Racun syaraf
  6. Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga
  7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga
  8. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri (patogen)
  9. Menghambat pergantian kulit serangga
  10. Mengganggu komunikasi serangga
  11. Memblokir kemampuan makan serangga

Bahan dan Cara Umum Pengolahan Pestisida Organik

  • Bahan mentah berbentuk tepung (nimbi, kunyit, dll)
  • Ekstrak tanaman/resin dengan mengambil cairan metabolit sekunder dari bagian tanaman tertentu
  • Bagian tanaman dibakar untuk diambil abunya dan dipakai sebagai insektisida (serai, tembelekan/Lantana camara)
Contoh beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida Organik :
MIMBA (Azadirachta indica)

Bahan Pestisida Organik ini mengandung senyawa aktif azadirachtin, meliantriol, dan salanin. Berbentuk tepung dari daun atau cairan minyak dari biji/buah. Efektif mencegah makan (antifeedant) bagi serangga dan mencegah serangga mendekati tanaman (repellent) dan bersifat sistemik. Mimba dapat membuat serangga mandul, karena dapat mengganggu produksi hormone dan pertumbuhan serangga.
Mimba mempunyai spectrum yang luas, efektif untuk mengendalikan serangga bertubuh lunak (200 spesies) antara lainL belalang, thrips, ulat, kupu-kupu putih, dll. Disamping itu dapat juga untuk mengendalikan jamur (fungisida) pada tahap preventif, menyebabkan spora jamur gagal berkecambah. Jamur yang dikendalikan antara lain penyebab: embun tepung, penyakit busuk, cacar daun/kudis, karat daun dan bercak daun. Dan mencegah bakteri pada embun tepung (powdery mildew). Ekstrak mimba sebaiknya disemprotkan pada tahap awal dari perkembangan serangga, disemprotkan pada dun, disiramkan pada akar agar bisa diserap tanaman dan untuk mengendalikan serangga di dalam tanah.
AKAR TUBA (Deris eliptica)

Senyawa yang telah ditemukan antara lain adalah retenon. Retenon dapat diekstrak menggunakan eter/aseton menghasilkan 2 – 4 % resin rotenone, dibuat menjadi konsentrat air. Rotenon bekerja sebagai racun sel yang sangat kuat (insektisida) dan sebagai antifeedant yang menyebabkan serangga berhenti makan. Kematian serangga terjadi beberapa jam sampai beberapa hari setelah terkenal rotenone. Rotenon dapat dicampur dengan piretrin/belerang. Rotenon adalah racun kontak (tidak sistemik) berpspektrum luas dan sebagai racun perut. Rotenon dapat digunakan sebagai moluskisida (untuk moluska), insektisida (untuk serangga) dan akarisida (tungau).
TEMBAKAU

Tembakau sebagai Pestisida Organik karena senyawa yang dikandung adalah nikotin. Ternyata nikotin ini tidak hanya racun untuk manusia, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk racun serangga Daun tembakau kering mengandung 2 – 8 % nikotin. Nikotin merupakan racun syaraf yang bereaksi cepat. Nikotin berperan sebagai racun kontak bagi serangga seperti: ulat perusak daun, aphids, triphs, dan pengendali jamur (fungisida).
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: cara bikin pestisida organik dari urien sapi - 9756people
Info Petani -
Blanko Keanggotaan dan Kepengurusan THL TBPP
 Kepada Yth: Ketua FK THL TBPP Provinsi/Kabupaten/Kota
Se-Indonesia


Berikut ini kami sampaikan Blanko Keanggotaan dan Kepengurusan THL TBPP untuk segera diunduh (download) dan disosialisasikan kepada seluruh THL TBPP ditempat saudara. Blanko Keanggotaan dan Kepengurusan THL TBPP digunakan sebagai data dasar pembuatan kartu anggota, mohon blanko yang kami lampirkan segera diisi dan alamat pengembalian akan kami tentukan kemudian. Perlu diketahui bahwa pembuatan kartu anggota belum bisa kami realisasikan karena kas FK THL-TBPP Nasional belum memungkinkan. Oleh karena itu kami mohon iuran segera dilunasi supaya kami bisa melakukan semua kegiatan yang diamanatkan pada kami bukan hanya pembuatan kartu anggota.
Terima kasih


Blanko Keanggotaan Dan Kepengurusan                                                            
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Blanko Keanggotaan dan Kepengurusan THL TBPP - 9756people
Info Petani -
Alamat Fakultas Kedokteran Hewan di Indonesia

Faculty of Veterinary Medicine in Indonesia:


Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

JI. Agatis, Kampus IPB, Darmaga Bogor Telp: 0251 - 8629469, 8629470, 8629471, 8629474 Fax: 0251 - 8629459, 8629460 E-mail: fkh@ipb.ac.id


Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada

JI. Olahraga, Karangmalang, Yogyakarta 55281 Telp : 0274 - 7480307; Fax: 0274 - 560861; E-mail: fkh@ugm.ac.id


Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga

Kampus C, Unair Mulyorejo, Surabaya 60155 Telp : 031 - 5993016, 031 5992785 Fax: 031 - 5993015


Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala

NAD - Banda Aceh 23111 Telp :0651-7552517,0651-7551536 Fax: 0651 - 54208


Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

JI. Kampus Bukit Jimbaran, Denpasar - Bali 80364 Telp : 0361 - 701808


Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya

JI. M.T Haryono no: 169, Malang. Jawa Timur 65145 Telp/fax: 0341 - 573642 E-mail: pskh_ub@brawijaya.ac.id


Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

JI. Dukuh Kupang XXV/54, Dukuh Kupang,Dukuh Pakis, SURABAYA 60225 Phone : 031 5689740,031 5615254, 031 5617306, 031 5619708, Fax: 031 5679791 Email : ujinasuwks@pdhi-online.org

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Alamat Fakultas Kedokteran Hewan di Indonesia - 9756people
Info Petani -
Determining Japanese Market Today for Indonesian Coffee (2)
2.1. Instant coffee
Japan's consumption of instant coffee is estimated at 39,620 mt in 2007, in which domestic production accounts for some 86% share of the total. Last year Japan imported 7,089 mt of instant coffee, holding a 18% share of total consumption. Approximately 84% of instant coffee is consumed for home use. The remaining shares are divided into industrial use and food service.

Table 7. Japan's instant coffee market (product basis)
Major exporting countries for Japan are shown in the following figure 6. Brazil is the largest exporter, accounting for 46% share of the total imports from 2003 to 2007, followed by Colombia (16%), Ecuador (11 %), Germany (9%), and Philippines (8%). These five countries supply some 90% of import quantity.

Figure 6. Japan's instant coffee import by country; 2003-2007

2.2. Coffee extracts and essence
Coffee extracts or essence is extracted and soluble solids from coffee beans. Those are used by food service or grocery manufacturers to produce coffee-based soft drinks, cakes and confectioneries. Coffee extracts and essence are split into two categories, either sugar-added or sugar-free, and by the category, product size varies significantly. Thus, we estimate the quantity by converting to green bean basis as per the following table.

Table 8. Japan's coffee extracts and essence import, export and consumption, excluding domestic production as part of regular coffee (green bean equivalent)

From the above, Japan's consumption of coffee extracts and essence is estimated at 10,331 mt as green bean equivalent in 2007, excluding domestic production. Supplying countries for Japan are fairly limited. Brazil occupied 95% share of sugar-added extracts and essence imports, and Japan's imports of sugar-free extracts and essence are dominated by Brazil, Malaysia, Columbia, Holland and Indonesia. Coffee extracts and essence are imported principally to fulfill shortage of domestic production.

Figure 7. Japan's coffee extracts and essence import by country; 2003-2007

Regarding sugar-added extracts and essence, there is not any import from Indonesia.

2.3. Chain of Distribution
Some 72% share of the imported green beans is distributed to roasters for production of regular coffee. Distribution of roasted regular coffee is split into three destinations: 1) food manufacturers for various applications, 2) food service sector, such as hotels, coffee shops and restaurants, and 3) retail trades for home use. A 26% share of coffee green beans is distributed to manufacturers for production of instant coffee. The remaining 2% share is a distribution as coffee extracts and essence to various food manufacturers. After manufacturers, various final products are distributed to consumers through retail stores or food service operators. The distribution system is complicated and is outlined in the following diagram.

Figure 8. Distribution channel of coffee (green bean basis)

In the regular coffee market, three major roasters supply more than half of demand for food service and home use. Those roasters own farms in major coffee producing countries and import coffee green beans directly form those owned farms. Smaller roasters purchase green beans from importers. Talking about instant coffee market, because instant coffee manufacturing needs large capital expenditure, manufacturers with full operation from processing green beans to the final products are limited to three manufactures, i.e. Nestle, AGF, Takasago Coffee. Other instant coffee manufacturers import instant coffee in bulk for repacking. Products are distributed to retail stores via distributors and wholesalers.

Either way, import share of processed coffee products is small though all green beans are imported. Japan is a country principally importing coffee green beans and producing various coffee products in Japan, and the market is fairly dominated by large roasters as well as instant coffee manufacturers.

2.4. Consumption
The Japanese coffee market has posted an increasing trend of consumption for past years. Such a growth is seen especially in regular coffee market. It is attributed to continuous development of new products as well as consumers' increasing preference for better tastes. In addition, one of the reasons behind steady growth is the changing coffee shop market. We are seeing that many coffee shop chain operators, such as Starbucks or Doutor, are expanding store network and offering gourmet coffee.

In terms of green been basis, Japan is now consuming coffee of some 440,000mt per year. Although it is matured, the market is sill growing with more potential room for future expansion. In fact, although Japan is the fourth largest importing country in quantity basis, Japan's per-capita consumption remains at a low level. According to International Coffee Organization, Japanese coffee consumption in 2006 was 3.4 kg per-capita, being roughly half of European countries. In this respect, there are potentially more rooms for expansion of coffee consumption in Japan.

Figure 9. Per-capita coffee consumption of major countries, 2006

As earlier described in the regular coffee section, a 41 % share of roasted regular coffee is distributed to food manufacturers, in which some 60% quantity is used for production of coffee drinks. Thus coffee drink consumption influences Japan's overall coffee market. In fact, coffee beverages occupy top position in Japan's soft drink market, accounting for 16% of the total production. In Japan, coffee is consumed as popular soft drink besides consumption at home, restaurants, coffee shops, etc.

Figure 10. Japan's soft drink production by product group; 2006
Despite sluggish sales of canned coffee, total coffee drink consumption has continued to increase for a long term. Also consumption of regular coffee and instant coffee has showed a continuous growth for the same period. Although Japanese market is maturing, coffee consumption is growing and is expected to grow further.

Figure 11. Japan's drink consumption index changes
Increasing coffee consumption is also indicated in Japan's household expenditure. The following graph shows that the Japanese coffee consumption per household has increased in the past years, while average purchasing price at retail trade decreased.

Figure 12. Household expenditure for coffee, 2000-2007
2.5. EPA tariff
Japan and Indonesia signed an Economic Pat1nershipAgreement (EPA) on 20th August 2007 that aims to eliminate tariffs on about 92% of the trade between the two countries, and Japan-Indonesia Economic Partnership Agreement (JIEPA) went into effect on July 1, 2008.
As far as coffee imports go, the new tariffs of JIEPA took effect on July I, 2008 as per the following table.

Table 9. JIEPA tariff

Source: Japan Customs (Japan's Tariff Schedule as of April 1 2008).
Notes: GSP=General System of Tariff Preferences; JIEPA= Japan-Indonesia Economic Partnership Agreement. Until the EPA is ratified by both countries, GSP tariff, otherwise WTO tariff, is applicable to Indonesia.
"R": be subject to negotiations provided for in the terms and conditions set out in the note indicated in the each Party's Schedule.
"X": to be excluded from any commitment of reduction or elimination of customs duties and commitment of negotiation.

2.6. Conclusion
• Japan imports coffee in various forms: green bean, regular coffee, instant coffee, and extracts and essence. Total import quantity is estimated at 425,778mt in green bean equivalent for 2007. Japan is the world's fourth largest coffee importer after USA, German and Italy. Coffee is widely consumed in Japan.
• Over 90% of coffee import is coffee green bean. Japan is a country principally importing green bean and producing various coffee products in Japan. Indonesia is the third largest supplier of coffee green bean for Japan.
• Imports of regular coffee and instant coffee are relatively smaller as the market is dominated by domestic roasters or instant coffee Table manufacturers~ Domestic production accounts for 98% of regular coffee consumption and 86% of instant coffee consumption.
• 41 % of roasted regular coffee is distributed to food manufacturers, in which 60% of the quantity is consumed for production of coffee-based drinks. Coffee drinks hold the largest share (16%) in Japan's soft drink market. In Japan, coffee is often consumed as soft drink besides consumption at home, restaurants, coffee shops.
• Although Japan is the world's fourth largest importer, per-capita consumption (3.4 kg) is small, being roughly half of European countries. There are potentially more rooms for expansion of consumption in Japan.
• Indonesia has well established its position in Japan's coffee market. It is the third largest coffee bean exporter for Japan, supplying Robusta mainly for industrial use such as canned coffee and instant coffee.

2.7. Recommendation
Japan's coffee market is more potential to grow because of its smaller per-capita consumption as well as the increasing coffee-based soft drinks. Considering that Indonesian coffee is imported mainly for industrial use in Japan, consistent quality and stable supply shall be essential for expansion. In this regard, Ministry of Agriculture should put more emphasis on quality assurance program, including agrochemical usage, as Japan's positive list system often rejects coffee green bean imports from South America.

Table 10. Japan's green coffee bean import

Source: Pudjiatmoko. 2009. Determining Japanese Market Today for Indonesian Selected Agricultural Products. pp. 15-24. Agricultural Attaché. Embassy of the Republic of Indonesia. Tokyo.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Determining Japanese Market Today for Indonesian Coffee (2) - 9756people
Info Petani -
Reformasi Birokrasi

Prioritas pembangunan ekonomi di Indonesia 2010 – 2014 perlu didukung oleh pembangunan, infrastruktur, pembangunan ilmu pengetahuan dan Teknologi, pembangunan sumber daya manusia, reformasi birokrasi, reformasi hukum, pembangunan SDA dan LH.

Bidang prioritas yang perlu difokuskan adalah 1) Peningkatan ekspor, 2) Peningkatan investasi, 3) Optimalisasi pengeluaran pemerintah, 4) Peningkatan industri, 5) Peningkatan pertanian, 6) Pengembangan sektor tersier, 7) Stabilitas moneter, 8) APBN yang berkelanjutan, 9) Stabilitas sektor keuangan, 10) Peningkatan kesempatan kerja, 11) Pengurangan kemiskinan, 12) Pengembangan UKM.

Terdapat 15 faktor penghambat bisnis di Indonesia. Faktor yang paling menghambat bisnis di Indonesia adalah Birokrasi Pemerintah yang tidak efisien. Salah satu usaha kita untuk memperbaiki faktor penghambat dimaksud (Birokrasi pemerintah yang tidak efisien), Kementerian Pertanian Pemerintah Indonesia telah mencanangkan Reformasi Birokrasi.

Titik berat Reformasi Birokrasi adalah perbaikan manajemen dan peningkatan Pelayanan Publik yang dilakukan secara simultan. Langkah ini dimaksudkan untuk meningkatkan motivasi pegawai dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Latar belakang Kementerian Pertanian Segera Melakukan Reformasi Birokrasi adalah sebagai berikut:

  1. Kementerian Pertanian bersifat holding type organization dengan permasalahan yang sangat kompleks, sehingga memerlukan harmonisasi untuk mencapai sinergi dalam mewujudkan visi dan misinya.
  1. Kementerian Pertanian memiliki kantor vertikal dan tersebar di seluruh Indonesia yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat.
  1. Jumlah pegawai Kementerian Pertanian yang cukup besar sekitar 25.000 orang.
  1. Tuntutan publik yang semakin tinggi akan profesionalisme birokrasi.
  1. Otoritas pelayanan publik di dunia Internasional pada umumnya telah memberikan pelayanan kepada publik secara efektif dan efisien.

Pengertian Reformasi Birokrasi:

Pembaharuan dan perubahan mendasar terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan, terutama menyangkut aspek-aspek : kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan (business process), dan sumber daya manusia aparatur.

Kriteria instansi pemerintah yang memiliki kinerja tinggi :

Memiliki visi dan misi organisasi yang jelas.

Memiliki perencanaan secara sistematis dan aspiratif serta berdasarkan kinerja.

Memiliki manajemen dan prosedur kerja yang jelas.

Adanya konsistensi antara perencanaan dengan pelaksanaan.

Berorientasi pada hasil kegiatan dan manfaat kegiatan.

Menjalankan Tupoksi secara konsisten.

Memiliki disiplin, loyalitas dan etos kerja yang tinggi.

Memiliki kinerja pelayanan publik yang optimal.

Peraturan perundangan yang menguatkan akan keharusan Lembaga Kementerian memberikan pelayanan publik yang optimal dalam komtek reformasi pelayanan publik yang pembverian amanat lembaga kementerian, memberikan pelayanan.

Undang-undang RI No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi publik.

  1. Undang-undang RI N0. 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik.
  2. Peraturan Pemerintah RI No. 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.
  3. Peraturan Pemerintah RI No. 61 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan UU No. 14/2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik.
  4. Peraturan Menteri Negera Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi No. 7 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penilaian Kinerja Unit Pelayanan Publik.
  5. Peraturan Menteri Pertanian No. 22/Kementan/OT.140/5/2009 Tentan Pedoman Penilaian & Pemberian Penghargaan Abdi Bakti Tani bagi Unit Kerja Pelayanan Publik berprestasi di Bidang Pertanian.

Arah kibijakan reformasi birokrasi

Visi :

Terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik tahun 2025

Misi :

(1) Membentuk dan atau menyempurnakan peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum tata kelola pemerintahan yang baik;

(2) Memodernisasi birokrasi pemerintahan dengan optimalisasi pemakaian teknologi informasi dan komunikasi;

(3) Mengembangkan budaya, nilai-nilai kerja dan perilaku yang positif;

(4) Mengadakan restrukturisasi organisasi (kelembagaan) pemerintahan; (5) Mengadakan relokasi & meningkatkan kualitas SDM termasuk perbaikan sistem remunerasi;

(6) Menyederhanakan sistem kerja, prosedur & mekanisme kerja;

(7) Mengembangkan mekanisme kontrol yang efektif

Tujuan Umum

Membangun profil dan perilaku aparatur negara yang berintegritas tinggi, produktif, dan mampu memberikan pelayanan yang prima kepada publik/masyarakat

Tujuan Khusus

Membangun birokrasi yang bersih, efektif, efisien, transparan dan akuntabel dalam melayani dan memberdayakan masyarakat

Sasaran

• Mengubah pola pikir (mind set)

• Mengubah budaya kerja (culture set)

• Mengubah manajemen pemerintahan


Titik berat Reformasi Birokrasi yaitu perbaikan manajemen dan peningkatan Pelayanan Publik yang dilakukan secara simultan.


Langkah tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan motivasi pegawai dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Reformasi Birokrasi - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit