728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
Seroprevalensi Chalmydophila abortus pada Sapi Betina di 6 Propinsi, Indonesia

Hayati M., Maharis R., Pramastuti I., Hakim A., Syaefurrosad, Maizir A. dan Pudjiatmoko

Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan Gunungsindur, Bogor

ABSTRAK

Pengkajian seroprevalensi terhadap Chlamydophila abortus telah dilakukan di 12 Kabupaten dari 6 Propinsi di Indonesia. Setiap Kabupaten diambillO sampel serum dari sapi betina. Pengambilan sampel berlangsung dari bulan Juni-Agustus 2010. Sebanyak 120 sampel serum diuji menggunakan metode ELISA. Dari hasil pengujian ELISA tersebut diperoleh hasil 25 % sampel seropositif, 15 % suspected dan 60 % seronegatif. Seropositif Chlamydophila abortus pada sapi betina ini merupakan laporan pertama kali di Indonesia.

Kata Kunci: Chlamydophila abortus, sapi, seroprevalensi

ABSTRACT

A study of the seroprevalence of Chlamydophila abortus has been carried out at 12 Regency from 6 Province, in Indonesia. Ten samples of sera from cows in each region were collected. The sampling took place from June-August 2010. The samples totally 120 sera were tested using ELISA method. The result of ELISA test showed that 25 % seropositive, 15 % suspected and 60% seronegative samples. This Seropositive against Chlamydophila abortus in cows is the first report in Indonesia.

Key word: Chlamydophila abortus, cows, seroprevalence



PENDAHULUAN

Beberapa negara di dunia telah melaporkan berbagai kasus abortus yang disebabkan infeksi Chlamydophila abortus. Salah satu laporan menyatakan pada tahun 2007 di Jerman dari 100 sampel sapi betina yang diambil, sebanyak 61 % terinfeksi Chlamydophila sp. (13). Sedang­kan kasus infeksi C. abortus di Inggris, Swedia, Italia dan Turki pemah dilaporkan pada sapi, kambing dan domba (9,11,14,18).

Bakteri Chlamydophila abortus yang dapat menyebabkan Epizootic Bovine Abortion masuk kedalam famili Chlamydiaceae. Bakteri ini merupakan bakteri intraseluler obligat, gram negatif, non motil dan biasa menyerang sapi, kambing dan domba (8,17). Gejala klinis yang tampak dari penyakit ini antara lain, vaginitis, endometritis, repeat breeding, abortus pada kebuntingan 4-9 bulan, stillbirth (lahir kemudian mati), dan jika fetus lahir maka dalam kondisi lemah serta diikuti dengan retensi plasenta (7, 9). Gejala lain seperti pneumonia, enteritis, poliarthritis dan encephalitis juga pernah dilaporkan (9).

Chlamydophila abortus merupakan penyakit zoonosis yang dapat menyebabkan abortus pada wanita yang berkontak langsung dengan domba dan sapi (1). Pada suatu penelitian ditemukan bahwa kasus mastitis pada sapi juga dapat disebabkan oleh infeksi C. abortus (4). Hal ini mengakibatkan resiko terinfeksi bakteri bagi pemerah susu dan manusia yang meminumnya sangat tinggi.

Pertumbuhan C. abortus dapat dihambat oleh antibiotik seperti tetrasiklin dan erithromisin. Sampai sekarang informasi tentang resistensi C. abortus terhadap antibiotik belum banyak diamati (15).

Diagnosa C. abortus dapat dilakukan secara serologis, identifikasi dan isolasi. Metode yang biasa digunakan adalah microimmunofluorescence, ELISA, PCR dan isolasi agen pada biakan ku1tur se1 (1, 6, 16). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa metode ELISA lebih mudah, sensitif dan spesifik jika dibandingkan dengan uji serologis lain (10). Salah satu penelitian yang membandingkan antara metode CFT dan ELISA untuk pengujian serologis C. abortus. Pada penelitian tersebut diperoleh bahwa metode ELISA lebih sensitif dan spesifik dari pada metode CFT (12).

Kejadian infeksi C. abortus pada sapi te1ah banyak dilaporkan di luar negeri, tetapi di Indonesia kasus ini belum banyak diungkapkan atau dilaporkan secara resmi. Sedangkan kasus aborsi dan gangguan reproduksi sering terjadi di Indonesia. Tujuan pengkajian ini untuk mengetahui seroprevalensi C. abortus pada sapi potong/perah di beberapa wilayah Indonesia. Seropositif C. abortus pada sapi di Indonesia dalam studi ini merupakan laporan pertama kali.





MATERI DAN METODE

Sampel Serum

Pengambilan Serum diambil dari sapi perah atau sapi potong betina dari petemakan rakyat di 12 Kabupaten dari 6 Propinsi, yaitu: Sleman, Bantul (DIY), Lebak, Tangerang (Banten), Mojokerto, Sumenep (Jawa Timur), Tanggamus, Way Kanan (Lampung), Semarang, Boyolali (Jawa Tengah), Tasikmalaya dan Bandung (Jawa Barat). Dari masing-masing lokasi diperoleh sebanyak 10 sampel sehingga terkumpul sebanyak 120 sampel. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Juni - Agustus 2010.

Uji Serologis

Pengujian ELISA dilakukan di Laboratorium Bakteriologi Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) Gunung Sindur. Seratus dua puluh sampel serum sapi yang telah terkumpul diuji serologis dengan menggunakan ELISA kit komersial dari Idexx, Laboratories Inc, USA.

Metode yang digunakan adalah indirect ELISA

Berikut adalah prosedur yang dilakukan sesuai dengan petunjuk pada kit ELISA. Sampel dan kontrol diencerkan dengan wash solution dengan perbandingan 1:400. Kemudian 100 µl sampel dan kontrol yang telah diencerkan diteteskan pada setiap well yang terdapat pada plate. Plate diinkubasi selama 60 menit (± 5 menit) pada suhu 37°C. Setelah diinkubasi, plate dibilas dengan wash solution 300µl sebanyak 3 kali. Chekit-Chlamydia-Anti ruminant IgG-PO conjugate diteteskan sebanyak 100 µl setiap well dan inkubasikan selama 60 menit (± 5 menit) pada suhu 37°C. Lalu plate dibilas dengan wash solution 300 µl sebanyak 3 kali. Chekit TMB-Substrate diteteskan sebanyak 100 µl pada setiap well dan diinkubasikan pada suhu ruang selama 15 menit. Reaksi warna dihentikan dengan cara penambahan 100 µl Chekit stop solution pada setiap well. Hasil pembacaan ELISA reader dengan panjang gelombang 450 nm dianalisis dengan rumus sebagai berikut:



S/P (Sampel positif ratio) (%) = (OD sampel - OD negatif) : (OD Positif - OD negatif) x 100%





HASIL DAN DISKUSI

Interpretasi hasil pembacaan ELISA dilakukan dengan cara sebagai berikut: sampel dinyatakan positif jika S/P ratio (dalam persen) sama dengan atau lebih besar 40%, jika S/P ratio sebesar 30 - 40% dinyatakan suspect dan sampel dinyatakan negatif apabila S/P ratio <>

Hasil pengujian titer antibodi menggunakan ELISA dengan interpretasi tersebut dapat dilihat pada Tabel di bawah. Dari 120 sampe1 serum yang diuji, terdapat 30 sampel (25 %) seropositif antibodi terhadap C. abortus, sedangkan sebanyak 18 sampel (15 %) merupakan suspected C. abortus. Seropositif terbanyak terjadi di Kabupaten Sleman sebanyak 5 dari 10 (50%) sampel yang diambil, lalu diikuti Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Sumenep dengan 4 dari 10 (40%) sampel. Sedangkan Kabupaten Way Kanan sebanyak 3 dari 10 (30%) sampel seropositif. Kabupaten Bandung, Bantul, Lebak, Boyolali, Mojokerto dan Tanggamus dengan seropositif masing­masing sebanyak 2 dari 10 (20%) sampel. Dan seropositif yang paling sedikit terdapat di Tasikmalaya dan Semarang yaitu sebanyak 1 dari 10 (10%) sampel. Sampel yang diuji menunjukkan adanya positif antibodi terhadap C. abortus di semua lokasi pengambilan. Di daerah pengambilan sampel tidak dilakukan vaksinasi C. abortus dan dapat disimpulkan seropositif ini menunjukkan terdapat infeksi C. abortus di daerah tersebut.



Tabel: Hasil pengujian Cabonus dengan menggunakan metode ELISA

Propinsi

Kabupaten

Jumlah

Sampel

Jumlah Positif (%)

Jumlah Suspect (%)

Jumlah Negatif (%)

D.I.Y.

Sleman

10

5 (50)

1 (10)

4 (40)



Bantul

10

2 (20)

3 (30)

5 (50)

Banten

Tangerang

10

4 (40)

1 (10)

5 (50)



Lebak

10

2 (20)

2 (20)

6 (60)

Jawa Timur

Sumenep

10

4 (40)

3 (30)

3 (30)



Mojokerto

10

2 (20)

2 (20)

6 (60)

Lampung

Way Kanan

10

3 (30)

0(0)

7 (70)



Tanggamus

10

2 (20)

1 (10)

7 (70)

Jawa Tengah Boyolali

10

2 (20)

2 (20)

6 (60)



Semarang

10

1 (10)

1 (10)

8 (80)

Jawa Barat

Bandung

10

2 (20)

0(0)

8 (80)



Tasikmalaya

10

1 (10)

2 (20)

7 (70)

Total sampel

120

30 (25)

18 (15)

72 (60)

Kasus gangguan reproduksi akibat infeksi dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus dan parasit seperti Brucella abortus, Leptospira sp., Bovine Viral Diarrhoea, Infectious Bovine Rhinotrhacaeitis, Trikomoniasis dan C. abortus (7). Selain Brucella, Toxoplasma dan Neospora, C. abortus juga ditemukan sebagai salah satupenyebab abortus pada ruminansia di Belgia (19). Hal tersebut juga terjadi di Turki, bahwa selain akibat infeksi Brucellosis, C. abortus juga mengakibatkan abortus (18). Chlamydophila abortus menjadi penyebab utama kasus abortus di Swiss dan diikuti oleh infeksi Toxoplasma gondii dan Coxiella burnetti. Selain kasus infeksi, kasus abortus juga dapat disebabkan malformasi alat reproduksi dan defisiensi vitamin dan mineral (5).

Kasus C. abortus pada ruminansia di Indonesia jarang atau bahkan tidak pemah dilaporkan. Selama ini Brucellosis masih dianggap sebagai penyebab terbesar kasus abortus di Indonesia. Dari beberapa laporan diatas dan banyaknya seropositifyang diperoleh pada studi ini, infeksi C. abortus dapat digunakan sebagai diagnosa banding pada kasus abortus dan gangguan reproduksi lainnya yang terjadi di Indonesia.

Beberapa Seropositif menunjukkan gejala klinis seperti abortus, mastitis, repeat breeding atau anestrus. Sapi yang tidak menunjukkan gejala klinis dapat saja menjadi reaktor C. abortus dan menularkannya kepada individu yang lain. Chlamydophila abortus dapat menular melalui rute faecal-oral atau venereal (3). Adanya infeksi C. abortus pernah dideteksi pada vagina sapi betina (6). Sedangkan pada sapi jantan ditemukan bakteri C. abortus pada semen sehingga transmisi venereal dapat terjadi (2).

Adanya arus keluar masuk hewan dari dalam dan luar peternakan, penggunaan pejantan yang terinfeksi, pemisahan individu dalam satu kelompok kandang yang tidak sempurna, kondisi sapi dan kandang yang kotor, diidentifikasi meningkatkan resiko penularan C. abortus (13). Kondisi tersebut ditemukan pada kandang-kandang sapi di setiap lokasi pengambilan sampel. Tingkat sanitasi kandang yang rendah menyebabkan dalam satu kelompok kandang dapat terjadi beberapa kasus C. abortus.

Sebagai salah satu penyebab penyakit zoonosis, C. abortus perlu diamati perkembangannya untuk dapat dilakukan penatalaksanaan kesehatan masyarakat veteriner yang lebih baik. Kontak langsung manusia dengan hewan yang terinfeksi sangat sering terjadi terutama bagi pemerah susu sapi dan peternak. Fakta bahwa bakteri ini dapat diekskresikan melalui susu yang diproduksi meningkatkan resiko terinfeksi terhadap manusia yang meminumnya (4).



KESlMPULAN



Hasil kajian ini memperlihatkan bahwa kasus Chlamydophila abortus ditemukan di 12 kabupaten dari 6 Propinsi, Indonesia. Persentase seroprevalensi infeksi Chlamydophila abortus pada sapi di Indonesia cukup tinggi berkisar antara 10 % sampai 50 %. Selanjutnya perlu dilakukan kajian tentang deteksi dan isolasi Chlamydophila abortus di Indonesia.



UCAPAN TERIMA KASIH




Ucapan terima kasih ditujukan kepada petugas Dinas Pertanian dan Peternakan yang membidangi fungsi kesehatan hewan atas bantuan teknis terlaksananya pengambilan sampel serum sapi dari Kabupaten Sleman, Bantul, Tangerang, Lebak, Sumenep, Mojokerto, Way Kanan, Tanggamus, Boyolali, Semarang, Bandung dan Tasikmalaya.

DAFTAR PUSAKA

1. Aitken I. D., Longbottom D. 2004. Enzootic Abortion of Ewes (Ovine Chlamydiosis). pp. 635-641. In:

OIE (ed). Manual of Diagnostic Tests and Vaccines for Terrestrial Animals.

2. Amin A.S. (2003). Comparison of Polymerase Chain Reaction and Cell Culture for The Detection of Chlamydophila Species in The Semen of Bulls, Buffalo-bulls and Rams. Veterinary Journal, 166(1): 86-92.

3. Anonimous. 2009. Import Risk Analysis: Cattle Germplasm from All Countries. MAP Biosecurity New Zealand.

4. Biesenkamp-Uhe, C.Li, Y. Hehnen, HR. Sachse, K., Kaltenboeck, B. 2007. Therapeutic Chlamydophila abortus and C. pecorum Vaccination Transiently Reduces Bovine Mastitis Associated with Chlamydophila Infection. Infection Immunity 75 (2): 870-877.

5. Chanton-Greutmann H., Thoma R, Corboz L, Borel N, Pospichii A. 2002. Abortion in Small Ruminants in Switzerland: Investigation During Lambing Seasons (1996-1998) with Special Regard to Chlamydial Abortions. Scweiz Arch Tierheiikd 144(9): 483-92.

6. DeGraves F.J., Gao D., Hehnen H., Schlapp T., dan Kaltenboeck B. 2003. Quantitative Detection of Chlamydia psitacii and C. pecorum by High­Sensitivity Real-Time PCR Reveals High Prevalence of Vaginal Infection in Cattle. Journal of Clinical Microbiology 41(4): 1726-1729.

7. Dian R., Wulan C.P., Lukman A. 2007. Petunjuk teknis: Penanganan Gangguan Reproduksi pada Sapi Potong. hal. 16-22. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.

8. Everett K.D.E., Bush R.M. dan Andersen A.A. 1999. Emended Description of The Order Chlamydiales, Proposal of Parachlamydiaceae fam. Nov. and Simkaniaceae fam. Nov., Each Containing One Monotypic Genus, Revised Taxonomy of The Family Chlamydiaceae, Including a New Genus and Five New Species and Standards for The Identification of Organisms. International Journal of Systemic Bacteriology 49:415-440.

9. Godin A., Bjorkman C., Englund S., Niskanen K.R., Alenius S. 2008. Investigation of Chlamydophila spp. In Dairy Cows with Reproductive Disorders. Acta Vet Scand, 50(1): 39.

10. Griffiths P.C., Plater J.M., Horigan M.W., Rose M.P., Venables C., Dawson M. 1996. Seological Diagnosis of Ovine Enzootic Abortion by Comparative Inclusion Immunofluorescence Assay, Recombinant Lipopo1ysaccaride Enzyme­Linked Immunosorbent Assay and Complement Fixation Test. Clinical Microbiology 34 (6): 1512­8.

11. Griffiths P.c., Plater J.M., Martin T.C., Hughes S.L., Hughes K.J., Hewinson R.G, Dawson M. 1995. Epizootic Bovine Abortion in Dairy Herd: Characterization of Chlamydia psittaci Isolate and Antibody Response. British Veterinary Journal, 151 (6):683-693.

12. Kaltenboeek B., Heard D., DeGraves F.J., and Sehmeer N. 1997. Use of Synthetic Antigens Improves Detection by Enzyme-Linked Immunosorbent Assay of Antibodies against Abortigenic Chlamydia psittaci in Ruminants. Journal of Clinical Microbiology 35 (9): 2293 ­2298.

13. Kemmerling K., Muller D., Mielenz M., dan Sauerwein. 2003. Chlamydophila species in dairy farms: Polymerase Chain Reaction Prevalence, Disease Association and Risk Factors Identified in a Cross-sectional Study in Western Germany. Journal of Dairy Science, 92(9): 4347-4354.

14. Masala G, Poreu R., Sanna G, Tanda A., dan Tola S. 2005. Role of Chlamydophila abortus in Ovine and Caprine Abortion in Sardinia, Italy. Vet. Res. Commun. 29(1): 117-123.

15. MeOrist S. 2000. Obligate Intracellular Bacteria and Antibiotic Resistance. Trends in Microbiology 8:483.

16. Perez-Martinez, J. A. dan J. Storz. 1985. Antigenic Diversity of Chlamydia psitacii of Mammalian Origin Determined by Microimmunofluorescence. Infection and Immunity 50(3): 905-910.

17. Rodolakis A., Bernard F. dan Lantier F. 1989.

Mouse Models for Evaluation of Virulence of Chlamydia psittaci Isolated from Ruminants. Res. Veterinary Science 46: 34-39.

18. Otlu S., Sahin M., Dnver A., dan Celebi 0.2007.

Detection of Brucella melitensis and Chlamydophila abortus Antibodies in Aborting Sheep in the Kars Province of Turkey. Bull Veterinary Inst Pulawy 51: 493-495.

19. Vercammen F., DE Deken R., dan Brandt J. 2004.

Seropreva1ence of Abortive Infectious Agents in Ruminants of The Royal Zoological Society of Antwerp (1992-2002). European Association of Zoo and Wildlife Veterinarians (EAZWW) 5th Scientific Meeting, Ebeltoft. Denmark.



Sumber : Buletin Pengujian Mutu Obat Hewan No. 15 Tahun 2010 hal. 4 - 7.





Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Seroprevalensi Chalmydophila abortus pada Sapi Betina di 6 Propinsi, Indonesia - 9756people
Info Petani -
Proyek Pengembangan Ramah Lingkungan dengan Aneka Pemanfaatan Jarak Pagar (Jatropha Curcas) di Indonesia

Pada hari Senin, tanggal 18 Oktober, bertempat di Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, telah diselenggarakan upacara penandatangan kontrak proyek bantuan hibah grassroots melalui LSM Jepang “Pengembangan Ramah Lingkungan dengan Aneka Pemanfaatan Jarak Pagar (Jatropha Curcas) di Indonesia (Tahap III)” (jumlah bantuan maksimal USD432,783). Pada acara penandatanganan ini, hadir untuk menandatangi kontrak, Duta Besar Jepang untuk Republik Indonesia, Kojiro Shiojiri dan Direktur Perwakilan LSM APEX (Asian People’s Exchange), Bapak Nao Tanaka.


Kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak di bagian timur Indonesia, merupakan wilayah yang sangat gersang, banyak lahan tidurnya, bahkan banyak penduduk kurang mampu yang tinggal disana. LSM Jepang APEX melaksanakan “Proyek Pengembangan Ramah Lingkungan dengan Aneka Pemanfaatan Jarak Pagar (Jatropha Curcas) di Indonesia” di Sikka. Proyek yang berdurasi selama 3 tahun ini, selain mempromosikan penanaman jarak pagar dengan partisipasi masyarakat setempat dan menyelenggarakn penghijauan, juga bertujuan meningkatkan pendapatan penduduk lokal dengan menjual biji tanaman tersebut. Secara bersamaan isi proyek ini juga mencakup pemanfaatan energi yang didapat dari hasil proses pembuatan minyak dari biji jarak bagi peningkatan taraf hidup masyarakat.


Kontrak yang ditandatangani kali ini merupakan proyek tahun ke-3. Selama 2 tahun terakhir, seluas 320 hektar tanah telah ditanami tanaman jarak pagar, bahkan hasilnya kelihatan yang mana Jatropha Center yang telah selesai dibangun sebagai fasilitas untuk membuat minyak dari biji jarak telah selesai. Proyek pada tahun ke-3 bertujuan untuk memulai kegiatan model pengembangan lokal secara menyeluruh berdasarkan hasil akumulasi yang didapat selama 2 tahun terakhir.


Melalui pelaksanaan proyek ini, selain penghijauan lahan tidur di kabupaten Sikka yang gersang dan banyak lahan tidur, serta merupakan tempat tinggal banyak penduduk kurang mampu, diharapkan dapat memajukan pengembangan lokal dengan partisipasi masyarakat.


Sumber: Press Release, Kedutaan Jepang di Jakarta tanggal 18 Oktober 2010

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Proyek Pengembangan Ramah Lingkungan dengan Aneka Pemanfaatan Jarak Pagar (Jatropha Curcas) di Indonesia - 9756people
Info Petani -
BUDI DAYA BAWANG MERAH
Bawang merah (Allium cepa) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Agar sukses budidaya bawang merah kita dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko) di lapangan. Diantaranya cara budidaya, serangan hama dan penyakit, kekurangan unsur mikro, dll yang menyebabkan produksi menurun. Memperhatikan hal tersebut, PT. NATURAL NUSANTARA berupaya membantu penyelesaian permasalahan tersebut. Salah satunya dengan peningkatan produksi bawang merah secara kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K - 3 ), sehingga petani dapat berkarya dan berkompetisi di era perdagangan bebas.
A. PRA TANAM1. Syarat Tumbuh
Bawang merah dapat tumbuh pada tanah sawah atau tegalan, tekstur sedang sampai liat. Jenis tanah Alluvial, Glei Humus atau Latosol, pH 5.6 - 6.5, ketinggian 0-400 mdpl, kelembaban 50-70 %, suhu 25-320 C

2. Pengolahan Tanah
Pupuk kandang disebarkan di lahan dengan dosis 0,5-1 ton/ 1000 m2
Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)
Dibuat bedengan dengan lebar 120 -180 cm
Diantara bedengan pertanaman dibuat saluran air (canal) dengan lebar 40-50 cm dan kedalaman 50 cm.
Apabila pH tanah kurang dari 5,6 diberi Dolomit dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di atas bedengan dan diaduk rata dengan tanah lalu biarkan 2 minggu.
Untuk mencegah serangan penyakit layu taburkan GLIO 100 gr (1 bungkus GLIO) dicampur 25-50 kg pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu lalu taburkan merata di atas bedengan. '

3. Pupuk Dasar
Berikan pupuk : 2-4 kg Urea + 7-15 kg ZA + 15-25 kg SP-36 secara merata diatas bedengan dan diaduk rata dengan tanah.
Atau jika dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 dicampur rata dengan tanah di bedengan.

Siramkan pupuk SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 10 botol/1000 m2 dengan cara :
- alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
- alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 sendok peres makan Super Nasa untuk menyiram 5-10 meter bedengan.
Biarkan selama 5 - 7 hari

4. Pemilihan Bibit
- Ukuran umbi bibit yang optimal adalah 3-4 gram/umbi.
- Umbi bibit yang baik yang telah disimpan 2-3 bulan dan umbi masih dalam ikatan (umbi masih ada daunnya)
- Umbi bibit harus sehat, ditandai dengan bentuk umbi yang kompak (tidak keropos), kulit umbi tidak luka (tidak terkelupas atau berkilau)

B. FASE TANAM
1. Jarak Tanam
Pada Musim Kemarau, 15 x 15 cm, varietas Ilocos, Tadayung atau Bangkok
Pada Musim Hujan 20 x 15 cm varietas Tiron

2. Cara Tanam
Umbi bibit direndam dulu dalam larutan NASA + air ( dosis 1 tutup/lt air )
Taburkan GLIO secara merata pada umbi bibit yg telah direndam NASA
Simpan selama 2 hari sebelum tanam
Pada saat tanam, seluruh bagian umbi bibit yang telah siap tanam dibenamkan ke dalam permukaan tanah. Untuk tiap lubang ditanam satu buah umbi bibit.

C. AWAL PERTUMBUHAN ( 0 - 10 HST )
1. Pengamatan Hama
Waspadai hama Ulat Bawang ( Spodoptera exigua atau S. litura), telur diletakkan pada pangkal dan ujung daun bawang merah secara berkelompok, maksimal 80 butir. Telur dilapisi benang-benang putih seperti kapas.

Kelompok telur yang ditemukan pada rumpun tanaman hendaknya diambil dan dimusnahkan. Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan dengan VIREXI atau VITURA . Biasanya pada bawang lebih sering terserang ulat grayak jenis Spodoptera exigua dengan ciri terdapat garis hitam di perut /kalung hitam di leher, dikendalikan dengan VIREXI.

Ulat tanah . Ulat ini berwarna coklat-hitam. Pada bagian pucuk /titik tumbuhnya dan tangkai kelihatan rebah karena dipotong pangkalnya. Kumpulan ulat pada senja/malam hari. Jaga kebersihan dari sisa-sisa tanaman atau rerumputan yang jadi sarangnya. Semprot dengan PESTONA.
Penyakit yang harus diwaspadai pada awal pertumbuhan adalah penyakit layu Fusarium. Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan menguningnya daun bawang, selanjutnya tanaman layu dengan cepat (Jawa : ngoler). Tanaman yang terserang dicabut lalu dibuang atau dibakar di tempat yang jauh. Preventif kendalikan dengan GLIO.

2. Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan pertama dilakukan umur 7-10 HST dan dilakukan secara mekanik untuk membuang gulma atau tumbuhan liar yang kemungkinan dijadikan inang hama ulat bawang. Pada saat penyiangan dilakukan pengambilan telur ulat bawang

Dilakukan pendangiran, yaitu tanah di sekitar tanaman didangir dan dibumbun agar perakaran bawang merah selalu tertutup tanah. Selain itu bedengan yang rusak atau longsor perlu dirapikan kembali dengan cara memperkuat tepi-tepi selokan dengan lumpur dari dasar saluran (di Brebes disebut melem).

3. Pemupukan pemeliharaan/susulan
Dosis pemupukan bervariasi tergantung jenis dan kondisi tanah setempat. Jika kelebihan Urea/ZA dapat mengakibatkan leher umbi tebal dan umbinya kecil-kecil, tapi jika kurang, pertumbuhan tanaman terhambat dan daunnya menguning pucat. Kekurangan KCl juga dapat menyebabkan ujung daun mengering dan umbinya kecil.

Pemupukan dilakukan 2 kali 
( dosis per 1000 m2 ) :
- 2 minggu : 5-9 kg Urea+10-20 kg ZA+10-14 kg KCl
- 4 minggu : 3-7 kg Urea+ 7-15 kg ZA+12-17 kg KCl
Campur secara merata ketiga jenis pupuk tersebut dan aplikasikan di sekitar rumpun atau garitan tanaman. Pada saat pemberian jangan sampai terkena tanaman supaya daun tidak terbakar dan terganggu pertumbuhannya.
Atau jika dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 diberikan pada umur ± 2 minggu.

4. Pengairan
Pada awal pertumbuhan dilakukan penyiraman dua kali, yaitu pagi dan sore hari. Penyiraman pagi hari usahakan sepagi mungkin di saat daun bawang masih kelihatan basah untuk mengurangi serangan penyakit. Penyiraman sore hari dihentikan jika persentase tanaman tumbuh telah mencapai lebih 90 %
Air salinitas tinggi kurang baik bagi pertumbuhan bawang merah
Tinggi permukaan air pada saluran ( canal ) dipertahankan setinggi 20 cm dari permukaan bedengan pertanaman

D. FASE VEGETATIF ( 11- 35 HST )
1. Pengamatan Hama dan Penyakit
Hama Ulat bawang, S. litura dan S. exigua
Thrips, mulai menyerang umur 30 HST karena kelembaban di sekitar tanaman relatif tinggi dengan suhu rata-rata diatas normal. Daun bawang yang terserang warnanya putih berkilat seperti perak Serangan berat terjadi pada suhu udara diatas normal dengan kelembaban diatas 70%. Jika ditemukan serangan, penyiraman dilakukan pada siang hari, amati

Penyakit Bercak Ungu atau Trotol, disebabkan oleh jamur Alternaria porii melalui umbi atau percikan air dari tanah. Gejala serangan ditandai terdapatnya bintik lingkaran konsentris berwarna ungu atau putih-kelabu di daun dan di tepi daun kuning serta mongering ujung-ujungnya. Serangan pada umbi sehabis panen mengakibatkan umbi busuk sampai berair dengan warna kuning hingga merah kecoklatan. Jika ada hujan rintik-rintik segera dilakukan penyiraman. Preventif dengan penebaran GLIO.

Penyakit Antraknose atau Otomotis, disebabkan oleh jamur Colletotricum gloesporiodes. Gejala serangan adalah ditandai terbentuknya bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan yang akan menyebabkan patahnya daun secara serentak (istilah Brebes: otomatis). Jika ada gejala, tanaman terserang segera dicabut dibakar dan dimusnahkan. Untuk jamur yang ada didalam tanah kendalikan dengan GLIO

Penyakit oleh virus.
- Gejalanya pertumbuhan kerdil, daun menguning, melengkung ke segala arah dan terkulai serta anakannya sedikit. Usahakan memakai bibit bebas virus dan pergiliran tanaman selain golongan bawang-bawangan.

Busuk umbi oleh bakteri.
- Umbi yang terserang jadi busuk dan berbau. Biasa menyerang setelah dipanen. Usahakan tempat yang kering.
- Busuk umbi/ leher batang oleh jamur.
- Bagian yang terserang jadi lunak, melekuk dan berwarna kelabu. Jaga agar tanah tidak terlalu becek (atur drainase).
- Untuk pencegahan hama-penyakit usahakan pergiliran tanaman dengan jenis tanaman lain (bukan golongan Bawang-bawangan. PESTISIDA Kimia digunakan sebagai alternatif terakhir untuk mengatasi serangan hama-penyakit.

2. Pengelolaan Tanaman
- Penyiangan kedua dilakukan pada umur
30-35 HST dilanjutkan pendagiran, pembumbunan dan perbaikan bedengan yang rusak.

- Penyemprotan POC NASA dengan dosis 4-5 tutup/tangki tiap 7-10 hari sekali mulai 7 hari setelah tanam hingga hari ke 50-55. Mulai hari ke 35 penyemprotan ditambah HORMONIK dengan dosis 1-2 tutup/ tangki (dicampurkan dengan NASA).
- Pengairan, penyiraman 1x per hari pada pagi hari, jika ada serangan Thrips dan ada hujan rintik-rintik penyiraman dilakukan siang hari.

E. PEMBENTUKAN UMBI ( 36 - 50HST )
Pada fase pengamatan HPT sama seperti fase Vegetatif, yang perlu diperhatikan adalah pengairannya. Butuh air yang banyak pada musim kemarau sehingga perlu dilakukan penyiraman sehari dua kali yaitu pagi dan sore hari.

F. PEMATANGAN UMBI ( 51- 65 HST )
Pada fase ini tidak begitu banyak air sehingga penyiraman hanya dilakukan sehari sekali yaitu pada sore hari.

G. PANEN DAN PACA PANEN
1. Panen
> 60-90 % daun telah rebah, dataran rendah pemanenan pada umur 55-70 hari, dataran tinggi umur 70 - 90 hari.
> Panen dilakukan pada pagi hari yang cerah dan tanah tidak becek
> Pemanenan dengan pencabutan batang dan daun-daunnya. Selanjutnya 5-10 rumpun diikat menjadi satu ikatan (Jawa : dipocong)

2. Pasca Panen
- Penjemuran dengan alas anyaman bambu (Jawa : gedeg). Penjemuran pertama selama 5-7 hari dengan bagian daun menghadap ke atas, tujuannya mengeringkan daun. Penjemuran kedua selama2-3 hari dengan umbi menghadap ke atas, tujuannya untuk mengeringkan bagian umbi dan sekaligus dilakukan pembersihan umbi dari sisa kotoran atau kulit terkelupas dan tanah yang terbawa dari lapangan. Kadar air 89 85 % baru disimpan di gudang.
- Penyimpanan, ikatan bawang merah digantungkan pada rak-rak bambu. Aerasi diatur dengan baik, suhu gudang 26-290C kelembaban 70-80%, sanitasi gudang.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: BUDI DAYA BAWANG MERAH - 9756people
Info Petani -
BUDIDAYA KACANG TANAH ( Arachis hypogeae L.)

I. PENDAHULUAN
Produksi komoditi kacang tanah per hektarnya belum mencapai hasil yang maksimum. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh faktor tanah yang makin keras (rusak) dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro serta hormon pertumbuhan. Disamping itu juga karena faktor hama dan penyakit tanaman, faktor iklim, serta faktor pemeliharaan lainnya.
PT. NASA berusaha berperan meningkatkan produksi secara Kuantitas dan Kualitas dengan tetap memelihara Kelestarian lingkungan ( Aspek K - 3 ).

II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
a. Curah hujan antara 800-1.300 mm/tahun. Hujan yang terlalu keras akan mengakibatkan bunga sulit terserbuki oleh serangga dan akan meningkatkan kelembaban di sekitar pertanaman kacang tanah.
b. Suhu udara sekitar 28-320C. Bila suhunya di bawah 100C, pertumbuhan tanaman akan terhambat, bahkan kerdil.
c. Kelembaban udara berkisar 65-75 %.
d.Penyinaran matahari penuh dibutuhkan, terutama kesuburan daun dan perkembangan besarnya kacang.

2.2. Media Tanam
a. Jenis tanah yang sesuai adalah tanah gembur / bertekstur ringan dan subur.
b. pH antara 6,0-6,5.
c. Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati.
d. Drainase dan aerasi baik, lahan tidak terlalu becek dan kering baik bagi pertumbuhan kacang tanah.

2.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian penanaman optimum 50 - 500 m dpl, tetapi masih dapat tumbuh di bawah ketinggian 1.500 m dpl.

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persyaratan Benih
Syarat-syarat benih/bibit kacang tanah yang baik adalah:
a. Berasal dari tanaman yang baru dan varietas unggul.
b. Daya tumbuh yang tinggi (lebih dari 90 %) dan sehat.
c. Kulit benih mengkilap, tidak keriput dan cacat.
d. Murni atau tidak tercampur dengan varietas lain.
e. Kadar air benih berkisar 9-12 %.

3.1.2. Penyiapan Benih
Benih sebaiknya disimpan di tempat kering yang konstan dan tertutup rapat. Untuk menjamin kualitas benih, lebih baik membeli dari Balai Benih atau Penangkar Benih yang telah ditunjuk oleh Balai Sertifikasi Benih.

3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan dan Pembukaan lahan
Pembukaan lahan dengan pembajakan dan pencangkulan untuk pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya, serta untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit.

3.2.2. Pembentukan Bedengan 
Buat bedengan ukuran lebar 80 cm, panjang menyesuaikan, ketebalan bedengan 20-30 cm. Diantara bedengan dibuatkan parit.

3.2.3. Pengapuran
Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam dilakukan pengapuran dengan dosis + 1 - 2,5 ton/ha selambat-lambatnya 1 bulan sebelum tanam.

3.2.4. Pemberian Natural GLIO
Untuk mencegah terjadinya serangan jamur berikan Natural GLIO. Pengembangbiakan Natural GLIO dengan cara: 1-2 sachet Natural GLIO dicampur dengan 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari + 1 minggu dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik) . Pemberian Natural GLIO pada sore hari.

3.2.5. Pemberian Pupuk Makro dan SUPER NASA
Jenis dan dosis pupuk setiap hektar adalah:
a. Pupuk kandang 2 - 4 ton/ha, diberikan pada permukaan bedengan kurang lebih seminggu sebelum tanam, dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam.
b. Pupuk anorganik : SP-36 (100 kg/ha), ZA (100 kg/ha) dan KCl (50 kg/ha) atau sesuai rekomendasi setempat.
c. Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1-2 botol (500-1000 cc) diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m2 (10-20 botol/ha). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA.

Adapun cara penggunaan SUPER NASA sbb :
alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram + 10 meter bedengan.

Semua dosis pupuk makro diberikan saat tanam. Pupuk diberikan di kanan dan kiri lubang tugal sedalam 3 cm.

3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan Pola Tanam
Pola tanam memperhatikan musim dan curah hujan. Pada tanah yang subur, benih kacang tanah ditanam dalam larikan dengan jarak tanam 40 x 15 cm, 30 x 20 cm, atau 20 x 20 cm.

3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat sedalam 3 cm menggunakan tugal dengan jarak seperti yang telah ditentukan di atas.

3.3.3. Perendaman Benih dengan POC NASA 
Pilih benih yang baik dan agar benih dapat berkecambah dengan cepat dan serempak, benih direndam dalam larutan POC NASA (1-2 cc/liter air) selama + 0,5 1 jam.

3.3.4. Cara Penanaman
Masukan benih 1 atau 2 butir ke dalam lubang tanam dengan tanah tipis. Waktu tanam yang paling baik dilahan kering pada awal musim hujan, di lahan sawah dapat dilakukan pada bulan April-Juni (palawija I) atau bulan Juli-September (palawija II).

3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyulaman
Sulam benih yang tidak tumbuh atau mati, untuk penyulaman lebih cepat lebih baik (setelah yang lain kelihatan tumbuh ± 3-7 hari setelah tanam).

3.4.2. Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan dilakukan 2 kali umur 1 dan 6 minggu dengan hati-hati agar tidak merusak bunga dan polong.
Pembumbunan dilakukan bersamaan saat penyiangan, bertujuan untuk menutup bagian perakaran.

3.4.3. Pemberian POC NASA dan HORMONIK
Penyemprotan POC NASA dilakukan 2 minggu sekali semenjak berumur 1-2 minggu (4-5 tutup POC NASA/tangki). Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 m2 (10-20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3-4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan.

3.4.5. Pengairan dan Penyiraman
Pengairan dilakukan agar tanah tetap lembab. Untuk menjaga kelembaban pada musim kemarau dapat diberikan mulsa (jerami dan lain-lain). Saat berbunga tidak dilakukan penyiraman, karena dapat mengganggu penyerbukan.

3.4.6. Pemeliharaan Lain
Hal-hal lain yang sangat menunjang faktor pemeliharaan bisa dilakukan, misalnya pemangkasan, perambatan, pemeliharaan tunas dan bunga serta sanitasi lingkungan lahan (dijaga agar menunjang kesehatan tanaman).

3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
a. Uret 
Gejala: memakan akar, batang bagian bawah dan polong. Akhirnya tanaman layu dan mati. Pengendalian: olah tanah dengan baik, penggunaan pupuk kandang yang sudah matang, menanam serempak, penyiangan intensif, Penggunaan Pestona dengan cara disiramkan ke tanah, jika tanaman terlanjur mati segera dicabut dan uret dimusnahkan.
b. Ulat Penggulung Daun
Gejala: daun terlipat menguning, akhirnya mengering. Pengendalian: penyemprotan menggunakan Pestona.
c. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Gejala: ulat memakan epidermis daun dan tulang secara berkelompok. Pengendalian: (1) bersihkan gulma, menanam serentak, pergiliran tanaman; (2) penyemprotan menggunakan Natural Vitura.
d. Ulat Jengkal (Plusia sp)
Gejala: menyerang daun kacang tanah. Pengendalian: penyemprotan menggunakan Pestona.
e. Kumbang Daun
Gejala: daun tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk bunga. Pengendalian: (1) penanaman serentak; (2) penyemprotan menggunakan Pestona.

3.5.2. Penyakit
a. Penyakit layu atau “Omo Wedang”
Penyebab: bakteri Xanthomonas solanacearum (E.F.S.). Gejala: daun terkulai seperti disiram air panas, akhirnya mati. Bila dipotong tampak noda coklat pada bagian pembuluh kayu dan bila dipijit keluar lendir kekuningan. Akar tanaman membusuk. Pengendalian: Pergiliran tanaman, gunakan varietas yang tahan. Penting melakukan pencegahan menggunakan Natural GLIO.
b. Penyakit sapu setan
Penyebab: Mycoplasma (sejenis virus). Diduga ditularkan serangga sejenis Aphis. Gejala: bunga berwarna hijau tua seperti daun-daun kecil, ruas-ruas batang dan cabang menjadi pendek, daun-daun kecil rimbun. Pengendalian: tanaman dicabut, dibuang dan dimusnahkan, semua tanaman inang dibersihkan (sanitasi lingkungan), menanam tanaman yang tahan, menanggulangi vektornya menggunakan Pestona atau Natural BVR.
c. Penyakit Bercak Daun
Penyebab : Jamur Cercospora personata dan Cercospora arachidicola. Gejala: timbul bercak-bercak berukuran 1-5 mm, berwarna coklat dan hitam pada daun dan batang. Pengendalian: dengan menggunakan Natural GLIO di awal tanam sebagai tindakan pencegahan.
d. Penyakit Gapong
Penyebab: diduga Nematoda. Gejala: Polong kosong, juga bisa busuk. Pengendalian: tanahnya didangir dan dicari nematodanya.
e. Penyakit Sclerotium
Penyebab: cendawan Sclerotium rolfsii. Gejala: tanaman layu. Pengendalian: gunakan varietas yang resisten, air jangan sampai menggenang, membakar tanaman yang terserang cendawan. Pencegahan: gunakan Natural GLIO pada awal tanam
f. Penyakit Karat
Penyebab: cendawan Puccinia arachidis Speg. Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak coklat muda sampai coklat (warna karat). Daun gugur sebelum waktunya. Pengendalian: gunakan varietas yang resisten, tanaman yang terserang dicabut dan dibakar. Pencegahan: gunakan Natural GLIO pada awal tanam.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
3.6. Panen
Umur panen tanaman kacang tanah tergantung dari jenisnya yaitu umur pendek ± 3-4 bulan dan umur panjang ± 5-6 bulan. Adapun ciri-ciri kacang tanah sudah siap dipanen antara lain:
a) Batang mulai mengeras.
b) Daun menguning dan sebagian mulai berguguran, Polong sudah berisi penuh dan keras.
c) Warna polong coklat kehitam-hitaman.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: BUDIDAYA KACANG TANAH ( Arachis hypogeae L.) - 9756people
Info Petani -
BUDIDAYA KEDELAI

BUDIDAYA KEDELAI

PENDAHULUAN
Ketergantungan terhadap kedelai impor sangat memprihatinkan, karena seharusnya kita mampu mencukupinya sendiri. Ini karena produktivitas rendah dan semakin meningkatnya kebutuhan kedelai. PT. Natural Nusantara berusaha membantu dalam peningkatan produksi secara kuantitas , kualitas dan kelestarian lingkungan sehingga kita bisa bersaing di era pasar bebas.

SYARAT TUMBUH
Tanaman dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asal drainase (tata air) dan aerasi (tata udara) tanah cukup baik, curah hujan 100-400 mm/bulan, suhu udara 230C - 300C, kelembaban 60% - 70%, pH tanah 5,8 - 7 dan ketinggian kurang dari 600 m dpl.

PENGOLAHAN TANAH
- Tanah dibajak, digaru dan diratakan
- Sisa-sisa gulma dibenamkan
- Buat saluran air dengan jarak sekitar 3-4 m
- Tanah dikeringanginkan tiga minggu baru ditanami
- Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol (500 cc) POC NASA diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m² (10 botol/ha). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA, cara penggunaannya sebagai berikut:
- Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
- Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram 5-10 meter bedengan.

PENANAMAN
- Rendam benih dalam POC NASA dosis 2 cc / liter selama 0,5 jam dan dicampur Legin (Rhizobium ) untuk tanah yang belum pernah ditanami kedelai
- Buat jarak tanam antar tugalan berukuran 30 x 20 cm, 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm
- Buat lubang tugal sedalam 5 cm dan masukkan biji 2-3 per lubang
- Tutup benih dengan tanah gembur dan tanpa dipadatkan
- Waktu tanam yang baik akhir musim hujan

PENJARANGAN & PENYULAMAN
Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari, benih yang tidak tumbuh diganti atau disulam dengan benih baru yang akan lebih baik jika dicampur Legin. Penyulaman sebaiknya sore hari.

PENYIANGAN
Penyiangan pertama umur 2-3 minggu, ke-2 pada saat tanaman selesai berbunga (sekitar 6 minggu setelah tanam). Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2.

PEMBUBUNAN
Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.

PEMUPUKAN
Contoh jenis dan dosis pupuk sebagai berikut :


Waktu

Dosis Pupuk Makro (per ha)

Urea (kg)

SP-36 (kg)

KCl (kg)

2 Minggu Setelah Tanam

50

40

20

6 Minggu Setelah Tanam

30

20

40

Total

80 kg

60 kg

60 kg

POC NASA diberikan 2 minggu sekali semenjak tanaman berumur 2 minggu, dengan cara disemprotkan (4 - 8 tutup POC NASA/tangki).
Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 m2 (10 - 20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3 - 4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan, akan lebih aman jika disiramkan.

PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN
Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab tetapi tidak becek. Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering.

PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT1. Aphis glycine
Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala: layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian: (1) Jangan tanam tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan; (2) buang bagian tanaman terserang dan bakar, (3) gunakan musuh alami (predator maupun parasit); (4) semprot Natural BVR atau PESTONA dilakukan pada permukaan daun bagian bawah.

2. Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa)
Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala: larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian: penyemprotan PESTONA

3. Ulat polong (Ettiela zinchenella)
Gejala: pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, polong bagian luar berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Pengendalian : (1) tanam tepat waktu.

4. Kepik polong (Riptortis lincearis)
Gejala: polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa.

5. Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli)
Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Pengendalian : Saat benih ditanam, tanah diberi POC NASA, kemudian setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami . Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan PESTONA. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan.

6. Kepik hijau (Nezara viridula)
Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan. Gejala: polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit polong berbintik coklat.

7. Ulat grayak (Spodoptera litura)
Gejala : kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian : (1) dengan cara sanitasi; (2) disemprotkan pada sore/malam hari (saat ulat menyerang tanaman) beberapa Natural VITURA.

8. Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas sp.)
Gejala : layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat. Pengendalian : Varietas tahan layu, sanitasi kebun, dan pergiliran tanaman.
Pengendalian : Pemberian Natural GLIO

9. Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium Rolfsii)
Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab, dan tanaman berjarak tanam pendek. Gejala : daun sedikit demi sedikit layu, menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi. Pengendalian; tanam varietas tahan dan tebarkan Natural GLIO di awal

10. Anthracnose (Colletotrichum glycine )
Gejala: daun dan polong bintik-bintik kecil berwarna hitam, daun yang paling rendah rontok, polong muda yang terserang hama menjadi kosong dan isi polong tua menjadi kerdil. Pengendalian : (1) perhatikan pola pergiliran tanam yang tepat; (2) Pencegahan di awal dengan Natural GLIO

11.Penyakit karat (Cendawan Phakospora phachyrizi)
Gejala: daun tampak bercak dan bintik coklat. Pengendalian: (1) cara menanam kedelai yang tahan terhadap penyakit; (2) semprotkan Natural GLIO + gula pasir

12. Busuk batang (Cendawan Phytium Sp)
Gejala : batang menguning kecoklat-coklatan dan basah, kemudian membusuk dan mati. Pengendalian : (1) memperbaiki drainase lahan; (2) Tebarkan Natural GLIO di awal

PANEN DAN PASCA PANEN
- Lakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul.
- Perlu diperhatikan, kedelai sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75 - 100 hari, sedangkan untuk benih umur 100 - 110 hari, agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata.
- Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera dijemur.
- Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung dan dipasarkan atau disimpan.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: BUDIDAYA KEDELAI - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit