728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
CARA MEMBUAT BLOG:
Banyak pilihan untuk membuat blog, bisa membuat di Blogger, Wordpress,Multiply,Blog Detik, Indosiar, dan banyak lainnya.
Silahkan:
1. Masuk ke Blogger.com
2. Setelah itu, anda akan masuk ke halaman dimana ada panduan membuat blog dalam 3 langkah mudah, ikuti saja dan masukkan data sesuai yang diminta
3. Setelah selesai, blog anda sudah jadi dan siap dipakai.
Selengkapnya baca di blognya Kang Rahman
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: CARA MEMBUAT BLOG: - 9756people
Info Petani -
INDIKATOR POLUSI YANG ALAMI
Sebenarnya tidak perlu alat canggih seperti yang ada di dekat Stasiun Gambir untuk mengetahui seberapa tercemarnya udara di sekeliling kita. Malah ironisnya, alat ini kini hanya menjadi penunjuk tanpa ada pendataan dan tindakan yang lebih konkret untuk merespon apa yang tertera di alat ersebut. Alampun mampu memberi pertanda akan tingkat pencemaran udara di lingkungan. Beberapa hewan dan tanaman yang menjadi indikator polusi, antara lain adalah:
Pepohonan yang di permukaan batangnya dihinggapi alga tertentu, dapat diartikan bahwa disekitarnya sudah tidak bersih lagi. Alga ini merupakan parasit yang akan tumbuh di pohon yang tidak sehat.
Kunang-kunang dapat dijadikan petunjuk kualitas lingkungan. Di lingkungan yang tingkat polusinya tinggi, kunang-kunang tidak akan dapat bertahan hidup. Telur kunang-kunang memiliki inang siput air. Di perairan yang juga tercemar, tidak ada siput air. Dengan begitu, kunang-kunang juga tidak dapat berkembang biak.
katak kulitnya sangat sensitif dengan perubahan udara, termasuk kelembapan. Buktinya, katak akan “bernyanyi” saat kelembapan udara berubah akan turun hujan. Begitu juga dengan polusi udara, yang akan mempengaruhi hidup katak. (Tabloid Rumah VII).
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: INDIKATOR POLUSI YANG ALAMI - 9756people
Info Petani -
APA ITU PERTANIAN ORGANIK???
Alam mengajari kebajikan bagi umat manusia. Alam merupakan suatu kesatuan, terdiri dari banyak bagian, seperti organisme dengan organ-organnya. Semua bagian berjalan dalam harmoni, saling melayani dan berbagi. Tiap organ memiliki peran masing-masing, saling melengkapi dan memberikan sinergi untuk menghasilkan keseimbangan secara optimal, dan berkelanjutan. Setiap komponen tidak berpikir dan beraksi hanya demi "aku", tetapi untuk "kita": keseluruhan alam. Demikian halnya Alam, melindungi dan mengayomi bagian-bagiannya secara harmonis. Itulah organis, tidak egois.

Pertanian organik (PO) juga tunduk pada prinsip diatas, pada hukum alam. Segala yang ada di alam adalah berguna dan memiliki fungsi, saling melengkapi, melayani dan menghidupi untuk semua. Dalam alam ada keragaman hayati dan keseimbangan ekologi. Maka, PO pun menghargai keragaman hayati dan keseimbangan ekologi. Berjuta tahun alam membuktikan prinsipnya, tak ada eksploitasi selain optimalisasi pemanfaatan. Demikian halnya PO, tidak untuk memaksimalkan hasil, tidak berlebih; tetapi cukup untuk semua makhluk dan berkesinambungan. Inilah filosofi mendasar PO.

Perkembangan Pertanian Organik

Praktek pertanian yang menggunakan bibit unggul yang dihasilkan oleh perusahaan benih, bahan-bahan kimia buatan pabrik (agrokimia) ---baik untuk pemupukan lahan dan pengendalian hama--- awalnya dirasakan dapat meningkatkan hasil produksi pertanian. Namun, setelah beberapa dekade, praktek tersebut menimbulkan permasalahan khususnya terhadap kerusakan ekosistem lahan pertanian dan kesehatan petani itu sendiri.

Penurunan hasil pertanian yang dibarengi dengan meningkatnya daya tahan hama dan penyakit tanaman, disebabkan karena fauna tanah yang bermanfaat bagi tanaman semakin berkurang dan mikroorganisme yang berguna bagi kesuburan tanah pun nyaris hilang akibat pemakaian input agrokimia yang berlebihan. Bahkan, hama dan penyakit tanaman bukannya menurun, tapi justru semakin kebal terhadap bahan-bahan kimia tersebut. Sehingga, petani memerlukan dosis yang lebih tinggi lagi untuk membasminya. Ini artinya, petani tidak saja menebar racun untuk membasmi hama dan penyakit, tetapi juga meracuni dirinya sendiri.

Perhatian masyarakat dunia terhadap persoalan pertanian, kesehatan dan lingkungan global dalam dasawarsa terakhir ini semakin meningkat. Kepedulian tersebut dilanjutkan dengan usaha-usaha yang konkrit untuk menghasilkan pangan tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumber daya tanah, air, dan udara serta aman bagi kesehatan manusia. Salah satu usaha yang dirintis adalah dengan pengembangan PO yang akrab lingkungan dan menghasilkan pangan yang sehat, bebas dari residu obat-obatan dan zat-zat kimia yang mematikan.

Sebenarnya, PO ini sudah menjadi kearifan/pengetahuan tradisional yang membudaya di kalangan petani di Indonesia. Namun, teknologi pertanian organik ini mulai ditinggalkan oleh petani ketika teknologi intensifikasi yang mengandalkan bahan agrokimia diterapkan di bidang pertanian. Sejak saat itu, petani menjadi target asupan agrokimia dan tergantung dari pihak luar. Setelah muncul persoalan dampak lingkungan akibat penggunaan bahan kimia di bidang pertanian, teknologi PO yang akrab lingkungan dan menghasilkan pangan yang sehat mulai diperhatikan lagi. (Sutanto, 2002).


Apa dan Bagaimana Budidaya PO ?

PO merupakan pertanian yang selaras dengan alam, menghayati dan menghargai prinsip-prinsip yang bekerja di alam yang telah menghidupi segala mahluk hidup berjuta-juta tahun lamanya. PO merupakan proses budidaya pertanian yang menyelaraskan pada keseimbangan ekologi, keanekaragaman varietas, serta keharmonian dengan iklim dan lingkungan sekitar. Dalam prakteknya, budidaya PO menggunakan semaksimal mungkin bahan-bahan alami yang terdapat di alam sekitarnya, dan tidak menggunakan asupan agrokimia (bahan kimia sintetis untuk pertanian). Lebih jauh, karena PO berusaha ‘meniru’ alam, maka pemakaian benih atau asupan yang mengandung bahan-bahan hasil rekayasa genetika (GMO/Genetically Modified Organism) juga dihindari.

Kerapkali PO hanya dipahami secara teknis bertani yang menolak asupan kimiawi atau sebagai budidaya pertanian yang anti modernisasi atau disamakan dengan pertanian tradisional. Pemahaman ini sungguh kurang tepat. PO bukan sekedar teknik atau metode bertani, melainkan juga cara pandang, sistem nilai, sikap dan keyakinan hidup. PO memandang alam secara menyeluruh, komponennya saling tergantung dan menghidupi, dimana manusia juga adalah bagian di dalamnya. Sistem nilai PO mendasarkan pada prinsip-prinsip hukum alam. PO juga mengajak petani dan manusia umumnya untuk arif dan kreatif dalam mengelola alam yang tercermin dalam sikap dan keyakinannya. PO juga tidak menolak penggunaan teknologi modern di dalam praktek budidayanya, sejauh teknologi modern tersebut selaras dengan prinsip PO, yaitu keberlanjutan, penghargaan pada alam, keseimbangan ekosistem, keanekaragaman varietas, kemandirian dan kekhasan lokal. Maka, baik kearifan tradisional dan teknologi modern yang tunduk pada prinsip alam, keduanya mendapat tempat dalam PO.

Gerakan PO mencoba menghimpun seluruh usaha petani dan pelaku lain, yang secara serius dan bertanggungjawab menghindarkan asupan dari luar yang meracuni lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh kondisi lingkungan yang sehat. Mereka juga berusaha menghasilkan produksi tanaman yang berkelanjutan dengan cara memperbaiki kesuburan tanah dan menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian.
Budidaya PO, juga mendorong kemandirian dan solidaritas di antara petani sebagai produsen. Mandiri untuk tidak tergantung pada perusahaan-perusahaan besar penyedia pupuk dan bahan agrokimia serta perusahaan bibit. Solidaritas untuk berdaulat dan berorganisasi demi mencapai kesejahteraan, pemenuhan hak dan keadilan sosial bagi petani.

Berikut ini adalah beberapa pedoman umum dalam budidaya PO:

a. Lahan
Pada dasarnya semua lahan dapat dikembangkan menjadi lahan PO. Yang terbaik adalah lahan pertanian yang berasal dari praktek pertanian tradisional atau hutan alam yang tidak pernah mendapatkan asupan bahan-bahan agrokimia (pupuk dan pestisida).
Namun, bila lahan yang digunakan berasal dari lahan bekas budidaya pertanian konvensional (menggunakan pupuk dan pestisida kimia), lebih dahulu perlu dilakukan konversi lahan. Konversi lahan adalah upaya yang bertujuan untuk meminimalkan kandungan sisa-sisa bahan kimia yang terdapat dalam tanah dan memulihkan unsur fauna dan mikroorganisme tanah. Lamanya konversi tergantung dari intensitas pemakaian input kimiawi dan jenis tanaman sebelumnya (sayuran, padi atau tanaman keras).
Masa konversi dapat diperpanjang/diperpendek tergantung pada sejarah lahan tersebut. Bila masa konversi telah lewat, lahan tersebut merupakan lahan organik. Bila kurang dari itu, maka lahan tersebut masih merupakan lahan konversi menuju organik.

b. Benih
Benih yang digunakan untuk budidaya PO adalah benih yang tidak mendapatkan perlakuan rekayasa genetika. Petani sebaiknya menggunakan benih lokal, atau benih hibrida yang telah beradaptasi dengan alam sekitar.
Keunggulan menggunakan benih lokal adalah mudah memperolehnya dan murah harganya, bahkan petani bisa membenihkan sendiri. Selain itu, benih lokal memiliki asal usul yang jelas dan sesuai dengan kondisi alam sekitar. Dengan memakai benih sendiri, petani juga tidak tergantung pada pihak luar.

c. Persiapan tanam
Lahan yang digunakan untuk produksi PO sedapat mungkin dijaga kestabilannya tanpa harus mengacaukan, yaitu berpedoman pada metode sedikit olah tanah (minimum tillage)

d. Tanam
Prinsip yang diterapkan dalam praktek penanaman PO selalu mencerminkan adanya tumpangsari agar tercipta keanekaragaman tanaman (varietas). Perencanaan dan teknik penanaman perlu disesuaikan dengan sifat tanaman, prinsip-prinsip pergiliran tanaman dan kondisi cuaca setempat.

e. Pemeliharaan Tanaman
Setiap tanaman memiliki sifat karakteristik tertentu, maka pemeliharaan tanaman ditentukan oleh sifat karakteristik tersebut. Dengan mengenali karakteristik tanaman petani dapat dengan mudah melakukan pemeliharaan yang sesuai, sehingga tujuan pemeliharaan tercapai yaitu kebahagiaan tanaman itu sendiri.

f. Pemupukan
Secara teori, lahan PO akan semakin subur karena proses-proses yang diterapkan berpedoman pada pemeliharaan tanah. Tetapi realitanya, petani seringkali kurang memahami hal ini sehingga tanah selalu lebih banyak kehilangan unsur hara ---melalui erosi, penguapan, dsb--- dibandingkan dengan hara yang diberikan/ditambahkan. Maka prinsip pemupukan ditentukan oleh kepekaan kita dalam mengamati/menilai kapan tanaman kekurangan makanan.

g. Pengendalian HPT/OPT
PO berbasis pada keseimbangan ekosistem. Konsekuensinya semua organisme yang ada (termasuk hama) dipandang ikut berperan dalam proses keseimbangan tersebut. Dengan kata lain, tidak ada mahluk hidup yang tidak berguna. Yang diperlukan adalah mengendalikan hama/penyakit supaya tidak berada dalam jumlah berlebihan.
Pola tumpangsari, pergiliran tanaman, pemulsaan, rekayasa teknik menanam, dan manajemen kebun menjadi pilihan metode pengendalian HPT karena sesuai dengan prinsip keseimbangan.
Penggunaan pestisida alami diperlukan sejauh kita tahu bahwa di lahan PO sedang terjadi ketidakseimbangan, yang terlihat pada munculnya gangguan hama/penyakit. Kadar pemakaiannya juga tergantung dari tingkat gangguan yang ada.

h. Panen
Setiap langkah dalam proses produksi akan dinilai dari hasil panenan. Prinsip dalam panen adalah menjaga standar mutu dengan memanen tepat waktu sesuai kematangan. Cara pemanenan juga perlu berhati-hati sehingga tidak menimbulkan kerusakan atau kehilangan hasil yang lebih besar.

i. Pasca Panen
Kegiatan pasca panen harus mampu menekan kerusakan hasil seminimal mungkin. Metode pengolahan yang dilakukan tidak boleh mengubah sama sekali komposisi bahan aslinya. Karenanya proses seleksi, pencucian, pengepakan, penyimpanan dan pengangkutan produk organik perlu berhati-hati agar kondisi tetap segar dan sehat ketika berada di tangan pembeli. Dalam PO, kegiatan pasca panen menghindari pemakaian bahan pengawet atau perlakuan kimiawi lainnya dan seminimal mungkin melakukan proses pengolahan.

Dalam PO berlaku standar yang berfungsi sebagai pedoman bagi petani dan pelaku lain dalam menjalankan usahanya di bidang ini. Standar ini berisi prinsip-prinsip mendasar PO dan hal-hal umum yang sebaiknya dilakukan dan dihindari dalam bertani organik. Sebagai contoh, pemerintah telah menerbitkan SNI (Standar Nasional Indonesia ) 01-6729-2002 tentang Sistem Pangan Organik yang dapat menjadi acuan bagi para pelaku terkait pengembangan PO. Standar ini mengacu pada standar internasional yakni Codex CAC/GL 32/1999, dan cukup selaras dengan standar dasar IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movement). BIOCert sendiri tengah mengembangkan standar PO yang selaras dengan pedoman di atas dan sesuai dengan visi dan misi BIOCert.
Penulis:
Indro Surono.Koordinator DPA BIOCert;
YP Sudaryanto. DPA BIOCert;
Agung Prawoto.Pelaksana Harian BIOCert
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: APA ITU PERTANIAN ORGANIK??? - 9756people
Info Petani -
LABA DARI LAHAN MUNGIL
Pakaian seragam harian baru saja ditanggalkan Diah Meidianti. Setelah berganti kostum: kaos dan celana hitam, Mei melesat ke Taman Galaksi, di pinggiran timur Jakarta. Di kompleks perumahan itu ia mengangkut beragam sayuran.
Diah Meidianti memang mengelola sebuah kebun kecil-luasnya 3.500 m2p-untuk menanam sayuran semusim. Lokasi lahan terjepit tembok-tembok perumahan elite itu. Lahan itu merupakan tanah kosong yang belum dibangun oleh pengembang perumahan. Mei, alumnus Institut Pertanian Bogor, menyewa Rp1,5-juta per tahun sejak 2006. Di sanalah perempuan 45 tahun itu membudidayakan 10 jenis sayuran secara bergilir.
Ketika Trubus berkunjung ke kebun itu, Mei tengah menanam kangkung, selada, bayam merah, kacangpanjang, dan terung. ‘Saya sengaja memilih sayuran berumur pendek, agar cepat panen,’ kata Mei yang pernah mengikuti sistem budidaya organik di Nakhonratchasima, Thailand, selama 4 bulan. Selain komoditas itu, sayuran lain yang ia tanam adalah pakcoy, mentimun, dan pare.
Rp17-juta
Sayuran itu ditanam di guludan-guludan berukuran 1,2 m x 10 m. Total jenderal terdapat 280 bedeng atau guludan. Satu jenis sayuran dibudidayakan di 10 bedeng. Itulah sebabnya ia rutin memanen 300 kg masing-masing kangkung, caisim, bayam merah, pakcoy, dan 240 kg masing-masing kacangpanjang, mentimun, daun ginseng, terung ungu, serta pare saban bulan.
Volume produksi itu sesuai yang diminta pasar. Dengan teknik budidaya organik-Mei memberikan pupuk nonkimia-sayuran yang dihasilkannya bermutu tinggi. Semua hasil panen ia pasok ke sebuah pasar swalayan di bilangan Mampangprapatan, Jakarta Selatan. Perempuan kelahiran Surabaya, 27 Mei 1963 itu memperoleh harga rata-rata Rp6.000-Rp7.000 per kg.
Itu berarti omzet Mei mencapai Rp17-juta per bulan, jauh lebih besar ketimbang gajinya sebagai karyawan golongan IVA di sebuah departemen. Biaya produksi untuk benih, pupuk, dan tenaga kerja Rp7-juta. Tanpa memperhitungkan sewa lahan, laba bersih Mei Rp10-juta sebulan. Selain Mei yang juga mengebunkan sayuran di lahan sempit-kurang dari 5.000 m2p-adalah Kunaria Prakoso Karamoy.
Sehari-hari Kunaria beraktivitas sebagai konsultan perusahaan minyak dan gas. Pada akhir pekan barulah ia ke Gunungbatu, Kotamadya Bogor. Lokasinya ditempuh 15 menit dari Kebun Raya Bogor. Di halaman rumahnya seluas 2 kali lapangan voli, Kunaria membudidayakan beragam sayuran seperti kangkung, selada, terung, dan bayam. Kunaria menanam sayuran dalam bedeng bersemen. Ukurannya 9 m x 1,5 m x 20 cm. Ada 10 kotak hidroponik yang ditempatkan pada lahan 400 m2p.
Cepat panen
Media tanam dalam bak bedeng berupa campuran pasir, serbuk kayu, dan pupuk. Tanaman yang dipilih pun cepat panen agar risiko terkena hama penyakit rendah. Dalam satu bulan, minimal Kunaria memanen 50-70 kg kangkung, 20 kg pakcoy, 10 kg selada, 20 kg terong, dan 30 kg bayam merah. Semua sayuran itu diserap habis setiap saat oleh restoran di Ciawi, Kabupaten Bogor. Dengan harga jual rata-rata Rp 15-ribu/kg, omzetnya mencapai Rp1.950.000. Menurut Kunaria biaya produksinya rendah, Rp600-ribu/bulan. Pendapatan bersihnya Rp1.350.000/bulan.
Semula berhidroponik di depan halaman rumah, hanya sekadar hobi. Setelah 2 bulan menekuni hobi, seorang pedagang menawar hasil panennya. Sejak itulah ia membisniskan sayuran di lahan sempit. ‘Yang penting tidak repot atau mengganggu pekerjaan dan tidak becek,’ kata Kunaria. Perkataan serupa disampaikan Allen Hartono. Kontraktor di Surabaya, Jawa Timur, itu mengusahakan sayuran di lahan 48 m2p berketinggian 700 m dpl. Lokasinya di Plawah, Pasuruan. Ia menanam bayam, caisim, kalian, sawi, kembang kol, dan kangkung dalam rumahtanam berukuran 12 m x 4 m. Di sana ia membangun 2 rumahtanam mungil.
Dengan pupuk kimia racikannya, Allen mampu memanen kangkung dalam 21 hari, caisim 27 hari, kalian 30 hari, dan sawi kembang 27 hari. Biaya produksinya hampir sama; Rp2.600/250 gram. Jumlah produksinya mencapai 4.800 tanaman yang dikemas menjadi 1.200 bungkus berukuran 250 g. Dengan harga jual rata-rata Rp4.000/250 g, Allen memperoleh Rp1.680.000/bulan.
Depan rumah
Untuk membuka pasar tidaklah sulit. Menurut Allen, asal memberi contoh ke pasar swalayan dan disetujui, biasanya langsung bisa kirim. Selain itu, Allen kerap menjual ke rekan dan kerabatnya. Sedangkan Kunaria dengan mudah menjual ke penjual sayuran di sekitarnya untuk dipasok ke pasar. Oleh sebab itu, berbisnis sayuran bukan hanya hobi yang tersalurkan tapi laba diperoleh dengan hanya memanfaatkan halaman di depan rumah.
Menurut Drs Yudha Herry Asnawi MM, pakar Agribisnis Institut Pertanian Bogor, mengusahakan sayuran di lahan pekarangan jadi salah satu cara menambah pendapatan. Dengan luasan dan modal kecil, biasanya juga mendapatkan laba kecil. Walaupun begitu lahan yang sebelumnya tidak menghasilkan apa pun, bisa memberikan pendapatan tambahan. Untuk melambungkan laba mesti meningkatkan performa. Dengan pencucian dan pengemasan yang lebih baik, sayuran bisa diterima di pasar swalayan dengan harga di atas rata-rata.
Tertarik budidaya bisnis sayuran di lahan sempit? Ubah lahan pekarangan Anda menjadi guludan-guludan tanah atau rumahtanam hidroponik. Dengan sedikit perhatian, laba dari panen sayuran bakal masuk ke kantong Anda. (Vina Fitriani)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: LABA DARI LAHAN MUNGIL - 9756people
Info Petani -
MENJAUHLAH DARIKU SEMUT NAKAL
Semut memang hewan yang menjengkelkan. Apalagi jika wilayah operasi semut itu sudah menjangkau ruang makan, kamar tidur, ruang tamu dan ruang-ruang lainnya yang kita anggap sebagai runga privat. Untuk mengusirnya, anda bisa mencoba cara alternatif, dengan menaburkan serbuk merica di sekeliling kamar di kaki meja. Jika memungkinkan, cari lobang semut dan taburkanlah merica di lubang tersebut. Sebaiknya gunakan merica yang masih biji dan digiling sendiri, karena kebanyakan merica yang sudah dijual di pasaran sudah dicampur bahan lain.
InsyaAllah semut lari tunggang-langgang.
Kalo nggak, mati lhu!
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: MENJAUHLAH DARIKU SEMUT NAKAL - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit