728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
Live Report FSN: DELEGASI THL TBPP TERUS BERDATANGAN KE FSN THL TBPP 2009
Dari kesunyian dan dinginnya waduk Sermo-Hutan Sermo Yogyakarta dapat dilaporkan sampai tadi malam telah tercatat 22 propinsi mengirimkan delegasi THL TBPP-nya. Agenda hari ini: Pandangan Umum, Forum Silaturahmi Nasional (FSN) THL TBPP, Pembahasan AD/ART FSN THL TBPP. (AA/CLP/JTG)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Live Report FSN: DELEGASI THL TBPP TERUS BERDATANGAN KE FSN THL TBPP 2009 - 9756people
Info Petani -
Harga sebuah Ciplukan empat ribu tigarutus rupiah
Tidak menyangka di negara maju seperti Jepang ditemukan ciplukan buah liar yang dijual di pasar, tepatnya di pasar Ishikawa. Di Indonesia sering kita jumpai pohon ciplukan tumbuh liar diantara tanaman kacang tanah dan jagung. Ciplukan merupakan tumbuhan herba tahunan dengan tinggi 0,1 - 1 m, berasal dari Amerika yang kini telah tersebar secara luas di daerah tropis di dunia. Ciplukan biasa tumbuh di tanah dengan ketinggian antara 1-1550 m dpl.

Ciplukan buah liar ini di pasar Prefektur Ishikawa ternyata per pak nya (isi 18 buah) dijual dengan harga 780 yen. Atau 43 yen per buah, kalau dirupiahkan menjadi 4.300 rupiah. Ciplukan ini rasanya agak langu dibanding ciplukan dari Jawa meskipun ukurannya lebih besar. Ciplukan Jawa rasanya memang lebih manis.

Nama ilmiahnya yaitu Physalis angulata L. Di Jepang dinamai Houzuki, orang Inggris menyebutnya Morel berry, sedangkan dalam bahasa Indonesia dinamakan Ciplukan, sebutan di daerah bermacam macam yaitu Ceplukan di Jawa, Cecendet di Sunda, Yor-yoran di Madura, Lapinonat di Seram, Angket, Kepok-kepokan, Keceplokan di Bali, Dedes di Sasak, Leletokan di Minahasa.





Klasifikasi Physalis angulata L. dalam sistematika tumbuhan adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonnae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Marga : Physalis
Spesies : Physalis angulata L

Komposisi beberapa bagian tanaman ini, herbanya mengandung Fisalin B, Fisalin D, Fisalin F, Withangulatin A. Bijinya mengandung 12-25% protein, 15-40% minyak lemak dengan komponen utama asam palmitat dan asam stearat. Akarnya mengandung alkaloid. Daunnya mengandung glikosida flavonoid (luteolin). Tunasnya mengandung flavonoid dan saponin.

Hasil dari penelitian yang telah dilakukan, baik secara in vitro maupun in vivo bahwa ciplukan memiliki aktivitas sebagai antihiperglikemi, antibakteri, antivirus, imunostimulan dan imunosupresan (imunomodulator), antiinflamasi, antioksidan, dan sitotoksik.

Hasil penelitian Baedowi (1998) pada mencit yang diberikan 28,5 mL/kg BB menunjukan bahwa daun ciplukan mempunyai aktivitas antihiperglikemia yang dapat mempengaruhi sel β insulin pankreas.

Ayo…siapa yang ingin mengembangkan budidaya ciplukan besar-besaran sebagai bahan obat herbal untuk menggantikan obat-obatan kimia yang mulai dihindari oleh masyarakat negara maju?
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Harga sebuah Ciplukan empat ribu tigarutus rupiah - 9756people
Info Petani -
TINJAUAN PUSTAKA CARA MENGHITUNG INDEKS KOMPETISI TAJUK JATI
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Hutan Jati (Tectona grandis)
Jati merupakan tanaman budidaya yang memiliki sejarah panjang. J.W.H. Cordes (Insp. V. h. Boschwezen in Ned. De Djatibosschen op Java Ogilvie Batavia & Co. 1881 dalam Poerwokoesoemo (1975)) menerangkan dalam “ De Djatibosschen op Java halaman 129”, bahwa hutan Jati di Jawa terdapat di bagian tengah dan timur. Untuk kondisi di Jawa Barat dimana tanahnya terdiri dari tanah pegunungan vulkanis, Jati hanya terdapat di tempat-tempat tertentu saja. Iklim yang kering, panas dan tak tentu dari Jawa Timur dan Jawa Tengah merupakan faktor-faktor yang membantu dan memajukan tumbuh suburnya pohon Jati, hal ini berbeda dengan kondisi iklim di tanah pegunungan. Dalam arah meninggi, Jati mempunyai wilayah terbatas, yaitu 2000 kaki. Tinggi 2000 kaki ( 650 m ) dari permukaan laut ini boleh dianggap sebagai batas dari hutan Jati. Pengukuran dan perpetaan hutan Jati di Jawa mulai tahun 1860 menggambarkan tempat-tempat tumbuh hutan Jati di seluruh Jawa, dengan kekecualian dari beberapa kelompok hutan Jati, misalnya dari Banyuwangi, Jogjakarta dan sebagian dari Surakarta.
Menurut Rumphius (1628-1702) dalam Poerwokoesoemo (1975) yang nama aslinya Rumphia, menulis tentang Jati sebagai berikut:
1. Kiati-boom (Jatus Cayu Jati). Di Jawa dan sekitarnya Jati termasuk jenis hutan yang tertinggi, berbatang lurus, halus dan panjang sebelum berdahan dan beranting. Menurut keadaan kayunya, Jati mempunyai dua jenis, yaitu Jati Jantan dan Jati betina.
2. Jati mempunyai daun yang terlebar, yang telah kami ketahui, kecuali Folium mapparum, jenis mana di tempat ini amat jarang terdapat, karena daun Jati dari daun muda panjangnya 3 kali dan lebar 20 dim, kebelakang menjadi sempit pada gagang daun yang tebal hingga tangkai daun ini bundar bangunnya.
3. Pohon Jati tidak akan berbunga dan berbuah sebelum cukup umur. Di Jawa Jati berbunga dalam bulan-bulan kering waktu di sana disebut musim kemarau, dan buah Jati didapat sesudah bulan November.
Junghuhn (1853) dalam Poerwokoesoemo (1975) menceritakan “tiekboom” vamili Verbenaceae kayu Jati yaitu Tectona grandis L. fil. (Tectona Spr. Theca alior), yang selalu tumbuh berkelompok, menghambat tumbuhnya jenis tumbuhan lain dari tanah kering, baik tanah keras maupun tanah liat, tanah pasir atau tanah berbatu. Dimana Jati dapat tumbuh dengan subur jenis tumbuhan lain tidak dapat tumbuh dengan baik, kecuali jenis pohon Acacia dan Anonaceae atau Ficus yang dapat tumbuh bersama-sama dengan Jati. Jati dapat merupakan hutan murni yang amat luas dan diwaktu kering atau musim panas mulai bulan Juli muluruh daunnya, hingga memberi pemandangan yang kering dan gundul.
Lebih lanjut, N. Beumee-Nieuwland (1922) dalam Poerwokoesoemo (1975) mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan tentang tanah-tanah di hutan Jati di Jawa terutama mengenai hal khemis dan physis dari tanah hutan Jati. Pemeriksaan dan penyelidikan tidak ditujukan kepada pertanyaan tanah apa yang terbaik untuk Jati, tetapi memeriksa tanah apakah yang ditumbuhi oleh Jati. Jati di Jawa berada terpencar di tanah-tanah yang berjenis-jenis ragamnya dan dapat tumbuh dengan baik. Untuk terluas Jati tumbuh di tanah tertiair formasi kapur dan mergel (tertiare kalk en mergel formasi) tetapi ini bukanlah bukti, bahwa Jati amat baik bertumbuh di jenis tanah ini. Di Jawa terdapat juga Jati baik di atas gunung api (vulkanisch) dengan kadar kapur yang amat sedikit. Hutan Jati dengan bonita IV dan V terdapat juga di tanah-tanah yang dulunya mengandung banyak kapur, tetapi kapur itu hampir habis semuanya. Hal demikian membuktikan, bahwa kadar kapur (kalkgehalte) tinggi bukanlah syarat penting untuk tumbuh baik Jati; lagi pula pada umumnya pohon Jati tidaklah memilih-milih susunan khemis dari tanah. Tinggallah kemungkinan, bahwa Jati di tanah kapur tidak dengan pertolongan manusia dapat bertumbuh sendiri dan di tanah yang baik tanpa bantuan manusia tak mungkin bersaingan dengan jenis-jenis pohon lain.

2.2. Metode Penentuan Kerapatan Tegakan
Pengaturan jarak tanam merupakan salah satu cara untuk menciptakan faktor-faktor yang dibutuhkan tanaman dapat tersedia secara merata bagi setiap individu tanaman dan untuk mengoptimasi penggunaan faktor lingkungan yang tersedia. Metode untuk pengukuran kerapatan tegakan didasarkan pada prinsip biologis yang hanya dikenal baru-baru ini yaitu, korelasi yang tinggi antara lebar tajuk pohon yang tumbuh terbuka dan diameternya. Metode ini terbukti berguna untuk estimasi pengurangan tinggi yang disebabkan oleh berbagai derajat stagnasi pada Pinus contorta (Alexander dkk 1967 Daniel. et. al (1995)). Metode ini memberikan alat untuk mengetahui jumlah tekanan sampingan yang dapat ditahan suatu jenis dan memberikan wawasan yang berharga mengapa beberapa jenis mampu tumbuh pada tegakan yang lebih rapat dari yang lain. Metode ini mengukur karakteristik biologis lain suatu jenis yang tidak bergantung pada umur dan tempat tumbuh.
Metode persaingan tajuk dikembangkan untuk memberikan data ruang tumbuh maksimal yang dapat digunakan oleh pohon dan data keperluan pohon minimal untuk mempertahankan tempatnya dalam tegakan (Krajicek dkk., 1961 Daniel. et. al (1995)). Pohon yang tumbuh terbuka harus digunakan untuk mengumpulkan data proyeksi luas tajuk vertial dengan diameter pohon. Hal ini demikian karena hanya dengan pohon yang tumbuh terbuka hubungan luas tajuk dengan setiap diameter setinggi dada tidak dipengaruhi oleh persaingan. Luas tajuk ditemukan berhubungan erat dengan diameter setinggi dada, dan hubungan itu hampir konstan pada suatu jenis tanpa memandang tempat tumbuh dan umur. Terdapat perbedaan yang sangat nyata dalam hubungan diameter tajuk dengan diameter setinggi dada antara Picea dan jenis daun lebar, perbedaan nyata antara Carya dan Quercus rubra, tetapi tidak ada perbedaan nyata diantara Quercus. Dengan demikian suatu pohon dengan ruang tak terbatas tidak dapat menempati lebih daripada luas maksimal tertentu yang sebanding dengan diameter setinggi dadanya.
Meskipun model tegakan dan individu pohon, keduanya dapat menggunakan input data dari sampel plot penelitian, hanya model individu pohon yang memiliki kemungkinan untuk menstimulasi lingkungan kompetitif dari tiap pohon. Lebih jauh data individu pohon teragregasi setelah model menambah tiap pohon , sementara model tegakan mengagregasi data individu pohon pada variabel tegakan sebelum mengoperasiakn model pertumbuahan. Seperti model pertumbuhan, model individu pohon dipersisapkan untuk sebagian spesies atau tipe tutupan dari data sampel yang dikumpulkan dari rentang tertentu lingkungan yang tumbuh. Model ini dengan demikian hanya dapat diaplikasikan dengan baik pada tegakan subyek yang termasuk ke dalam rentang kondisi tegakan sampel yang digunakan untuk membangan model (Davis dkk. Et.al. 1987).
Disamping tinggi, diameter dan variabel lain dari pohon yang digunakan dalam model bebas jarak, tiap individu pohon secara literal dipetakan untuk menentukan jarak, hubungan dan ukuran dari semua pohon berdekatan yang berkompetisi dengan subyek untuk cahaya, kelembaban dan nutrisi ini mengakibatkan posisi beresaing dari tiap pohon menjadi dihitung secara umum dengan keakuratan yang lebih dapat diperkirakan. Kerugian dari model bergantung jarak ini adalah biaya pemetaan pohon yang tinggi dan meningkatnya kompleksitas perhitungan. Juga kita belum menemukan bukti yang terdokumentasi atau study kasus yang menunjukkan keunggulan model bergantung jarak atas model bebas jarak (Davis dkk. Et.al. 1987).
Pengukuran berdasar jarak, dalam Davis dkk. Et.al. 1987, kebanyakan dimulai dengan konsep Steabler’s (1951) tentang zona melingkar dari pengaruh sekitar pohon subyek dimana kehadiran pohoin bersaing akan mengurangi tingkat pertumbuhan pohon subyek. Tingkat kompetisi adalah masuk akal sebagai persentase dari zona pengaruh yang tum,pang tindih oleh pohon-pohon kompetitif. Apakah itu kompetisi kelembaban, cahaya, ataukah nutrisi, akan bergantung pada spesies dan karakterfisik sebagian dari tempat tumbuh bersamaan dengan pohon subyek. Ineks permulaan Steabler adalah:



Dimana: indeks kompetisi untuk pohon j
jarak tajuk tumpang tindih antara pesaing i dan subyek pohon j, dalam kaki
radius pohon subyek, dalam kaki
jumlah pesaing

Indeks ini akan kecil secara numeris dengan pesaing yang sedikit dan sedikit tumpang tindih tajuk.
Hegyi (1974) muncul dengan indeks perhitungan sederhana:



Dimana: indeks kompetisi untuk pohon
diameter tajuk pesaing dan pohon subyek, dalam inchi
jarak antara pesaning dengan pohon subyek, dalam kaki
semua pohon interseksi dengan faktor 10 basal area prisma dirotasi pada tengah pohon subyek

Indeks kompetisi Bella (1971) menentukan porsi area tajuk pohon subyek yang tumpang tindih oleh kompetis dan dipertimbangkan oleh rasio diameter.

Dimana: indeks kompetisi untuk pohon j
area tajuk overlap antara pohon pesaing i dan pohon subyek j, dalam kaki kuadrat
area tajuk pohon subyek j, dalam kaki kuadrat
diameter tajuk pesaing dan pohon subyek, dalam kaki
faktor
semua pohon dimana Oij positif
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: TINJAUAN PUSTAKA CARA MENGHITUNG INDEKS KOMPETISI TAJUK JATI - 9756people
Info Petani -
UNDANGAN FORUM SILATURAHMI NASIONAL (RAKORNAS) THL TBPP
Our document viewer, iPaper, is based on Adobe Flash. Make sure your browser has the latest version of the Flash Player, which is available for free from Adobe
Undangan Fsn Thl-tbpp


Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: UNDANGAN FORUM SILATURAHMI NASIONAL (RAKORNAS) THL TBPP - 9756people
Info Petani -
PROPOSAL FORUM SILATURAHMI NASIONAL (RAKORNAS) THL TBPP
Our document viewer, iPaper, is based on Adobe Flash. Make sure your browser has the latest version of the Flash Player, which is available for free from Adobe
Proposal Fsn Thl Tbpp


Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: PROPOSAL FORUM SILATURAHMI NASIONAL (RAKORNAS) THL TBPP - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit