728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
Taman Organik dan Kios Organik Mandiri
THL TBPP, BISA!! Sebuah ide kreatif dan bermanfaat tercurah dari kawan-kawan THL TBPP kabupaten Tulungagung dalam Taman Organik dan Kios Organik Mandiri. Pendirian Taman Organik bersama dengan pembukaan KIOS ORGANIK MANDIRI bertujuan antara lain: 
  • Memperkenalkan Taman Organik sebagai lahan percontohan pertanian ramah lingkungan kepada masyarakat Tulungagung pada khususnya dan praktisi pertanian pada umumnya. 
  • Memperkenalkan Kios Organik ”MANDIRI”sebagai tempat pemasaran produk-produk organik kepada masyarakat Tulungagung pada umumnya dan produsen serta konsumen produk organik khususnya. 
  • Wahana transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian organik. Wahana karya wisata dan rekreasi/outbond pertanian organik bagi anak usia sekolah maupun masyarakat umum yang ingin menambah pengetahuan tentang pertanian organik.  
Hal lain adalah kita ingin mewujudkan Program Go Organik 2010 yang dicanangkan oleh Departemen Pertanian RI. Kenyataan  di lapang menunjukkan bahwa pertanian non organik/konvensional pada prakteknya berlebih didalam menggunakan pestisida dan pupuk kimia yang pada akhirnya meninggalkan residu kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Akibat lain adalah degradasi lahan/penurunan kualitas lahan yang semakin hari semakin mengkuatirkan.  
Yang sangat membanggakan bagi THL TBPP adalah 
  1) Taman Organik dan Kios Organik Mandiri bisa terwujud atas swadaya murni dari Forum Komunikasi Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (FK- TBPP) Kabupaten Tulungagung, yang beranggotakan 100 personel. Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (TBPP) direkrut oleh Departemen Pertanian dan diperbantukan di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia sejak tahun 2007. Hasil dan efek positif dari rekruitmen ini adalah berhasilnya swasembada beras yang sempat terhenti sejak tahun 1984. Hal lain adalah sebagian besar TBPP di seluruh wilayah Indonesia di dalam melakukan pendampingan dan penyuluhan bagi rumah tangga petani mampu memunculkan ide – ide kreatif. Untuk FK – TBPP kabupaten Tulungagung salah satu ide kreatif yang digagas adalah berdirinya Taman Organik dan Kios Organik Mandiri yang beralamat di Jalan Srabah 01/05 Desa Karanganom, Kec. Kauman, Kabupaten Tulungagung. Ide ini digagas sebagai upaya serius membantu petani di kabupaten Tulungagung di dalam memulai kegiatan pertanian organik di tahun 2010 dengan menyelaraskan program Departemen Pertanian  ”GO ORGANIK 2010”
2)      Lahan yang dikelola oleh Taman Organik seluas 11 hektar yang terdiri dari :
-          7 hektar tanaman padi
-          3 hektar untuk tanaman sayur
-          1 hektar untuk kolam ikan
Lahan ini digunakan sebagai lahan percontohan dengan dilengkapi fasilitas Saung/Gazebo untuk pertemuan, Rumah Kompos untuk kegiatan produksi pupuk organik dan area Taman Sayur yang ditata apik.  
Sebagai tahap awal varietas padi yang di budidayakan adalah Ciherang, mengingat varietas ini mudah di dalam perawatan, tidak rentan terhadap hama dan penyakit
Tanaman sayur yang dibudidayakan terdiri dari sayur dataran rendah, seperti kacang panjang, lombok,tomat,bayam, sawi dan sayuran dataran tinggi seperti bawang prei, brokoli, selada dan lain-lain.
Untuk kolam ikan masih difokuskan pada budi daya ikan gurami  dan lele untuk kebutuhan konsumsi.
3)      Berkaitan dengan perawatan kita melibatkan petani sebagai mitra kita. Lahan yang kita kelola dari awal menggunakan sistem kemitraan dan model pendampingan lapang oleh seluruh personel TBPP Tulungagung.  Berkaitan dengan pemupukan, Taman Organik kita lengkapi dengan rumah kompas. Rumah kompas inilah yang mensupply kebutuhan pupuk organik di lahan petani mitra.
Sebagai kegiatan panen perdana cukup menampakkan hasil yang memuaskan, produktivitas padi mencapai 8 ton/hektar. Walaupun pada dasarnya kegiatan pertanian organik pada awalnya memang belum dapat memaksimalkan produktivitas, walaupun pada akhirnya dalam jangka panjang produktivitas panen akan meningkat dan kualitas lahan menjadi baik.   
4)      Tanggapan warga sekitar (Ds. Karanganom, Kec. Kauman) sangat mendukung. Bahkan dari hamparan persawahan yang luas totalnya mencapai 20 hektar di sekitar Taman Organik, ingin bergabung dalam kemitraan.
Mengingat sumber daya modal yang terbatas kita belum bisa memenuhi keinginan warga tani tersebut, kedepan kita berharap dapat mengelola total hamparan di sekitar area Taman Organik dengan kecukupan sumber daya yang kita persiapkan.
5)      Sambutan dari pejabat terkait adalah harapan supaya manajemen Taman Organik dengan Kios Organik Mandiri dapat mengembangkan kegiatannya secara lebih luas di wilayah Tulungagung. Kepala Dinas Pertanian menyatakan siap meng-alokasikan bantuan berupa sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan pertanian organik, berupa mesin pengolah pupuk organik. Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung, melalui komisi yang membidangi siap menganggarkan alokasi dana APBD untuk kegiatan pertanian organik.
6)      Penghargaan kepada Bupati Tulungagung berkaitan dengan Ketahanan Pangan dan Peng-anekaragaman Pangan, yang diberikan oleh Presiden RI bulan Desember tahun lalu.
Penghargaan tersebut tidak lepas dari partisipasi kelompok tani dan aparat pertanian, termasuk Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian. Bahkan teman-teman di TBPP ikut serta di dalam penataan kegiatan di bidang Ketahan Pangan, seperti menyiapkan dan menata Gerai Ketahanan Pangan dan mendokumentasi atau menginventarisir kegiatan-kegiatan yang menunjang ketahanan pangan dan peng-aneka ragaman pangan.
7)      Kita berharap Taman Organik dan Kios Organik Mandiri kedepannya dapat menjadi Pusat Pelatihan Pertanian Organik, yang membantu dan mendampingi petani dalam kegiatan pertanian organik secara gratis serta wahana pelatihan  pemuda untuk lebih mencintai dunia pertanian dengan berbagai jenis usahanya
Sehubungan dengan Kios Organik Mandiri supaya dapat menjadi terminal produk pertanian organik yang menampung dan memasarkan hasil panen petani organik dan menjadi sarana  pembelajaran petani terhadap  manajemen agrobisnis. (Timour/Ket. FK Tulungagung)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Taman Organik dan Kios Organik Mandiri - 9756people
Info Petani -
BREAKING NEWS THL TBPP
Menyikapi perkembangan informasi mengenai THL TBPP maka  kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
  1. Mengenai Pengumuman/ surat Pembaharuan kontrak untuk THL TBPP angkatan 1 yang sampai saat ini belum keluar, kawan-kawan diharapkan tetap bersabar. FK THL TBPP Nasional terus mengupayakan agar pengumuman tersebut segera keluar.
  2. Jaga saldo minimal rekening BRI Anda 3 bulan ke depan jangan sampai Offline. Sehingga nanti ketika proses transfer gaji/ honor tidak mengalami kendala.
  3. Dimohon doa dari kawan-kawan ( Sholat Hajat atau menyesuiakan bagi yang non muslim) terutama satu bulan ke depan, Kawan-kawan FK THL TBPP Nasional dan FK THL TBPP Provinsi se-Indonesia saat ini sedang di Jakarta dalam rangka Rakornas dan serangkaian kegiatan untuk memperjuangkan nasib Kita.
Terima kasih dan tetap semangat!
 
Ketua 
FK THL TBPP Nasional
 
 
DEDY ALFIAN
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: BREAKING NEWS THL TBPP - 9756people
Info Petani -
PESTISIDA ALAMI MAKIN DIMINATI
Pestisida-Kesadaran masyarakat akan dampak negatif pestisida kimia terus berkembang. Sejalan dengan hal tersebut, pengendalian organisme pengganggu tanaman secara arif dan bijaksana juga terus dikembangkan, hingga melahirkan falsafah Pengendalian Organisme Pengganggu Utama Terpadat (Integrated Pest Management). Untuk mengatasi dampak negatif penggunaan pestisida kimia, dapat digunakan pestisida alami atau bahan-bahan nabati (back to nature). Indonesia cukup kaya akan potensi tanaman penghasil racun untuk  memberantas organisme pengganggu tanaman. Pemanfaatan potensi pestisida alami tersebut dapat diwujudkan melalui teknologi tradisional maupun teknologi modern. Tumbuhan anti hama atau penghasil racun untuk memberantas organisme pengganggu tanaman harus memenuhi kriteria sebagai berikut: merupakan tanaman tahunan; memerlukan sedikit arang, tenaga kerja, pupuk, dan air bukan merupakan tanaman inang atau sumber hama lain; memiliki kegunaan lain selain sebagai pestisida alami; dan bahan anti hama dapat diambil tanpa mematikan tanaman yang bersangkutan.

Menurut Balitro, sampai saat ini, dari sekitar 5.400 jenis tumbuhan yang telah diketahui mengandung bahan pestisida, ternyata baru sekitar 10.000 jenis senyawa metabolit yang telah dapat diidentifftasi. Di Indonesia,diperkirakan terdapat lebih dari 100 jenis tumbuhan yang mengandung bahan pestisida, antara lain tanaman srikaya (Annona grabra dan A. squamosa), tanaman bengkuang (Pachyrhizus qerosus URB), bunga pyrethrum (chrysanthemum cinerariefolium), dan tanaman atau akar ntba (Derris elliptica Benth).

Pengetahuan dan penelitian mengenai pestisida botani tersebut telah banyak dilakukan di negara-negara maju, misalnya Amerika, Jepang, dan negara-negara Eropa. Perlindungan (proteksi) tanaman terhadap gangguan hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida alami (nabati) telah dimulai sejak zaman dahulu. Misalnya, pada zaman Romawi sulfur sudah digunakan sebagai pestisida. Dalam perkembangan selanjutnya, banyak jenis tanaman atau bagian tanaman diketahui dapat menghasilkan racun serangga hama, misalnya ekstrak daun tembakau, pyrethrin dari bunga pyrethrum (Chrysanthemum cinerariae folium) dan ekstrak akar tanaman tuba (Derris elliptica Benth).

Di Indonesia, penggunaan pestisida alami telah berlangsung sebelum tahun 1960-an, ditandai dengan munculnya Revolusi Hijau. Revolusi Hijau dilaksanakan dalam bentuk masukan-masukan bagi proses intensifikasi, ekstensifikasi, rehabilitasi, dan diversifikasi produk-produk pertanian. Salah satu masukan pestisida alami tersebut adalah pestisida pemberantas Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama untuk mengendalikan hama dan penyakit.pestisida alami

Dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan pestisida semakin meningkat dengan pesat, baik jenis, dosis, maupun interval pemakaiannya. Di Indonesia, terdapat lebih dari 25 jenis pestisida yang digunakan oleh petani, 16 jenis di antaranya adalah insektisida yang digunakan oleh petani sayuran dataran tinggi. Petani sayuran datatan rendah, misalnya di Kabupaten Tegal dan Brebes, telah menggunakan 15 jenis insektisida untuk mengendalikan hama-hama tanaman cabai, dan 12 jenis insektisida untuk mengendalikan hama-hama tanaman bawang merah.

pestisida alami Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kabupaten Bandung, khususnya di sentra-sentra produksi sayuran dataran tinggi, penggunaan insektisida ditingkat petani sudah sangat intensif, yakni dengan interval penyemprotan antara 1 - 2 kali per minggu dengan konsentrasi antara 0,7% - 0,45%. Pada keadaan tersebut, biaya penggunaan pestisida dalam budi daya sayuran, misalnya kubis mencapai 30%, tomat 50%, dan kentang 40% dari total produksi variabel. Sementara di Kabupaten Tegal dan Brebes, penyemprotan insektisida dilakukan setiap 2 - 3 hari, dengan volume penyemprotan antara 125 - 900liter/ha tiap aplikasi pada tanaman cabai dan 500 - 1.000 liter/ha pada tanaman bawang merah.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman telah dilakukan secara intensifdan berlebihan, oleh para petani di dataran rendah dan dataran tinggi. Selain merupakan pemborosan, penggunaan pestisida secara intensif dan berlebihan juga menimbulkan berbagai masalah yang serius serta merugikan manusia dan hewan. Konsekuensi penggunaan pestisida kimia secara intensif dan berlebihan antara lain adalah sebagai berikut:

1. Dapat meracuni manusia dan hewan domestik.

2. Meracuni organisme yang berguna, misalnya musuh alami hama, lebah
dan serangga yang membantu penyerbukan, dan satwa liar yang mendukung
fungsi kelestarian alam.

3. Mencemari lingkungan dengan segala akibatnya, termasuk residu pestisida.

4. Menimbulkan strain hama baru yang resisten terhadap pestisida.

5. Menimbulkan terjadinya resurgensi hama atau peristiwa meningkatnya
populasi hama setelah diperlakukan dengan pestisida tertentu.

6. Menyebabkan terjadinya ledakan hama sekunder dan hama potensial'

7 . Memerlukan biaya yang mahal karena sifat ketergantungan keberhasilan
budi daya tanaman pada pestisida.

Melihat banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan pestisida kimia dalam upaya penanggulangan hama dan penyakit tanaman, maka perlu dicari teknik pengendalian yang tepat dan aman bagi manusia dan lingkungan, serta mangkus terhadap jasad sasaran. Salah satu komponen pengendalian hama dan penyakit yang saat ini sedang dikembangkan adalah penggunaan pestisida nabati atau senyawa bioaktif alamiah yang berasal dari tumbuhan. Selain menghasilkan senyawa primer (primary metabolite), dalam proses metabolismenya tumbuhan juga menghasilkan senyawa sekunder (secondary metabolite), misalnya fenol, alkaloid, terpenoid, dan senyawa lain. Senyawa sekunder ini merupakan pertahanan tumbuhan terhadap serangan hama.

Dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan pestisida semakin meningkat dengan pesat, baik jenis, dosis, maupun interval pemakaiannya. Di Indonesia, terdapat lebih dari 25 jenis pestisida yang digunakan oleh petani, 16 jenis di antaranya adalah insektisida yang digunakan oleh petani sayuran dataran tinggi. Petani sayuran datatan rendah, misalnya di Kabupaten Tegal dan Brebes, telah menggunakan 15 jenis insektisida untuk mengendalikan hama-hama tanaman cabai, dan 12 jenis insektisida untuk mengendalikan hama-hama tanaman bawang merah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kabupaten Bandung, khususnya di sentra-sentra produksi sayuran dataran tinggi, penggunaan insektisida ditingkat petani sudah sangat intensif, yakni dengan interval penyemprotan antara 1 - 2 kali per minggu dengan konsentrasi antara 0,7% - 0,45%. Pada keadaan tersebut, biaya penggunaan pestisida dalam budi daya sayuran, misalnya kubis mencapai 30%, tomat 50%, dan kentang 40% dari total produksi variabel. Sementara di Kabupaten Tegal dan Brebes, penyemprotan insektisida dilakukan setiap 2 - 3 hari, dengan volume penyemprotan antara 125 - 900liter/ha tiap aplikasi pada tanaman cabai dan 500 - 1.000 liter/ha pada tanaman bawang merah.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman telah dilakukan secara intensifdan berlebihan, oleh para petani di dataran rendah dan dataran tinggi. Selain merupakan pemborosan, penggunaan pestisida secara intensif dan berlebihan juga menimbulkan berbagai masalah yang serius serta merugikan manusia dan hewan. Konsekuensi penggunaan pestisida secara intensif dan berlebihan antara lain adalah sebagai berikut:

1. Dapat meracuni manusia dan hewan domestik.

2. Meracuni organisme yang berguna, misalnya musuh alami hama, lebah
dan serangga yang membantu penyerbukan, dan satwa liar yang mendukung
fungsi kelestarian alam.

3. Mencemari lingkungan dengan segala akibatnya, termasuk residu pestisida.

4. Menimbulkan strain hama baru yang resisten terhadap pestisida.

5. Menimbulkan terjadinya resurgensi hama atau peristiwa meningkatnya
populasi hama setelah diperlakukan dengan pestisida tertentu.

6. Menyebabkan terjadinya ledakan hama sekunder dan hama potensial'

7 . Memerlukan biaya yang mahal karena sifat ketergantungan keberhasilan
budi daya tanaman pada pestisida.

Dalam dunia pertanian, pestisida yang berasal dari tanaman mulai dilirik kembali. Indonesia cukup kaya akan potensi alamiah aneka sumber daya tanaman penghasil pestisida alami.

Potensi Tanaman Penghasil Pestisida
Sejak dulu hingga sekarang, pemakaian pestisida merupakan salah satu altematif untuk mengamankan produksi pertanian dunia. Sukses besar yang dicapai dalam pengendalian hama dan penyakit dengan penggunaan pestisida adalah setelah Perang Dunia II, yaitu sebagai awal era baru pemakaian insektisida organik sintetis, misalnya DDT dan BHC. Penggunaan pestisida kimia
memang dapat mengamankan produksi pertanian secara ekonomis, karena pestisida kimia memiliki keunggulan komparatif sebagai berikut:

1. Pestisida alami  Sangat mangkus (efektif)

2. Pestisida alami  Praktis dan luwes, dalam pengertian mudah dikerjakan kapan saja dan
oleh siapa saja, baik pada keadaan rutin ataupun darurat

3. Pestisida alami  Cocok atau kompatibel dengan teknik pengendalian yang lain
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: PESTISIDA ALAMI MAKIN DIMINATI - 9756people
Info Petani -
PENGELOLAAN PASCA PANEN TANAMAN NILAM
Pengelolaan agro-industry nilam terdiri dari dua pekerjaan masing-masing pra
penyulingan dan saat penyulingan. Pengelolaan agro-industry pra penyulingan terdiri dari pengeringan dan pelayuan yang harus diperhatikan, antara lain:
Pengelolaan (1) Pengeringan jangan dilakukan terlalu cepat, sebab mengakibatkan daun menjadi rapuh dan sulit disuling; Oleh karena itu, daun dijemur di atas tikar atau lantai semen untuk memperoleh sinar matahari selama 3 hari dari jam 10.00-14.00 sampai kandungan air dalam daun turun sekitar 15% sampai penyulingan akan dimulai;
Pengelolaan (2) Pengeringan

jangan terlalu lambat, sebab mengakibatkan daun menjadi lembab dan udah terserang jamur, sehingga rendemen dan mutu minyak yang dihasilkan rendah;
Pengelolaan (3) Tebal
tumpukan daun yang dijemur 50 cm dan dibalik 2-3 kali sehari.

Pengelolaan agroindustry
pada saat penyulingan yang harus diperhatikan antara lain:

Pengelolaan (1) Terna kering
berada pada jarak tertentu di atas permukaan air; Metode ini dikenal dengan cara
dikukus;

Pengelolaan (2) Jika tangki alat suling yang digunakan berkapasitas 1.150 liter maka kerapatan daun 100-150 gram/liter atau 120-150 kg/1.150 liter, di mana daun nilam dikukus dengan sistem tekanan/boiler;

Pengelolaan (3) Alat Suling dikonstruksi dari bahan stainless
steel supaya diperoleh hasil minyak berwarna lebih jernih;

Pengelolaan (4) Sebelum disuling, terna kering terlebih dahulu dibasahi air supaya mudah dipadatkan;

Pengelolaan (5) Penyulingan terna
kering nilam akan menyerap air sebanyak bobotnya;

Pengelolaan (6) Waktu yang diperlukan dalam
penyulingan secara dikukus sekitar 5-10 jam;

Pengelolaan(7) Kecepatan penyulingan secara dikukus
0.6 kg uap/kg terna.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: PENGELOLAAN PASCA PANEN TANAMAN NILAM - 9756people
Info Petani -
PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT LESTARI SEBAGAI UPAYA PENYELAMATAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
Saat ini keberadaan pengelolaan hutan rakyat, yang dibangun masyarakat di lahan milik, telah dirasakan cukup berarti dalam sumbangannya terhadap perbaikan kondisi lingkungan hidup. Di Kawasan Kapur Selatan, pembangunan pengelolaan hutan rakyat telah mengubah kondisi regional yang kering, panas dan gersang. Keberadaan hutan rakyat yang didominasi jati dan mahoni telah menjadikan kawasan ini lebih hijau, subur dan sejuk. Hutan rakyat juga cukup memberi dampak dalam penurunan jumlah bencana alam tanah longsor pada Kawasan Pegunungan Menoreh. Pengelolaan hutan rakyat.

Pengelolaan hutan rakyat bagi pemiliknya, hutan rakyat merupakan bagian penting dalam kehidupan mereka. Pola pemanfaatan dan interaksi masyarakat desa hutan dengan hutan rakyat cukup beragam dan berbeda-beda satu-sama lain, tergantung kondisi kesuburan tanah, kultur masyarakat secara umum, dan kebijakan lokal kabupaten yang terkait dengan pembangunan hutan rakyat. Namun demikian secara umum teridentifikasi bahwa hutan rakyat memegang peran penting dalam kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat desa hutan. Sementara kebutuhan jangka menengah dipenuhi dari hasil panen tahunan seperti ketela, kemukus, dll. Kebutuhan jangka panjang dipenuhi dari panenan jangka panjang, tanaman kayu-kayuan. Di daerah yang kurang subur seperti di pegunungan kapur selatan, hutan rakyat sangat berperan dalam menopang kehidupan masyarakat pada saat pertanian tidak menghasilkan. Pengelolaan hutan rakyat.



Pengelolaan hutan rakyat Pada umumnya, pengelolaan hutan rakyat dilakukan dengan konsep pengelolaan yang sangat sederhana, yaitu hanya dengan menanami tanah miliknya dengan tanaman berkayu dan membiarkannya tumbuh berkembang. Dalam perjalanannya, teknik-teknik silvikultur di dalam pengelolaan hutan rakyat berkembang cukup pesat. Upaya-upaya perbanyakan tanaman dengan metode stek, sambung dan cangkok telah cukup akrab bagi petani hutan rakyat. Begitu pula dengan model penanaman multi jenis dan multilayer serta cara pemanenan pohon yang tidak merusak tanaman lain telah menjadi warna tersendiri dalam pengelolaan hutan rakyat. Namun perkembangan teknis ini tidak diikuti dengan peningkatan kapasitas manajerial yang memadai. Hal ini sangat berpengaruh terhadap proses pengaturan hasil yang hampir dikatakan tidak ada, karena selalu dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan yang sifatnya mendadak. Pemenuhan ini membuat petani hutan rakyat sebagai produsen kayu selalu menjadi pihak lemah dalam proses tawar-menawar harga produk. Pengelolaan hutan rakyat

Beberapa karakter umum pengelolaan hutan rakyat ditinjau dari aspek manajemen hutan adalah:

Pengelolaan hutan rakyat- Berada di tanah milik yang dijadikan hutan dengan alasan tertentu, seperti lahan yang kurang subur, kondisi topografi yang sulit, tenaga kerja yang terbatas, kemudahan pemeliharaan, faktor resiko kegagalan yang kecil dan lain sebagainya.

Pengelolaan hutan rakyat -Hutan tidak mengelompok, tetapi tersebar berdasarkan letak dan luas kepemilikan lahan, serta keragaman pola wanatani.

Pengelolaan hutan rakyat -Basis pengelolaan berada pada tingkat keluarga, setiap keluarga melakukan pengembangan dan pengaturan secara terpisah.

Pengelolaan hutan rakyat -Pemanenan dilakukan berdasarkan sistem tebang butuh, sehingga konsep kelestarian hasil belum berdasarkan kontinuitas hasil yang dapat di peroleh dari perhitungan pemanenan yang sebanding dengan pertumbuhan (riap) tanaman.

Pengelolaan hutan rakyat -Belum terbentuk organisasi yang profesional untuk melakukan pengelolaan hutan rakyat.

Pengelolaan hutan rakyat -Belum ada perencanaan pengelolaan hutan rakyat, sehingga tidak ada petani hutan rakyat yang berani memberikan jaminan terhadap kontinuitas pasokan kayu bagi industri.

Pengelolaan hutan rakyat -Mekanisme perdagangan kayu rakyat di luar kendali petani hutan rakyat sebagai produsen, sehingga keuntungan terbesar dari pengelolaan hutan tidak dirasakan petani hutan rakyat.

Pengelolaan hutan rakyat -Karakter-karakter tersebut sangat mengisyaratkan rentannya kelestarian hutan rakyat akibat adanya peningkatan kebutuhan industri berbasis kehutanan, terutama bahan baku kayu. Hal ini diperparah dengan menurunnya produktivitas kayu dari hutan negara yang disebabkan oleh penebangan liar dan kegagalan pembuatan tanaman.

Pengelolaan hutan rakyat -Diperlukan upaya intervensi bagi penyelamatan hutan rakyat dari penurunan kualitas dan kuantitas yang lebih jauh akan membawa dampak negatif bagi kualitas ekologi dan ekonomi regional. Di sisi selanjutnya, sejumlah industri berbasis kayu rakyat yang menampung ribuan tenaga kerja juga akan mengalami dampak ikutan (collateral damage). Pengembangan kemampuan manajerial dalam pengelolaan hutan rakyat harus ditumbuhkembangkan untuk memberikan kepastian kelestarian pasokan kayu untuk industri dan kepastian kontinuitas pendapatan petani hutan rakyat.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT LESTARI SEBAGAI UPAYA PENYELAMATAN DAERAH ALIRAN SUNGAI - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit