728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
Cengkeraman Gurita Pangan Global
Oleh Subejo 1)

Berbagai kalangan di belahan dunia kian menyadari bahwa pangan merupakan komoditas yang sangat strategis. Dengan sifatnya yang berbeda dengan barang lain, dengan pangan secara langsung menentukan kehidupan umat manusia, peran pentingnya semakin nyata.

Krisis pangan dunia yang parah sepanjang 2007-2008 memberi pelajaran berharga bahwa produksi pangan yang mencukupi kebutuhan nasional sangat penting bagi stabilitas politik dan ekonomi. Dalam kondisi krisis, pihak yang menguasai pangan juga dapat meraup keuntungan sangat besar. Selain itu, ia memiliki kekuatan politik yang kuat. Tuntutan untuk mencukupi kebutuhan pangan domestik dan harapan memperoleh keuntungan yang besar telah mendorong para investor transnasional pemilik modal raksasa untuk melakukan investasi dan terlibat secara langsung dalam bisnis pangan dunia.

Industrialisasi pangan global

Ledakan penduduk dan kegagalan panen karena perubahan iklim global menyebabkan kebutuhan pangan dunia terus meroket. Harga pangan dunia secara otomatis juga membumbung. Investasi produksi dan penguasaan pangan akan menjadi pilihan yang tepat bagi korporasi transnasional. Tidak hanya keuntungan ekonomi yang diharapkan, tapi juga potensi kekuatan geopolitiknya yang besar.

Negara Teluk yang kaya minyak tapi miskin sumber daya pertanian dan sepenuhnya menggantungkan kebutuhan pangan dari impor sangat berkepentingan untuk terlibat dalam industrialisasi pangan melalui berbagai korporasi transnasionalnya. Kelompok itu antara lain diwakili Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Selain itu, negara yang berpenduduk sangat besar tapi kapasitas sumber daya pertaniannya terbatas memiliki ketertarikan yang sama. Negara yang masuk kelompok tersebut di antaranya China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Mereka menanamkan modal mereka untuk mengakuisisi lahan pertanian secara murah dalam skala yang sangat besar bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan hektare. Mereka akan membawa produk pangannya ke negara asal atau menjualnya di pasar internasional yang lebih menguntungkan. Akuisisi lahan itu banyak terjadi di negara-negara miskin dan berkembang baik di Asia, Afrika maupun Amerika Latin.

Skenario yang umum dipakai adalah kerja sama korporasi transnasional dengan negara dengan skema pemanfaatan lahan milik negara melalui hak guna usaha yang sangat longgar hingga 90 tahun atau model menyewa lahan petani dalam skala luas untuk jangka waktu yang panjang hingga 30 tahun.

Situasi memusatnya produksi dan distribusi pangan oleh korporasi transnasional ditengarai Friedmann (2005) sebagai green capitalism. Dengan penguasaan lahan yang sangat besar, korporasi dapat memproduksi dan mengatur distribusi pangan sehingga harga pun akan diaturnya. Ideologi itu yang cenderung menjadi lawan dari gagasan kedaulatan pangan (food sovereignty).

Model akuisisi lahan pertanian secara besar-besaran dalam jaringan internasional oleh Harvey (2006) dikenal sebagai land grabbing. Kadang-kadang model itu dikenal pula dengan land rush. Laporan Jesica Silver-Greenberg di Business Week (2009) menunjukkan bahwa keterlibatan investor global dalam industrialisasi pangan di belahan dunia dalam batas tertentu dapat bermakna sebagai kolonialisasi baru. Sebagai contoh, seperti dilaporkan Times India (2009) sebuah korporasi besar India di bawah kelompok Karuturi Global Limited (KGL) telah mengakuisisi lahan pertanian yang sangat besar di berbagai negara miskin Afrika hingga mencapai 33 juta hektare (setara dengan luas Jerman) untuk industrialisasi pangan.

Beberapa kalangan termasuk World Bank mendukung pengembangan model land grabbing dengan harapan dapat dicapai win-win solution, yaitu kecukupan produksi pangan dunia dan juga pertumbuhan ekonomi negara yang ditempati. Dalam praktiknya, dampak positif tidak sebesar yang diharapkan. Lapangan kerja baru yang tersedia juga tidak cukup nyata mengatasi persoalan pengangguran. Ide untuk mencukupi kebutuhan pangan negara setempat juga tidak terwujud karena produksi diekspor ke negara pemilik modal. Justru dampak negatif yang bermunculan. Kehancuran pertanian lokal, perebutan sumber air, pencemaran air karena penggunaan pupuk kimia yang berlebihan, banjir akibat pembabatan hutan dan lain sebagainya.

Food estate dan gurita pangan

Peluncuran pengembangan pangan skala besar atau dikenal dengan food estate oleh Kabinet Indonesia Bersatu II baru-baru ini perlu direspons dengan sangat serius. Model food estate ini sejatinya tidak lain dan tidak bukan adalah wujud land grabbing. Keterlibatan transnasional dalam food estate nampak dengan tingginya minat korporasi dari Uni Emirat Arab, Kuwait, China, dan Korea. Kekhawatiran banyak pihak adalah potensi hancurnya pertanian rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung pangan. Petani gurem tidak mungkin dapat bersaing dengan korporasi pemilik modal besar dan teknologi yang efisien.

Komitmen pemerintahan baru sebagaimana juga amanat konstitusi untuk membangun ekonomi tangguh berbasis kerakyatan justru dipertanyakan dengan peluncuran food estate yang sangat jelas memfasilitasi sepenuhnya green capitalism. Kondisi itu justru dikhawatirkan akan melemahkan kedaulatan pangan nasional.

Food estate ini sejatinya menunjukkan cengkeraman gurita pangan global di negeri ini. Mengapa justru kebijakan pemerintahan baru lebih memprioritaskan fasilitasi food estate ketimbang serius menggarap 42 juta petani gurem. Peluncuran program monumental mewujudkan pertanian rakyat yang lebih produktif, efisien, dan berdaya saing akan sangat diapresiasi. Tentu saja diperlukan kebijakan lain yang mampu meningkatkan skala usaha, menciptakan lapangan kerja baru di perdesaan yang mampu mengurangi tekanan pada sektor pertanian.

1) Dosen pertanian UGM, kandidat PhD dari The University of Tokyo

Sumber : Media Indonesia 18 Maret 2009
http://www.mediaindonesia.com/%20read/2010/%2003/18/129894/%2068/11/Cengkeraman-Gurita-%20Pangan-Global
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Cengkeraman Gurita Pangan Global - 9756people
Info Petani -
Health Benefits of Rice
Health benefits of rice include providing fast and instant energy, good bowel movement, stabilizing blood sugar levels and providing essential source of vitamin B1 to human body. Other benefits include skin care, resistance to high blood pressure, dysentery and heart diseases. Rice is the staple food in most of the countries and it is an important cereal crop that feeds more than half of the world’s population.
Health benefits of rice can be found in more than forty thousand varieties of this cereal available in the world. The two main categories include whole grain rice and white rice. Whole grain rice is not processed much, therefore it is high in nutritional value, whereas white rice is processed so that the bran or outer covering is removed and it has less nutritional value. Rice can also be defined by the length of each grain. Indian or Chinese cuisines specialize in long grained rice, whereas western countries prefer short or medium sized grains. According to Rice-Trade, rice is extremely nutritious. Some of the health benefits specified by them are as follows:
  • Great Energy Source: As rice is rich in carbohydrates, it acts as fuel for the body and aids in normal functioning of the brain.
  • Cholesterol Free: Eating rice is extremely beneficial for health, just for the fact that it does not contain harmful fats, cholesterol or sodium. It forms an integral part of balanced diet.
  • Rich in Vitamins: Rice is an excellent source of vitamins and minerals like niacin, vitamin D, calcium, fibre, iron, thiamine and riboflavin.
  • Resistant Starch: Rice abounds in resistant starch, which reaches the bowel in undigested form. It aids the growth of useful bacteria for normal bowel movements.
  • High Blood Pressure: As rice is low in sodium, it is considered best food for those suffering from high blood pressure and hypertension.
  • Cancer Prevention: Whole grain rice like brown rice is rich in insoluble fibre that can possibly protect against many types of cancers. Many scientists believe that such insoluble fibres are vital for protecting the body against cancerous cells.
  • Skin Care: Medical experts say that powdered rice can be applied to cure some forms of skin ailments. In Indian subcontinent, rice water is duly prescribed by ayurvedic practitioners as an effective ointment to cool off inflamed skin surfaces.
  • Dysentery: The husk part of rice is considered as an effective medicine to treat dysentery. A three month old rice plant’s husks is said to contain diuretic properties. Chinese people believe that rice considerably increases appetite, cures stomach ailments and indigestion problems.
  • Alzheimer’s Disease: Brown rice is said to contain high levels of neurotransmitter nutrients that can prevent Alzheimer’s disease to a considerable extent.
  • Heart Disease: Rice bran oil is said to have antioxidant properties that promotes cardiovascular strength by reducing cholesterol levels in the body.
  • According to International Rice Research Institute in Philippines, the nutritional value of rice needs to be improved more so that it benefits mankind.  Rice, being the most dominant cereal crop in most of the countries can improve the health condition of millions of people who consume it. Efforts are made to increase the micronutrient value of rice by mixing traditional methods of growing crops and modern bio-technology. The institute further states that development of rice with high iron and zinc compounds could be possible through bio-fortification. That can also induce high quality yields, which could be eagerly accepted by farmers as well as rice consumers.
More on Rice:
Rice can also prevent chronic constipation. The insoluble fibre from rice acts like a soft sponge that may be pushed through intestinal tract quickly and easily. Brown rice and whole grains are said to be rich in insoluble fibre. But, it is advisable to drink lots of water for relieving constipated state along with fibrous foods. Diabetic patients are recommended to include brown rice rather than white rice that contains low levels of glycemic index. Just a cupful of brown rice on daily basis provides you with almost 100% manganese value, which aids in producing energy from carbohydrates and protein. Brown rice is extremely beneficial for normal functioning of nervous system and production of sex hormones.organicfacts.net

Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Health Benefits of Rice - 9756people
Info Petani -
Padi SRI Tidak Identik dengan Padi Organik
Metoda SRI (System of Rice Intensification) memang sangat menganjurkan penggunaan pupuk organik sebagai langkah jangka panjang untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah serta hasil yang lebih baik (terutama segi kualitas beras yang dihasilkan). Akan tetapi metoda SRI tidak harus menggunakan pupuk organik untuk dapat menghasilkan produksi yang maksimal.

Di beberapa tempat dimana diadakan
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Padi SRI Tidak Identik dengan Padi Organik - 9756people
Info Petani -
Pertumbuhan dan Hasil Padi SRI
Bagi yang belum melihat hasil budidaya padi SRI (System of Rice Intensification), pertumbuhan awal nampak lebih kecil atau lambat dibanding dengan cara budidaya konvensional. Hal ini bisa dimaklumi karena pada metode SRI, bibit yang ditanam adalah bibit muda (5 - 10 hari) sehingga membutuhkan waktu penyesuaian lingkungan yang lebih lama, selain itu faktor pemberian air secara intermitten (
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Pertumbuhan dan Hasil Padi SRI - 9756people
Info Petani -
BUDIDAYA GAHARU
Gaharu-Budi daya tanaman gaharu sudah mulai dilakukan di beberapa tempat, dan menunjukkan prospek yang sangat baik.  Pengelolaan tanamannya tidak berbeda dengan tanaman lainnya.  Perawatan yang intensif dapat memacu pertumbuhan sehingga seperti di Vietnam sudah bisa dilakukan inokulasi pada tanaman usia 4 (empat) tahun.gaharu

Gaharu-Pada panduan pengelolaan tanaman gaharu, biasanya tanaman sudah siap untuk diinokuladi pada usia 6 tahun. Akan tetapi pada dasarnya tidak ada perbedaan usia untuk dapat menghasilkan gaharu.  Hal tersebut sangat tergantung dengan diameter tanaman. Sehingga pembuatan lubang inokulasi sejauh lebih kurang 1/3 diamter pohon secara spiral dan vertical dengan spasi yang bervariasi tidak menyebabkan pohon rentan patah.  
Gaharu-Perawatan tanaman dengan pemupukan bahan organik sangat disarankan. Sehingga pertumbuhan pohon bisa optimal dan menghasilkan performa batang yang baik. Pemangkasan cabang harus dilakukan untuk memacu pertumbuhan vertikal pohon sehingga diameter pohon dapat berkembang sesuai yang diharapkan dan menghasilkan jaringan batang yang siap untuk dilakukan inokulasi.
Pembuatan jarak tanam pada saat penanaman sangat bervariasi sesuai dengan pola yang akan dikembangkan.  Jarak tanam yang cukup rapat seperti 3×1 m cukup ideal untuk membuat kualitas tegakan vertikal.  Pelebaran jarak tanam dapat dikompensasi dengan perawatan tanaman yang lebih intensif.  Jarak yang cukup lebar seperti 6 x 2 m atau 3 x 3 m memberikan kesempatan untuk mengkombinasi dengan tanaman pertanian sebelum terjadi penutupan tajuk. Beberapa teknis yang dikenalkan bisa dengan monokultur atau dicampur dengan pohon pelindung.
Gaharu-Sorghum-Kenaf
gaharu (Aquilaria), sorgum (Sorghum bicolor L.) dan  serat kenaf (Hibiscus Cannabinus L)
Gaharu, ketiga jenis tanaman ini sangat akrab di wilayah tropis seperti Indonesia ini. Siapa yang tidak kenal gaharu. Masyarakat Indonesia yang tumbuh dengan pengaruh asia terutama India, China dan Melayu sangat akrab dengan gaharu mulai awal era klasik Nusantara. Kebudayaan Hindu, Bhuda, Konghucu memanfaatkan kayu gaharu untuk: Keperluan ritual keagamaan (dupa, hiyo; Hindu Budha, Konghucu, Islam), Pengharum badan , Pengharum ruangan, Bahan kosmetik, Obat-obatan sederhana. Dari mana kayu gaharu dulu didapatkan. hutan hujan tropis Nusantara memberikan secara alamiah proses  terbentuknya kayu gaharu di wilayah sesuai dengan syarat tumbuhnya:Sesuai dengan kondisi habitat alami;  Dataran rendah, Berbukit (< 750 mdpl). Jenis Aquilaria tumbuh baik di jenis tanah Podsolik merah kuning, tanah lempung berpasir, dengan drainage sedang sampai baik, iklim A-B, kelembaban 80%, suhu 22-28 derajat Celsius, Curah hujan 2000-4000 mm/th. Tidak baik tumbuh di tanah tergenang, rawa, ketebalan solum tanah kurang 50 cm, pasir kwarsa, tanah dengan pH < 4. Jaman dulu gaharu diperoleh dari alam langsung untuk kepentingan sendiri. Tetapi dalam perkembangannya kayu gaharu menjadi komoditas yang langka karena diexploitasi besar-besaran dan mulai diperdagangkan ke berbagai penjuru dunia (China, Arab, India dan Eropa dll). Saat ini menjadi suatu kesulitan untuk mendapatkan kayu gaharu dalam jumlah besar, karena hutan-hutan sudah dilindungi dan dikonservasi. Meskipun demikian di pasar selalu beredar komoditas tersebut dan ini sudah tentu mendapatkannya secara illegal. Kecuali daerah-daerah yang memenag sudah melakukan pembudidayaan gaharu.
Gaharu-Memang Litbang kehutanan sudah meluncurkan hasil penelitiannya terkait dengan rekayasa produksi kayu gaharu. Kayu gaharu yang tadinya hanya didapatkan dari alam langsung sekarang sudah dapat dbudidayakan dengan lebih seksama seperti tanaman perkebunan lain (teh, kopi, coklat, karet dll). Gaharu rekayasa memberikan peluang perencanaan budidaya yang lebih akuntable, dari mulai penyemaian, pembibitan, penanaman, penyiapan lahan, pemupukan, perawatan, pengobatan, rekayasa in-okulasi (pemasukan enzim pembentuk jamur gaharu yang harum dan khas wangi baunya. Dari mulai penanaman hingga dapat dilakukan inokulasi ketika pohon gaharu berumur 4-5 tahun. Dan setelah 1-2 tahun kemudian dapat di panen. Kebutuhan gaharu dunia sangat besar quota Indonesia  300 ton/tahun baru dapat dipenuhi 10 % inipun lebih banyak didapatkan dengan cara (illegal) dan ini berasal dari gaharu alam. Temuan rekayasa produksi kayu gaharu memberi peluang yang sangat besar bagi perkebunan di Indonesia. Dan keuntungan lainnya gahru dapat disisipkan di sela-sela perkebunan karet, ataupun dapat juga perkebunan gaharu dengan sistem tumpang sari yang mana pohon gaharu sebagai tanaman induk (tanaman keras tahunan) dan pada lahan yang sama di tanam tanaman musiman yang disarankan jenis tanaman dengan buah di atas (bukan umbi-umbian). Jika pada tahun 2009 pemerintah bersama masyarakat perkebunan dan pertanian secara serentak melakukan penanaman dan tahun 2014 dilakukan penyuntikan (inokulasi) maka 2015/16 Indonesia menjadi produsen kayu gaharu terbesar di dunia.
Saya mengajak berbagai pihak untuk bergabung mensukseskan 2009 sebagai tahun Gaharu Indonesia. Dan saat ini pihak Litbang kehutanan sudah mempersiapkan bibit gaharu sebanyak-banyaknya.

Gaharu-Memetik Keuntungan di tengah Kelangkaan Gaharu
"Sudah gaharu, cendana pula". Itulah pepatah yang menggambarkan bahwa kedua jenis kayu tersebut melambangkan kemakmuran. Kayu cendana maupun gaharu (dari genus Aquilaria spp) merupakan kekayaan sumber daya alam dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi.

"Sudah gaharu, cendana pula". Itulah pepatah yang menggambarkan bahwa kedua jenis kayu tersebut melambangkan kemakmuran. Kayu cendana maupun gaharu (dari genus Aquilaria spp) merupakan kekayaan sumber daya alam dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi.

Gaharu-Getah kayu memiliki nilai ekonomi yang tinggi, seperti gondorukem, getah gaharu yang terinfeksi, getah karet, dan banyak jenis lainnya. Kadang getah diambil dengan cara melukai pohon yang mengakibatkan kondisi kayu menjadi rusak.

Gaharu-Bagi kalangan tertentu, manfaat kayu gaharu telah membuahkan keuntungan yang cukup besar. Nilai ekonomis gaharu sebenarnya terletak pada gubal gaharu yang muncul setelah pohon gaharu terinfeksi dan mati. Gubal gaharu yang mengandung damar wangi (Aromatic resin) yang mempunyai aroma khas. Di Indonesia, dijumpai tidak kurang dari 16 jenis tumbuhan penghasil gubal gaharu.

Gaharu-Gubal gaharu tersebut akan tumbuh di tengah batang pohon gaharu. Secara tradisional digunakan sebagai bahan pewangi dan upacara keagamaan masyarakat Hindu dalam bentuk hio dan setanggi (dupa). Saat ini telah dikembangkan sebagai salah satu bahan baku dalam industri kosmetik, elektronik dan obat-obatan.

Gaharu-Adapun obat-obatan tersebut untuk menyembuhkan stres, reumatik, lever, radang lambung, radang ginjal dan kanker. Selain gubal gaharu, juga terdapat damar gaharu, kamedangan (kadar damar wangi rendah) dan abu gaharu (serbuk kayu gaharu).

Gaharu-Data Asosiasi Pengusaha Gaharu Indonesia (Asgarin) menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai kuota ekspor gaharu mencapai 300 ton per tahun namun akibat tingkat perburuan yang tinggi sehingga yang terpenuhi hanya sekitar 10-20 persen dari kuota tersebut.

Gaharu-Tingkat kelangkaan kayu gaharu juga mulai terlihat sejak tahun 1980-an ketika perburuan gaharu mulai dilakukan besar-besaran karena nilai ekspor yang tinggi.

Gaharu-Tidak jarang ditemui banyak pohon gaharu yang sudah mati belum saatnya karena pencarian gubal yang begitu gencar. Padahal, secara alamiah gubal tersebut akan muncul pada gaharu yang terinfeksi jamur. Akibatnya banyak gaharu yang ditebang dan sudah mulai langka, baik di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua dan Maluku.

Gaharu-Sejak saat itulah gaharu, khususnya jenis A malaccensis Lamk telah masuk dalam daftar Apendix II pada Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) IX di Florida November 1994. Ini artinya, penebangan kayu gaharu dan ekspor hasil ikutannya seperti gubal gaharu harus dibatasi.

Gaharu-Jenis lain yang juga mulai langka adalah Gyrimops cumingaina yang banyak dijumpai di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Dengan demikian gaharu jenis ini hanya bisa diperdagangkan jika diambil dari hasil bui daya dan bukan dari alam untuk mencegah kepunahan. Untuk jenis terbaik dari gubal gaharu kelas super harganya mencapai tiga hingga empat juta rupiah per kilogram (kg). Gaharu
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: BUDIDAYA GAHARU - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit