728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
Tren Industri Pangan dalam Foodex Jepang 2009
Oleh
Patricia R. L. Tobing
(Technical Support Manager Divisi Center of Research & Development PT. Indofood Sukses Makmur)


Pameran Foodex biasa dilaksanakan setiap tahun sekali. Pameran diselenggarakan di Soga, Makuhari Messe dan berlangsung dari 3 hingga 6 Maret 2009. Panitia menyediakan 8 buah hall besar yang terbagi atas daerah pameran internasional (sebanyak 5 hall) dan daerah pameran khusus produk-produk industri pangan Jepang sebanyak 3 hall. Pameran kali ini diikuti oleh kurang lebih 74 negara yang masing-masing terdiri dari beberapa perusahaan pangan, asosiasi pertanian, asosiasi peternakan dan pemerintah daerah dari beberapa negara yang memamerkan produk-produk pangan hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan yang dihasilkan. Jepang sendiri sebagai tuan rumah menyediakan area khusus produk –produk lokal, baik dari perusahaan pangan modern maupun dari industri kecil termasuk pangan tradisional Jepang.

Perusahaan produsen kemasan pangan juga ikut memamerkan hasil produksinya yang berbahan dasar plastik, tradisional rotan maupun kemasan kertas. Bahan kemasan ini lebih mengarah kepada kemasan makanan tradisional Jepang. Pameran kali ini juga memberi tempat khusus bagi produk-produk baru unggulan yang berasal dari Jepang dan dari perusahaan Internasional lainnya. Produk-produk ini dipamerkan pada displai khusus yang terletak di depan pintu masuk ke hall besar. Setiap paviliun mempresentasikan produk pangannya dengan cara-cara yang menarik, ada yang membagikan produk yang langsung bisa dikonsumsi, ada yang menyediakan juru masak yang mendemo cara memasak dan mempersiapkan produk. Negara Tunisia mempromosikan minyak zaitun dengan mengadakan demo masak masakan Tunisia dan setelah itu membagi-bagikan masakan hasil demo kepada pengunjung secara gratis. Paviliun Thailand membuat moto “kitchen of the world” dan menyediakan tempat masak dan juru masak yang mendemo produk-produk yang dipamerkan. Demikian pula dengan paviliun Amerika, Meksiko, Korea, dan Jepang menyediakan stand demo masak. Beberapa stand minuman dari Jepang bahkan membuat panel organoleptik melalui pengunjung stand yang bersedia mencoba produk sambil mengisi kuesioner yang disediakan. Sebagai imbalan, panelis diberikan produk gratis.

Keterlibatan Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara peserta pameran yang menempati sebuah paviliun khusus dan kali ini merupakan pameran Foodex Jepang yang diikuti oleh Indonesia untuk pertama kali. Kedutaan besar Indonesia di Jepang memfasilitasi keikut-sertaan Indonesia berpameran di bawah koordinasi ITPC (Indonesian Trade Promotion Center) yang dikepalai oleh atase perdagangan Indonesia di Jepang, Tulus Budhianto. Duta besar Indonesia di Jepang, Jusuf Anwar memutuskan untuk mengikut-sertakan perusahaan pangan Indonesia pada pameran ini dan untuk kali ini peserta Indonesia diarahkan sebagian besar untuk UKM atau industri kecil yang memiliki produk yang potensial dan dapat memenuhi permintaan masyarakat Jepang. Salah satu pertimbangan untuk berpameran adalah dampak krisis ekonomi global tidak mengurangi pengeluaran masyarakat Jepang untuk produk pangan terutama produk pangan alternatif yang tetap memenuhi kebutuhan gizi dan kesehatan dengan harga yang kompetitif. Sedangkan pengeluaran untuk otomotif, elektronik dan pariwisata sebagai kebutuhan sekunder sangat berkurang secara signifikan. Diharapkan pameran ini dapat membuka peluang bagi produk pangan hasil karya UKM dan industri kecil Indonesia untuk bisa diterima oleh masyarakat Jepang dengan mutu dan harga yang memadai. Beberapa perusahaan asal Indonesia yang mengikuti pameran ini pada tahun sebelumnya mendaftarkan perusahaannya melalui JETRO atau Japan External Trade Organization, sebuah organisasi yang mempromosikan kerjasama perdagangan dan investasi antara negara Jepang dan negara-negara lainnya.

Sebanyak 7 peserta perusahaan pangan, koperasi wanita, importir makanan Indonesia yang berada di Jepang dan UKM dari Indonesia mengikuti pameran pada stand Indonesia. Produk yang dipamerkan berupa bumbu-bumbu pasta masakan Indonesia, sambal bajak, kecap, makanan ringan seperti emping melinjo, hasil penggorengan vakum dari nangka, salak dan nanas, minuman serbuk jahe, teh rosela (Hibiscus sabdariffa), jus buah noni (Morinda citrifolia), ekstrak buah merah (Pandanus conoideus), virgin coconut oil (di Jepang disebut extract virgin coconut oil) dan produk nata de coco.

Minat masyarakat Jepang terhadap produk-produk yang dipamerkan sangat besar walaupun stand pameran kita relatif kecil dibandingkan dengan negara lainnya. Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung stand Indonesia per hari sebanyak kurang lebih 250-300 orang. Lokasi stand Indonesia yang strategis di bagian pinggir hall 4 merupakan salah satu keuntungan sehingga pengunjung yang akan berpindah dari hall 5 ke hall 4 pasti melewati paviliun Indonesia, demikian pula sebaliknya. Negara Cina menempati paviliun yang berukuran sangat besar akan tetapi minat pengunjung sangat sedikit. Kepercayaan masyarakat Jepang terhadap pangan asal Cina sangat berkurang mengingat begitu banyaknya isu keamanan pangan yang terjadi belakangan ini. Brosur dan leaflet dalam bahasa Jepang merupakan salah satu hal yang penting untuk menarik perhatian pengunjung, demikian pula dengan fasilitas penterjemah bahasa Jepang. Pengunjung asal Jepang yang pernah tinggal di Indonesia pasti menyempatkan diri untuk mampir ke paviliun Indonesia untuk mencicipi makanan dan minuman Indonesia sambil bernostalgia, di antaranya adalah Professor K. Katoh, PhD. yang pernah bekerja pada JICA pada tahun 1982-1985 pada saat kerjasamanya dengan IPB.

Konsep produk pangan

Banyak hal yang menarik dari produk-produk yang dipamerkan berupa konsep produk, jenis tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan, konsep berpromosi, jenis kemasan produk, dan inovasi lainnya yang dilakukan pada beberapa negara. Produk yang terasa biasa di suatu negara bisa berubah menjadi luar biasa di negara lain karena keberadaan produk tersebut yang susah didapatkan. Beberapa contoh konsep dan produk yang bisa dijadikan ide bagi produsen pangan maupun buah-buahan dan sayuran di Indonesia adalah sebagai berikut:
Ubi merah panggang dan diekspor dalam keadaan dingin beku dari Taiwan. Salah satu peserta dari sebuah provinsi di negara Taiwan memamerkan ubi merah panggang yang dikemas dalam aluminium foil dan dibekukan. Konsep ini sangat cocok untuk mempromosikan ubi merah dari Cilembu Jawa Barat yang terkenal dengan rasanya yang sangat manis. Menurut Atase Pertanian Indonesia di Jepang, Pudjiatmoko, saat ini sudah ada produk ubi ungu dari kota Malang yang diimpor ke Jepang secara rutin. Demikian pula dengan talas Jepang atau Satoimo (Colocasia esculenta var. antiquorum) yang dibudi-dayakan di Indonesia melalui panduan dari importir Jepang; produk ini telah menjadi salah satu makanan favorit di Jepang yang mengandung serat pangan dalam jumlah memadai untuk kesehatan. Produk-produk pertanian seperti ini kurang mendapat tempat di Indonesia akan tetapi di Jepang sangat dihargai.

Snack sayuran ~ penggorengan vakum. Kemasan keripik sayuran berisi macam-macam jenis sayur yang digoreng dengan metode penggorengan vakum, terdiri dari buncis, wortel, labu parang, terong, ubi ungu yang diiris tipis.

Minuman serbuk instan natural dari jeruk nipis dan pandan. Salah satu perusahaan minuman bubuk instan dari Thailand membuat bubuk alami dari tanaman daun pandan, jahe, asam jawa, jeruk nipis dan mencantumkan klaim ‘produk alami’. Produsen minuman serbuk sudah banyak di Indonesia sehingga bisa bersaing di pasar International. Nilai tambah dengan klaim ‘organik’ banyak digunakan pada beberapa produk makanan dan minuman.

Produk minuman dari Rosela (Hibiscus sabdariffa). Di Indonesia sudah banyak beredar teh rosela, sirup rosela yang dihasilkan oleh industri kecil UKM sedangkan bentuk jam belum ada yang memasarkan. Kesulitan bagi UKM di Indonesia adalah kesinambungan pasokan bunga Rosela yang belum dibudi dayakan secara komersial. Beda produk dari Indonesia dengan yang diproduksi di Jepang adalah pada kemasan dan cara promosi atau pemasaran. Posisinya sebagai minuman yang mengandung banyak antioksidan menjadi nilai tambah sehingga kesan desain kemasan dibuat berkesan sehat dan bersih dengan klaim-klaim meningkatkan daya tahan tubuh. Suplai rosella kering ke Jepang juga merupakan salah satu peluang potensial bagi usaha perkebunan di Indonesia.

Klaim-klaim produk yang dipromosikan adalah no artificial flavors,no cholesterol, no trans fat, made with real vegetables,made with whole grain, low in saturated fat, source of f ibre, no preservatives, natural antioxidant, high in monosaturates, certified organics, low in sodium, gluten free, high fibre snack, nuts free dan pernyataan sertifikat internasional dari HACCP, BRC, ISO, organic, non GMO. Semua pernyataan atau klaim-klaim tersebut digunakan juga sebagai garansi bahwa produk yang dibuat aman bagi kesehatan dan bermutu. Industri kecil yang ingin bersaing di pasar global perlu mengetahui tentang tuntutan mutu yang diminta oleh konsumennya.

Jus lidah buaya atau aloe vera yang diberi perasa buah-buahan dan air kelapa segar dalam botol Plastik PET. Aloe vera atau lidah buaya sudah mendapat tempat sebagai bahan baku fungsional di jepang sehingga beberapa produsen minuman pada beberapa negara termasuk Indonesia juga menawarkan aloe vera sebagai komponen padat, ada pula yang membuat jus dan diberi perasa buah-buahan.

Wine brewing dari buah-buahan selain anggur seperti Bokbunja berry (dari Korea),
Salad topping atau taburan berupa granul kering seperti bawang goreng, crouton atau roti kering, bawang putih goreng, cereal mix, campuran kacang dan buah kering, taburan granul keju kering. Bisa menjadi taburan untuk nasi, sup, mi goreng, dan lain-lain.

Dari pameran ini, Indonesia, yang amat kaya dengan hasil pertanian, perkebunan, pertanian dan perikanan didukung dengan lahan yang amat luas dan tanah yang subur, patut bersyukur dan bekerja lebih cermat lagi dalam mengembangkan hasil-hasil bumi dan selanjutnya mengolahnya menjadi bahan pangan yang disukai, bergizi, sehat dan aman bagi konsumsi lokal maupun global. Masih banyak konsep produk yang bisa ditiru untuk meningkatkan mutu produk pangan Indonesia sehingga bisa dikenal oleh konsumen Internasional. Industri pangan perlu diperkuat dengan sistem jaminan mutu maupun sertifikat pengontrolan mutu yang dituntut oleh konsumen Internasional seperti GMP, HACCP, ISO dan lain sebagainya. Dari produk-produk Indonesia yang ada, kita bisa mengikuti pameran berikutnya dengan moto ‘Indonesia feed the world’.
Sumber: Food Riview, Referensi Industri dan Teknologi Pangan Indonesia
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Tren Industri Pangan dalam Foodex Jepang 2009 - 9756people
Info Petani -
Pertanian Indonesia dan ACFTA
oleh
Subejo
(Staf Pengajar UGM, PhD Candidate The University of Tokyo dan Expert Board IASA)


Menidaklanjuti implementasi ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) Indonesia menghadapi dilema. Di satu sisi ada peluang meraup keuntungan dari komoditas yang kompetitif. Di sisi lain ada kemungkinan hancurnya produsen dan industri lokal dengan serbuan produk China jika produk tersebut tidak kompetitif.
Hal yang realistis adalah melakukan dua strategi. Pertama, melakukan diplomasi untuk menunda implementasi ACFTA bagi produk yang sensitif sambil tetap melakukan berbagai pembenahan agar siap bersaing. Kedua, memfasilitasi sektor yang kompetitif dan memiliki keunggulan komparatif untuk memanfaatkan peluang pasar potensial China.Bagaimana pun kita perlu hati-hati dan taktis merespon ACFTA. Pihak birokrasi sangat optimis dengan hanya melihat China sebagai pasar potensial karena jumlah penduduknya 1,4 miliar jiwa. Padahal, bicara ACFTA adalah bicara persaingan segi tiga. Indonesia tidak hanya berurusan dengan China sebagai tujuan pasar. Tapi, juga harus berurusan dengan semua negara anggota ASEAN lainnya sebagai teman sekaligus pesaing.Selama ini yang banyak ditonjolkan adalah relasi Indonesia dan China. Komoditas apa yang potensial untuk masuk ke pasar China. Masih sangat sedikit ulasan hubungan Indonesia dengan pesaingnya sesama anggota ASEAN yang mendapatkan perlakuan dan kesempatan yang sama dibawah payung ACFTA.
Persaingan dan Peluang
Departemen Pertanian sangat optimis akan potensi minyak kelapa sawit, karet alam, kopi, coklat, gaplek, produk perikanan, buah tropis, dan juga kemungkinan gula dan beras. Kenyataanya, dari segi pesaing, Indonesia harus bersaing ketat atas komoditas tersebut. Bagaimanapun juga negara ASEAN berlokasi dalam wilayah yang sama. Tidak ada perbedaan yang menonjol dalam potensi geografis dan sumber daya alam. Hampir semua negara anggota ASEAN memiliki kemampuan memproduksi komoditas pertanian sejenis.Indonesia akan berhadapan dengan Malaysia dan Thailand agar dapat memenangkan pasar minyak kelapa sawit, coklat, karet alam, dan kopi. Thailand juga sangat efisien dalam memproduksi gaplek dan tepung gaplek. Untuk produk perikanan persaingan keras akan terjadi antara Indonesia dengan Filipina dan Thailand. Filipina juga mampu memproduksi minyak kelapa dan gula dengan teknologi yang sangat baik.
Kalau Indonesia memiliki surplus beras kita harus bersaing dengan eksportir utama beras di pasar dunia yaitu Thailand, Vietnam, dan Myanmar. Sedangkan untuk buah tropis hampir semua negara ASEAN memiliki kemampuan memproduksinya sehingga persaingan lebih hebat.
Ditinjau dari target pasar kemampuan produsen domestik China juga perlu diperhitungkan. Hary X Wu (1997) mencatat bahwa reformasi ekonomi di China dimulai dengan reformasi pertanian melalui liberalisasi pertanian. Sejak tahun 1980-an reformasi pertanian sangat sukses mentransformasikan sistim kolektif ke sistim pertanian berbasis rumah tangga petani sehingga produktivitas pertanian meningkat tajam.

IRRI (2008) melaporkan China selama beberapa tahun merupakan produsen beras terbesar di dunia. Selain itu mereka juga merupakan produsen gula yang cukup efisien. Dengan terus menggelembungnya penduduk China tentu peluang untuk mengimpor beras dan gula dari negara masih terbuka lebar.
Produsen domestik tidak mampu memenuhi kebutuhan nasionalnya. Persaingan memenangkan pasar gula dan beras akan terjadi antara Indonesia, anggota ASEAN, dan juga produsen lokal China.
Terobosan Strategi
Dalam dunia perdagangan spesialisasi memegang peran penting. Semakin suatu negara mampu memproduksi komoditas spesial maka peluangnya untuk memenangkan persaingan besar. Spesialisasi dapat terbentuk karena keunikan produk dan kualitasnya.Selain spesialisasi, efisiensi, dan produktivitas tinggi menjadi kunci memenangkan persaingan. Tidak ada pilihan lain bagi Indonesia selain secara serius mendukung penuh produsen pertanian dengan berbagai program yang mengarah pada efisiensi dan produktivitas tinggi.
Efisiensi dan produktivitas pertanian berkaitan erat dengan akses petani terhadap sumber daya produksi yaitu lahan, benih, pupuk, dan air. Peningkatan akses mendesak untuk diperkuat dengan sistim pendanaan yang cukup dan birokrasi sederhana.
Akses atas kecukupan lahan sangat penting. Sangat sulit atau bahkan mustahil untuk mendorong petani untuk menjadi produsen yang efisien dan produktif jika lahan yang dikelola sangat kecil seperti kondisi saat ini.
Peningkatan akses lahan menjadi salah satu solusi penting. Kebijakan pemerintahan baru harus mampu membantu menyelesaikan persoalan rendahnya akses petani gurem terhadap lahan pertanian. Penekanan biaya produksi melalui pemanfaatan sumber daya lokal mendesak untuk digarap.
Pengembangan pupuk organik dengan bahan baku lokal yang bisa diperoleh dengan murah akan efektif menekan ongkos produksi. Selain itu, pupuk organik juga ramah lingkungan. Program penambahan dan perbaikan saluran irigasi dan jalan pedesaan juga mendesak. Diperlukan pengembangan sistim pengelolaan dan penyimpanan hasil melalui gudang desa.
Hal yang tidak kalah penting adalah akses informasi dan teknologi baru pertanian. Pengaktifan kelompok dan aosiasi petani serta penyuluhan pertanian sangat diperlukan. Keterpaduan penelitian, pengembangan teknologi dan penyuluhan menjadi sangat penting.Jika pemerintah gagal untuk melakukan berbagai revitalisasi dan reformasi terkait dengan produksi pertanian maka harapan untuk memenangkan persaingan dan meraup keuntungan atas ACFTA hanya akan menjadi mimpi buruk. Efisiensi dan produktivitas yang rendah membuka jalan semakin membanjirnya produk China dan itu akan berarti sebagai lonceng kematian pertanian nasional.

Sumber: DETIK, Selasa, 04/05/2010 07:50 WIB
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Pertanian Indonesia dan ACFTA - 9756people
Info Petani -
Bureaucracy behind the One Percent Pass Rate of Foreign Nurses
By
IRIYAMA Akira
(Guest Professor of Cyber University, and Executive Research Advisor of International Development Center of Japan)
Two hundred and fifty four applicants from Indonesia and Philippines who have visited Japan under Economic Partnership Agreement (EPA) sat for Japan's nursing qualification exam. And only three have passed. Given that the pass rate of the exam of foreign applicants was only one percent whereas the overall pass rate of the Japanese applicants is above 90 percent, it is quite clear that the language used in the exam poses a huge barrier to foreign applicants. They have reportedly taken only six months of language training before coming to Japan and then have been left to improve their language skills on their own beside their daily working experience in Japanese hospitals. They are required to pass the test within three years of stay in Japan. Otherwise, they must return home. Things could not have been more wrong.
With the advent of the aging society, apprehensions about shortfalls of nurses and caregivers are being voiced. It is quite uncharacteristic of the government, which is supposed to protect the lives of its citizens, to leave untouched serious capacity shortage of nursery school, while concerns of rapid aging and low birthrate are being raised. In short, the government is only good at mouthing empty slogans and rhetoric and is unwilling to make sincere efforts to put them into practice. Thus it would end up leaving the entire tasks to bureaucrats. That is what is behind the one percent pass rate of foreign nurses.
Most of the foreign applicants already possess nursing qualifications in their own countries. Then, it is obvious that their Japanese language skill matters. It does not take a capable government official to understand that nursing requires exquisite language skill. While it is quite doubtful whether foreigners can master even the basic spoken Japanese within a year or two, those foreign nurses are required to be familiar with medical terms and acquire communicative skills so that they can tell the nature of pains their patients suffer, whether it is sharp, dull or throbbing. It is quite clear what has to be done to rectify the situation.
Meticulosity in business costs money. And seeking perfection is too demanding especially to today's Japan which is on the brink of financial collapse. However, the worst type of measures to be taken would be to resort to makeshift settlement, just as in the case of the ongoing introduction of foreign nurses to Japan. Money has been spent, but it is good for nobody. Coming under pressure of the Indonesian government, the Ministry of Foreign Affairs of Japan overrides the resistance of the Ministry of Health, Labor and Welfare of Japan and proceeds to conclude an EPA with Indonesia. The Ministry of Health, Labor and Welfare quite reluctantly undertakes the task of implementing concrete measures. True, the field has been ploughed but the seeds have been forgotten. It is a project sizably financed from the government fund but is to the satisfaction of nobody involved (except those three who passed the exam, probably). It would be far more important to bring it all down to earth than to mouth such empty slogans as "opening up the bureaucracy" or "opening up our future." That is what true leadership is supposed to be.
Source: The BBS "Hyakka-Somei" of CEAC on 30 March, 2010, and was posted on "CEAC Commentary" on 27 April, 2010.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Bureaucracy behind the One Percent Pass Rate of Foreign Nurses - 9756people
Info Petani -
PERTANIAN ORGANIK MEMENUHI PRINSIP KESEIMBANGAN
Pertanian organik harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan. Pertanian organik merupakan suatu sistem yang hidup dan dinamis yang menjawab tuntutan dan kondisi yang bersifat internal maupun eksternal. Para pelaku pertanian organik didorong meningkatkan efisiensi dan produktifitas, tetapi tidak boleh membahayakan kesehatan dan kesejahteraannya. Bekerja, meniru dan berusaha memelihara sistem dan siklus ekologi kehidupan. Prinsip ekologi meletakkan pertanian organik dalam sistem ekologi kehidupan. Prinsip ini menyatakan bahwa produksi didasarkan pada proses dan daur ulang ekologis. Pertanian organik harus dikelola secara hati-hati dan bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang serta lingkungan hidup.Makanan dan kesejahteraan diperoleh melalui ekologi suatu lingkungan produksi yang khusus; sebagai contoh, tanaman membutuhkan tanah yang subur, hewan membutuhkan ekosistem peternakan, ikan dan organisme laut membutuhkan lingkungan perairan. Pertanian organik pencegahan dan tanggung jawab merupakan hal mendasar dalam pengelolaan, pengembangan dan pemilihan teknologi di pertanian organik. Ilmu pengetahuan

diperlukan untuk menjamin bahwa pertanian organik bersifat menyehatkan, aman dan ramah lingkungan. Tetapi pengetahuan ilmiah saja tidaklah cukup. 

Budidaya pertanian, peternakan dan pemanenan produk liar organik haruslah sesuai dengan siklus dan keseimbangan ekologi di alam. Siklus-siklus ini bersifat universal tetapi pengoperasiannya bersifat spesifik-lokal. Pengelolaan organik harus disesuaikan dengan kondisi, ekologi, budaya dan skala lokal. Bahan-bahan asupan sebaiknya dikurangi dengan cara dipakai kembali, didaur ulang dan dengan pengelolaan bahan-bahan dan energi secara efisien guna memelihara, peningkatkan kualitas dan melindungi sumber daya alam.

Pertanian organik dapat mencapai keseimbangan ekologis melalui pola sistem pertanian, membangun habitat, pemeliharaan keragaman genetika dan pertanian. Mereka yang menghasilkan, memproses, memasarkan atau mengkonsumsi produk-produk organik harus melindungi dan memberikan keuntungan bagi lingkungan secara umum, termasuk di dalamnya tanah, iklim, habitat, keragaman hayati, udara dan air.

Pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia dan bumi sebagai satu kesatuan dan tak terpisahkan. Prinsip ini menunjukkan bahwa kesehatan tiap individu dan komunitas tak dapat dipisahkan dari kesehatan ekosistem;
tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman sehat yang dapat mendukung kesehatan hewan dan manusia. Kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem kehidupan. Hal ini tidak saja sekedar bebas dari penyakit, tetapi juga dengan memelihara  kesejahteraan fisik, mental, sosial dan ekologi. Ketahanan tubuh, keceriaan dan pembaharuan diri merupakan hal mendasar untuk menuju sehat. 

Peran pertanian organik baik dalam produksi, pengolahan, distribusi dan konsumsi bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan kesehatan ekosistem dan organisme, dari yang terkecil yang berada di dalam tanah hingga manusia. Secara khusus, pertanian organik dimaksudkan untuk menghasilkan makanan bermutu tinggi dan bergizi yang mendukung pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan. Mengingat hal tersebut, maka harus dihindari penggunaan pupuk, pestisida, obat-obatan bagi hewan dan bahan aditif makanan yang dapat berefek merugikan kesehatan.Seiring waktu, pengalaman praktis yang dipadukan dengan kebijakan dan kearifan tradisional menjadi solusi tepat. Pertanian organik harus mampu mencegah terjadinya resiko merugikan dengan menerapkan teknologi tepat guna dan menolak teknologi yang tak dapat diramalkan akibatnya, seperti rekayasa genetika (genetic engineering). Segala keputusan harus mempertimbangkan nilai-nilai dan kebutuhan
dari semua aspek yang mungkin dapat terkena dampaknya, melalui proses-proses yang transparan dan partisipatif.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: PERTANIAN ORGANIK MEMENUHI PRINSIP KESEIMBANGAN - 9756people
Info Petani -
SEBUAH TINJAUAN (Kenaikan HET pupuk menambah beban petani)
Awal April 2010 ini  pemerintah akhirnya menaikan harga eceran tertinggi (HET) pupuk kimia sebesar 25-45 persen setelah sebelumnya direncanakan sebesar 30-70 persen,  kenaikan HET pupuk ini mulai berlaku 9 April. Rencana kenaikan HET pupuk terjadi setelah  anggaran untuk subsidi pupuk tahun 2010 turun Rp 6, 3 trilliun dari tahun sebelumnya, rencana ini tetap tidak berubah ketika subsidi pupuk akhirnya dinaikkan kembali menjadi Rp 15,5 triliun. Kebijakan serupa pernah dilakukan pemerintah pada 2007. Kala itu, pemerintah juga menaikkan HPP sebesar 10 persen. Namun, lima bulan kemudian harga BBM ikut dinaikkan
Peningkatan HET pupuk kimia ini berpengaruh nyata terhadap meningkatnya biaya produksi para petani, walaupun pemerintah menyatakan bahwa kenaikan HET tidak akan mengganggu petani, karena pemerintah telah menaikan HPP sebesar 10 persen.

“ Kenaikan HPP ini hanya berlaku bagi petani padi sementara kenaikan HET pupuk tentu akan dirasakan oleh semua petani. ””, Ujar Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia dijakarta (12/4). Kenaikan HET hanya mengalihkan keuntungan penjualan gabah untuk menambah biaya untuk beli pupuk,” tambah dia.
Ketersediaan pupuk permasalahan yang tak kunjung selesa dialami para petani Indonesia. Setiap memasuki musim tanam kerap terjadi kelangkaan pupuk di berbagai wilayah di Indonesia. Mekanisme pendistribusian dan subsidi pupuk pun telah beberapa kali mengalami perubahan penerapan sistem, namun tidak menjawab permasalahan yang terjadi. Seperti yang umum terjadi hampir setiap tahun peningkatan HET ini dikhawatirkan akan didahului dengan kelangkaan pupuk di tingkat distributor. Petani yang kesulitan pupuk akan bersedia membayar pupuk dengan harga tinggi.
Lebih lanjut Henry menjelaskan bahwa berdasarkan laporan anggota SPI dari berbagai wilayah masih banyak ditemui petani yang harus membeli pupuk diatas harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah (HET), harga tersebut bahkan bisa dua kali lipat dari HET.
“Hasil produksi pun habis untuk menutupi  biaya produksi yang melambung tinggi. Situasi seperti ini lah yang membuat petani semakin sulit keluar dari kemiskinan,”  kata Henry.
Pemerintah menyatakan bahwa kenaikan HET pupuk kimia ini untuk mempercepat proses peralihan ke organik. Namun peningkatan HET ini tidak bisa mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia, justru akan menambah beban produksi petani.
Perlu ada persiapan bagi para petani yang sudah sangat lama bergantung pada pupuk kimiawi untuk bisa beralih ke organik.
”Perlu kerja nyata dari pemerintah untuk merealisasi kan program ‘Go Organic’ ini, melalui pelatihan dan dukungan dalam proses transisi menuju organik tersebut,” Ujar Henry.
SPI telah menyatakan sebelum pemerintah menaikkan harga pupuk, maka harus ada koreksi dan evaluasi terhadap penggunaan pupuk petani se-Indonesia dan evaluasi mekanisme subsidi pupuk yang selama ini justru diberikan kepada produsen pupuk dan gas yang merupakan salah satu bahan baku pupuk kimia. Pupuk sebagai barang subsidi sesungguhnya saat ini masih diperlakukan seperti komoditi umum, yang diserahkan pengelolaan dan distribusinya ke perusahaan dan pengecer swasta. Hal ini telah pula disampaikan dalam Forum Konsultasi bersama Kementrian Pertanian tanggal 24 Maret 2010 yang lalu.
Narasumber:
Agus Ruli Ardiansyah (Ketua Departemen Politik Hukum dan Keamanan SPI), HP: 081585138077
Achmad Ya’kub (Ketua Departemen Kajian Strategis Nasional SPI),  HP: 0817712347
===========================================================
SERIKAT PETANI INDONESIA (SPI)
Jl. Mampang Prapatan XIV No.5, Jakarta Selasa 12790
Telp.   Fax. +62 21 7993426
www.spi.or.id
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: SEBUAH TINJAUAN (Kenaikan HET pupuk menambah beban petani) - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit