Partai Demokratik Jepang (DPJ), partai yang berkuasa saat ini, kurang mayoritas di Kongres, dan gagal untuk berupaya membentuk koalisi, hal ini diramalkan akan membuat situasi politik menjadi tidak stabil.
Partai-partai oposisi yang kuat, seperti Partai Demokrat Liberal (LDP), terdorong untuk kembali berkuasa dengan cara melaksanakan pemilu mendadak. Untuk sementara waktu ini terjadi tarik-menarik dilakukannya pembubaran pemerintahan, hal ini menjadi titik fokus perpolitikan Jepang.
Ada kemungkinan pemerintah sekarang harus dibubarkan tanpa menyelesaikan tiga tahun lagi. Meskipun Perdana Menteri Naoto Kan menyatakan niatnya untuk mempertahankan masa pemerintahannya, sebagai pemimpin DPJ ia tidak bisa menghindar dari tanggung jawab atas kekalahannya dalam pemilihan umum.
Memang, gesekan dengan mantan Sekjen Ozawa Ichiro akan memanas ketika pemilihan kepemimpinan DPJ yang akan datang semakin dekat.
Pemerintahan DPJ diharapkan untuk mencari koalisi parsial berbasis kebijakan, sehingga dapat mengatasi Nejire Kokkai(Diet Twisted), dimana DPJ memiliki mayoritas di Majelis Rendah, sedangkan LDP memiliki mayoritas di Majelis Tinggi. Ozawa, dengan kekuatan di atas 150 perwakilan di DPJ, akan menjadi kunci untuk kemungkinan membentuk partai bersatu melalui kompromi.
Usulan Perdana Menteri Kan menaikkan pajak konsumsi adalah penyebab utama kekalahan dalam pemilu terakhir.
Isu pajak konsumsi mengingatkan bayak orang untuk membayangkan bahwa pemerintahan DPJ dalam sepuluh bulan terakhir tidak jelas orientasi kebijakannya, dan mereka mempertanyakan legitimasi aturan DPJ secara keseluruhan.
Jajak pendapat telah berpengaruh negatif akibat kekecewaan terhadap aturan DPJ, seperti dalam kasus isu Futenma, kebingungan pada tarif pajak sementara dan RUU privatisasi pos, menjalankan Parlemen dengan kekuatan angka, dan isu "mammonism in politics" yang telah direpresentasikan oleh Ozawa dan Hatoyama.
DPJ akan dihadapkan dengan situasi sulit di Diet Twisted, yang mengingatkan pada apa yang dikatakan mantan Perdana Menteri Yasuo Fukuda dari LDP ketika menjabat: "Aku ini menghadapi begitu banyak masalah, merasa kasihan terhadap diri sendiri."
Mengenai kemungkinan partai lain bersekutu dengan DPJ, seperti New Komeito dan Partai Anda telah menolak untuk bergabung dengan pemerintahan sekarang. Sejauh ini tidak ada pihak lain yang telah menyatakan keinginannya untuk segera bekerjasama dengan DPJ. Oleh karena itu, untuk sementara waktu pemerintahan DPJ harus mengatasi situasi sulit ini dengan membentuk koalisi parsial berbasis kebijakan. Tetapi langkah ini tidak akan menjanjikan masa depan yang cerah.
Koalisi parsial hampir gagal dalam pemerintahan mantan Ohira, dan bahkan ia terganggu oleh konflik 40 hari, dan akhirnya dia meninggal karena serangan jantung. Singkatnya, partai yang berkuasa dapat lulus menjalankan pemerintahan hanya dengan kesepakatan oposisi di Diet Twisted.
Sebagai Presiden LDP Sadakazu Tanigaki menyatakan bahwa Perdana Menteri Kan harus membubarkan parlemen dan menarik perhatian rakyat. Partai-partai oposisi akan mencoba untuk mendorong dilakukan pembubaran pemerintahan DPJ dan mengusahakan dilakukan pemilihan umum dengan segala cara.
Anggota the House of Representatives sekarang memiliki tiga tahun sisa masa kerjanya, namun sangat tidak mungkin mereka akan bekerja sampai akhir sisa masa kerjanya tersebut. Ada banyak faktor untuk dilakukan pembubarannya, seperti skandal yang tak terduga dan politik di dalam partai.
Selanjutnya, konflik mungkin terjadi didalam partai sendiri seperti gerakan anti-Kan dan gerakan anti-Edano (Edano Yukio adalah Sekretaris Utama DPJ), dan bahkan gerakan anti-Eda akan meningkat di Kongres (Eda Satsuki adalah ketua the House of Councilors). Karena Eda sangat tidak populer di antara partai-partai oposisi, posisi ketua akan sangat mudah digantikan oleh seorang dari oposisi LDP yang memiliki mayoritas di parlemen.
Karena Perdana Menteri baru saja menduduki posnya, kampanye anti-Kan tidaklah mudah. Oleh karena itu, oposisi tampaknya cenderung untuk melakukan kampanye anti-Edano. Meskipun Perdana Menteri Kan sekarang menyaring kesalahan Edano . Pada kompromi, timbul pertanyaannya apakah Edano akan digantikan oleh seseorang yang dekat dengan faksi Ozawa. Di pihak Ozawa, sekali ditendang keluar dari posisi utama dalam partai, akan diperlukan seorang yang netral atau lebih dekat ke Ozawa untuk dipilih sebagai Sekretaris Kepala DPJ berikutnya. Akan tetapi Ozawa, tidak dapat menuntut terlalu banyak karena pemerintahan Hatoyama-Ozawa sebelumnya tidak akan mampu memperoleh lebih dari sepuluh kursi pada pemilu terakhir jika mereka harus tetap dalam postingnya.
Siasat yang dilakukan oleh Ozawa pada Pemilihan terakhir kritis gagal. Jika pemerintahan Kan membuat persetujuan dengan Ozawa, hal ini dapat membuat pemerintahannya membentuk koalisi dengan New Komeito atau LDP.
Isu pajak konsumsi akan menjadi kunci penting. Namun, LDP akan berusaha untuk kembali berkuasa dengan cara mengambil kursi yang hilang di House of Councilors. Dengan demikian, partai oposisi akan lebih memperkuat sikap mereka dibanding sebelumnya, dalam rangka mendorong dibubarakannya pemerintahan DPJ. Hal ini akan dapat membalikkan keadaan.
Tiga tahun lalu, DPJ mempertanyakan legitimasi pemerintahan LDP saat itu dengan menyatakan bahwa pemilihan Dewan Penasihat merupakan "kehendak rakyat terkini" dan menyerukan untuk dilakukan pemilihan mendadak.
Politik Jepang tampaknya akan semakin tidak stabil. Pada saat ini perhatian akan ditujukan pada bagaimana konflik internal DPJ berkembang menuju pemilu berikutnya untuk kepemimpinan DPJ pada akhir September, yang akan diikuti dengan sesi yang sangat panjang di Kongres.
Sumber: Tulisan Sugiura Masaaki, Komentator Politik di The Global Forum of Japan (GFJ) E-Letter, 30 August 2010.
Rating: 5
Reviewer: Info Petani -
ItemReviewed: Politik yang Sedang Terjadi di Jepang ? - 9756people Info Petani -
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) adalah sebuah lembaga independen di Indonesia yang dibentuk untuk memenuhi amanat Undang-Undang no. 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
KPPU bertugas untuk mengawasi tiga hal yang disebutkan dalam UU no. 5 tahun 1999 sebagai berikut:
Perjanjian yang Dilarang
KPPU melakukan pengawasan terhadap perjanjian dengan pihak lain untuk secara bersama-sama mengontrol produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa yang dapat menyebabkan praktek monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat seperti perjanjian penetapan harga, diskriminasi harga, boikot, perjanjian tertutup, oligopoli, predatory pricing, pembagian wilayah, kartel, trust (persekutuan), dan perjanjian dengan pihak luar negeri yang dapat menyebabkan persaingan usaha tidak sehat.
Kegiatan yang Dilarang
KPPU melakukan kontrol produksi dan/atau pemasaran melalui pengaturan pasokan, pengaturan pasar yang dapat menyebabkan praktek monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat.
Posisi dominan
KPPU melaksanakan pengawasan pelaku usaha yang menyalahgunakan posisi dominan yang dimilikinya untuk membatasi pasar, menghalangi hak-hak konsumen, atau menghambat bisnis pelaku usaha lain.
KPPU memikul tanggung jawab memberikan jaminan kepada masyarakat tentang hal-hal sebagai berikut:
Konsumen tidak lagi menjadi korban posisi produsen sebagai price taker.
Keragaman produk dan harga dapat memudahkan konsumen menentukan pilihan.
Efisiensi alokasi sumber daya alam.
Konsumen tidak lagi diperdaya dengan harga tinggi tetapi kualitas seadanya, yang lazim ditemui pada pasar monopoli.
Kebutuhan konsumen dapat dipenuhi karena produsen telah meningkatkan kualitas dan layanannya.
Menjadikan harga barang dan jasa ideal, secara kualitas maupun biaya produksi.
Membuka pasar sehingga kesempatan bagi pelaku usaha menjadi lebih banyak.
Menciptakan inovasi dalam perusahaan.
Dalam melaksanakan tugasnya ketika melakukan pembuktian, KPPU menggunakan 2 unsur pembuktian yakni :
1. Pembuktian per se illegal, yaitu sekedar membuktikan ada tidaknya perbuatan, dan
2. Pembuktian rule of reason, yaitu selain mempertanyakan eksistensi perbuatan juga melihat dampak yang ditimbulkan.
Rating: 5
Reviewer: Info Petani -
ItemReviewed: Tugas dan Tanggung Jawab Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) - 9756people Info Petani -
“Economic Integration and Competition Policy” merupakan tema materi yang disampaikan oleh Michiyo Hamada selaku Komisaris Japan Fair Trade Commission (JFTC) pada acara “The Indonesian Conference on Competition Law and Policy” yang diselenggarakan KPPU pada tanggal 9 – 10 Juni 2010 di Bali.
Michiyo Hamada diangkat sebagai Komisaris JFTC pada bulan April 2009. Sebelum diangkat sebagai Komisaris, beliau mendedikasikan dirinya sebagai akademisi di Nagoya University lebih dari tiga puluh tahun. Sebagai Dekan salah satu universitas paling bergengsi di Jepang, ia dikenal sebagai seorang ahli (profesor) dalam studi hukum di Jepang.
Dalam presentasinya, Michiyo Hamada menyampaikan mengenai pengembangan integrasi ekonomi terjadi dalam kondisi perekonomian yang ditandai oleh adanya beberapa indikasi sebagai berikut:
1. Pertumbuhan ekspor dan impor. 2. Kemudahan dalam masuk pasar. 3. Meningkatnya aktivitas merger dan akusisi antar negara.
Pengembangan integrasi ekonomi dapat tercipta pada iklim persaingan yang sehat dengan didukungan oleh kebijakan persaingan yang sejalan dengan prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat. Adapun dampak dari kebijakan persaingan meliputi:
1. Konvergensi kebijakan dan hukum persaingan antara level procedural dan substansi. 2. Kerjasama tertutup diantara otoritas persaingan dalam sebuah pasar yang terintegrasi.
Diperlukan suatu upaya untuk mempromosikan konvergensi terhadap kebijakan persaingan. Adapun kegiatan untuk mempromosikan konvergensi terhadap kebijakan persaingan yang sehat adalah melalui kerjasama dengan beberapa lembaga kerjasama internasional, diantaranya:
- ICN (International Competition Network) - OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) - UNCTAD (United Nation Conference on Trade and Development) - APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) - ASEAN (Association of Southeast Asia Nations)
Selain berhubungan dengan lembaga-lembaga kerjasama internasional, maka diperlukan pula kerjasama secara intensif diantara otoritas persaingan dengan tujuan:
1. Memfasilitasi lebih efektif dan efisien penegakan hukum persaingan secara terkoordinasi oleh yuridiksi yang relevan. 2. Menghindari atau mengurangi kemungkinan konflik diantara yurisdiksi yang relevan, yang dapat timbul melalui penerapan hukum persaingan masing-masing.
Adanya kerjasama antara negara, maka diharapkan penegakan hukum dan kebijakan persaingan usaha yang sehat akan mudah tercipta di masing-masing negara anggota kerjasama.
Sumber :http://www.kppu.go.id/baru/index.php?type=art&aid=1203&encodurl=06%2F21%2F10%2C02%3A06%3A52
Rating: 5
Reviewer: Info Petani -
ItemReviewed: Economic Integration and Competition Policy - 9756people Info Petani -
Because Japan does not produce any green coffee bean, Japan's coffee market fully relies on imports for its supply. However, coffee has been well established in Japan and has long been a part of Japanese life, and thus the size of the Japanese coffee market is enormous. According to International Coffee Organization, Japan imported about 7.1 million bags (60 kilo/bags) in 2007, which was the fourth largest import quantity after USA, Germany and Italy. Coffee is widely consumed in Japan, and also it holds a very strong position in Japan's drink market.
We will review the Japanese market for coffee, including regular coffee, instant coffee, coffee extracts and essence. Later we will discuss consumption, distribution channel, EPA tariff, conclusion and recommendation. Separately import statistics and the related market data are attached as reference.
2. Category definition
The coffees discussed in this study are defined as per the following HS code. 3. Market overview
Green coffee beans are all supplied by imports. Imported green beans are roasted and processed into various forms in accordance with actual demand. In addition to domestic productions, Japan also imports regular coffee, instant coffee, extracts and essence.
The following table indicates overall coffee import for Japan with breakdowns by major coffee-based products. In order to determine size of the market, we adopted green bean basis and converted all the quantities of coffee-based products to green bean equivalents.
Japan imported green bean of 389,818mt in 2007, but including imports of regular coffee, instant coffee, extracts and essence, Japan's total coffee import is estimated at 425,778 mt in green been equivalent for 2007. More than 90% of Japan's coffee import is accounted for by green bean. It can be said that Japan is a country principally importing coffee green beans and producing various coffee products in Japan.
A large quantity of coffee bean import makes Japan the fourth largest importer of coffee following U.S.A., Germany and Italy. Today coffee is widely consumed among Japanese as everyday drinks.As Japan imports significant quantity of coffee, Japan's coffee consumption is also huge. Adjusting stock change and exports, the Japanese annual coffee consumption is now estimated at 438,483 mt in 2007, of which, regular coffee accounts for 74% of the total, and the remaining shares are mostly held by instant coffee with some minor consumption of extracts and essence. Detailed breakdowns are shown in the following table.
As earlier explained, coffee is imported principally in green bean, but it is also imported in various forms. All of imported green bean is processed into various forms for various applications in Japan. According to the level of processing, size, value, and usage become variable. For this reason, we will discuss Japan's coffee market by category.
4.1. Coffee green bean
As Japan is not a producing country of coffee beans, all is supplied by imports, and thus the Japanese coffee bean import is very much affected by the world's market price. Although the import of green beans continued to increase both in quantity and value for five years until 2006, it decreased to 389,818 mt in 2007, down by 8% from last year. However, import value increased to JPY117.6 billion, up by 4% for the same period. The increasing import value with declining quantity is a result of soaring price in the global market. In fact, since later 2004, the prices at New York market showed continuous risings due to poor crop forecast in Brazil. Such price hikes resulted in a series of actual price increases from earlier 2005, and the prices have been pushed up further by the growing demands from China and India. Those price hikes have cooled the Japanese demand for imports.Imported green beans are processed by roasters or instant coffee manufacturers, in which green beans are roasted and processed for various applications.
Japan is importing coffee green beans from more than 40 countries. Major exporting countries for Japan are split into the following figure. Brazil is the largest exporter, accounting for 28% share of the total imports from 2003 to 2007, followed by Colombia (21 %), Indonesia (14%), Ethiopia (8%) and Vietnam (8%). These five countries supply more than three-quarter of import quantity during the period. Indonesia is the third largest coffee bean exporting country for Japan, supplying Robusta mainly for industrial use such as canned coffee and instant coffee.
4.2. Regular coffee
With imported green beans, Japan produces roasted coffee. Majority of the roasted coffee is distributed as regular coffee, including ground coffee as well as blended coffee. The Japanese regular coffee consumption is estimated at 274,452mt (product basis) for 2007, in which domestic production accounts for 98% of the total. Regular coffee imports have continued to increase for past years but the quantity is still small, accounting for some 2% share of the total consumption.
According to All Japan Coffee Association Survey 2004, Japan's consumption of regular coffee can be split into 41 % for industrial use (canned coffee, bottled coffee or liquid product for cake industry, etc.), 37% for home use via retail trades, and 22% for food service, including vending machines. Key demand of industrial use is coffee-based soft drink production, which occupies a 60% share of the total demand. Regarding home use, the most popular type of product is a regular coffee vacuumed in plastic bag or tinned to keep aroma fresh. But in addition to those regular products, coffee manufacturers have developed various new products such as coffees in disposable paper cups, single-serving coffee bags, etc. Regular coffee consumption in food service sector remains sluggish due to decreasing number of independent coffee shops. However, coffee shop chain operators have been expanding their shop network. Some of fast food restaurant chains are offering high quality gourmet coffee by introducing drip machines in their restaurants and replacing beans with higher quality to stimulate consumers' demand.
Talking about regular coffee imports, US export accounts for 49% share of the total, and top five countries occupy three-quarters of the total. Despite the recent booming gourmet coffee shops, e.g., Starbucks Coffee, regular coffee import is still small.
To be continued.
Source: Pudjiatmoko. 2009. Determining Japanese Market Today for Indonesian Selected Agricultural Products. pp. 8-15. Agricultural Attaché. Embassy of the Republic of Indonesia. Tokyo.
Rating: 5
Reviewer: Info Petani -
ItemReviewed: Determining Japanese Market Today for Indonesian Coffee (1) - 9756people Info Petani -
Feline Chlamydiosis atau Chlamydiosis pada kucing disebabkan oleh Chlamydophila felis (C. felis) dengan gejala klinis pneumonia dan konjungtivitis. Chlamydophila felis pertama kali diisolasi dari kucing yang menderita pneumonia oleh Baker pada tahun 1944. Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebar luas ke seluruh dunia, kasus penyakit tersebut telah dilaporkan terjadi di Amerika Serikat (Cello, 1967), Kanada (Studdert et al., 1981), Australia (Shewen, et al 1978) dan Inggris (Gethings et al, 1987).
Infeksi C. felis sering disebut sebagai Feline Pneumonitis. Sebutan nama ini sebenarnya keliru karena pneumonitis biasanya berlangsung sementara, sedangkan konjungtivitis dan rhinitis yang terkait dengan infeksi C. felis bersifat lebih mencirikan gejala penyakitnya (Schachter, 1989). Galur-galur Chlamydophila yang menyebabkan Chlamydiosis pada kucing, dalam taksonomi lama disebut Chlamydia psittaci, setelah dilakukan klasifikasi ulang dalam taksonomi baru namanya menjadi Chlamydophila felis (C. felis) (Everett et al, 1999.).
Epidemiologi
C. felis merupakan penyebab penyakit endemik pada kucing kesayangan yang dipelihara di rumah, terutama menyebabkan konjungtivitis dan rinitis (Gaillard et al, 1984.). Prevalensi infeksi C. felis pada kucing domestik dapat menyebabkan konjungtivitis pada kucing muda. Anak kucing yang terinfeksi dapat menunjukkan gejala konjungtivitis berat. Organisme klamidia dapat dideteksi pada usapan konjungtiva dari anak kucing yang tertular. Penyakit ini dapat ditularkan melalui udara yang terkontaminasi dan melalui sekresi. Jika tidak diobati, infeksi akan langsung menjadi tampak jelas. Pada kucing yang tidak diobati, konjungtivitis dapat berulang setiap 10-14 hari. Pada kucing yang telah sembuh dari konjungtivitis, infeksi klamidia tanpa gejala dapat bertahan lama, dan dapat menyebabkan penyakit enzootik.
Manusia lebih mudah terkena galur C. felis dari pada klamidia zoonosis lainnya, meskipun galur klamidia dari mamalia cenderung mempunyai infektifitas relatif rendah untuk menular ke manusia. Dengan demikian, infeksi konjungtiva pada kucing biasanya tidak dianggap sebagai penyebab utama infeksi yang menimbulkan gejala penyakit pada manusia. Namun, infeksi zoonosis manusia dengan C. felis telah dilaporkan. Perlu diketahui bahwa pneumonia klamidia pada kucing dilaporkan oleh Baker (1944) terjadi di peternakan sapi yang terkena pneumonia.
Gejala klinis pada kucing
Infeksi C. felis pada kucing ditandai dengan gejala demam, anoreksia, depresi, bersin dan batuk, serta pneumonia. Ada kotoran cair yang keluar dari mata dan hidungnya, awalnya berupa lendir biasa tetapi kemudian menjadi mukopurulen (Baker, 1944; Cello, 1967; McDonald et al, 1998.). Infeksi pada mata kucing sering unilateral, mata sebelahnya akan menjadi tampak gejalanya dalam waktu 5-7 hari. Biasanya ditemukan Chemosis, tetapi kornea tidak terbawa (Shewen et al, 1978). Gejala klinis berlangsung selama sekitar 2 minggu pada kucing yang tidak diobati. Pemulihan dimulai sekitar 2-4 minggu setelah infeksi, jalannya dapat sangat lambat pada hewan yang tidak diobati, biasanya terdapat penurunan berat badan. Namun, kucing sering tetap menjadi pembawa agen penyebab penyakit yang asimtomatik, dan dapat kambuh penyakitnya secara periodik.C. felis dapat menyerang kucing dari segala usia. Penyakit ini biasanya tidak fatal, tapi kucing yang masih muda atau tua sekali dapat meninggal akibat pneumonia berat (Storz, 1988).
Kucing masih tetap terkena konjungtivitis selama satu tahun, lalu berkembang menjadi konjungtivitis folikuler kronis dan atau konjungtivitis papiler.Kadang-kadang bisa terdapat parut pada konjungtiva dan pembentukan pannus (Darougar et al, 1977.). Kondisi ini menyerupai infeksi C. trachomatis yang menyerang mata pada manusia.Anak kucing yang lahir, kelopak matanya yang terbuka bisa terkena konjungtivitis dari induknya. Infeksi pada mukosa lambung juga telah terdeteksi. Kebanyakan kucing dengan infeksi lambung persisten, secara klinis tampak normal. Gastritis, walaupun biasanya ringan, dianggap sebagai manifestasi klinis infeksi C. felis pada kucing (Hargis, 1983; Gaillard et al, 1984.).
Chlamydophila felis pada manusia
Baker (1942) melaporkan sejumlah kasus atypical pneumonia pada manusia karena tertular dari kucing yang terinfeksi penyakit klamidia. Antibodi terhadap agen feline pneumonitis terdeteksi pada serum manusia yang terinfeksi. Kemudian, Schachter et al., (1969) melaporkan kasus konjungtivitis folikuler akut ditemukan pada manusia yang mempunyai kucing terinfeksi C . felis. Klamidia tersebut telah dapat diisolasi baik dari kucing maupun pemiliknya. Laporan terakhir, seorang segera jatuh sakit setelah kucingnya menderita konjungtivitis dan rinitis. Isolat dari pasien digunakan untuk eksperimen mereproduksi konjungtivitis pada kucing normal. Laporan lain menunjukkan bahwa infeksi C. felis dari kucing dapat menyebabkan infeksi sistemik umum pada manusia, termasuk endokarditis dan glomerulonefritis (Regan et al, 1978.). Baru-baru ini, kasus konjungtivitis kronis akibat C. felis dilaporkan pada manusia. C. felis yang diisolasi dari manusia dan dari kucing miliknya menunjukkan sifat yang sama (Hartley et al, 2001). Pengobatan doksisiklin jangka panjang diperlukan untuk membasmi infeksi penyakit ini pada manusia.
Bisa diduga terdapat infeksi C. felis pada manusia jika konjungtivitis folikuler akut atau pneumonia atipikal berkembang 1-3 minggu setelah kontak dengan kucing sakit. Vaksinasi kucing dengan vaksin Chlamydiosis kucing dapat mengurangi terjadinya infeksi C. felis.
Diagnosis laboratorium
Untuk mendiagnosis chlamydiosis pada kucing cukup sulit ketika terdapat infeksi lain yang menimbulkan gejala konjungtivitis dan rinitis, terutama calici virus dan reo virus pada kucing. Klamidia dapat didiagnosa dengan swab konjungtiva (Cello, 1971) tetapi organisme klamidia yang terdeteksi jumlahnya mungkin rendah. McDonald et al., (1998) menjelaskan Uji PCR bisa digunakan untuk mendeteksi DNA C. felis pada swab konjungtiva. Baru-baru ini, PCR kuantitatif real-time telah digunakan untuk mendeteksi kurang dari 10 kopi genom C. felis pada kucing (Helps et al., 2001). Reverse transcriptase multi-organisme dengan uji PCR juga telah dikembangkan untuk mendeteksi C. felis serta calci virus dan herpes virus 1 pada kucing (Sykes et al, 2001). Infeksi C. felis telah dapat dideteksi pada kucing sebanyak 11,5% dari 104 rumah tangga yang memiliki kucing, hal ini menunjukkan bahwa infeksi C. felis relatif umum ditemukan dalam populasi kucing domestik.
Klasifikasi tipe C. felis
Penelitian sero-epidemiologi menunjukkan beberapa variabilitas antara galur C. felis (Pudjiatmoko et al, 1996.). Namun demikian, ketika dibandingkan antar galur-galur C. felis menunjukkan terdapat tingkat perbedaan yang nyata pada studi gen ompA rRNA dan terdapat perbedaan serotipe pada studi serologi (Andersen, 1991; Pudjiatmoko et al, 1997a;. Sayada et al, 1994.). Pada studi homologi asam nukleat gen 16S rRNA galur-galur C. felis sampai saat ini perbedaannya kurang dari 0,6 persen. Akan tetapi berdasarkan analisis RFLP pada gen groEL dan ompA menunjukkan heterogenitas galur-galur C. felis berhubungan dengan tempat asal-usul isolasi galur tersebut (Fukushi dan Hirai, 1994). Analisis Random amplification of polymorphic DNA (RAPD) menunjukkan minimal terdapat 2 sidik jari genetik yang berbeda antara enam galur C. felis yang diperiksa (Pudjiatmoko et al, 1997b). Galur-galur C. felis dan C. caviae dapat dibedakan secara jelas dari galur C. psittaci dan galur C. abortus. Telah diketahui dua galur C. felis dengan gejala pneumonitis pada kucing yaitu galur FP Pring dan galur KB Cello. Kedua galur tersebut memiliki plasmid extrachromosomal yang tidak ditemukan pada galur Baker FP (Jun et al, 1996). Tipe galur untuk spesies C. felis adalah FP Baker (ATCC VR120).
Vaksinasi dan pengobatan
Kucing yang sembuh dari infeksi C. felis dapat menyebabkan resistansi yang lemah terhadap reinfeksi (Cello, 1971). Galur FP Baker yang dilemahkan telah diterapkan secara luas sebagai vaksin hidup. Meskipun vaksinasi dapat mengurangi insiden dan keparahan penyakit klamidia (Mitzel dan Strating, 1977), shedding organisme dan infeksi ulang tidak dapat dicegah. Klamidia dapat dideteksi pada sekresi kucing seperti kotoran konjungtiva dan feces (Wills et al, 1987). Vaksin hidup dari klamidia yang telah dilemahkan dapat menyebabkan konjungtivitis, sehingga disarankan untuk tidak digunakan pada kucing yang sedang bunting.
Tetrasiklin biasanya digunakan untuk mengobati konjungtivitis klamidia, dan umumnya menghasilkan perbaikan yang cepat.
Daftar Pustaka
Andersen, A.A., 1991. Serotyping of Chlamydia psittaci isolates using serovar-specific monoclonal antibodies with the microimmunofluorescence test. J. Clin. Microbiol. 29: 707-711.
Baker, J.A., 1944. Virus causing pneumonia in cats and producing elementary bodies. J. Exp. Med 79: 159.
Bart, M., Guscetti, F., Zurbriggen, A., Pospichil, A. and Shiller, I., 2000. Feline infectious pneumonia: a short literature review and a retrospective immunohistological study on the involvement of Chlamydia spp. and distemper virus. Vet. J. 159: 220-230.
Cello, R.M., 1967. Ocular infections in animals with PLT (Bedsonia) group agents. Am. J. Opthalmol. 63: 1270.
Cello, R.M., 1971. Microbiological and immunological aspects of feline pneumonitis. J. Am. Vet. Med. Assoc. 158: 932-938.
Darougar, S., Viswalingam, M., Treharne, J.D., Kinnison, J.R. and Jones, B.R., 1977. Treatment of TRIC infection of the eye with rifampicin or chloramphenicol. Br. J. Ophthalmol. 61: 255-259.
Everett, K.D., Bush, R.M. and Andersen, A.A., 1999. Emended description of the order Chlamydiales, proposal of Parachlamydiaceae fam. Nov. and Simkania fam.nov., each containing one monotypic genus, revised taxonomy of the family Chlamydiaceae, including a new genus and fire new species, and standards for the identification of organisms. Int. J. Syst. Bacteriol. 49: 415-440.
Fukushi H., and Hirai., 1994. Heterogeneity and homogeneity of ompA and groEL homolog genes of avian and mammalian Chlamydia psittaci by PCR-based analysis. In : Eighth International Symposium on Human Chlamydial Infections. Bologna: Societa Editrtice Esculapio, Bologna, Italy, 589-592.
Gaillard, E.T., Hargis, A.M., Prieur, D.J., Evermann, J.F. and Duillon, A.S., 1984. Pathogenesis of feline gastric chlamydial infection. Am. J. Vet. Res. 45: 2314-2321.
Gethings, P.M., Stephens, G.L., Wills, J.M., Howard, P., Balfour, A.H., Wright, A.I., Morgan, K.L., 1987. Prevalence of Chlamydia, toxoplasma, toxocara and ringworm in farm cats in south-west England. Vet. Rec. 121: 213-216.
Hargis, A.M., Prieur, D.J. and Gaillard, E.T., 1983. Chlamydial infection of the gastric mucosa in twelve cats. Vet. Pathol. 20: 170.
Hartley, J.C., Stevenson, S., Robinson, A.J., Littlewood, J.D., Carder, C., Cartledge, J., Clark, C. and Ridgway, G.L., 2001. Conjunctivitis due to Chlamydophila felis acquired from a cat: case report with molecular characterisation of isolates from the patient and the cat. J. Infect. 43: 7-11.
Helps, C., Reeves, N., Tasker, S. and Harbour, D., 2001. Use of real-time quantitative PCR to detect Chlamydophila felis infection. J. Clin. Microbiol. 39: 2675-2676.
May, S.W., Kelling, C.L., Sabara, M. and Sandbulte, J., 1996. Virulence of feline Chlamydia psittaci in mice is not a function of the major outer membrane protein. Vet. Microbiol. 53: 355-368.
McDonald, M., Willet, B.J., Jarret, O. and Addie, D.D., 1998. A comparison of DNA amplification, isolation and serology for the detection of Chlamydia psittaci infection in cats. Vet. Rec. 143: 97-101.
Mitzel, J.R. and Strating, A., 1977. Vaccination against feline pneumonitis. Am. J. Vet. Res. 38: 1361-1363.
Pudjiatmoko, Fukushi, H., Ochiai, Y., Yamaguchi, T. and Hirai, K., 1996. Seroepidemiology of feline chlamydiosis by microimmunofluorescence assay with multiple strains as antigens. Microbiol. Immunol. 40: 755-759.
Pudjiatmoko, Fukushi, H., Ochiai, Y., Yamaguchi, T. and Hirai, K., 1997a. Phylogenetic analysis of the genus Chlamydia based on 16S rRNA gene sequences. Int. J. Syst. Bacteriol. 47:425-431.
Pudjiatmoko, Fukushi, H., Ochiai, Y., Yamaguchi, T. and Hirai, K., 1997b. Diversity of feline Chlamydia psittaci revealed by random amplification of polymorphic DNA. Vet Microbiol 54: 73-83. Full article
Ramsey D. C. (2000). Feline chlamydia and calicivirus infections. Vet Clin North Am Small Anim Pract. 30:1015-28.
Regan, R.J., Dathnan, J.R.E. and Treharne, J.D., 1979. Infective endocarditis and glomerulonephritis associated with cat Chlamydia (C. psittaci) infection. Br. Heart J. 42: 349-352.
Sayada, C., Andersen, A., Rodrigues, P., Eb, F., Milon, A., Elion, J. and Denamur, E., 1994. Homogeneity of major outer membrane protein gene of feline Chlamydia psittaci. Res. Vet. Sci. 56: 116-118.
Schachter, J., Ostler, H.B. and Meyer, K.F., 1969. Human infection with the agent of feline pneumonitis. Lancet 1: 1063-1065.
Shewen, P.E., Povey, R.C. and Wilson, M.R., 1978. Feline chlamydial infection. Can. Vet. J. 19: 289-292.
Storz, J., 1988. Overview of animal diseases induced by chlamydial infections. In Microbiology of Chlamydia, Barron, A.L., ed. CRC Press, Boca Raton, Florida, USA, p167-192.
Studdert, M.J., Studdert, V.P. and Wirth, H.J., 1981. Isolation of Chlamydia psittaci from cats with conjunctivitis. Aust. Vet. J. 57: 515-517.
Sykes, J.E., Anderson, G.A., Studdert, V.P. and Browning, G.F., 1999. Prevalence of feline Chlamydia psittaci and feline herpesvirus 1 in cats with upper respiratory tract disease. J. Vet. Intern. Med. 13: 153-162.
Wills, J.M., Gruffyd-Jones, T.J., Richmond, S., Gaskell, R.M. and Bourne, F.J., 1987. Effects of vaccination on feline Chlamydia psittaci infection. Infect. Immun. 55: 2653-2657.
Rating: 5
Reviewer: Info Petani -
ItemReviewed: Chlamydiosis pada Kucing Disebabkan oleh Chlamydophila felis - 9756people Info Petani -