728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
MENGENAL MOLLASE
Molase adalah sejenis sirup yang merupakan sisa dari proses pengkristalan gula pasir. Molase tidak dapat dikristalkan karena mengandung glukosa dan fruktosa yang sulit untuk dikristalkan.

Proses treatment molase sebelum difermentasi
Molase seperti yang telah dijelaskan di awal, yakni merupakan sisa proses pengkristalan gula pasir. Sumber molase itu sendiri didapatkan dari 2 macam. Pertama dari tebu dan kedua dari bit. Dari kedua sumber tersebut akan didapatkan molase yang berbeda sifat dan pengolahannya.
Pada umumnya molase diolah lebih lanjut menjadi etanol. Caranya melalui proses fermentasi. Namun sebelum proses fermentasi tersebut dilaksanakan diperlukan treatment terhadap molase tersebut. Berikut uraian singkatnya

1. Molase dari Tebu



Gambar 1. Tebu
Molase dari tebu dapat dibedakan menjadi 3 jenis. Molase kelas 1 , kelas 2 dan black strap. Molase kelas 1 didapatkan saat pertama kali jus tebu dikristalisasi. Saat dikristalisasi terdapat sisa jus yang tidak mengristal dan berwarna bening. Maka sisa jus ini langsung diambil sebagai molase kelas 1.
Kemudian molase kelas 2 atau biasa disebut dengan ”Dark” diperoleh saat proses kristalisasi kedua. Warnanya agak kecoklatan sehingga sering disebut juga dengan istilah ”Dark”. Dan molase kelas terakhir, Black Strap diperoleh dari kristalisasi terakhir. Warna black strap ini memang mendekati hitam (coklat tua) sehingga tidak salah jika diberi nama ”Black Strap” sesuai dengan warnanya.



Gambar 2. molase
Black strap ternyata memiliki kandungan zat yang berguna. Zat-zat tersebut antara lain kalsium, magnesium, potasium, dan besi. Black strap memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi, karena terdiri dari glukosa dan fruktosa. Berbagai vitamin terkandung pula di dalamnya. Berikut tabel komposisi dari black strap.
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Blackstrap Molasses


Sumber : http://www.whfoods.com/genpage.php?tname=nutrientprofile&dbid=85

Black strap digunakan untuk suplemen kesehatan, makanan ternak, dan berbagai industri lainnya.
Sebelum dilakukan proses fermentasi untuk pembuatan etanol, molase tebu harus diberikan treatment agar proses fermentasi berlangsung dengan baik. Hal yang harus dilakukan adalah mensulfurisasi molase tersebut. Tujuannya agar molase menjadi bening. Kemudian campurkan air, ragi dan molase secara bersamaan lalu diaduk dalam sebuah tangki.

2. Molase dari Bit


Gambar 3. bit
Molase dari bit berbeda dengan molase dari tebu. Yang disebut sebagai molase bit adalah sisa proses kristalisasi gula. Jadi tidak ada pengklasifikasian molase. Molase bit 50 % dari berat kering merupakan gula. Sebagian besar merupakan sukrosa dan juga mengandung glukosa dan fruktosa.
Molase bit mengandung biotin (vitamin B7) dalam jumlah terbatas. Vitamin ini berguna untuk pertumbuhan. Molase ini juga mengandung garam-garaman yaitu kalsium, potasium, oksalat dan klorida. Hal yang menarik adalah molase ini sering digunakan sebagai aditif untuk makanan hewan.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: MENGENAL MOLLASE - 9756people
Info Petani -
PRINSIP DASAR PEMBUATAN SILASE
PENDAHULUAN
Tujuan utama pembuatan silase adalah untuk mengawetkan dan mengurangi kehilangan zat makanan suatu hijauan untuk dimanfaatkan pada masa mendatang. Silase dibuat jika produksi hijauan dalam jumlah yang banyak atau pada fase pertumbuhan hijauan dengan kandungan zat makanan optimum. Dibandingkan pengawetan dengan pembuatan hay, pembuatan silase lebih mempunyai keunggulan karena kuarng tergantung pada kondisi cuaca harian.
Kualitas dan nilai nutrisi silase dipengaruhi sejumlah faktor seperti spesies tanaman yang dibuat silase, fase pertumbuhan dan kandungan bahan kering saat panen, mikroorganisme yang terlibat dalam proses dan penggunaan bahan tambahan (additive).                  
PRINSIP PEMBUATAN SILASE
Prinsip dasar pembuatan silase memacu terjadinya kondisi anaerob dan asam dalam waktu singkat. Ada 3 hal paling penting agar diperoleh kondisi tersebut yaitu menghilangkan udara dengan cepat, menghasilkan asam laktat yang membantu menurunkan pH, mencegah masuknya oksigen kedalam silo dan menghambat pertumbuhan jamur selama penyimpanan.
Fermentasi silase dimulai saat oksigen telah habis digunakan oleh sel tanaman. Bakteri menggunakan karbohidrat mudah larut untuk menghasilkan asam laktat dalam menurunkan pH silase. Tanaman di lapangan mempunyai pH yang bervariasi antara 5 dan 6, setelah difermenatsi turun menjadi 3.6- 4.5. Penurunan pH yang cepat membatasi pemecahan protein dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme anaerob merugikan seperti enterobacteria dan clostridia. Produksi asam laktat yang berlanjut akan menurunkan pH yang dapat menghambat pertumbuhan semua bakteri.
1. MENGHILANGKAN OKSIGEN DARI BAHAN SILASE
Proses ensilase terjadi dalam kondisi tanpa oksigen (anaerob), bakteri yang bekerja dalam memproduksi asam laktat adalah bakteri anaerob. Oksigen yang terdapat pada bahan silase dan silo dapat mempengaruhi proses dan hasil yang diperoleh. Proses respirasi tanaman akan tetap berlangsung selama masih tersedia oksigen. Respirasi dapat meningkatkan kehilangan bahan kering, mengganggu proses ensilase, menurunkan nilai nutrisi dan kestabilan silase.
Respirasi Sel Tanaman. Aktivitas sel tanaman tidak segera terhenti setelah dipanen, sel meneruskan respirasi selama masih cukup tersedia hidrat dan oksigen. Oksigen dibutuhkan untuk proses respirasi yang menghasilkan energi untuk fungsi sel. Karbohidrat dioksidasi oleh sel tanaman dengan adanya oksigen menjadi karbondioksida (CO2), air (H2O) dan panas.
Gula + oksigen →Karbondioksida + air + panas
Panas yang dihasilkan selama proses respirasi tidak dapat segera hilang, sehingga temperatur silase dapat meningkat. Peningkatan temperatur dapat mempenga-ruhi kecepatan reaksi dan merusak enzim (McDonald dkk. 1991). Enzim merupakan protein yang akan mengalami denaturasi pada temperatur tinggi. Peningkatan tempetarur juga dapat mempengaruhi struktur silase misalnya perubahan warna silase menjadi gelap (Van Soest 1994).
Peningkatan temperatur silase dapat dibatasi dengan pemanenan tanaman dengan kadar air yang tepat dan dengan meningkatan kepadatan silase. Tabel 1 menggambarkan hubungan antara temperatur, kandungan bahan kering dan kepadatan hijauan dalam silo. Pemadatan silase terkait dengan ketersediaan oksigen di dalam silo, semakin padat silase oksigen semakin rendah sehingga proses respirasi semakin pendek.
Beberapa jenis bahan secara alami memperangkap lebih banyak udara dalam silase. Dengan pengelolaan yang baik, oksigen dapat hilang dari silase dalam 4 sampai 6 jam (Coblentz 2003). Pembatasan respirasi dapat dilakukan dengan pemotongan langsung, pemadatan padat dan pelayuan. Untuk menjamin proses fermenatsi berjalan dengan baik, bahan harus mengandung kadar air sekitar 60-70%.
Tabel 1.  Peningkatan Temperatur dalam Silo dengan Tingkat Kepadatan dan Kandungan Bahan Kering.
Kepadatan (lbs/ft 3)
Kandungan bahan kering (%)
20
30
40
50
60
70

 …………OF ……………
20
4.8
5.3
6.0
6.8
7.8
9.0
30
2.5
2.8
3.2
3.7
4.3
5.0
40
1.4
1.6
1.9
2.2
2.5
3.0
50
0.7
0.8
1.0
1.2
1.5
1.8
60
0.2
0.3
0.5
0.6
0.8
1.0
Sumber: Coblentz  (2003)
Pengaruh Terhadap Fermentasi. Oksidasi gula tanaman melalui proses respirasi mempunyai pengaruhi negatif terhadap karakterisitik fermentasi. Gula tanaman berperan sebagai substrat utama bagi bakteri penghasil asam laktat yang dominan dalam fermentasi silase. Produksi asam laktat oleh BAL menurunkan pH (menurunkan keasaman) silase dan menjadi kunci stablitas dan pengawetan silase. Respirasi yang berlebihan atau dalam waktu lama dapat mengurangi ketersediaan substrat dalam produksi asam laktat, sehingga dapat menurunkan potensi proses fermentasi yang baik.
Pengaruh Terhadap Nilai Nutrisi. Respirasi yang berlebihan dapat mempengaruhi nilai nutrisi silase. Oksidasi gula tanaman menurunkan energi dan secara tidak langsung meningkatkan komponen serat hijauan. Temperatur silase yang berlebihan menyebabkan pembentukan produk reaksi Maillard, dimana senyawa yang mengandung protein yang tidak tercerna di dalam saluran pencernaan ternak ruminansia. Kondisi anaerob yang lambat tercapai memungkinkan berkembangan bakteri aerob yang dapat mendegradasi protein menjadi amonia.
Pengaruh Terhadap Kestabilan Silase. Silase yang difermentasi dengan baik akan menghasilkan pH yang lebih rendah. Kondisi ini dapat dimaksimalkan jika gula difermentasi menjadi asam laktat. Silase akan tetap stabil untuk waktu yang tak terbatas selama udara tidak dapat masuk ke dalam silo. Jika udara (oksigen) dapat masuk, populasi yeast dan jamur akan meningkat dan menyebabkan panas dalam silase karena proses respirasi. Akibat lain adalah kehilangan bahan kering dan mengurangi nilai nutrisi silase.Beberapa spesies jamur pada kondisi tersebut dapat menghasilkan mikotoksin dan substansi lain yang mengganggu kesehatan ternak.
2. KADAR AIR
Salah satu faktor yang mempengaruhi proses fermentasi adalah kadar air hijauan. Secara umum, kadar air optimum untuk dalam pembuatan silase sekitar 65% (Coblentz 2003). Tingkat kadar ini dapat memudahkan proses fermentasi dan biasanya membantu menghilangkan oksigen selama proses pemgemasan
Proses ensilase pada kadar air lebih dari 70% tidak dianjurkan. Hijauan dengan kadar air tinggi pada proses ensilase menyebabkan silase menjadikan silase yang dihasilkan tidak disukai. Silase ini kurang masam dan mempunyai konsentrasi asam butirat dan N-amonia yang tinggi. Hijauan yang diensilase dengan kadar air yang rendah (dibawah 50%) akan berakibat fermentasi yang terbatas, sehingga menghasilkan silase yang kurang stabil dengan konsentrasi asam laktat rendah dan pH lebih tinggi. Hijauan dengan kadar air rendah lebih sulit untuk menghilangkan oksigen dari bahan silase sewaktu pemasukan dan pengemasan.
3. FAKTOR TANAMAN
Silase dapat dibuat dari berbagai jenis tanaman seperti rumput, legum, sereal dan hasil ikutan tananam lainnya. Bahan yang baik dijadikan silase harus mempunyai substrat mudah terfermentasi dalam bentuk WSC yang cukup, buffering capacity yang relatif rendah dan kandungan bahan kering di atas 200 g kg-1 (McDonal dkk. 1991). WSC tanaman umumnya dipengaruhi oleh spesies, fase pertumbuhan, budidaya dan iklim.
Rumput yang dipupuk dengan nitrogen dalam level yang tinggi umumnya tidak menghasilkan silase yang lebih baik dibandingkan dengan hijauan yang dipupuk dengan level yang biasa. Rumput yang dipupuk dengan nitrogen mempu-nyai kandungan protein kasar lebih tinggi dengan kandungan gula lebih rendah. Tanaman merubah energi dari matahari menjadi gula sehingga konsentrasi gula secara umum lebih tinggi pada sore atau malam hari. Konsentrasi gula menurun pada malam hari melalui proses respirasi dalam tanaman dan lebih rendah lagi pada pagi hari. Fase pertumbuhan tanaman juga mempengaruhi ratio batang dan daun, yang akan mempengaruhi kandungan gula tanaman.
4. ADITIF SILASE
Aditif silase dapat dibagi menjadi 3 kategori umum yaitu a. stimulan fermentasi, seperti inokulan bakteri dan enzim; b. inhibitor fermentasi seperti asam propionat, asam format dan asam sulfat; dan c. substrat sepertii molases, urea dan amonia
a. Inokulan Bakteri
Hijauan secara alami mengandung beberapa tipe bakteri baik yang menguntungkan maupun merugikan (Tabel 2). Beberapa produk akhir dapat dihasilkan dalam proses fermentasi (Tabel 3), dan beberapa diantaranya dapat menurunkan kualitas silase yang dihasilkan. Konsep penambahan inokulan bakteri adalah untuk memacu pertumbuhan BAL homofermentatif yang dapat segera menghasilkan asam laktat untuk menurunkan pH silase. Beberapa BAL yang digunakan sebagai inokulan pada silase dan alasan penggunaannya ditampilkan pada Tabel 4. Karakteristik dasar yang harus dimiliki oleh inokulan bakteri antara lain dapat beradaptasi pada bahan dengan kadar air tinggi, dapat beradaptasi dengan temperatur lingkungan, toleransi terhadap keasaman, menghasilkan bakteriosin toleransi terhadap PHAGE, dan berperan sebagai probiotik(Ohmomo dkk. 2002).
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: PRINSIP DASAR PEMBUATAN SILASE - 9756people
Info Petani -
PENGGUNAAN BIG GUN SPRINKLER PADA IRIGASI AIR TANAH
Penggunaan air tanah untuk memenuhi berbagai keperluan seperti rumah tangga, industri dan pertanian telah lama dilakukan di Indonesia. Pemerintah, melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Departemen Pekerjaan Umum mulai tahun 1970 telah mengembangkan pemanfaatan air tanah untuk irigasi diderah cekungan Wilis – Lawu di Kabupaten Kediri-Nganjuk Propinsi Jawa Timur, hingga sampai saat ini pemanfaatan air tanah untuk irigasi telah berkembang hampir diseluruh Propinsi di Indonesia.
Untuk dapat memanfaatkan air tanah yang keberadaannya pada lapisan pembawa air yang disebut “akifer” dimana posisinya berada dibawah permukaan tanah, menyebabkan diperlukannya fasilitas sumur serta mengoperasikan  mesin pompa untuk dapat memanfaatkannya.
Pada sistim irigasi air tanah, setelah pembangunan sumur selesai, maka setiap kali petani membutuhkan air untuk sawahnya, petani tersebut harus mengoperasikan mesin pompa agar supaya air yang ada didalam sumur dapat mencapai sawahnya. Mengingat biaya operasi mesin pompa ini cukup besar, dibandingkan dengan irigasi permukaan yang menngunakan sistim grafitasi untuk mengalirkan air kesawah sehingga petani tidak mengeluarkan biaya sama sekali, maka perlu dicarikan sistim pengaliran air dengan efisiensi yang tinggi (tidak banyak air yang hilang sebelum mencapai sawah yang membutuhkannya), sehingga :

  1. Apabila digunakan saluran tanah, akan banyak air yang masuk kedalam tanah akibat porositas dari tanah itu sendiri, makin tinggi tingkat porositas tanah, makin banyak pula air yang dihisap oleh tanah tersebut.
  2. Apabila digunakan saluran yang dilining (misalnya dengan pasangan batu atau plat beton), memang kehilangan air akibat porositas tanah dapat direduksi secara signifikan akan tetapi kehilangan akibat evaporasi selama proses pengaliran tidak bisa dicegah. Selain itu mulai dari ujung saluran yang dililing mungkin harus tetap melewati saluran tanah beberapa puluh meter sebelum mencapai sawah petani yang membutuhkan air, disini terjadi kehilangan air lagi, beruntung petani yang sawahnya persis didepan ujung saluran yang dilining.
  3. Apabila digunakan saluran perpipaan PVC, kehilangan air akibat porositas tanah dan evaporasi dapat diatasi, tapi dari outlet perpipaan sejauh beberapa puluh meter sebelum mencapai sawah petani yang membutuhkan air juga tetap melewati saluran tanah.
Dengan menggunakan saluran perpipaan PVC yang dikombinasikan dengan “Big gun sprinkler”, maka kehilangan air sebelum mencapai sawah petani yang membutuhnkan dapat lebih ditekan lagi.
Big gun sprinkler adalah alat penyemprot air yang dapat memancarkan air sampai sejauh radius 100 meter atau diameter 200 meter. Secara umum alat ini mirip dengan water canon yang dipakai polisi untuk membubarkan demo atau yang digunakan oleh pasukan pemadam kebakaran. Perbedaanya adalah bahwa pada big gun sprinkler untuk irigasi ada tambahan peralatan yang berfungsi untuk mengatur agar supaya air yang jatuh ketanah didalam areal radius pancarannya uniform/seragam sehinngga kondisinya mirip hujan, sedangkan pada water canon yang diutamakan adalah jangkauannya.
Pada waktu beroperasi, posisi big gun sprinkler ini dipindah-pindahkan sedemikian rupa sehingga seluruh areal yang dilayani dapat menerima air.
Untuk satu mesin pompa pada umumnya memerlukan lebih dari satu big gun sprinkler sesuai dengan kasitas pompa dan kapasitas dari big gun sprinkler itu sendiri.
Keuntungan yang didapat dari penggunaan big gun sprinkler ini adalah :
  • Dapat digunakan pada lahan dengan kondisi topografi yang tidak teratur atau bergelombang dan berbukit-bukit.
  • Dapat diterapkan pada tekstur tanah pasiran hingga tanah berpasir yang persifat porous.
  • Kehilangan air akibat penguapan dan kebocoran kecil.
  • Apabila tidak ada masalah, biaya OP untuk jaringan pipa kecil.
  • Aman dari gangguan penjebolan secara liar karena pipa ditanam di bawah tanah, sehingga tidak perlu pemeliharaan secara khusus.
  • Cara pengoperasian penyiraman dapat dilakukan secara bergiliran, sehingga big gun sprinkler yang digunakan jumlahnya tidak perlu banyak.
  • Dapat mengatur suhu lingkungan di sekitarnya.
  • Air dapat dicampur dengan pupuk organik.
  • Tidak perlu saluran pembuangan karena air akan meresap ke dalam tanah.
Kendala pada penggunaan big gun sprinkler adalah :
  • Pemasangan awal diperlukan biaya besar karena peralatan cukup mahal.
  • Biaya eksploitasi tinggi karena menggunakan bahan bakar untuk pompa air.
  • Jika ada masalah kerusakan mekanik akan menyebabkan masalah, yang besarnya sesuai dengan tingkat kerusakan.
  • Pemberian air dipengaruhi oleh angin.
  • Pekerjaan tanah harus dalam kondisi normal supaya mudah dalam pelaksanaan.
Penggunaan big gun sprinkler untuk irigasi air tanah pertama kali dilaksanakan di Propinsi Nusa Tengara Barat, didesa Akar-akar kecamatan Bayan kabupaten Lombok Utara pada tahun 2007 dalam rangka kerja sama antara Departemen Pekerjaan Umum cq Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) dengan Universitas Mataram. Saat ini daerah-daerah lain mulai mengadopsi teknologi tersebut, diantaranya Propinsi Jawa Timur yang mulai mencoba dikabupaten Mojokerto dan kabupaten Madiun.
Semoga penggunaan big gun sprinkler ini dapat meningkatkan kesejahteraan para petani air tanah.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: PENGGUNAAN BIG GUN SPRINKLER PADA IRIGASI AIR TANAH - 9756people
Info Petani -
Sistem Irigasi Tetes
Sistem irigasi tetes adalah sebuah sistem yang menggunakan tabung dan drippers untuk mengantarkan air pada tekanan rendah langsung ke akar tanaman. Hal ini untuk mencegah tanaman tergenang air, pasokan air irigasi tetes akan mengalir setetes demi setetes dengan kecepatan sangat pelan dan mempertahankan tanah udara yang diperlukan oleh akar tanaman untuk pertumbuhan yang sehat.
Jumlah air untuk masing-masing tanaman dapat dikontrol dengan tepat untuk pertumbuhan maksimum. Sistem irigasi tetes menghilangkan sebagian besar kehilangan air untuk penguapan, limpasan, overspray, erosi dan angin.sistem irigasi tetes memiliki efisiensi hingga 95% dibandingkan dengan 50 hingga 65% untuk biaya overhead penyiram, dengan system ini kita akan menghemat penggunaan air untuk menyiram tanaman.
Salah satu rahasia membuat tanaman subur dan sehat adalah dengan cara mengalirkan air yang sering sampai ke dalam akar. Sistem irigasi tetes sangat bagus digunakan untuk tanaman bunga, sayuran, pohon, semak dan tanaman rumah kaca, karena sytemnya yang terus menerus mengalirkan air tetes demi tetes. dengan menggunakan sytem ini kita akan banyak sekali menghemat waktu dan uang karena kita tidak perlu menyiram air berlebihan setiap waktu yang hal ini akan sangat memboroskan pasokan air dan membuat tanaman rusak.
Sangat mudah untuk mengotomatisasi irigasi tetes dengan menambahkan baterai yang dioperasikan timer dan menghemat waktu Anda yang berharga untuk tugas-tugas lain yang lebih penting. Digital timers can be set to turn on automatically at any time of day and for as long as necessary. Digital timer dapat diatur untuk mengaktifkan secara otomatis pada setiap saat, siang dan untuk selama diperlukan.
Sistem irigasi tetes bekerja dengan tekanan rendah, volume rendah penyemprot yang ideal untuk menjaga tanaman benih basah. Penggunaannya sangat mudah. dengan dilengkapi baterai untuk mengotomatiskan irigasi tetes yang dioperasikan dengan timer sehingga menghemat waktu anda yang berharga untuk tugas-tugas lain yang lebih penting. Digital timer dapat diatur untuk mengaktifkan secara otomatis pada setiap saat, siang dan untuk selama diperlukan.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Sistem Irigasi Tetes - 9756people
Info Petani -
Pembuatan MOL (Mikro Organisme Lokal)
Bahan dan alat:
1.Batang pisang yang sudah busuk 2 genggam.
2.air panas/hangat 5 L.
3.air biasa 5 L.
4.terasi 1/4 kg.
5.gula pasir 1/2 kg.
6.dedak 1 genggam.
7.ember + tutup (kapasitas 15 L).
8.bambu pengaduk.

cara pembuatan:
1. rendam dan peras batang pisang ke dalam air biasa sehingga sari pati bercampur dengan air, dan sisakan sedikit serat pisang di dalam air.
2. campurkan air panas, terasi, gula pasir, aduk merata tunggu hingga air mendingin.
3. campurkan larutan serat pisang dan air panas (sudah dingin) ke ember, tambahkan dedak, aduk-aduk.
4. tutup ember dengan rapat, biarkan selama 10 hari.
5. setelah 10 hari cek kondisi MOL, jika sudah bau, dan muncul gelembung2 udara, berarti MOL sudah jadi dan dapat dipergunakan.
6. penghilang bau dapat digunakan nanas yang telah dihancurkan sebelumnya.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Pembuatan MOL (Mikro Organisme Lokal) - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit