728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
Boneka Barbie Ikut Merusak Hutan
Satu lagi bukti bahwa kesenangan dan gaya hidup konsumtif yang diciptakan oleh barat telah ikut andil dalam perusakan hutan di Indonesia. Dalam berita yang dilansir TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Greenpeace mengumumkan hasil investigasi yang mengejutkan. Barbie, boneka mainan paling terkenal di dunia, terbukti terkait dengan perusakan hutan hujan.
Kemasan yang digunakan oleh boneka ini ternyata menggunakan bahan baku yang berasal dari hutan Indonesia yang menjadi rumah dari spesies langka seperti Harimau Sumatra.

Menggunakan uji forensik, para peneliti Greenpeace menemukan bahwa kemasan Barbie berasal dari perusakan hutan Indonesia. Selain uji forensik, peneliti Greenpeace juga melakukan investigasi lapangan langsung, pemetaan data dan menelusuri sertifikat perusahaan untuk menguatkan bukti bahwa Mattel, pembuat Barbie, juga perusahaan-perusahaan mainan besar lain termasuk Disney, menggunakan kemasan yang diproduksi oleh Asia Pulp and Paper (APP).

"Sudah seringkali APP terungkap melakukan aktivitas perusakan hutan  Indonesia untuk membuat produk seperti kemasan ini. Barbie merusak hutan alam dan menyebabkan satwa langka seperti harimau ke arah kepunahan. Ini terjadi karena kemasan Barbie berasal dari perusakan hutan di Indonesia yang menjadi rumah bagi satwa langka seperti harimau sumatera," ujar Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Indonesia Greenpeace dalam rilis yang diterima Tribunnews.com, Selasa (8/6/2011).

Bustar menyatakan Mattel, perusahaan pembuat Barbie, harus berhenti membungkus mainan paling terkenal di dunia ini dengan bahan yang berasal dari perusakan hutan. Ia mendesak agar Mattel berhenti membeli kemasan dari APP, yang sudah terkenal sebagai perusak hutan.

 “APP adalah kabar buruk bagi hutan Indonesia. Perusahaan ini memperlakukan Indonesia tidak lebih sebagai tempat pengerukan sumberdaya yang dengan mudah dihabiskan, merampas hutan yang sangat penting bagi masyarakat lokal. Mattel dan perusahaan mainan lain seperti Disney, mempunyai tanggung jawab untuk mendukung pembangunan bersih dan rendah karbon. Mereka harus menghentikan hubungan dengan APP sekarang juga dan beralih kepada produsen produsen kertas Indonesia lain yang lebih bertanggung jawab,” jelas Bustar.

Atas hasil investigasinya tersebut, sejumlah aktivis Greenpeace di Los Angeles berjas tuxedo menyerupai Ken, kekasih Barbie, membentangkan spanduk raksasa di Kantor Pusat Mattel bertuliskan “Barbie: Kita Putus. Aku Tak Sudi Memiliki Kekasih yang Terlibat Deforestasi”. Demonstrasi tersebut menandai  diluncurkannya kampanye Greenpeace secara global untuk menghentikan industri mainan menjadi penyebab perusakan hutan di Indonesia.

Indonesia di mata Green Peace adalah satu di antaranegara dengan laju deforestasi tercepat di dunia. Diperkirakan lebih dari satu juta hektar hutan dihancurkan setiap tahunnya. Meski pemerintah baru-baru ini telah mengumukan moratorium (penghentian sementara) pemberian ijin baru perusakan hutan, data memperlihatkan bahwa moratorium ini tidak bisa melindungi 45 juta hektar hutan alam dan lahan gambut.

“Greenpeace menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk mengkonkritkan upaya yang lebih kuat untuk melindungi hutan alam dan lahan gambut Indonesia yang masih tersisa – termasuk di hutan yang izin konsesinya telah diberikan. Hal ini hendaknya diikuti dengan pengkajian ulang semua ijin konsesi yang telah diberikan untuk memastikan apakah konsesi itu diperoleh sesuai dengan hukum Indonesia atau tidak. Saat ini, hutan, lahan gambut dan satwa yang hidup di dalamnya terus dihancurkan oleh perusahaan seperti APP.” demikian Zulfahmi, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara menambahkan.

Tetapi dengan kondisi perpolitikan Indonesia saat ini, sangat disangsikan pemerintah Indonesia melakukan gerakan yang benar-benar melindungi hutannya. Melindungi kepentingan rakyatnya saja pemerintah tidak serius, apalagi melindungi hutan. Lihat saja berapa juta Hektar lahan hutan yang dikonsesi baik untuk pertambangan dan perkebunan (terutama sawit) serta guna yang lain.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Boneka Barbie Ikut Merusak Hutan - 9756people
Info Petani -
BUNGA ANGGREK
Bunga anggrek sangat diminati oleh banyak kalangan, baik di dalam maupun di luar negeri. Akan tetapi tidak banyak orang yang tahu kualifikasi apa yang membuat bunga anggrek dinilai baik atau buruk terutama dalam penilaian dalam suatu kompetisi maupun harga jual yang bervariatif selain dari jenis tentunya. Bunga anggrek juga dapat dinilai dari langka tidaknya di alam maupun cepat tidaknya bunga anggrek itu tumbuh dan jarang tidaknya berbunga dalam rotasi hidupnya. Di bawah ini ada beberapa penilaian bunga anggrek yang dapat dijadikan panduan untuk menilai seberapa jauh keunggulan anggrek:

1. Bunga anggrek dengan bentuk bunga anggrek yang meliputi tiga unsur, yakni:
- Kebulatan bunga anggrek. Bunga bulat yang ideal ialah bunga yang jika ujung-ujungnya (sepal, petal, dan labellum) dihubungkan merupakan lingkaran, dengan titik pusat pada tiang.
- Kepenuhan bunga anggrek. Seberapa jauh ruang lingkaran yang menghubungkan ujung sepal, petal, dan labellum dipenuhi seoptimal mungkin?
- Kedataran bunga anggrek. Seberapa jauh kondisi sepal, petal, dan labellum dapat diletakkan dalam bidang datar?

2. Warna Bunga anggrek memperhatikan tiga unsur, yakni:
- Warna umum bunga anggrek. Warna idealnya adalah jelas, cerah, kuat, dan keseluruhannya menampakkan keselarasan dan keindahan. Namun, juga perlu diperhatikan warna-warna spesial atau langka yang tentu mendapatkan nilai tinggi.
- Warna sepal, petal bunga anggrek. Kriterianya hampir sama dengan penilaian warna umum bunga, tapi tidak dipandang secara keseluruhan, melainkan khusus cuma sepal dan petalnya.
- Warna labellum bunga anggrek. Seberapa jauh warna labellum lebih menonjol ketimbang warna sepal dan petal?

3. Karakteristik bunga anggrek yang meliputi enam unsur, yakni:
- Ukuran bunga anggrek. Yang dimaksud ukuran bunga adalah dimensi bunga dalam kaitannya dengan ukuran bunga normal.
- Tebal bunga anggrek. Ketebalan bunga dapat diraba dengan ibu jari dan jari telunjuk.
- Kehalusan bunga anggrek. Yang dimaksud kehalusan bunga adalah penampilannya yang terdapat pada permukaan bunga. Entah itu mampu memantulkan sinar (Bahasa Jawa: kemerlip), ada kristal-kristalnya, ada semacam lilin, ataupun adat beludrunya.
- Banyak bunga anggrek dalam tangkai. Seberapa jauh jumlah bunga dalam satu tangkai, atau jumlah dalam satu tanaman?
- Tangkai bunga anggrek. Penilaiannya bergantung pada tangkai yang kokoh, tumbuh tegak dan lurus ke atas, cukup panjang, selaras dengan bunganya, dan memposisikan bunga di tempat yang mudah dan indah dilihat.
Pada perdagangan internasional sebenarnya tidak ada aturan baku mengenai standar mutu, standar mutu lebih tergantung pada importir dari negara tujuan ekspor. Negara-negara tujuan ekspor memberikan syarat harus bebas dari OPT baik berupa hama, penyakit, maupun gulma. Importir menghendaki standar mutu/grade tertentu yang lebih dikaitkan dengan harga

Selera konsumen terhadap mutu bunga potong anggrek dipengaruhi dan ditentukan oleh produsen dan trend luar negeri. Pada saat ini anggrek yang dominan disukai masyarakat adalah jenis Dendrobium (34 %), diikuti oleh Oncidium Golden Shower (26 %), Cattleya (20 %) dan Vanda (17 %) serta anggrek lainnya (3 %). Pemilihan warna bunga anggrek yang dikonsumsi banyak dipengaruhi oleh maksud penggunaannya. Pada hari Natal warna bunga yang disukai didominasi oleh warna putih; pada hari Imlek disukai warna merah, pink dan ungu; untuk keperluan ulang tahun banyak digunakan warna lembut, seperti putih, pink, ungu, sedangkan untuk menyatakan belasungkawa umumnya digunakan warna kuning dan ungu.

Sekarang, terserah anda sebagai pencinta dan penghobi bunga anggrek untuk menentukan dan memutuskan, bunga anggrek mana yang cocok buat anda. Selamat menikmati bunga anggrek.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: BUNGA ANGGREK - 9756people
Info Petani -
79th Annual General Session of OIE
79th Annual General Session of the world Assembly of the World Organization for Animal Health (OIE)

22 – 27 May 2011

The World is Free from Rinderpest: OIE Completed Global Free Status Recognition

Resolution 18/2011 recognizes all 198 countries with Rinderpest - Susceptible Animal Population in the World are Free of the Disease

Paris, 27 May 2011

The OIE national delegates used the OIE Rinderpest Pathway to complete the recognition of the last handful of OIE member and non-member countries’ free status, based on a strict control of their epidemiological situation.

Resolution 18/2011, officially recognizing all 198 countries of the world with Rinderpest-susceptible animal populations are free of the disease, was unanimously adopted.

Official recognition of members disease status

The delegates also approved the new list of countries and zones that had applied for official OIE recognition of their status with respect to the other priority diseases: bovine spongiform encephalopathy (BSE), foot and mouth disease (FMD) and contagious bovine pleuropneumonia (CBPP).

With regard to BSE, the OIE newly recognized Denmark and Panama as having a “negligible risk” status, both countries were until now recognized as having a “controlled BSE risk status”.
Japan, Bostwana, the Philippines, Argentine, Bolivia, Brazil, Paraguay were recognized as being “free of foot and mouth disease, with or without vaccination, for all or a part of their territory”.
Finally China (People’s Republic of) was recognized as free of CBPP.

Countinuously developing, reviewing and updating international standards on animal health, food safety and animal welfare

Within the framework of its annual standard-setting work, the Assembly adopted and/or updated different chapters of the OIE Terrestrial and Aquatic Animal Health Code among which:
- The Reconition pathway for official FMD control programmes implemented by Members;
- Inclusion of some relevant wildlife species in the disease chapters of the Code,
- The first Code chapter on communication.

At the request of OIE Members key animal health and welfare issues were debated in view of future addition to the OIE Terrestrial Animal Health Code:
- All Chapters on diseases of bees and;
- (A first chapter on animal welfare in broiler chicken production systems);
- They also addressed the chapter on the canine strain of rabies wich is responsible for most of human cases of the disease, so as to give greater consideration to public health concerns in the OIE Code.

A global review of the world animal health situation

The world wide animal health situation concerning 118 diseases of terrestrial or aquatic animals was examined in detail with OIE Members during the Session. Outbreaks of foot and mouth disease, avian influenza, rabies, oyster diseases, African swine fewer have topped discussions.

Technical Items

Two technical items on key issues of interest for the international community in the field of animal health and welfare were debated during the session:
- Contribution of veterinary activities to global food security for food derived from terrestrial animals.

The study showed that veterinarians play a pivotal role in all stages of the food chain namely production, processing, transport, and distribution of products of animal origin, therefore representing major contributors to world food security and safety.
- Implementation of a global strategy for FMD control
Discussions led OIE national delegates endorsing a global strategy for FMD control that would soon be officially launched. Resolutions have been discussed and adopted in order to address the concerns to be solved.

The OIE is all about science and capacity building

The delegates welcomed the north-south or south-south twinning of 38 laboratories within the framework of OIE’s Twinning Programme. The programme encourages the exchange of competencies and experience between existing OIE Reference Laboratories and Collaborating Centres, and candidate laboratories in in-transition or developing countries with the ultimate objective to build a veterinary scientific community in developing and in-transition countries, the benefit being better diagnostic of animal diseases and better participation by Members in the standard-setting procedures.

The delegates also accredited 3 new Collaborating Centres and 11 new Reference Laboratories, bringing the number of official centres of scientific excellence within the OIE woldwide network to 263.

Furthermore in line with OIE’s continuous engagement to support Veterinary Services comply with OIE standards on quality, 102 PVS (Performance of Veterinary Services) independent evolutions made by OIE accredited experts have been implemented worldwide to date, as well as 37 PVS Gap analysis missions and 20 missions supporting the modernization of legislation.

Other notable events marked the proceedings of the Assembly, including the nomination of Myanmar for the world Veterinary Day Award 2011 for its successful celebration of world Veterinary Day under the theme: “Rabies”. The prize will be presented at the World Veterinary Congress to be held in South Africa in October 2011.

The OIE Gold Medal was given to Dr. Barry O’Neil from New Zealand and past President of the OIE Council.

Cooperation agreements aimed at strengthening collaboration on topics of mutual interest were signed during the meeting between the OIE and several other international, regional or private-sector organizations.

Around 600 participants, representing OIE members and intergovernmental (FAO, WHO, world Bank, WTO, etc.), regional and national organizations took part in the event. High-ranking authorities including the President of the Republic of Paraguay and nomerous Ministers of OIE Members and leaders from international organizations honoured the Assembly with their presence.

Source: World Oragnisation for Animal Health, OIE
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: 79th Annual General Session of OIE - 9756people
Info Petani -
DAUN ENCENG GONDOK TINGKATKAN KUALITAS TELUR ITIK
Makassar, Sinar Harapan Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IPPTP) Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), berdasarkan pengkajiannya menyarankan pemberian daun eceng gondok pada makanan itik untuk meningkatkan kualitas telur.
Kepala IPPTP Makassar, Dr.lr. Djafar Baco menjelaskan hari Jumat (21/6), ternak itik berpotensi besar untuk dikembangkan, karena mampu memproduksi telur yang tinggi, tidak mengerami telurnya, harganya relatif stabil dan pemasaran telur relatif murah.
Salah satu faktor yang paling menentukan dalam usaha ternak itik adalah faktor makanan sebagai kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi bagi kelangsungan hidup dan proses biologis di dalam tubuh ternak, tambahnya.
Eceng gondok merupakan gulma air yang sering merusak lingkungan dan tidak dimanfaatkan dapat dipergunakan sebagai salah satu bahan makanan yang bisa menekan harga ransum. Menurut Djafar Baco, pemberian eceng gondok pada makanan itik itu, tidak mempunyai pengaruh negatif terhadap produksi telur baik dari segi berat maupun jumlah butirnya. Penggunaan eceng gondok itu berpengaruh terhadap warna kuning telur dan tebalkulit telur.
Selama ini kualitas telur untuk perlakuan kontrol (pakan basal) berat telurnya rata-rata 57,7 gram/butir dan untuk perlakuan yang diberi makanan eceng gondok mencapai 59,19 gram/butir.Kontrol adalah 7,29 dan pada perlakuan yang diberi daun eceng gondok adalah 9,10. Kemudian persentase berat kuning telur pada perlakuan kontrol 35,16 persen dan 35,99 persen pada pemberian daun eceng gondok. Rata-rata persentase berat putih telur pada perlakuan kontrol adalah 46,76 persen dan perlakuan dengan pemberian daun eceng gondok adalah 48,69 persen.
Pada perlakuan kontrol (pakan basal), itik diberikan ransum basal dengan kandungan protein kasar 16,06 persen dan energi metabolisme 2544,22- kilo kalori/kg ransum. Melalui pemberian daun eceng gondok pada makanan itik diperoleh konsumsi ransum berdasarkan bahan kering sebanyak 111,79 gram/ekor/hari.Eceng gondok dapat diberikan sampai 10 persen dalam ransum.
Cara pemberiannya ransum basal ditambah daun eceng gondok dalam keadaan segar. Guna menjaga kesegaran dari daun eceng gondok, sebaiknya pengambilan dari lokasi dilakukan setiap pagi.”Sebelum diberikan, daun terlebih dahulu dicincang hingga kecil,” kata Djafar. (ant/san)
Semoga bermanfaat
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: DAUN ENCENG GONDOK TINGKATKAN KUALITAS TELUR ITIK - 9756people
Info Petani -
PETA LOKASI PENAS TENGGARONG KALTIM
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: PETA LOKASI PENAS TENGGARONG KALTIM - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit