728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
Tampilkan postingan dengan label Magang Petani Muda Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Magang Petani Muda Indonesia. Tampilkan semua postingan
Kabar dari Pengurus IKAMAJA Jawa Timur
Tulisan di bawah ini surat dari Ikamaja Jawa Timur:

Assalamu'alaikum War. Wab.
Salam kangen pada Bapak, semoga Bapak dalam lindungan Allah SWT, kami atas nama pengurus Ikamaja Jawa Timur mengucapkan terima kasih yang tak terhingga pada Bapak, perlu Bapak ketahui bahwa anggota IKAMAJA di Jawa Timur telah melakukan aktivitas dibidang masing-masing apa yang telah dipelajari selama di Induk Semang, kami ingin selalu berkomunikasi dengan Bapak dengan e-mail apabila bapak berkenan agar bapak bisa mengetahui kegiatan teman-teman Ikamaja di Jawa Timur, dan tidak putus tali silaturahmi, kami nantinya juga ingin mengetahui alamat e-mail atau facebook dari Induk semang kami dan salam buat semuanya, terutama kepada Bapak. Dan ini program yang telah di laksanakan atas nama organisasi Ikamaja di Jawa Timur yaitu setiap 3 bulan sekali kita koordinasi semua anggota, untuk pendanaan kita telah melaksanakan penghijauan yang bekerja sama dengan Perhutani Kanwil Jawa Timur dengan program sejuta pohon, semoga ini bermanfaat untuk kita semua. dan banyak lagi program yang lain. Demikian, atas diterimanya dari kami semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum War. Wab.
Pengurus Ikamaja Jatim
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Kabar dari Pengurus IKAMAJA Jawa Timur - 9756people
Info Petani -
Pemuda Petani Indonesia Siap Belajar di Jepang
Oleh
*Muhamad Nasrul Pradana

Pada hari Kamis (4/23), bertempat di National Olympics Memorial Youth Center (NYC), Shibuya Ward, Tokyo telah diadakan upacara penerimaan trainee yang berasal dari Indonesia, Thailand, Malaysia dan Filipina untuk mengikuti pelatihan kepemimpian di Jepang selama satu hingga tiga tahun ke depan. Program pelatihan ini terselenggara atas dukungan dari Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) sebagai bentuk realisasi atas bantuan dana yang diberikan Jepang untuk pembangunan sosial ekonomi di Indonesia yang berupa “Bantuan Pembangunan Pemerintah (Official Development Assistance, ODA)”. Adapun pelaksana program utama pelatihan ini adalah Japan Agricultural Exchange Council (JAEC), disamping JICA (Japan International Cooperation Agency) yang telah lama memberikan bantuan dalam proyek kerjasama teknik untuk pengembangan Sumber Daya Manusia di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia.

Para peserta trainee yang datang ke Jepang ini, sebelumnya telah mengikuti proses seleksi yang sangat ketat di negara mereka masing-masing selama kurang lebih satu tahun. Untuk trainee Indonesia dikoordinir oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Departemen Pertanian, RI. Kemudian, mereka juga telah belajar bahasa Jepang selama kurang lebih 1 (satu) sampai 2 (dua) bulan sebelum berangkat ke Jepang agar dapat berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Setelah mereka datang ke Jepang, mereka langsung diberikan pembekalan ilmu-ilmu dasar pertanian di Jepang yang sangat berguna selama kegiatan pelatihan berlangsung.

Mereka juga diikutsertakan kembali dalam pembelajaran khusus bahasa Jepang dengan para guru dan pelatih yang siap membantu mereka sebelum ditempatkan di berbagai daerah, antara lain: Prefektur Chiba, Aichi, Wakayama, Nara, Nagano, Niigata, Kumamoto, Gifu, Miyagi dan lain sebagainya . Namun karena singkatnya waktu belajar, hanya sekitar tiga minggu, mereka masih memiliki banyak kendala dalam berkomunikasi dengan orang Jepang. Disinilah, para trainee perlu berusaha keras untuk selalu belajar dan menggunakan bahasa Jepang dalam kehidupan sehari-hari sambil bekerja di lapangan nantinya, ungkap salah seorang staf JAEC, Mr. Sakamoto. Tidak ada jalan lain selain belajar keras untuk dapat menerima segala ilmu yang akan diajarkan oleh para induk semang (petani) selama di Jepang.

Peserta trainee ini sengaja dikirimkan dari Indonesia ke Jepang untuk menuntut ilmu pertanian, terutama mengenai teknik bercocok tanam, teknologi pertanian, manajemen pertanian sampai dengan pemasaran produk di sentra-sentra penjualan. Atase Pertanian, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo – Jepang, Bapak Pudjiatmoko, PhD melalui sambutan tertulis karena berhalangan hadir pada upacara pembukaan ini, menyampaikan bahwa tidak hanya ilmu bertani saja yang akan mereka pelajari, namun budaya kerja keras, disiplin dan kerjasama yang kuat perlu juga dipelajari untuk kemudian diterapkan dalam membangun pertanian negara Indonesia. Hasil pelatihan yang didapat oleh para peserta trainee diharapkan dapat berguna dalam melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik “change for the better (kaizen)” dan membangun pertanian di daerah masing-masing setelah kembali ke Indonesia serta menjadi bekal dimasa depan untuk menjadi petani yang tangguh dan teladan.

Diharapkan melalui program pelatihan kepemimpinan petani ini, hubungan persahabatan Indonesia – Jepang dapat semakin meningkat terutama dalam hal pengembangan sumber daya manusia serta “transfer of technology” yang dimiliki oleh petani Jepang kepada para petani Indonesia.

Ketigabelas peserta trainee dari Indonesia ini akan berusaha keras dalam mempelajari teknik pertanian Jepang yang dimulai dari proses produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran. Beberapa trainee mengungkapkan permasalahan utama Pertanian Indonesia saat ini lebih terletak pada proses penentuan harga yang tidak seimbang (terkadang berat sebelah) antara para petani dan tengkulak. Selain itu, dari segi strategi pemasaran juga masih terdapat berbagai kendala bagi petani-petani kecil yang salah satunya disebabkan oleh daya beli masyarakat yang rendah sehingga para petani juga terpaksa menjual produknya dengan harga rendah agar masyarakat kecil dapat mengkonsumsi produk mereka.

Di sela-sela waktu diskusi, salah satu peserta trainee menceritakan pengalamannya dalam menjual produk beras. Para petani menginginkan harga beras tersebut dapat dijual cukup tinggi di pasaran. Namun, jika dijual dengan harga tinggi maka rata-rata karyawan pabrik tidak mampu untuk membeli karena upah yang terlalu minim, sehingga memungkinkan terjadinya masalah kelaparan di suatu daerah. Masalah lainnya, para petani harus siap bersaing dengan hasil produk pertanian murah yang diimpor dari negara-negara tetangga, seperti China dan Thailand. Akibat persaingan harga di pasar setempat, para petani harus menurunkan harga produknya untuk dapat bersaing dengan harga produk impor. Hal ini membuat para petani merasa dirugikan karena terkadang hasil penjualan produk pertanian mereka tidak mampu menutupi biaya produksinya. Permasalahan ini merupakan suatu dilema bagi para petani terutama dalam mencari jalan keluar yang terbaik.

Untuk memecahkan masalah-masalah pertanian Indonesia yang ada saat ini, para peserta trainee bertekad untuk berusaha menemukan jawabannya

Petani teladan selama mengikuti kegiatan program pelatihan ini yang akan memakan waktu sekitar 1 (satu) hingga 3 (tiga) tahun ke depan di Jepang ini. Para petani juga mengharapkan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan daerah untuk dapat selalu mendukung usaha bisnis pertanian mereka sepulang dari Jepang nantinya. Tanpa dukungan dari pemerintah, para petani tidak dapat berbuat banyak karena terbentur dengan kebijakan perdagangan produk pertanian yang berbelit serta modal yang sangat terbatas. Ketigabelas petani juga mengajak seluruh penduduk Indonesia untuk dapat “mencintai produk dalam negeri” dan mereka akan selalu berusaha memproduksi produk pertanian yang berkulitas agar dapat bersaing dengan produk impor.

Mr. Sakamoto-san dari JAEC juga menambahkan, jika rekan-rekan ingin melakukan perubahan terhadap pertanian Indonesia, hal-hal yang harus dilakukan oleh para peserta trainee adalah selalu melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dan selalu berpikir maju ke depan dibarengi dengan peningkatan sumber daya manusia. Sakamoto-san juga mengharapkan kepada para trainee agar memiliki keinginan dan keyakinan yang kuat dalam mengikuti program pelatihan ini dengan baik, sehingga para induk semang (petani Jepang) merasa sangat senang dan bangga atas jerih payah yang dilakukan oleh rekan-rekan trainee sekalian selama di lapangan nantinya. Satu hal penting yang harus ditanamkan adalah jagalah nama baik bangsa negara Indonesia selama tinggal di negeri Sakura ini. Ditambahkan pula bahwa para trainee diharapkan “banyak belajar, banyak bekerja dan banyak makan” selama program pelatihan ini berlangsung.

Akhir kata, hal sekecil apapun yang kita pelajari pasti mempunyai makna dan arti, sehingga kita tetap harus terus belajar dan berkarya secara positif untuk menjadi petani kebanggaan bangsa Indonesia.

Minasan, Ganbatte kudasai!!!

*Sekretaris Umum IASA (Indonesian Agricultural Sciences Association) /
Interpreter JAEC (Japan Agricultural Exchange Council)
Tokyo University of Agriculture, Graduate School of Agriculture, Department of International Bio-Business (MSc. Candidate)
3-9-37, Sakuragaoka, Setagaya-ku, Tokyo 156-0054

Sumber: IASA, 26 April 2009
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Pemuda Petani Indonesia Siap Belajar di Jepang - 9756people
Info Petani -
Pemuda Petani Magang Siap Kembangkan Pertanian di Daerahnya
Pada akhir November 2008, tujuh orang Pemuda Petani Indonesia telah selesai menuntut Ilmu Pertanian selama delapan bulan di Prefektur Niigata, Jepang. Gambar disebelah adalah tujuh pemuda petani yang telah sukses berjuang melakukan magang pertanian di Jepang. Adapun nama-namanya adalah sebagai berikut:

1. Mawardi Suhaimi asal Propinsi Bangka Belitung telah belajar bercocok tanam padi, sayuran dan memelihara ternak sapi di Pertanian milik Mr. Nobutoshi Ikezu dengan alamat 1783 Oubaden Machi, Nagaoka-shi, Niigata-ken.
2. Suriyanto dari Daerah Khusus Yogyakarta telah belajar bercocok tanam padi, sayuran dan beternak sapi ptong di pertanian milik Mr. Yoshio Watanabe di 3129 Nishinagara, Shibata-shi, Niigata-ken 957-0004
3. Dani Frimansyah asal Jember, Propinsi Jawa Timur telah belajar pertanian padi dan sayuran di pertanian milik Mr. Kiyonari Saito di 498-1 Koda, Shibata-shi, Niigata-ken 957-0202
4. Sofyan dari Propinsi Jambi telah belajar pertanian padi dan sayuran di pertanian milik Mr. Kentarou Miyazawa dengan alamat 1499-1 Kogurosawa, Tokamachi-shi, Nigata-ken 949-8527
5. Edi Ayeng asal Bangkayang, Propinsi Kalimantan Selatan telah belajar bertani padi dan sayuran serta beternak babi di pertanian milik Mr. Yoshinori Shimada dengan alamat 1499-1 Kamigoumiyanohara, Tsunan-machi, Nakanauma-gun, Niiggata-ken 494-8125
6. Sahid Badari dari Klaten, Propinsi Jawa Tengah telabh belajar bertani padi dan sayuran di pertanian milik Mr. Noboru Iguchi di 348 Myougasawa, Minamiuonuma-shi, Niigata-ken 949-7231
7. Eko Prasetyo Winarto asal Propinsi Bengkulu, sebagai ketua kelompok telah belajar pertanian padi, bunga potong dan Tembako di pertanian milik Mr. Jyouchi Kawakami di 1631 Kitanarita, Tanai-shi, Niigata-ken 959-2724

Pemuda Petani yang gagah-berani ini, mempunyai cita-cita mulia yaitu mengembangkan pertanian di daerahnya masing-masing. Dengan senyuman Pemuda Petani yang telah memperoleh sertifikat magang ini menyambut masa depan dengan semangat kerja tinggi seperti etos kerja petani Jepang yang telah memproduksi hasil pertanian berkwalitas baik. Pemuda Petani ini tidak hanya telah terlatih baik ketrampilan bertani maupun memiliki semangat juang yang tinggi, mereka juga telah semakin terbuka wawasannya dalam pengembangan agrobisnis. Mereka tinggal di rumah petani Jepang sehingga mereka telah dapat menjalin hubungan erat dengan keluarga petani Jepang, seperti tampak gambar sebelah Sdr. Eko diantar oleh seluruh anggota Mr. Kawakami dalam acara pesta perpisahan.

Kami dari Jepang menghimbau kepada para Kepala Pemerintahan Daerah beserta aparat yang terkait dalam peningkatan pertanian untuk memanfaatkan SDM bagaikan berlian ini. Ingin bukti ? Silahkan meneliti karya dan kerja para pendahulu mereka yang tergabung dalam IKAMAJA (Ikatan Alumni Magang Pertanian dari Jepang). Banyak Alumni magang pertanian dari Jepang yang berhasil menjadi petani teladan sebagai penggerak petani di daerahnya masing-masing, memproduksi hasil pertanian yang dapat menembus pasar swalayan dan bahkan ekspor ke manca Negara termasuk ke negeri guru mereka, Jepang.

Bapak-Ibu Gubernur, Bupati, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan serta pihak terkait lainnya tolong ulurkan tangan untuk memperhatikan usaha Pemuda Petani ini, bimbing mereka dan ajak kerja sama mereka dalam memajukan pembangunan pertanian di wilayah mereka masing-masing. Dengan demikian Bapak-Ibu dapat ikut berpartisipasi mengukir prestasi Negara agraris tercinta ini menjadi Negara yang ikut andil dalam menangani krisis pangan dunia melalui peningkatan produksi pertanian.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Pemuda Petani Magang Siap Kembangkan Pertanian di Daerahnya - 9756people
Info Petani -
Perjalanan Mantan Kenshusei Menuju Pasca Sarjana Shinshu University
oleh HERI KURNIANTA
Mahasiswa Pascasarjana Program Ekonomi Pertanian Universitas Shinshu, Jepang

You are what you think you are. Kamu adalah apa yang kamu pikirkan.

Terlahir 29 tahun yang lalu di desa kecil di ujung bagian timur propinsi DIY, tepatnya di Dusun Karangwuni, Desa Karangwuni, Rongkop, Gunungkidul,Yogyakarta. Gunungkidul terkenal sebagai daerah kritis dan langganan kekeringan. Begitupun di desaku, tanpa ada sumber air selain hujan, air bagaikan berlian yang hanya bagian dari impian penduduknya sampai sekarang ini juga, walaupun pipa air telah merentang beberapa tahun lalu, tapi tetesan air tak kunjung ada.
Bapakku seorang pekerja magang di kecamatan Rongkop waktu itu, yang selanjutnya menjadi PNS sebagai Mantri Hewan ketika aku telah pertengahan SD. Ibuku seorang petani.

Belajar dalam gelap tanpa listrik, berjalan dalam lumpur ketika hujan dan panas berdebu ketika kemarau adalah keseharian yang menghiasi perjalananku menuju bangunan tempat aku mencari ilmu (SD Karangwuni II, 1 km, SMPN Semugih, 3 km). Alhamdullillah listrik telah bisa aku nikmati ketika kelas 2 SMP dan jalan itu sekarang telah berblockcor, walaupun aspal yang kami harapkan (yang juga pernah kami mengajukan proposal bersama dengan mahasiswa-mahasiswa sekampung ketika aku S1) belum terealisasi. Mungkin masih banyak hal yang lebih penting untuk dibiayai. Tetapi seperti apa yang terucap sebagai doa, semoga pemangku jabatan itu selalu bijaksana dalam keputusannya, amiien.

Setelah lulus SMP aku meneruskan ke SMU 2 Wonosari, di ibukota kabupaten Gunungkidul, yang berjarak 30 km dari rumahku. 3 km harus aku lalui dengan jalan kaki sampai di jalan besar, selanjutnya angkutan yang akan membawaku sampai di wonosari dengan Rp 300,-.Di dalam keterbatasan disitulah terdapat kekuatan yang luar biasa.

Keterbatasan biaya ternyata tidak menyurutkan semangat orangtuaku untuk tetap menyekolahkan aku di perguruan tinggi. Walau tidak diterima di perguruan tinggi negeri(karena memang bodoh?!!, dan sesuatu yang tidak memungkinkan saya diterima), aku meneruskan ke universitas swasta (Universitas Wangsa Manggala yang sekarang menjadi Universitas Mercu Buana Yogyakarta). Kalau kita menyadari, sesungguhnya keputusan Allah adalah keputusan terbaik dan terindah untuk kita, hanya kadang kita yang tidak bisa menerima kenyataan, tidak ridho, padahal kita belum mengetahui rahasia besar dibalik keputusan-Nya.

Aku selesaikan kuliahku pada tahun 2001, dan aku sebenarnya diterima bekerja di peternakan sapi di Bekasi (seleksi sebelum lulus kuliah). Tapi bapak ibuku tidak mengijinkannya.

Ada semangat yang besar untuk melanjutkan sekolah keluar negeri walaupun waktu itu tidak punya biaya sama sekali. Aku bercita-cita melanjutkan S2 di Australia atau Selandia Baru. Dengan penuh semangat aku mengikuti kursus TOEFL di laboratorium bahasa inggris di Universitas Wangsa Manggala sampai akhirnya aku menjadi asisten untuk English Conversation sekalian mencari informasi beasiswa keluar negeri. Tapi predikat pengangguran tanpa uang memaksaku berpikir mencari penghasilan.
Kuhubungi temen-temenku yang pengusaha peternakan ayam. Kutanya harga jagung untuk pakan ayamnya. Kumulai lobi untuk mensuplai jagung dengan harga bibawah harga pasar dengan cara memutus rantai pemasaran (kebetulan ditempatku sedang musim panen jagung). Pengiriman 1 rit truk (5 ton) untuk setiap pengiriman dengan uang dimuka. 5 ton adalah kebutuhan untuk 1 bulan, berarti pengiriman aku lakukan setiap bulan sampai musim jagung di tempatku habis. Bisnis awal ini berjalan lancar dan sukses karena biaya kirim dapat ditutupi dengan menjual pasir yang dibawa truk sekembalinya dari kirim jagung.

Selanjutnya aku juga mensuplai ayam-ayam siap telur ( umur 3 bulan) dengan model yang sama, uang muka sebagian untuk membeli DOC, dan selanjunya perminggu aku ambil lagi untuk membeli pakannya. Kandangpun aku memimjam kandang milik teman yang sedang kosong sekalian untuk memeliharanya dengan sistem bagi hasil. Ini adalah awal usahaku yang benar-benar tanpa modal uang. Untuk memulai menjadi entrepreneur(wiraswasta) tidak harus bermodal uang tetapi bermodal semangat yang kuat untuk maju, waktu yang tersedia gratis ini adalah modal utama untuk mencari banyak ilmu, pengalaman dan relasi.

Bisnisku masih berlanjut, dengan tambahan uang 5 juta hasil hutang ke BRI dengan jaminan tanah simbah(kakek), aku buat kandang ayam, kemudian kubuat lagi satu kandang untuk puyuh dengan system kemitraan, sampai akhirnya aku bisa membeli mobil pick-up. Tetapi aku lebih banyak di jogja,membantu mengelola bisnis temanku, sementara peternakan diurusi anak kandang. Untuk memberdayakan mobil pick-up, aku mengambil barang kebutuhan pokok dari toko grosir di yogyakarta, telur dari kulonprogro, kelapa dari purworejo dan kulonprogo untuk dijual ke toko-toko di wilayahku dengan mengambil tenaga sales dari tetangga, sementara aku bertugas belanja barang dan aku kirim pakai mobil teman dari jogja. Aku juga merambah bisnis penjualan kayu dan meubel. Dan dengan uang hasil hutangan dari BMT dengan jaminan BPKB mobil (hutang di BRI sudah lunas) aku juga membuat warung bakso dan mie ayam sampai 2 tempat, dan produksi bakpia (tapi sampai sekarang aku tidak bisa membuat bakso, mie ayam apalagi bakpia). Walaupun tidak semua bisnis yang aku jalankan menguntungkan secara finansial, tetapi banyak pengalaman dan pelajaran yang aku dapatkan. Kegagalan juga merupakan kesuksesan, yaitu sukses mengetahui penyabab kegagalan, disana kita bisa introspeksi memperbaiki kesalahan.

Di tahun 2004 dengan informasi dari paman saya yang anggota KTNA (Kelompok Tani Nelayan Andalan) Kabupaten Gunungkidul, aku ikut seleksi program magang Jepang mewakili pemuda tani Gunungkidul. Setelah tahapan seleksi kabupaten dan propinsi selesai, aku dinyatakan lulus sebagai calon peserta magang mewakili DIY. Aku tinggalkan semua bisnisku menunggu keberangkatanku ke Jepang. Aku yakin ini jalan
Allah menuju kehidupannku yang lebih baik.

Aku berangkat ke Jepang awal bulan april 2005, tanpa kemampuan bahasa jepang, bahkan belum hafal katakana hiragana. Kuinjakkan kakiku di Jepang dengan semangat “aku harus bisa bahasa Jepang, dan aku harus berubah”. Setelah pembekalan di Propinsi Ibaraki aku mendapat jatah magang di peternakan ayam di Propinsi Wakayama, sebuah propinsi di dekat Osaka. Disinilah aku menjalani kehidupan yang paling pahit yang pernah aku alami sebagai manusia, disinilah tetesan airmataku kering terkuras.
Banyak surat surat simpatik dari teman-teman kenshusei(peserta magang) yang aku terima sebagai penghibur lara. Satu yang paling mengesankan, yaitu nasehat dari temanku yang sedang magang di kebun mikan (jeruk): Jeruk yang paling kecut dimasa mudanya adalah jeruk yang akan menjadi paling manis dimasa tuanya..

Setelah bertahan 6 bulan di Wakayama, aku dijemput pihak penyelenggara (JAEC) untuk rencana dipulangkan ke Indonesia. Hati ini terasa tentram sekaligus gelisah karena belum mendapatkan apa yang saya harapkan di Jepang. Dengan berbagai argument aku berusaha untuk sementara bertahan di Jepang. Setelah 10 hari menunggu di Tokyo (3 hari di Saitama), dan atas kerja keras pihak penyelenggara (JAEC), aku mendapat induk semang yang baru di kebun bunga pot di Nagano.

Aku akan menyelesaikan sisa waktu magangku selama 4 bulan di tempat yang baru tersebut. Selama awal kedatanganku di rumah induk semangku yang baru, kurasakan banyak aura positif, tanggapan yang hangat luar biasa. Perkembangan bahasa jepangku meningkat cepat berkat bantuan dan bimbingan semua anggota keluarga. Mereka sibuk mencarikan buku, majalah dan lain lain untuk mendukungku belajar bahasa jepang. Bahkan aku disambungkan internet sampai dikamarku.

Berawal dari pertanyaan keluarga induk semang tentang keinginanku setelah selesai magang, kujawab dengan penuh pengharapan bahwa aku punya keinginan untuk melanjutkan S2 dan kalau bisa di Jepang. Ternyata pertanyaan yang aku anggap basa-basi dan jawaban apa adanya dengan keterbatasan bahasa jepangku, ditanggapi serius oleh semua anggota keluarga. Sisa waktu 2 bulan masa magangku waktu itu disibukkan dengan mencari berbagai informasi, karena kami semua masih buta tentang proses perekrutan mahasiswa asing untuk bisa kuliah di Jepang. Semua anggota keluarga saling bahu membahu mencari berbagai informasi dengan berbagai cara: menelepon ke berbagai instansi, mencari di internet sampai memanggil mahasiswa asing(1 orang Indonesia dan 1 orang Mongolia) untuk di”korek” informasinya.

Akhirnya perjuangan itu tidak sia-sia, 2 minggu sebelum kepulangannku ke Indonesia, aku dites oleh salah satu professor di Universitas Shinshu (Prof. Takasi sasaki) dan dinyatakan diterima di laboratoriumnya sebagai mahasiswa peneliti. Tetapi karena tidak mendapat izin dari pihak penyelenggara untuk mengubah visa sebelum terlebihdahulu pulang ke Indonesia, akhirnya aku hanya berjanji segera ke Jepang lagi secepatnya dengan visa wisata untuk mengurus administrasi di kampus.
Beberapa minggu setelah aku di Indonesia, datanglah dokumen-dokumen yang aku minta dari induk semangku di Jepang sebagai penjaminku untuk pembuatan visa. Tetapi mengurus visa ke Jepang waktu itu sangat sulit dan sangat melelahkan. Dengan pengorbanan yang luar biasa, akhirnya pengajuan visaku dinyatakan ditolak. Walau tidak tau lagi jalannya, dalam hati kecil ini yakin aku bisa ke Jepang lagi, hanya Allah sedang mencarikan waktu keberangkatanku yang paling tepat. Karena terlalu percaya dirinya aku akan keyakinanku itu. sampai-sampai aku tidak berpikir untuk mulai berbisnis lagi atau bekerja. There is always door on every wall (selalu ada pintu di setiap dinding :selalu ada jalan keluar dari setiap permasalahan)
Beberapa hari sebelum bulan puasa tahun 2006, dokumen untuk pembuatan visa dikirimkan lagi untuk yang kedua kalinya dari induk semangku di Jepang. Walau sampai 4 kali kedatanganku ke Kedubes Jepang di Indonesia akhirnya visa wisataku diterima dengan masa waktu 1 bulan. Setelah menghabiskan waktu selama 7 bulan di Indonesia, bakda lebaran 2006 aku berangkat lagi ke Jepang dengan uang hasil hutang ke teman sesama magang dulu.

Setelah kedatanganku di Jepang, segera aku selesaikan administrasi di kampus dan segera merubah status visa menjadi visa pelajar. Tetapi ternyata merubah visa membutuhkan waktu sampai 3 bulan, sedangkan waktu tinggalku hanya 1 bulan. Selain itu juga uang masuk sebesar 80.000 yen dan uang spp 1 semester sebesar 180.000 yen harus segera dibayar setelah aku masuk kuliah. Dan aku tidak punya uang waktu itu, aku hanya berharap untuk berhutang sebesar kebutuhan kuliah saja yaitu sebesar 260.000 yen kepada induk semangku. Tetapi (terima kasih ya Allah) ternyata induk semangku telah memasukkan 500.000 yen di rekeningku untuk keperluan awal kuliahku.
Tetapi karena masa berlaku visa wisataku telah habis, akhirnya saya pulang lagi ke Indonesia dan menunggu lagi di Indonesia selama 2 bulan. Ketika Letter of Eligibility telah dikirimkan oleh induk semangku dari jepang segera aku urus visa pelajar ke kedubes Jepang di Jakarta. Selanjutnya aku segera pergi ke Jepang lagi dengan uang hutang ke paman (Karna aku pulang hanya boleh menbawa uang cukup untuk transportasi sampai rumah saja, dan tiket keberangkatanku nanti akan dikirimkan dari Jepang. Tetapi karena saya anggap terlalu rumit, aku putuskan untuk berhutang lagi dulu)

Saya sampai di Jepang lagi awal februari 2007, tetapi aku tidak langsung kuliah, karena kampus di Jepang sedang libur, dan akhirnya aku mulai kuliahku sebagai mahasiswa peneliti dari tanggal 1 april 2007. Hari-hariku kuhabiskan dengan arubaito(kerja sambilan) di rumah induk semang dan kuliah. Hasil dari arubaito inilah yang aku gunakan untuk hidup sehari-hari karena aku telah menyewa apartemen (apato) sendiri di dekat kampus. Tetapi untuk membayar spp yang kedua aku masih meminta(hutang) lagi ke induk semang (kebetulan tidak ada beasiswa ataupun pengurangan spp untuk mahasiswa peneliti)

Pada waktu sebagai mahasiswa peneliti, aku mengikuti ujian masuk S2 dan alhamdullillah diterima (karema ada teman yang tidak diterima ). Setelah masuk sebagai mahasiswa S2 mulai 1 april 2008, aku berjanji untuk tidak merepotkan lagi keluarga induk (semangku terutama masalah uang. Padahal spp 1 semester 270.000 dan uang masuk 280.000 dan aku tidak punya simpanan uang. Tetapi Allah memang maha sempurna akan rencana-rencananya. Betapa tidak ternyata aku mendapat keringanan uang masuk 50% dan selanjutnya keringanan spp 100%, praktis aku cuma membayar 140.000 yen, dan cukup bermodalkan lebih gambatte (berusaha) dalam arubaito(kerja sambilan) uang segitu insya Allah bisa didapatkan. Tetapi baroqah Allah tidak sampai disitu, ketika aku sedang “gambatte” arubaito, ternyata ada pengumuman yang menyatakan aku lolos mendapatkan beasiswa sebesar 70.000 yen per bulan selama setahun dari JASSO. Dan akhirnya akan kuhabiskan waktuku di Universitas Shinshu Insya Allah sampai S3, dan dengan rezeki Allah saya ingin menyempatkan lebaran di Indonesia dan akan merupakan kepulangan saya yang kedua untuk tahun ini (2008).

Saudaraku, setiap kita adalah orang-orang yang luar biasa, tiada diantara kita yang terlahir bodoh, bukan kita yang bodoh tetapi kita hanya belum tahu. Kita semua terlahir cerdas, hanya kadang kita kurang memberdayakannya (your brain is just like a sleeping giant: pikiranmu bagai raksasa yang sedang tidur). Dan kunci sukses ternyata cukup dengan selalu berusaha berbuat baik, selalu berfikir posif, sabar dan syukur.

(Shinshu, 17 Agustus 2008)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Perjalanan Mantan Kenshusei Menuju Pasca Sarjana Shinshu University - 9756people
Info Petani -
Pelatihan Pertanian di Koibuchi Gakuen Prefektur Ibaraki
Setelah praktek bertani di pertanian orang tua angkat masing-masing selama 4 bulan lebih, tanggal 18 -27 Agustus 2008, para trainee pertanian program JAEC kembali mengikuti pelajaran pertanian di kelas bertempat di Koibuchi Gakuen Prefektur Ibaraki. Gambar di sebelah kiri terlihat keceriaan sebelas pemuda petani Indonesia yang sedang menimba ilmu teknologi pertanian seusai kuliah di ruang kelas yaitu Sdr. Maulana Yusuf (asal DKI), Syaipul Rahman Bin Daim (Kalsel), Agus Ali Nurdin (Jabar), Dadan Ramdani Nugraha (Jabar), Muhamad Najib (Jambi), I Made Dedy Sudiantara (Bali), Yuki Aramdhani (Jabar), Erwin (Sumut), Aep Komarudin (Jabar), Husnul Muhlis (Kalsel) dan Saeroji (Jatim).

Apa cita-ciata mereka setelah kembali ke Indonesia? Cita-cita mereka mulia semua.

Maulana Yusuf: Mengembangkan pertanian dengan miniru atau mempraktekan gaya Jepang. Ingin mengembangkan padi, sayuran dan ternak baik sebagai produsen maupun penjual hasil pertanian tersebut.

Syaiful Rahman: Mengembangkan tehnik pertanian yang telah dipelajari di Jepang dengan mempraktekan di daerahnya untuk kemajuan bangsa dan negara.

Muhamad Najib : membeli tanah untuk mengembangkan ilmu yang didapat dan membangun kebun. Pada gilirannya akan membangun rumah.

Agus Ali Nurdin : Memproduksi sayuran dan padi organik. Juga membuat perusahaan atau distributor sayuran dan beras organik.

Aep Komarudin : Ingin menjadi pembudidaya sayuran dan membuat pengepakan sendiri.

Erwin : Membangun pengolahan hasil pertanian di daerah khususnya padi kemudian mengembangkan produk lain.

Dadan Ramdani Nugraha : Memajukan usaha yang sudah berjalan agar lebih maju dengan bekal pengalaman dari program training ini.

I Made Dedy Sudiantara : Ingin bergerak dibidang peternakan babi dan sapi sekaligus pemasarannya.

Gambar sebelah kiri suasana belajar ketika Ogawa Sensei sedang mengajar ilmu tanah dan pemupukan. Pelajaran disampaikan dalam bahasa Jepang yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Yuki Aramdhani : Bercita-cita meneruskan usaha yang sudah ada dan berusaha mengembangkan lagi. Dan juga mempraktekan ilmu yang dipelajari di Jepang.

Saeroji : Berusaha membantu membangun bangsa dalam memperbaiki pertanian, di desa, Kecamatan, Kabupaten dan Negara dengan cara memperbaiki usaha tani yang telah dilaksanakan. Menyampaikan ilmu yang diperoleh kepada kawan-kawan dan kelompok tani, Gapoktan, KTNA dan juga pemuda-pemuda tani.

Husnul Muchlis : Memajukan usaha tani sendiri dulu lalu membantu usaha tani masyarakat disekitar.


Kendala dari sebagian besar mereka hadapi dalam mengikuti pelatihan ini adalah bahasa Jepang. Kata mereka kalau bisa belajar bahasa Jepang yang cukup lama ketika sebelum berangkat ke Jepang.

Kami bersyukur kalau sekarang sudah bisa komunikasi cukup baik, hanya kadang-kadang salah paham. Kalau salah paham ini yang membuat kita malu, kata seorang trainee.

Budaya malu memang baek, tetapi jangan dipertahankan terus-menurus yang bikin kinerja belajar dan berlatih kita menurun.

Ja... Ganbarimashou.
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Pelatihan Pertanian di Koibuchi Gakuen Prefektur Ibaraki - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit