728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
Ubi Jalar, Saatnya Menjadi Pilihan
Oleh Rinrin Jamrianti

Pembangunan ketahanan pangan (food security) di Indonesia telah ditegaskan dalam undang-undang nomor 7 tahun 1996 tentang pangan. Ketahanan pangan ini dirumuskan sebagai usaha mewujudkan ketersediaan pangan bagi seluruh rumah tangga, dalam jumlah yang cukup, mutu dan gizi yang layak, aman dikonsumsi, merata, serta terjangkau oleh setiap individu.

Mengacu pada definisi di atas, karena saat ini masih banyak rumah tangga yang belum mampu mewujudkan ketersediaan pangan yang cukup, terutama dalam hal mutu dan tingkat gizinya, maka cukup jelas bahwa ketahanan pangan belum tercapai.
Program swasembada beras yang sering disosialisasikan oleh pemerintah sejak lama, sepertinya sulit untuk dicapai. Berbagai usaha sudah dilakukan untuk mewujudkan program tersebut, kenyataannya sampai saat ini beras masih menjadi masalah. Kita masih mengimpor beras dalam jumlah yang cukup besar. Hampir semua lapisan masyarakat membicarakan polemik ini, masyarakat awam, LSM, mahasiswa, juga pemerintah. Pro dan kontra impor pun sering menghiasi pemberitaan di media-media. Sekarang saatnya untuk tidak mencari siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggungjawab, akan lebih bermakna jika kita sama-sama mencari solusi terbaik untuk keluar dari masalah pemenuhan kebutuhan akan makanan pokok masyarakat Indonesia.

Pilihan untuk terus mengimpor beras, tentu bukan pilihan cerdas dalam menyelesaikan masalah secara jangka panjang. Dalam kondisi perekonomian Indonesia yang sedang terpuruk, pilihan impor hanya akan menambah banyak permasalahan baru.

Sudah sejak lama, program diversifikasi pangan dimunculkan, yaitu ke arah konsumsi produk-produk tepung terutama dalam bentuk mie. Proses tersebut memang patut dicatat sebagai bagian dari proses diversifikasi pangan. Namun disayangkan bahwa makanan alternatif tersebut adalah produk yang berbasis bahan baku impor. Kita terlena untuk banyak mengonsumsi berbagai residual goods, yaitu produk-produk kelebihan dari berbagai negara dengan harga murah yang justru mematikan industri dalam negeri sendiri. Tetapi mari kita menjadikan ini sebagai motivasi, bahwa program Diversifikai Pangan sagat mungkin diterima oleh masyarakat kita, yaitu melalui 'pengindustrian' pangan alternatif yang melibatkan kegiatan produksi, distribusi, pemasaran, dan promosi.

Makanan pokok untuk masyarakat idealnya bersumber dari bahan baku lokal, agar biaya transportasinya dapat ditekan. Saat ini, masyarakat Indonesia yang hidup di daerah tropis dimana gandum sulit bisa tumbuh, menjadi pemakan mie dari gandum terbesar setelah RRC.
Sebenarnya begitu banyak jenis umbi-umbian lainnya selain gandum yang bisa tumbuh dengan baik di Indonesia dan bisa menjadi alternatif menuju ketahanan pangan. Ubi jalar merupakan salah satu dari 20 jenis pangan yang berfungsi sebagai sumber karbohidrat. Ubi jalar bisa menjadi salah satu alternati untuk mendampingi beras menuju ketahanan pangan.

Mengapa Ubi Jalar

Pilihan untuk mensosialisasikan ubi jalar, bukan pilihan tanpa alasan. Selain (1) sesuai dengan agroklimat sebagian besar wilayah Indonesia, ubi jalar juga (2) mempunyai produktivitas yang tinggi, sehingga menguntungkan untuk diusahakan. Alasan lainnya adalah (3) mengandung zat gizi yang berpengaruh positif pada kesehatan (prebiotik, serat makanan dan antioksidan), serta (4) potensi penggunaannya cukup luas dan cocok untuk program diversifikasi pangan

Produktivitas ubi jalar cukup tinggi dibandingkan dengan beras maupun ubi kayu. Ubi jalar dengan masa panen 4 bulan dapat berproduksi lebih dari 30 ton/Ha, tergantung dari bibit, sifat tanah dan pemeliharaannya. Walaupun saat ini rata-rata produktivitas ubi jalar nasional baru mencapai 12 ton/Ha. Tetapi masih lebih besar, jika kita bandingkan dengan produktivitas gabah (+/-4.5 ton/Ha) atau ubi kayu (+/-8 ton/Ha), padahal masa panen lebih lama dari masa panen ubi jalar.

Ubi jalar selain sebagai sumber karbohidrat yang baik, juga sebagai sumber serat pangan dan sumber betakaroten yang baik.

Karbohidrat yang dikandung ubi jalar masuk dalam klasifikasi Low Glycemix Index (LGI, 54), artinya komoditi ini sangat cocok untuk penderita diabetes. Mengonsumsi ubi jalar tidak secara drastis menaikkan gula darah, berbeda halnya dengan sifat karbohidrat dengan Glycemix index tinggi, seperti beras dan jagung.

Sebagian besar serat ubi jalar merah merupakan serat larut, yang menyerap kelebihan lemak/kolesterol darah, sehingga kadar lemak/kolesterol dalam darah tetap aman terkendali. Serat alami oligosakarida yang tersimpan dalam ubi jalar ini sekarang menjadi komoditas bernilai dalam pemerkayaan produk pangan olahan, seperti susu. Selain mencegah sembelit, oligosakarida memudahkan buang angin. Hanya pada orang yang sangat sensitif oligosakarida mengakibatkan kembung. Kandungan serat yang berfungsi sebagai komponen non-gizi ini, juga bermanfaat bagi keseimbangan flora usus dan prebiotik, merangsang pertumbuhan bakteri yang baik bagi usus sehingga penyerapan zat gizi menjadi lebih baik dan usus lebih bersih.

Kandungan karotenoid (betakaroten) pada ubi jalar, dapat berfungsi sebagai antioksidan. Antioksidan yang tersimpan dalam ubi jalar merah mampu menghalangi laju perusakan sel oleh radikal bebas. Kombinasibetakaroten dan vitamin E dalam ubi jalar bekerja sama menghalau stroke dan serangan jantung. Betakarotennya mencegah stroke sementara vitamin E mecegah terjadinya penyumbatan dalam saluran pembuluh darah, sehingga dapat mencegah munculnya serangan jantung.

Industrialisasi Ubi Jalar

Saat ini, produk olahan ubi jalar yang dikenal oleh masyarakat, selalu ditampilkan dalam bentuk semacam cemilan/jajanan seperti ubi jalar rebus, bakar, goreng, kripik, getuk atau kolak yang sudah sejak dulu ada dan bukan barang aneh bagi masyarakat.

Untuk menjadikan ubi jalar sebagai makanan pokok pilihan, tentu perlu dilakukan diversifikasi produk olahan ubi jalar. Langkah awal yang sebaiknya dikembangkan adalah pendirian industri tepung dan/atau industri pasta dari ubi jalar. Setelah ubi jalar menjadi tepung dan/atau pasta maka akan lebih banyak produk yang bisa dikembangkan. Produk-produk berbasis tepung yang bisa dikembangkan, antara lain mie, french fries, sweet potato flake (SPF) dan produk bakery. Sedangkan produk yang berbasis pasta ubi jalar yang dapat dikembangkan seperti nasi, jus, es krim dan produk-produk lainnya dari ubi jalar.

Jika dulu pemerintah memberikan subsisi kepada tepung terigu, maka untuk menumbuhkan industri tepung/pasta ubi jalar sudah seharusnya pemerintah juga memberikan subsidi. Selain itu masalah on farm juga harus diperhatikan, sehingga produktivitasnya bisa lebih tinggi. Jika produktivitasnya meningkat, maka ketersediaan bahan baku tidak menjadi kendala dan biayanya menjadi bisa ditekan, sehingga produk yang dihasilkan menjadi bisa lebih murah.

Di beberapa negara ubi jalar itu sudah merupakan produk komersial yang cukup diminati.. Negara-negara maju telah lama memanfaatkan ubi jalar sebagai produk olahan bernilai gizi tinggi dan secara ekonomis memiliki peluang pasar yang besar.

Pendirian industri yang menggunakan bahan baku dasar ubi jalar, akan menjadi peluang yang cukup baik bagi dunia usaha di Indonesia. Selain mendukung dan menyukseskan program diversifikasi pangan, juga mendatangkan keuntungan bagi pelakunya, serta membuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat sekitarnya.


Saatnya Memilih Ubi Jalar

Merubah kebiasaan masyarakat tentu bukan pekerjaan yang mudah. Selain kendala teknis, yaitu, peningkatan produktivitas melalui berbagai metode intensifikasi pertanian, pengolahan hasilnya menjadi produk-produk yang bervariasi dan menarik untuk dikonsumsi, hingga menata pasar yang pasti untuk produk ini. Kendala yang cukup besar lainnya adalah pengalihan pola pikir. Diperlukan sosialisasi yang terus menerus dan kerjasama yang baik antara semua pihak.

Pemerintah harus berani membuat kebijakan yang mendukung percepatan program ini, seperti contohnya Korea Selatan. Selain memberikan berbagai subsidi dan mengeluarkan kebijakan proteksi, Pemerintah Korea Selatan juga mewajibkan sehari tanpa beras dalam seminggu.

Jika pemerintah sangat mendukung kampanye tepung terigu yang notabene justru menghabiskan devisa negara dan hanya dikuasai oleh segelintir pengusaha importir, semestinya untuk kampanye ubi jalar pemerintah lebih memberikan dukungan yang lebih, karena ubi jalar adalah produk hasil negeri sendiri.

Karena sifat masyarakat kita yang paternalistik, di mana suara pemimpin akan lebih mudah dicontoh, maka sebaiknya, sosialisasi diversivikasi pangan ini dimulai dari istana dan para pejabatnya. Berikan contoh yang nyata untuk mulai mengkonsumsi ubi jalar.

Merubah kebiasaan dari konsumsi beras ke ubi jalar tentu tidak bisa dilakukan secara sporadis, sebaiknya secara bertahap dari jumlah yang sedikit dan lama-kelamaan dengan porsi yang semakin banyak dan harus secara terus menerus.

Sekarang saatnya kita bersama-sama melakukan tindakan nyata. Mari kita mulai dari lingkup yang terkecil, kita mulai untuk menganekaragamkan konsumsi pangan pokok kita. Diharapkan semangat kemandirian pangan menjadi kesadaran semua elemen bangsa, agar tidak lagi menjadi negara importer. Saatnya kita menjadikan ubi jalar sebagai pilihan. Saatnya produk negeri sendiri mendapat peran yang selayaknya.

Artikel selengkapnya dapat dilihat di www.beritaiptek.com
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: - 9756people
Info Petani -
Penetapan Marine Eco-label Japan (MEL Japan)
The Japan Fisheries Association (JFA) melakukan penetapan sistem sertifikasi Jepang untuk hasil-hasil perikanan yang disebut Marine Eco-label Japan, disingkat MEL Japan. JFA merupakan payung 400 organisasi dan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri perikanan.

Akhir-akhir ini banyak organisasi di Amerika Serikat dan Masyarakat Eropa telah aktif membuat sertifikat produk perikanan dengan tujuan melindungi sumber daya laut dan lingkungan laut. Di Jepang organisasi perikanan telah mempersyaratkan sertifikat Eco-label, dan beberapa perusahaan ikan telah mempersyaratkan sertifikat Chain of Custody (CoC) untuk usaha pengolahan dan distribusi produk ikan. Dengan semakin meningkatnya kesadaran konsumen terhadap Eco-label, semakin meningkat pula jumlah pengecer dan distributor yang menyukai produk perikanan dengan Eco-label.

Untuk merespon bertambahnya permintaan produk perikanan dengan Eco-label, JFA telah memperkenalkan sistem Jepang dalam Marine Eco-label, yang mengikuti pedoman pengelolaan perikanan dan distribusi produk perikanan seperti yang telah ditetapkan oleh FAO tahun 2005.

Marine Eco-label Japan (MEL Japan) telah ditetapkan di Tokyo pada tanggal 6 Desember 2007. MEL Japan merupakan usaha bersama yang dilakukan oleh para industriawan perikanan, masyarakat ilmuwan, organisasi konservasi, para pengolah dan distributor ikan, konsumen, dan ahli makanan yang komitmen melakukan promosi perikanan Jepang yang berkelanjutan. Hasil akhir dari skema ini yaitu standar sertifikasi dan aturan prosedur yang sedang berlangsung. Skema ini diharapkan dapat diselesaikan dalam waktu dekat. Maka dari itu MEL Japan diharapkan penerimaan pendaftaran sertifikasi dan inspeksi dimulai pada bulan April 2008.

1.Latar Belakang

Dalam rangka menyeimbangkan antara populasi ikan di duania dan permintaan ikan di dunia maka diperlukan usaha untuk melestarikan sumber alam laut sehingga tidak terjadi penangkapan ikan yang berlebihan.

Menurut data Review of the state of world marine fishery Resources FAO, tahun 2005, terdapat 441 stok atau kelompok spesies. Tetapi sekitar 77% stok dunia tersebut telah tereksploitasi penuh, tereksploitasi berlebih, bahkan ada stok yang sudah habis sehingga tiada ruang lagi untuk perluasan usaha. Dalam keadaan demikian ini, ecolabel ikan dan produk perikanan telah dikembangkan terutama di negara-negara barat.

Telah diakui bahwa Jepang sebagai pasar terbesar produk perikanan. Para stakeholder pada industri perikanan dan pengelolaan perikanan di Jepang telah memutuskan untuk proaktif menetapkan skema ecolabel yang akan dapat diterapkan karena sesuai dengan keadaan perikanan di Jepang.

2.Pinsip dasar

a.Promosi konservasi dan penggunaan yang berkelanjutan sumber daya alam laut

MEL Japan bertujuan membuat ketetapan untuk menginformasikan keputusan pembeli yang pilihannya dapat dipercaya mempromosikan dan mendorong penggunaan yang berkelanjutan sumber daya alam perikanan.

b.Pengelolaan bersama-sama

MEL Japan melanjutkan penggunaan keunggulan pengelolaan bersama-sama dimana telah dipraktekkan dalam rangka meyakinkan penggunaan sumber alam yang berkelanjutan dari lingkungan hidup laut di Jepang dan Asia pada zaman kuno. Gagasan pengelolaan bersama-sama ini adalah nelayan bersama-sama berperan aktif baik dalam pengelolaan perikanan maupun perbaikan sumber alam. Pada komunitas penangkap ikan di Jepang, mereka telah mengembangkan gagasan pengelolaan sumber alam perikanan di wilayahnya secara bersama-sama. Menurut mereka kegiatan ini dilakukan dalam rangka menjamin penghidupan komunitasnya. Perikanan berorientasi pengelolaan sumber alam yang efektif dan praktis ini tidak ada bandingannya sedunia, dan telah berkembang dan menyebar luas di Jepang.

Yang melatar belakangi pengembangan pengelolaan bersama-sama ini adalah banyaknya penangkap ikan sekala kecil, perahu penagkap ikan kecil dan target jenis ikan tangkapan beragam. Kerangka kerja ini telah berfungsi membangkitkan semangat kepada nelayan dan mereka yang bekerja dalam bidang perikanan, sebagai pengguna sumber alam laut dalam berperan pengelolaan sumber alam secara sukarela dan secara individu. Nelayan dan pemerintah daerah dan pemerintah pusat bersatu bekerjasama melaksanakan kerangka kerja yang berlaku ini untuk perbaikan sumber alam. Maka dari itu MEL Japan mengaplikasikan secara efektif konsep dari pengelolaan bersama pembuatan sertifikat sebagai suatu cara untuk memudahkan dan memperkuat kerja skema ini.

MEL Japan bertujuan membuat sebuah siklus positif, melalui penerbitan sertifikat ecolabel akan menimbulkan : a) peningkatan perhatian nelayan pada pengelolaan sumber alam; b) peningkatan kerjasama nelayan dengan ilmuwan dan pengelola perikanan; c) peningkatan peran aktif nelayan dalam menyumbangkan pengumpulan data dan kemajuan informasi perikanan.

c.Penerbitan sertifikasi yang ilmiah dan sasarannya

MEL Japan disusun oleh sebuah badan, dewan dan panitia yang terdiri dari perwakilan dari pejabat berwenang dalam pengelolaan perikanan, industri perikanan, organisasi pekerja perikanan, masyarakat ilmuwan, kelompok yang tertarik masalah lingkungan hidup, pengolah ikan, pedagang, pengecer dan juga konsumen, yang sadar akan keadilan terhadap kepentingan semua pihak. MEL Japan juga menjamin sertifikasi yang obyektif dan ilmiah yang dilakukan oleh badan sertifikasi independen yang membentuk tim sertifikasi teridiri dari ilmuwan dan para ahli yang mempunyai pemahaman mendalam tentang perikanan dan lingkungan hidup laut Jepang.

3.Biaya sertifikasi yang diperbolehkan

Agar pola Eco-label ini diterima secara luas, perlu diingat bahwa MEL Japan akan sangat penting dalam menyumbangkan perikanan yang berkelanjutan. MEL Japan akan mengikuti kerangka kerja yang dapat dipraktekan bagi beragam nelayan (skala kecil – besar) yang proaktif terlibat dalam perikanan yang berkelanjutan. Mereka dapat memperoleh seritifikat dengan biaya rendah.

Pada akhirnya, pola MEL Japan dikembangkan menjadi suatu sistem dengan biaya yang murah dan menghindari duplikasi pekerjaan, dengan memanfaatkan data lengkap yang diperoleh melalui pengelolaan yang telah berlaku. Sifat dasar sistem ini adalah non-komersial dan non-profit. Biaya yang ditarik MEL Japan dan badan sertifikasi pihak ketiga rendah sekali hanya untuk biaya pemeliharaan kegiatan ini. Meminimalkan biaya sertifikasi bukan berarti berkompromi dengan persyaratan perikanan yang berkelanjutan. Keberlanjutan pengujian produk perikanan merupakan prasyarat sertifikasi.

4.Sasaran saat ini

Sasaran MEL Japan sementara ini adalah memperluas pengakuan pasar jepang, dengan maksud memperoleh dukungan lebih luas. MEL Japan juga bertujuan untuk merespon kebutuhan pasar asing dalam mempromosikan ekspor makanan seafood Jepang yang berkelanjutan.

(Sumber : Isaribi, no 57 Feb 2008)
Rating: 5 Reviewer: Info Petani - ItemReviewed: Penetapan Marine Eco-label Japan (MEL Japan) - 9756people
Info Petani -
728x90 , banner , kackdir , space iklan space banner
 
5 Info Petani © 2012 Design Themes By Blog Davit